Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Tafsir al Mishbah Jilid 1 - Detail Buku
Halaman Ke : 230
Jumlah yang dimuat : 623
« Sebelumnya Halaman 230 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

Surah al-Baqarah (2) Kelompok IV ayat 61 telah beberapa kali mereka membuktikan kebenarannya. Karena itu, mereka menyampaikan harapan kepada Musa as. “Mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, Anda lihat mereka tidak berkata Tuhan kita. Mohonlah agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya.” Makanan berupa burung, manisan bagaikan madu yang lezat dan penuh gizi yang merupakan anugerah Ilahi yang nyata mereka tolak, dan minta agar diganti. Sungguh aneh permintaan mereka, sehingga Nabi Misa as. meminta mereka ke kota karena sayur mayur seperti itu, mudah didapat di kota, bukan di padang pasir yang gersang. Ada juga yang memahami ayat ini dalam arti seakan-akan Nabi Musa as. berkata “Pergilah ke kota di mana kalian tadinya disiksa oleh Fir'aun. Di sana kalian akan mendapatkan apa yang kalian harapkan itu, karena kalian merupakan kaum yang tidak menghargai nikmat kebebasan, tidak senang kepada nilai-nilai luhur. Kalian selalu ingin mengganti sesuatu yang baik dengan yang buruk, sesuatu yang bernilai tinggi dengan yang bernilai rendah.” Agaknya pendapat pertama lebih tepat. Dengan demikian Nabi Misa as. tidak berdoa, dan memang tidak ada isyarat dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa beliau berdoa. Tidaklah wajar memohon kepada Allah agar pemintaan orang-orang durhaka dikabulkan. Tidak juga wajar memohon ganti apa yang telah dipilihkan Allah sendiri, apalagi dengan sesuatu yang nilainya rendah. Mereka sungguh durhaka, tetapi bukan hanya itu kedurhakaan mereka dan bukan hanya yang meminta sayur-mayur itu yang durhaka tetapi banyak kelalaian mereka, karena itu mereka wajar menerima nista dan kehinaan, serta mendapat kemurkaan dari Allah. Nista adalah rasa rendah diri karena penindasan dan yang merupakan akibat dari kejauhan jiwa dari kebenaran, dan ketamakan meraih kegemerlapan duniawi. Nista berkaitan dengan jiwa, sedang kehinaan adalah kerendahan yang berkaitan dengan bentuk dan penampilan. Orang-orang kaya ketika itu berkewajiban membayar upeti. Sebagian besar — karena keengganan membayar — menampilkan diri sebagai orang-orang miskin dengan memakai pakaian-pakaian kotor dan lusuh. Ada juga yang memahami kata kata (251) adz-dzillah yang diterjemahkan di atas dengan nista dalam arti kehinaan sedang ( [L-4 ) almaskanah dalam arti kehinaan akibat ketinginan merasih sesuatu yang menyenangkan tetapi tidak dapat diraih sehingga melahirkan kesedihan.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 230 dari 623 Berikutnya » Daftar Isi