Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Al Aqidah fiLlah - Detail Buku
Halaman Ke : 211
Jumlah yang dimuat : 228
« Sebelumnya Halaman 211 dari 228 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Bab Kelima: Konsep Penyembahan Menurut Umat yang Sesat

Tujuan kami dalam membahas topik ini bukanlah untuk membuat catatan sejarah tentang sisi penyimpangan dalam akidah, karena begitu banyak ragam kesesatan yang tidak mungkin dicatat seluruhnya. Lagi pula, apa faedahnya menulis sejarah sisi gelap, sementara kekufuran itu hakikatnya satu agama saja! Yang kami maksud hanyalah agar kita dapat memahami sebagian dari apa yang menimpa umat-umat terdahulu, supaya kita mengetahui betapa agung nilai akidah Islam.

Mereka yang mengetahui kebatilan dan mengenalnya akan lebih mampu memahami kebenaran jika mereka berpegang teguh kepadanya. Sebaliknya, mereka yang mengikuti Islam namun tidak mengenal sisi lawannya—yaitu kebatilan—dikhawatirkan mudah tergelincir ke dalam jalan kesesatan. Benarlah perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Hampir-hampir ikatan Islam terurai satu demi satu, jika dalam Islam tumbuh generasi yang tidak mengenal jahiliyah.” Sesungguhnya orang yang mengenal kegelapan malam lebih mampu mengenali cahaya siang, dan kesehatan adalah mahkota di kepala orang-orang sehat yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang sakit.

Hal ini juga dipahami oleh Sayyid Qutb ketika ia berkata: “Manusia tidak akan menyadari betapa perlunya risalah ini, betapa perlunya melepaskan diri dari segala kesesatan yang dahulu menjerumuskan umat manusia dalam kegelapan, dan betapa pentingnya menetap di atas keyakinan yang jelas dalam urusan akidah… hingga ia mengetahui betapa besar tumpukan kebatilan itu, hingga ia menelusuri betapa sesatnya perjalanan pemikiran manusia, berupa aneka ragam akidah, konsep, filsafat, mitos, ide, khayalan, ritual, tradisi, sistem, dan kondisi, yang ditemui Islam dan yang menutupi hati nurani manusia di segala tempat. Dengan itu, barulah ia dapat memahami hakikat kekacauan, kerancuan, dan kerumitan yang menimpa sisa-sisa akidah samawi, setelah tercampuri dengan tahrif, takwil, tambahan manusiawi terhadap sumber ilahinya, hingga bercampur dengan filsafat, paganisme, dan mitos-mitos.”

Cukuplah kita mengambil tiga contoh. Pertama, sebuah akidah dari salah satu bangsa yang dulu dianggap berperadaban. Kedua, penyimpangan pemeluk sebuah agama samawi dari kebenaran. Ketiga, penyembahan berhala bangsa Arab sebelum masa kerasulan Nabi Muhammad ﷺ.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 211 dari 228 Berikutnya » Daftar Isi