Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 85
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 85 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

atas dua atau tiga saudara, saudara sepupu atau tetangga, disunat sekaligus. Menurut kebiasaan, penyunatan dilakukan oleh seorang ahli yang disebut calak (atau bong) yang seringkali juga merangkap sebagai tukang cukur, jagal, atau dukun. Dewasa ini banyak orang kota menyunatkan anaknya di rumah sakit, yang dikerjakan oleh seorang perawat pria (mantri), tetapi kebanyakan orang mungkin masih pergi ke calak karena ongkosnya lebih murah. Dalam daftar resmi kantor Departemen Agama setempat di Mojokuto, ada 11 orang calak yang disahkan untuk wilayah itu. Yang paling giat di antara mereka ialah seorang haji yang juga merangkap sebagai dukun. Ia memperoleh ilmu ini dari ayahnya. Sekalipun ia memiliki 200 meter persegi sawah, katanya, penghasilan dari praktiknya sebagai calak merupakan bagian terbesar dari seluruh pendapatannya (upahnya 20 sampai Rp 50, tergantung kepada jarak tempat pasien dari Mojokuto dan saya kira juga tergantung kepada kedudukan kliennya). Menurut peraturan kesehatan pemerintah, ia diharuskan menggunakan sebuah antiseptik yang disediakan oleh Departemen Kesehatan. Sebagaimana dikatakannya, “Ayah saya menggunakan mantera dan menyunat. Sekarang saya membaca mantera, menyunat dan menggunakan obat. Itu sama saja, tidak ada bedanya". Sesudah sistem petungan diterapkan dan hari baik dipilih, sebuah slametan diadakan pada malam hari menjelang penyelenggaraan sunatan.? Slametan ini, yang disebut manggulan, adalah persis sama dengan slametan midadareni yang diadakan pada malam hari menjelang perkawinan. Di dalamnya dihidangkan semua jenis penganan yang telah kita sebut di muka, ditambah sejenis makanan yang dibuat dari beras ketan yang dilumatkan pada sebuah talam besar hingga berbentuk piringan biskuit yang tipis. Penganan ini dimaksudkan untuk melambangkan keinginan bahwa setiap orang dalam slametan ini sudah bebas dari perasaan iri hati, benci, cemburu dan semacamnya, yang tersembunyi: bahwa perasaan setiap orang sudah diratakan sampai kepada satu titik dimana yang ada hanyalah perasaan “dalam” yang tenang, damai dan tenteram. Juga di samping bubur tiga warna yang biasa—merah, putih dan campuran—ada lagi bubur yang keempat. Dibuat dari sekam beras yang ditumbuk, bubur ini disebut paru-paru. Orang Jawa, atau kebanyakan dari mereka, percaya bahwa letak kehidupan adalah pada nafas manusia—yang bagaimanapun juga berhubungan


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 85 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi