Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Fatihah (1) Kelompok II ayat 5 memuaskan menghadang pendapat yang menyatakan bahwa apa yang kita namakan sebab itulah yang mewujudkan akibat. “Cahaya yang kita lihat sebelum terdengarnya suara letusan meriam, bukanlah penyebab meletusnya meriam,” kata David Hume filosof Inggris kenamaan itu (1711-1776 M). Sebelumnya Imam Ghazali (1059-1111 M) menulis, “Ayam yang selalu berkokok sebelum terbitnya fajar, bukan ia yang menerbitkan fajar itu”. “Apa yang kita namakan kebetulan hari ini, mungkin merupakan proses dari terjadi suatu kebiasaan atau hukum alam”, demikian menurut sementarasahli pikir. Setelah ditemukannya bagian-bagian atom, elektron dan proton, para ilmuwan masa kini mulai menyadari apa yang disebut dengan ketidakpastian, dan lahirlah salah satu prinsip ilmiah yaitu “probability”. “Ilmuwan, kini mengakui bahwa apa yang sebelum ini diduga bahwa keadaan A pasti menghasilkan keadaan B, tidak lagi dapat dipertahankan. Kini mereka berkata keadaan A boleh jadi mengakibatkan B atau C atau D atau selain itu semua. Paling tinggi yang dapat dikatakan adalah bahwa keadaan B mengandung kemungkinan yang lebih besar daripada keadaan C, dan bahwa derajat kemungkinan keadaan ini lebih besar dari keadaan itu. Adapun memastikannya maka hal tersebut di luar kemampuan siapapun. Ia kembali kepada ketentuan takdir, apa pun hakikat atau siapapun takdir itu.” Demikian tulis Sayyid Quthub mengutip pendapat ilmuwan Inggris, Sir. James Jannes. Satu perusahaan asuransi dapat memperkirakan berapa jumlah mobil yang mengalami kecelakaan pada setiap tahun dan perkiraan mereka tidak jauh meleset, berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah lalu. Namun mereka tidak dapat menentukan mobil siapa yang akan tabrakan. Seorang dapat menduga dan dugaannya bisa benar menyangkut kesembuhan yang akan diperoleh penderita penyakit tertentu jika ia minum obat tertentu. Namun ia tidak dapat memastikan unsur apa yang terdapat dalam obat itu yang mengantar kepada kesembuhan. Demikian beberapa contoh yang dikemukakan ilmuwan menyangkut hakikat “sebab”. Kembali kita bertanya, kalau demikian, siapa yang mewujudkan segala sesuatu termasuk hal-hal yang kita butuhkan pada saat kita menuju kepada seseorang untuk meminta bantuannya? Siapa yang mewujudkan kesembuhan pada saat Anda meminta bantuan dokter? Siapa yang memberi kemenangan dalam perjuangan? dan seterusnya. Jawabannya adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Manusia, atau alat yang digunakan, seperti obat bagi kesembuhan, atau senjata untuk kemenangan, kesemuanya hanyalah “perantara