Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Al Aqidah fiLlah - Detail Buku
Halaman Ke : 3
Jumlah yang dimuat : 228
« Sebelumnya Halaman 3 dari 228 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Bab Pertama: Dalil-Dalil tentang Keberadaan Sang Pencipta Jalla wa ‘Ala

Dalil Pertama: Dalil Fitrah

Fitrah yang lurus menjadi saksi akan adanya Allah tanpa membutuhkan dalil.

Al Quran tidak memperpanjang argumentasi tentang keberadaan Allah Ta'ala, karena Al Quran menegaskan bahwa fitrah yang bersih dan jiwa yang tidak ternodai oleh kotoran syirik sudah mengakui keberadaan-Nya tanpa membutuhkan dalil. Bukan hanya itu, bahkan mengesakan-Nya Subhanahu merupakan perkara fitri yang sudah jelas. Sebagaimana firman Allah:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus.” (Surah Ar-Rum: 30)

Fitrah inilah yang menjelaskan fenomena yang diperhatikan oleh para peneliti dalam sejarah agama-agama, yaitu bahwa seluruh bangsa – yang mereka teliti sejarahnya – selalu memiliki sesembahan yang mereka tuju dan mereka sucikan.(1)

Mungkin ada yang bertanya: “Kalau seandainya kecenderungan kepada Allah itu fitrah, mengapa manusia dalam berbagai zaman justru menyembah berhala yang beraneka ragam?”

Jawabannya: fitrah memang mengarahkan manusia untuk menuju Sang Pencipta, tetapi manusia dikelilingi oleh berbagai pengaruh yang membuatnya menyimpang ketika hendak menuju kepada sesembahan yang benar.


Catatan Kaki

  1. Bahkan kaum komunis sekalipun, yang mengaku ingin membebaskan diri dari penyembahan tuhan-tuhan, pada kenyataannya menyembah pendiri ideologi mereka. Terlihat jelas bagaimana mereka berjalan melewati jasad yang diawetkan di Lapangan Merah pada hari peringatan kematiannya dengan penuh ketundukan dan menundukkan kepala mereka. Mereka telah menjadikannya sebagai sesembahan. Alih-alih menyembah Sang Pencipta manusia, mereka justru menyembah mayat manusia. Celakalah mereka. Inilah yang aku catat sekitar lima belas tahun lalu. Beberapa tahun kemudian, para pengusung ideologi komunis sendiri meruntuhkan paham mereka, melemparkan jasad para pemimpin mereka, sebagaimana mereka juga membuang akidah dan pemikiran mereka.

Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 3 dari 228 Berikutnya » Daftar Isi