Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok IV ayat 60 Surah al-Baqarah (2) Setelah menguraikan nikmat memasuki kota yang subur dan dipenuhi oleh aneka hasil bumi, Allah mengingatkan lagi tentang nikmat air yang diperoleh masing-masing kelompok, perolehan yang kali ini berbeda dengan yang lalu, yang sifatnya umum dapat terjadi di mana dan kapan saja di belahan bumi. Perolehan air kali ini adalah hasil dari suatu mukjizat melalui tongkat Nabi Musa as. Dan Ingat pulalah ketika Misa memohon air untuk kaumnya, ketika mereka kehausan maka Kami berfirman kepada Musa: “Pukullah yakni sentuhkanlah secara keras dengan tongkatmu yang merupakan dan alat mukjizat, pukulkan ia ke batu tertentu atau batu apa saja.” Nabi Musa pun memukulkannya maka segera dan tanpa memakan waktu yang lama memancarlah dari nya, yakni dari batu yang dipikul itu dua belas mata air, sebanyak anak cucu Nabi Ya gub yang kemudian menjadi dua belas. Sungguh slap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing. Makan-lah almann dan as-salwa dan minumlah dari ait yang memancar itu sebagai rezeki Allah yang dianugerahkan-Nya itu tanpa usaha dari kamu dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dan dengan tergesa-gesa dengan berbuat kerusakan dengan sengaja serta benar untuk merusak. Firman-Nya: (gi a a Sg) wa idz istasga Musa ligaumihi/ dan (ingatlah) ketika Misa memohon air untuk kaumnya, mengandung isyarat bahwa hanya Nabi Musa as. yang memohon, beliau tidak memohon bersama kaummya. Redaksi ini dapat juga dikatakan mengandung isyarat bahwa ketika itu Nabi Musa as. tidak merasa haus, karena menurut ayat di atas, beliau hanya memohon air untuk kaumnya. Memang, seorang yang mencapai puncak ketaatan kepada Allah, akan memperoleh rezeki bukan sebagaimana kebiasaan yang dialami oleh kebanyakan orang. Nabi saw. ketika mengomentari sikap beliau menyambung puasa dari hari ke hari bersabda sambil melarang sahabatnya melakukan hal serupa bahwa: “Aku hdak seperti keadaan kalian, aku memasuki waktu malam dan di sisi Tuhan Pemeliharaku dengan diberi-Nya makan dan minum.” Dalam konteks ini juga kita dapat berkata bahwa perih dan sakit boleh jadi tidak dirasakan seseorang apabila perhatiannya tidak tertuju ke sana. Dokter seringkali menyuruh pasien yang takut disuntik untuk mengalihkan pandangannya, atau mengajaknya berbicara, agar perhatiannya tidak ke jarum suntik. Jika saku Anda disobek pencopet, maka Anda akan scdih, tetapi kesedihan Anda berkurang atau bahkan hilang jika perhatian tertuju ke dompet yang tidak berhasil dicopetnya. Demikian perih, akibat