Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Fitrah yang lurus menjadi saksi akan adanya Allah tanpa membutuhkan dalil.
Al Quran tidak memperpanjang argumentasi tentang keberadaan Allah Ta'ala, karena Al Quran menegaskan bahwa fitrah yang bersih dan jiwa yang tidak ternodai oleh kotoran syirik sudah mengakui keberadaan-Nya tanpa membutuhkan dalil. Bukan hanya itu, bahkan mengesakan-Nya Subhanahu merupakan perkara fitri yang sudah jelas. Sebagaimana firman Allah:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus.” (Surah Ar-Rum: 30)
Fitrah inilah yang menjelaskan fenomena yang diperhatikan oleh para peneliti dalam sejarah agama-agama, yaitu bahwa seluruh bangsa – yang mereka teliti sejarahnya – selalu memiliki sesembahan yang mereka tuju dan mereka sucikan.(1)
Mungkin ada yang bertanya: “Kalau seandainya kecenderungan kepada Allah itu fitrah, mengapa manusia dalam berbagai zaman justru menyembah berhala yang beraneka ragam?”
Jawabannya: fitrah memang mengarahkan manusia untuk menuju Sang Pencipta, tetapi manusia dikelilingi oleh berbagai pengaruh yang membuatnya menyimpang ketika hendak menuju kepada sesembahan yang benar.