Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
atas dua atau tiga saudara, saudara sepupu atau tetangga, disunat sekaligus. Menurut kebiasaan, penyunatan dilakukan oleh seorang ahli yang disebut calak (atau bong) yang seringkali juga merangkap sebagai tukang cukur, jagal, atau dukun. Dewasa ini banyak orang kota menyunatkan anaknya di rumah sakit, yang dikerjakan oleh seorang perawat pria (mantri), tetapi kebanyakan orang mungkin masih pergi ke calak karena ongkosnya lebih murah. Dalam daftar resmi kantor Departemen Agama setempat di Mojokuto, ada 11 orang calak yang disahkan untuk wilayah itu. Yang paling giat di antara mereka ialah seorang haji yang juga merangkap sebagai dukun. Ia memperoleh ilmu ini dari ayahnya. Sekalipun ia memiliki 200 meter persegi sawah, katanya, penghasilan dari praktiknya sebagai calak merupakan bagian terbesar dari seluruh pendapatannya (upahnya 20 sampai Rp 50, tergantung kepada jarak tempat pasien dari Mojokuto dan saya kira juga tergantung kepada kedudukan kliennya). Menurut peraturan kesehatan pemerintah, ia diharuskan menggunakan sebuah antiseptik yang disediakan oleh Departemen Kesehatan. Sebagaimana dikatakannya, “Ayah saya menggunakan mantera dan menyunat. Sekarang saya membaca mantera, menyunat dan menggunakan obat. Itu sama saja, tidak ada bedanya". Sesudah sistem petungan diterapkan dan hari baik dipilih, sebuah slametan diadakan pada malam hari menjelang penyelenggaraan sunatan.? Slametan ini, yang disebut manggulan, adalah persis sama dengan slametan midadareni yang diadakan pada malam hari menjelang perkawinan. Di dalamnya dihidangkan semua jenis penganan yang telah kita sebut di muka, ditambah sejenis makanan yang dibuat dari beras ketan yang dilumatkan pada sebuah talam besar hingga berbentuk piringan biskuit yang tipis. Penganan ini dimaksudkan untuk melambangkan keinginan bahwa setiap orang dalam slametan ini sudah bebas dari perasaan iri hati, benci, cemburu dan semacamnya, yang tersembunyi: bahwa perasaan setiap orang sudah diratakan sampai kepada satu titik dimana yang ada hanyalah perasaan “dalam” yang tenang, damai dan tenteram. Juga di samping bubur tiga warna yang biasa—merah, putih dan campuran—ada lagi bubur yang keempat. Dibuat dari sekam beras yang ditumbuk, bubur ini disebut paru-paru. Orang Jawa, atau kebanyakan dari mereka, percaya bahwa letak kehidupan adalah pada nafas manusia—yang bagaimanapun juga berhubungan