Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Kelompok IV ayat 61 Surah al-Baqarah (2) mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya.” Musi dengan sangat heran berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Yakni Apakah benar-benar kalian lebih mengutamakan semua jenis makanan itu daripada jenis yang lebih baik, yaitu al-mann dan as-salwd? Kalau itu yang kamu kehendaki, tinggalkan saja tempat ini dan pergilah kamu ke kota, yakni kota apapun atau kembalilah ke Mesir pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta itu. g Dan akibat kedurhakaan dan keangkuhan, ditimpakanlah atas mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu yakni nista dan kehinaan serta murka itu demikian bukan saja karena mereka menolak nikmat Allah dan tidak mensyukurinya, tetapi lebih-lebih £arena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu, kedurhakaan itu mencapai puncaknya karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas, sehingga sedikit demi sedikit bertambah sampai akhirnya melampaui batas dan mencapai puncaknya.” Ucapan mereka: “Hai Múså, kami tidak bisa sabar dengan satu macam makanan saja,” sungguh sangat tidak sopan, bukan saja dengan kata yang mereka gunakan memanggil Nabi mereka, tetapi juga penyampaian itu sendiri. Nabi Muhammad saw. tidak pernah mencerca makanan. Kalau tidak sesuhi dengan selera beliau, ditinggalkannya tanpa komentar. Bahkan yang lebih buruk lagi adalah redaksi yang dipilih serta kandungan ucapan itu. Kata ((5) dan yang diterjemahkan di atas dengan tidak akan, bermakna, “Sejak saat ini sampai masa datang yang berkelanjutan, kami tidak sabar dan tidak akan sabar atau mampu menahan diri dari memakan satu macam makanan saja. Kami telah bosan dengan makanan itu.” Sewajarnya, kalaupun mereka bosan, janganlah menyampaikan kebosanan itu dalam bentuk kalimat seperti di atas, yakni menggunakan kata yang bermakna berkesinambung tanpa akhir, dan juga jangan berkata satu macam makanan. Bukankah mereka mendapatkan dua macam, yakni al-mann dan as-salwa? Kecuali kalau yang mereka maksud dengan satu macam adalah berulang-ulang sehingga maknanya — kalau pendapat terakhir ini yang diterima adalah — “Hai Misa, kami tidak akan bisa sabar yakni tahan dengan makanan yang berulang-ulang. Sungguh aneh Bani Isra'il itu. Mereka bersikap tidak wajar kepada Nabi mereka, meremehkan ajaran-ajaran Ilahi yang beliau sampaikan, tetapi mereka percaya bahwa doa beliau pasti dikabulkan oleh Allah. Ini karena