Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Fatihah (1) Kelompok II ayat 6 kebutuhannya untuk mencapai sesuatu yang berada di luar dirinya, sekali lagi manusia membutuhkan petunjuk dan kal in Allah menganugerahkan petunjuk-Nya berupa panca indra. Namun, betapapun tajam dan pekanya kemampuan indra manusia, seringkali hasil yang diperolehnya tidak menggambarkan hakikat yang sebenarnya.Betapapun tajamnya mata seseorang, ia akan melihat tongkat yang lurus menjadi bengkok di dalam air. Yang meluruskan kesalahan panca indra adalah petunjuk Allah yang ketiga yakni akal. Akal yang mengkoordinir semua informasi yarig diperoleh indra kemudian membuat kesimpulan-kesimpulan yang sedikit atau banyak dapat berbeda dengan hasil informasi indra. Tetapi walau petunjuk akal sangat penting dan berharga, namun ternyata ia hanya berfungsi dalam batas-batas tertentu dan tidak mampu menuntun manusia keluar jangkauan alam fisika. Bidang operasinya adalah hidang alam nyata dan dalam bidang ini pun tidak jarang manusia teperdaya oleh kesimpulan-kesimpulan akal sehingga akal tidak merupakan jaminan menyangkut seluruh kebenaran yang di dambakan. “Logika adalah satu ilmu yang dirumuskan oleh Aristoteles yang bertujuan memelihara seseorang agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan. Namun ternyata ilmu itu tidak mampu memelihara perumusnya — apalagi orang lain — dari kesalahan-kesalahan.” Demikian tulis Syeikh Abdul Halim Mahmud, mantan guru besar dan pemimpin tertinggi al-Azhar. Akal dapat diibaratkah sebagai pelampung, ia dapat menyelamatkan seseorang yang tak pandai berenang dari kehanyutan di kolam renang, atau bahkan di tengah laut yang tenang. Tetapi jika ombak dan gelombang telah membahana, atau datang bertubi-tubi setinggi gunung, maka ketika itu yang pandai dan yang tak pandai berenang keadaannya akan sama. Ketika itu mereka semua tidak hanya membutuhkan pelampung, tetapi sesuatu yang melebihi pelampung. Karena itu, manusia memerlukan petunjuk yang melebihi petunjuk akal, sekaligus meluruskan kekeliruan keliruannya dalam bidang-bidang tertentu. Petunjuk atau hidayah yang dimaksud adalah hidayah agama. Sementara ulama membagi pula petunjuk agama kepada dua petunjuk: Pertama, petunjuk menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Cukup banyak ayat-ayat yang menggunakan akar kata hidayah yang mengandung makna ini, misalnya, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) memberi petunjuk kejalan yang lurus” (OS. asy-Syura (42): 52) atau, “Adapun kaum Tsamud maka Kami telah memberi mereka hidayah, tetapi mereka lebih senang kebutaan (kesesatan) daripada hidayah” (OS. Fushshilat (41): 17). Kata hidayah yang pelakunya manusia adalah hidayah dalam bentuk pertama ini.