Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Meskipun demikian, para peneliti Romawi meriwayatkan bahwa “Jupiter” sering menipu istrinya, “Hera.” Ia disebutkan mengutus dewa awan untuk menutupi matahari di saat terbit, agar istrinya yang pencemburu tidak memergokinya ketika sedang bersama para gundiknya di singgasana “Olympus.”
Pernah suatu kali Hera memergokinya sedang menciumi betis “Ganymede,” seorang gembala domba tampan yang dilihatnya di padang, lalu diculiknya dan dibawa ke langit. Jupiter tidak mengingkari tuduhan itu, bahkan ia membenarkan kegemarannya kepada betis pemuda itu. Ia pun mencoba menenangkan istrinya dengan dalih yang menurutnya sahih, yaitu nikmatnya memadukan manisnya anggur dengan manisnya ciuman.
Inilah salah satu contoh akidah syirik yang batil, yang lahir dari khurafat dan khayalan hingga berubah menjadi mitos. Dewa-dewa dalam keyakinan Romawi adalah dewa-dewa yang banyak jumlahnya, saling bersaing dan bertikai, menyiksa satu sama lain. Mereka digambarkan seperti manusia: makan dan minum, menikah, berkhianat kepada pasangannya, melakukan perbuatan keji, lalu mencari-cari alasan untuk membenarkan kesalahan. Maka bagaimana mungkin akidah semacam ini memberikan pengaruh baik bagi jiwa para penganutnya? Bagaimana pula pengaruhnya terhadap perilaku mereka, baik secara individu maupun masyarakat? Nilai apa yang bisa ditopang oleh akidah syirik yang sesat dan menyimpang seperti ini?