Kisah Umar radhiyallahu ‘anhu dan Istrinya, Apakah Shahih ?



Kisah Umar radhiyallahu ‘anhu dan Istrinya, Apakah Shahih ?

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

بسم الله الرحمن الرحيم

Kisah Umar radhiyallahu ‘anhu dan Istrinya banyak tersebar di masyarakat. Apakah kisah tersebut shahih, silahkan simak artikel berikut ini hingga tuntas. Kami tempatkan artikel ini di Kategori Adab dan Kategori Tanya Jawab

هناك قصص مبعثرة على الإنترنت، وفيه أن رجلا غضب من زوجته ؛ لأنها ترفع صوتها عليه ، فذهَب إلى عـُمـر بن الخـَطـاب ليشكُوها ، وعندما وصل وهمّ بطرق الباب ، سمع زوجة عمر صوتها يعلو على صوته ! فرجع يجر أذيال الخيبة. فما صحة هذا الخبر ؟ 

Tersebar di internet kisah yang menyebutkan ada seorang pria yang marah pada istrinya karena istrinya meninggikan suara padanya. Maka kemudian, dia pergi mengadu pada Umar bin Khaththab tentang hal tersebut. Namun, ketika dia tiba dan mengetuk pintu, ia mendengar suara istri Umar justru terdengar lebih keras daripada suara Umar. Sehingga ia kembali dengan perasaan kecewa. Apakah kisah ini benar ?

Jawaban

هذه القصة والتي مفادها أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إلَى عُمَرَ يَشْكُو إلَيْهِ خُلُقَ زَوْجَتِهِ فَوَقَفَ بِبَابِهِ يَنْتَظِرُهُ فَسَمِعَ امْرَأَتَهُ تَسْتَطِيلُ عَلَيْهِ بِلِسَانِهَا وَهُوَ سَاكِتٌ لَا يَرُدُّ عَلَيْهَا ، فَانْصَرَفَ الرَّجُلُ قَائِلًا : إذَا كَانَ هَذَا حَالَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَكَيْفَ حَالِي ؟

Kisah ini menyampaikan tentang seorang laki-laki yang datang ke Umar radhiyallahu ‘anhu untuk mengeluhkan keadaan istrinya. Maka dia kemudian berhenti di depan pintu rumah Umar radhiyallahu ‘anhu dan menunggunya. Kemudian dia mendengar mendengar istri Umar memarahi Umar, dan Umar tidak membalas. Pria itu pergi, berkata: “Jika ini adalah keadaan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab dengan istrinya, maka bagaimana keadaanku?”

فَخَرَجَ عُمَرُ فَرَآهُ مُوَلِّيًا فَنَادَاهُ : مَا حَاجَتُك يَا أَخِي ؟ فَقَالَ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ جِئتُ أَشْكُو إلَيْك خُلُقَ زَوْجَتِي وَاسْتِطَالَتَهَا عَلَيَّ فَسَمِعْتُ زَوْجَتَكَ كَذَلِكَ فَرَجَعْت وَقُلْت : إذَا كَانَ هَذَا حَالَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ مَعَ زَوْجَتِهِ فَكَيْفَ حَالِي ؟

Kemudian Umar keluar dan melihat lelaki tersebut dan berseru : Ada keperluan apa engkau wahai saudaraku ?

Laki-laki itu berkata : “Ya Amirul Mukminin, saya datang untuk mengeluh tentang perilaku istri saya dan bagaimana dia memarahi saya. Lalu saya mendengar istrimu ternyata juga melakukannya. Saya kembali dan berkata : Jika ini adalah keadaan Amirul Mukminin dengan istrinya, maka bagaimana keadaanku? “

فَقَالَ لَهُ عُمَرُ : إنَّمَا تَحَمَّلْتُهَا لِحُقُوقٍ لَهَا عَلَيَّ : إنَّهَا طَبَّاخَةٌ لِطَعَامِي خَبَّازَةٌ لِخُبْزِي غَسَّالَةٌ لِثِيَابِي رَضَّاعَةٌ لِوَلَدِي ، وَلَيْسَ ذَلِكَ بِوَاجِبٍ عَلَيْهَا ، وَيَسْكُنُ قَلْبِي بِهَا عَنْ الْحَرَامِ ، فَأَنَا أَتَحَمَّلُهَا لِذَلِكَ ، فَقَالَ الرَّجُلُ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ وَكَذَلِكَ زَوْجَتِي ؟ قَالَ : فَتَحَمَّلْهَا يَا أَخِي فَإِنَّمَا هِيَ مُدَّةٌ يَسِيرَةٌ .

Maka Umar berkata kepadanya : “Sesungguhnya saya bersabar kepadanya karena memang dia memiliki hak-hak yang harus saya penuhi. Sungguh dia memasak makanan buat saya, membuatkan roti untuk saya, mencuci pakaian saya dan menyusui anak-anak saya. Padahal yang demikian itu bukan merupakan kewajiban atasnya. Sementara, di sisi yang lain hatiku merasa tentram dengannya sehingga mencegahku dari hal-hal yang haram. Oleh sebab itu aku bersabar terhadap sikapnya yang demikian tersebut. Kemudian lelaki tersebut berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apakah demikian pula dengan istri saya?” Umar pun berkata, “Maka bersabarlah anda dengan sikapnya wahai saudaraku karena sesungguhnya hal itu hanya beberapa saat saja.”

فهذه القصة لم نجد لها أصلا ، ولا وجدنا أحدا من أهل العلم بالحديث تكلم عليها بشيء ، 

Untuk kisah ini kami tidak mendapatkan asal-usulnya, dan juga tidak kami dapati ahli dalam bidang hadits berkata sesuatu tentang kisah tersebut.

وإنما ذكرها الشيخ سليمان بن محمد البجيرمي الفقيه الشافعي في “حاشيته على شرح المنهج” (٣ / ٤٤١ – ٤٤٢) ،

Kisah tersebut disebutkan oleh  As syaikh Sulaiman bin Muhammad Al Bujairmi al Faqih As Syafii dalam kitab Hasyiyah Ala Syarhil Manhaj (3/ 142-144)

كما ذكرها أيضا أبو الليث السمرقندي الفقيه الحنفي في كتابه “تنبيه الغافلين” (ص: ٥١٧) ،

Kisah tersebut juga disebutkan oleh Abu al-Laits As Samaraqandi al Faqih al Hanafi dalam kitabnya    “Tanbihul Ghaafilin” (hal. 517)

وكذا ابن حجر الهيتمي في “الزواجر” (٢ / ٨٠)

Juga oleh Ibnu Hajar al Haitmaiy dalam Kitab “Az zawajir ” (2/80)

ولم يذكر واحد منهم إسنادها ، بل صدروها كلهم بصيغة التمريض التي تفيد التضعيف عادة : ” ذُكر أن رجلا ” ، ” روى أن رجلا ” ، وهذا مما يدل على أن القصة لا تصح ، 

Akan tetapi tidak satupun disebutkan sanadnya, Bahkan mereka semua yang meriwayatkan menggunakan lafazh, “Disebutkan bahwa seorang lelaki, atau diriwayatkan bahwa seorang lelaki”. Hal ini menunjukkan bahwa kisah tersebut tidak shahih.

ويؤيد ذلك ما يلي :

Ketidakshahihan-nya itu juga didukung hal-hal sebagai berikut :

– مخالفتها للمشهور عن عمر رضي الله عنه في سيرته من كونه كان مهابا في الناس ، فكيف بزوجاته ؟ 

Bertentangan dengan riwayat-riwayat yang masyhur tentang Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau adalah orang yang berwibawa di hadapan manusia, apatah lagi di hadapan para istrinya ?

وقد قال ابن عباس رضي الله عنهما : 

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan :

” مكثت سنة أريد أن أسأل عمر بن الخطاب عن آية فما أستطيع أن أسأله هيبة له ” رواه البخاري (٤٩١٣) ومسلم (١٤٧٩) .

“Aku tinggal menetap selama setahun bersama Umar bin Al Khaththab dalam rangka menanyakan tentang satu ayat dalam Al Qur’an, akan tetapi aku enggan bertanya kepadanya karena kewibawaan beliau.” (Riwayat Imam Bukhari nomor 4913 dan  Imam Muslim nomor 1479)

وقال عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ : ” شَهِدْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَوْمَ طُعِنَ فَمَا مَنَعَنِي أَنْ أَكُونَ فِي الصَّفِّ الْأَوَّلِ إِلَّا هَيْبَتُهُ، وَكَانَ رَجُلًا مَهِيبًا ” “حلية الأولياء” (٤/١٥١) .

Amr bin Maymun mengatakan : “Aku menyaksikan pada hari di mana Umar radhiyallahu ‘anhu ditikam. Tidaklah ada yang mencegahku untuk berada di shaf pertama melainkan karena kewibawaan beliau, karena beliau adalah seseorang yang sangat berwibawa.” (Hilyatul Auliya,  4/151).

– رفع صوت زوجة عمر عليه رضي الله عنهما حتى يسمعها من بالخارج وهو ساكت منكَر غير محتمل ، والذي يعرف حال أمير المؤمنين ينكر ذلك بالقطع ، وهو الذي كان يخاف الشيطان منه ، ولو سلك فجا لسلك الشيطان فجا غير فجه ، ورَفْعُ النساء أصواتهن واستطالتهن على أزواجهن لا يعرف في السلف .

Meningginya suara istri Umar bin Khaththab kepada beliau hingga terdengar keluar sementara beliau diam sama, maka hal itu adalah hal yang mungkar dan tidak beralasan. Mereka yang mengetahui kondisi Amirul Mu’minin pasti akan membantah hal tersebut. Beliau adalah orang yang syaithan saja takut kepada beliau. Seandainya Umar menempuh satu jalan, maka syaithan akan memilih jalan yang lain yang tidak dilalui beliau. Juga tidak ada dalam sejarah salafush shalih wanita yang meninggikan suaranya di hadapan suami mereka.

– قوله ” إنَّهَا طَبَّاخَةٌ لِطَعَامِي خَبَّازَةٌ لِخُبْزِي غَسَّالَةٌ لِثِيَابِي رَضَّاعَةٌ لِوَلَدِي ، وَلَيْسَ ذَلِكَ بِوَاجِبٍ عَلَيْهَا ” قول غير صحيح ، وخدمة المرأة زوجها واجبة عليها بالمعروف

Adapun ucapan : “Sungguh dia memasak makanan buat saya, membuatkan roti untuk saya, mencuci pakaian saya dan menyusui anak-anak saya. Padahal yang demikian itu bukan merupakan kewajiban atasnya”, bukanlah ucapan yang shahih, karena pelayanan seorang istri kepada suaminya adalah kewajiban yang ma’ruf.

وخاصة الرضاع ، فإنه يجب عليها إرضاع أولادها إذا كانت في عصمة زوجها بلا أجرة

Khusus untuk masalah menyusui, maka hal tadalah kewajiban bagi istri untuk menyusui anak-anaknya jika ada dalam pengasuhan suaminya, dan hal tersebut tidak dilakukan untuk upah tertentu

والخلاصة : أن هذه القصة لا أصل لها ، ومتنها ينادي عليها بالنكارة وعدم الصحة .

Kesimpulan : Kisah ini adalah kisah yang tidak ada asal-usulnya, serta isinya mengindikasikan hal yang mungkar dan tidak benar.

Allahu Ta’ala ‘A’lam



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.