Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 81
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 81 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Makanan utama di sini adalah semacam puding tepung beras yang disebut jenang, yang dibuat dalam tujuh warna. Sekarang, pemberian warna itu menggunakan bahan warna yang dibeli di toko, tetapi dalam tradisi, yang digunakan adalah beberapa ramuan tumbuh-tumbuhan. Ada juga satu nasi tumpeng besar dengan tujuh nasi tumpeng kecil di sekelilingnya dan sepiring besar sayur-sayuran dengan tujuh piring sayur-sayuran yang kecil di sekelilingnya. Selain itu, seperti biasa, terdapat juga rangkaian bola nasi, tiga jenis bubur dan lain-lain. Di sini, seperti halnya dalam tingkeban, upacaranya lebih menonjol daripada slametan-nya sendiri. Dipimpin oleh si dukun bayi, sebagaimana semua upacara sesudah kelahiran, upacara itu dimulai dengan membangunkan sang bayi pada waktu ayam berkokok atau sekitar pukul empat pagi dengan meletakkannya di sangkar bersama seekor ayam—seekor ayam jago kalau bayi itu laki-laki dan seekor ayam betina kalau bayi itu perempuan. Ayam itu kemudian dipelihara dengan hati-hati, tak pernah dipotong atau dimakan, karena makin lama ayam itu hidup, makin panjang pula umur anak itu. Bayi itu kemudian disodori keranjang bambu yang dangkal alasnya dan telah diisi dengan nasi kuning serta beberapa keping uang logam. Kalau ia membuang-buang nasi serta kepingan uang itu ke sekitarnya dan biasanya memang demikian, maka dalam kehidupannya nanti, anak itu akan borosi kalau tidak, ia akan jadi orang yang hemat. Kemudian bayi itu diperbolehkan menjejakkan kakinya ke bumi untuk pertama kalinya. Setelah sampai di tanah, ia diberi sepotong cakar ayam untuk mengingatkan bahwa sebagaimana ayam yang hina ini, ia harus mengais-ngais di sepanjang hidupnya untuk mencari makan. Sesudah itu, slametan yang sesungguhnya baru diselenggarakan. Berlawanan dengan hampir semua slametan lainnya, pitonan harus diadakan pagi hari, sebelum pukul 12 siang. Bila semua ini telah dilakukan, anak itu dimandikan dalam bak yang berisi air bunga. Di jalan menuju bak ini terdapat tangga (atau batang pisang) dengan tujuh jenjang. Pada setiap jenjang diletakkan semangkuk bubur, yang pertama berwarna merah, yang kedua putih, yang ketiga merah dan seterusnya. Warna merah melambangkan ayah dan warna putih melambangkan ibu. Anak itu menginjaknya satu per satu sampai akhirnya ia mencapai bak, tentu saja dengan menjerit-jerit dan kemudian dimandikan oleh sang dukun. Sejumput rambutnya digunting oleh setiap tamu, dilempar ke tanah bersama beberapa keping uang untuk membeli obat bagi si bayi.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 81 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi