Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
BAB 5 Siklus Slametan: Khitanan dan Perkawinan Khitanan: Sunatan Sekalipun semacam khitanan mungkin telah ada di Jawa sebelum mulainya zaman Islam pada abad ke-16, hampir tak ada bekas- bekas upacara inisiasi pra-Islam yang tampak di Mojokuto. Upacara untuk merayakan khitanan pada umumnya menyerupai pola upacara perkawinan, tentu saja dengan meniadakan unsur-unsur yang berhubungan dengan upacara bersanding bagi kedua mempelai. Dengan demikian, hidangan pada slametan islaman (khitanan, disebut juga sunatan) sama dengan hidangan pada slametan kepanggihan (perkawinan) dan kedua upacara itu memberikan kesempatan utama untuk pengeluaran yang berlebih-lebihan dalam kehidupan orang Jawa. Hiburan sewaan yang meriah—wayang kulit dengan seperangkat gamelan, orkes model Barat lengkap dengan biduanitanya atau rombongan tari maupun drama keliling—sering dipertunjukkan. Ada sebanyak 200 orang mungkin yang diberi makan dalam resepsi yang mengiringi slametan-nya sendiri (yang dalam kasus apa pun hanya terbatas pada delapan sampai 10 peserta) dan mereka ini diharapkan akan membawa hadiah-hadiah atau sumbangan dalam bentuk uang. Dalam beberapa hal, perkawinan serta khitanan merupakan upacara menyambut masa remaja pada orang Jawa, perkawinan bagi anak perempuan dan khitanan bagi anak laki-laki. Dalam hal ini, keduanya harus dilihat sebagai pasangan upacara yang tak terpisahkan untuk menyambut masa remaja bagi masing-masing jenis kelamin.' Kebanyakan anak lelaki di Jawa disunat pada usia 10 sampai 15 tahun, walaupun saya mengenal seorang santri yang menyunat anaknya pada usia lima tahun. Kebanyakan anak-anak di Mojokuto disunat sendiri-sendiri, tetapi ada kalanya juga satu rombongan yang terdiri