Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok II ayat 26 Surah al-Baqarah (2) memiliki kalbu, yang bentuknya serupa. Tetapi alangkah banyak ragam manusia dalam rincian kesamaan-kesamaan yang disebut di atas dan yang tidak disebut, padahal semuanya lahir dari satu sel yang serupa. Demikian juga makhluk lain. Perhatikanlah binatang, tumbuh-tumbuhan bahkan pasirpasir yang terhampar di bumi. Bukankah itu menunjukkan betapa kuasanya Allah dan bahwa Dia Maha Esa dalam Dzat, sifat dan perbuatan-Nya, karena itu tidak wajar mengangkat sekutu-sekutu bagi-Nya. Apa yang dikemukakan di atas, baik perumpamaan tentang orang kafir dan munafik, atau perumpamaan surga dan buah-buahannya, atau perumpamaan-perumpamaan yang disebut ayat-ayat yang turun sebelum ayat di atas, seperti laba-laba, lalat dan lain-lain, adalah sesuatu yang hag, bukan seperti dugaan sementara orang kafir. Memang, perumpamaan menampilkan sesuatu yang konkret untuk memperjelas yang abstrak. Surga dan kenikmatannya adadah sesuatu yang abstrak, maka melalui wahyuwahyu-Nya, Allah bermaksud menjelaskan petunjuk-petunjuk-Nya kepada manusia. Karena itu, kelompok ayat ini disusul dengan firman-Nya: AYAT 26 >o 1 Saat UG E E ol Ae af hu Dyah GAS Dodit Op Ai) La Gal AI a tc Saka II Ag Ja Gp (35 Wa gai a Fa Sesungguhnya Allah tiada malu membuat perumpamaan berupa kutu atau yang mekbihinya. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka mengetahui (dengan pasti) bahwa perumpamaan itu adalah kebenaran sempurna dari Tuhan mereka, klapi sedang orang-orang kafir, maka mereka akan berkata: “Apakah maksud Allah menjadikan ini satu perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak (orang) yang disesatkan dan dengannya (pula) banyak (orang) yang diberi petunjuk. Dan Iidak ada yang disesatkan kecuali orang-orang yang fasik. Thahir Ibn “Asyur menulis bahwa secara lahiriah ayat ini tidak memiliki hubungan yang serasi dengan ayat-ayat yang lalu yang berbicara tentang keisumewaan al-Yur'an serta sanksi atas pembangkang dan ganjaran buat yang taat. Lalu di sini tiba-tiba muncul pernyataan bahwa Allah tidak malu membuat perumpamaan. Ibn “Asyar menulis bahwa sebenarnya bila diteliti akan ditemukan keserasian hubungannya. Menurut ulama asal Tunisia ini,