Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Berhala-berhala yang tersebar di masa jahiliyah lebih banyak daripada yang telah disebutkan sebelumnya.
Sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ, keadaan manusia berada dalam kegelapan yang amat pekat. Sisa-sisa cahaya samawi yang dibawa para nabi sebelumnya sudah sangat redup, tidak cukup lagi untuk menjadi petunjuk dan menjaga manusia agar tetap berada di atas jalan Allah. Jalan kebenaran telah hilang dan bercampur dengan kebatilan yang banyak. Dalam sebuah hadis disebutkan: “Sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi sebelum diutusnya Nabi, lalu Dia membenci mereka, baik bangsa Arab maupun bangsa non-Arab, kecuali sisa kecil dari Ahli Kitab.”
Sejarah mencatat bahwa ada empat orang bijak dari Quraisy yang mengasingkan diri dari kaumnya pada salah satu hari raya Quraisy di dekat sebuah berhala. Mereka adalah Waraqah bin Nawfal, ‘Ubaidullah bin Jahsy, ‘Utsman bin al-Huwairith bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, dan Zaid bin ‘Amr bin Nufail.
Mereka saling berkata satu sama lain: “Demi Allah, kaum kita ini tidak berada di atas kebenaran. Mereka telah menyimpang dari agama bapak mereka, Ibrahim. Bagaimana mungkin batu yang kita thawafi ini bisa mendengar, melihat, memberi mudarat atau manfaat? Wahai kaumku, carilah agama untuk diri kalian, karena demi Allah, kalian tidak berada di atas sesuatu yang benar.” Lalu mereka pun berpisah dan pergi ke negeri-negeri lain untuk mencari agama Ibrahim.
Adapun Waraqah bin Nawfal, ia mendalami agama Nasrani dan mempelajari kitab-kitab dari ahlinya hingga menjadi seorang yang berilmu di kalangan Ahli Kitab.
Adapun ‘Ubaidullah bin Jahsy, ia tetap berada dalam kebingungan hingga akhirnya masuk Islam. Ia berhijrah bersama kaum muslimin ke Habasyah bersama istrinya, Ummu Habibah binti Abu Sufyan yang saat itu sudah memeluk Islam. Namun ketika sampai di Habasyah, ia justru masuk agama Nasrani dan meninggalkan Islam, hingga akhirnya ia mati dalam keadaan Nasrani.
Sedangkan ‘Utsman bin al-Huwairith, ia pergi menemui Kaisar, raja Romawi, lalu masuk agama Nasrani. Kedudukannya di sisi Kaisar menjadi baik dan terhormat.