Kebajikan di mata Allah itu bukanlah tatkala shalat menghadap kearah terbit dan terbenamnya matahari, jika tidak bedasarkan pada perintah Allah dan syariat-Nya. Akan tetapi, kebajikan yang sesungguhnya itu adalah iman kepada Allah, membenarkan-Nya sebagai sembahan tunggal tanpa ada sekutu bagi-Nya; beriman kepada para malaikat seluruhnya; beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan seluruhnya secara penuh; serta beriman kepada para nabi tanpa melakukan pembedaan. Demikian juga memberikan harta secara sukarela -sekalipun ia sangat menyukai harta tersebut- kepada kaum kerabatnya; kepada anak-anak yatim yang membutuh-kan, bantuan, yang mereka itu jauh dari keluarga dan harta milik mereka; serta kepada para peminta yang terpaksa mengemis untuk memenuhi kebutuhan mereka yang mendesak. Juga mendermakan harta demi memerdekakan budak dan tawanan, ,menegakkan shalat, (serta) menunaikan zakat yang difardhukan. Demikian juga orang-orang yang menunaikan haji dan orang orang yang bersabar ketika dalam keadaan miskin, sakit (serta) dalam suasana kerasnya peperangan. Orang-orang yang menyandang sifat-sifat di atas adalah orang-orang yang benar dalam beriman. Mereka itulah orang-orang yang benar dalam beriman. Mereka itulah orang-orang yang takut kepada hukuam dari Allah sehingga mereka menjauhi tindakan bermaksiat kepada-Nya.