Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Para peneliti menganggap bangsa Romawi sebagai salah satu bangsa yang berperadaban pada masa lampau. Mari kita lihat bagaimana keyakinan umat yang sesat ini. Mereka menganggap “Jupiter” sebagai tuhan segala tuhan. Gambaran mereka tentang Jupiter lebih menyerupai setan daripada gambaran ketuhanan yang suci. Ia digambarkan penuh dendam, tenggelam dalam nafsu makan dan syahwat cinta, tidak peduli dengan urusan para dewa dan makhluk selain apa yang dapat mempertahankan kekuasaannya dan memperluas tiraninya. Dikisahkan bahwa ia pernah marah kepada “Aesculapius” dewa pengobatan, karena ia menyembuhkan orang sakit, sehingga Jupiter melarangnya memungut pajak dari arwah orang mati yang berpindah dari permukaan bumi ke alam bawah tanah.
Mereka juga meyakini bahwa Jupiter pernah marah kepada “Prometheus” dewa pengetahuan dan keterampilan, karena ia mengajarkan manusia menggunakan api dalam industri, serta menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan yang dapat menyaingi para dewa. Jupiter menghukumnya dengan azab abadi. Ia tidak cukup puas dengan kematian Prometheus atau pengusirannya dari lingkungan para dewa, melainkan merancang beragam siksaan baginya: diikat di sebuah gunung terjal, lalu burung buas dilepaskan untuk memakan hatinya sepanjang siang. Ketika malam tiba, hatinya kembali utuh, dan esok pagi siksaan yang sama terulang lagi. Begitulah ia mengalami azab abadi, tanpa ada syafaat yang diterima dan doa yang dikabulkan.
Penyair dan filsuf pagan “Hesiod” membayangkan bahwa salah satu sebab kemarahan Jupiter kepada Prometheus adalah karena pembagian makanan dalam jamuan para dewa. Prometheus memberikan kepadanya bagian yang lebih banyak tulang dan lebih sedikit daging serta lemak. Jupiter menganggap hal itu sebagai bentuk meremehkannya dengan ilmu, kebijaksanaan, dan kecerdikan yang dimiliki Prometheus, karena ia memang terkenal di kalangan para dewa memiliki pengetahuan luas dan kecerdikan yang tajam, bahkan melebihi dewa besar itu sendiri.
Hesiod, sang penyair sekaligus filsuf, berusaha sekuat tenaga untuk menyucikan sosok Jupiter dan menampilkannya kepada masyarakat dalam gambaran penuh wibawa dan kesucian. Tujuannya agar sesuai dengan citra ilahi yang disembah, setelah penyembahan dalam agama Yunani kuno sedikit banyak mengalami perkembangan.