Huruf Syin Bilal Tidak Pernah Menjadi Sin !!! (1)



شين بلال لم تكن سيناً قط!!!

Huruf Syin Bilal Tidak Pernah Menjadi Sin !!! (Bagian Pertama)

Penulis: Dr. Haidar Aidarus Ali

Alih Bahasa: Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Huruf Syin Bilal Tidak Pernah Menjadi Sin ini masuk dalam Kategori Hadits

شين بلال لم تكن سيناً قط. وسائر الحروف عنده محققة!!!

Huruf syin Bilal tidak pernah menjadi sin sama sekali. Seluruh huruf lainnya pun diucapkan oleh beliau secara tepat (muhaqqaqah)!!!

لقد سررتُ كثيراً بدخولي عبر الشَّبكة الأثيرية إلى “موقع معهد مبارك قسم الله للبحوث والتدريب”، لمعرفتي بالعلامة مبارك قسم الله زايد رحمه الله، وتقبل بذله في العاملين

Saya merasa sangat senang saat masuk melalui jaringan internet ke “Situs Institut Mubarak Qasam Allah untuk Penelitian dan Pelatihan”, karena pengetahuan saya tentang ulama Mubarak Qasam Allah Zayed—semoga Allah merahmatinya dan menerima jerih payahnya di antara para aktivis.

فقد كان الرجل ركناً شديداً من أركان العمل الإسلامي في السودان، وإفريقيا، والعالم، وعلى عاتقه وعواتق المهتمين قامت منظمة الدعوة الإسلامية في أحلك الظروف، فقادها حتى استغلظت واستوت، وقد شهد المقربون منه بأنه كان عفَّ اليدِ، واللسانِ، وكان آيةً في الزهد، وكان ممن يدل على الله حالُه، قبل مقاله، 

Beliau adalah pilar yang kokoh bagi dakwah Islam di Sudan, Afrika, dan dunia. Di atas pundak beliaulah dan pundak orang-orang yang peduli, Organisasi Dakwah Islam berdiri di masa-masa tersulit, lalu beliau memimpinnya hingga menjadi kuat dan mapan. Orang-orang terdekatnya bersaksi bahwa beliau adalah sosok yang bersih tangan dan lisannya, menjadi teladan dalam kezuhudan, dan merupakan tipe orang yang perilakunya membimbing orang kepada Allah sebelum ucapannya.

فنسأل الله أن يتقبله في المخلصين، ولقد أحسن من اقترح إنشاء معهد باسمه بعد وفاته تقديراً لجهوده، وتعبيراً عن الوفاء لشخصه، على الرغم من أنه لم يكن يهتم لذلك أبداً، فقد تعلقت همته بما هو أرفع، نحسبه كذلك، والله حسيبه، ونسأل الله أن يكون قد حقق مبتغاه.

Kami memohon kepada Allah agar menerimanya di kalangan orang-orang yang ikhlas. Sungguh baik orang yang mengusulkan pendirian institut dengan namanya setelah wafatnya sebagai bentuk apresiasi atas upaya beliau dan bentuk kesetiaan kepada pribadinya, meskipun beliau sendiri tidak pernah mempedulikan hal semacam itu sama sekali, karena tekadnya terpaut pada sesuatu yang lebih tinggi. Kami menganggapnya demikian, dan Allah-lah penilai hakikinya, serta kami memohon kepada Allah agar beliau telah mencapai apa yang dicita-citakannya.

وكان من ضمن ما قرأت في موقع معهد مبارك قسم الله مقالةً، أضيفت في شهر الله المحرم من هذا العام، بعنوان: (وفي ذكرى الهجرة النبوية إن سين بلال عند الله شين!!)، 

Di antara apa yang saya baca di situs Institut Mubarak Qasam Allah adalah sebuah artikel yang ditambahkan pada bulan Allah, Muharram tahun ini, dengan judul: “(Dalam Peringatan Hijrah Nabawiyah: Sesungguhnya Sin Bilal di Sisi Allah adalah Syin!!)”.

كتبتها إحدى الداعيات، وقد حاولتِ الكاتبةُ أن تجد عذراً لعُجمةِ الطلاب الذين لا يجيدون العربية في نطقهم للآيات القرآنية، فاستشهدت بما تداوله الناس من قولٍ كذبٍ: (إن سين بلال عند الله شين!!)، وقد أساءت الكاتبة من حيث أرادت الإحسانَ؛ إن كانت كما نظن.

Artikel tersebut ditulis oleh salah seorang dai wanita. Penulis tersebut mencoba mencari uzur bagi ketidakfasihan para pelajar yang tidak menguasai bahasa Arab dalam pengucapan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu ia berhujjah dengan ungkapan dusta yang beredar di masyarakat: “Sesungguhnya sin Bilal di sisi Allah adalah syin!!”. Penulis tersebut telah berbuat kekeliruan justru di saat ia bermaksud melakukan kebaikan, jika memang benar demikian dugaan kami.

وإساءتها إساءةٌ مركبةٌ؛ إذ ذكرتْ حديثاً عن النبي صلى الله عليه وسلم لم يُحَدِّثْ به أبداً!! وهو حديث: (إن سِينَ بلالٍ عند الله شِين)، وذلك في الشهادتين في الأذان، وذكره آخرون بقولهم: (إن بلالاً يبدل الشين سيناً)،

Kekeliruannya merupakan kekeliruan yang berlapis; sebab ia menyebutkan sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah beliau sabdakan sama sekali!! Yaitu hadits: “Sesungguhnya sin Bilal di sisi Allah adalah syin,” hal itu dalam konteks dua kalimat syahadat saat adzan. Orang lain juga menyebutkannya dengan ungkapan: “Sesungguhnya Bilal mengganti syin menjadi sin.”

وهذا أمرٌ جللٌ، قد يقع فيه كثيرٌ من الناس، وهم لا يشعرون؛ لكونه كذباً على النبي صلى الله عليه وسلم فكيف يكل الرسولُ صلى الله عليه وسلم الأذانَ إلى بلال؛ إذا كان لسانُه غير مستقيم، وفي الصحابة من هو أفصح منه، وفي المدينة اليهود، والذين كفروا؛ ممن كانوا يتربصون للنفاذ من أية ثغرة من شأنها أن تكون منفذاً للطعن والإزراء بالإسلام والمسلمين؟؟!!

Ini adalah perkara yang sangat serius yang banyak menjerumuskan orang tanpa mereka sadari; karena hal itu merupakan kedustaan atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan tugas adzan kepada Bilal jika lisannya tidak fasih (tidak lurus pengucapannya), padahal di antara para sahabat ada yang lebih fasih darinya, dan di Madinah terdapat orang-orang Yahudi serta orang-orang kafir yang selalu mengintai setiap celah yang bisa dijadikan pintu untuk mencela dan merendahkan Islam serta kaum Muslimin??!!

والذي يقرأ في الحديث النبوي الشريف يعرف قدر بلالٍ رضي الله عنه ويعرف أنه كان فصيحَ اللسان، نديَّ الصوت؛ فقد روى أبو داود، من حديث عبد الله بن زيد، قال: 

Siapa pun yang membaca hadits Nabawi yang mulia akan mengetahui kedudukan Bilal radhiyallahu ‘anhu dan mengetahui bahwa beliau adalah sosok yang fasih lisannya lagi merdu suaranya. Abu Dawud telah meriwayatkan dari hadits Abdullah bin Zaid, ia berkata:

لما أَمَر رسولُ الله صلى الله عليه وسلم بالناقوس يُعمَلُ، ليضرب به للناس لجمع الصلاة؛ طاف بي وأنا نائم رجلٌ يحملُ ناقوساً في يده، فقلت: يا عبد الله! أتبيع الناقوس؟ قال: وما تصنع به؟ فقلت: ندعو به إلى الصلاة. قال: أفلا أدلك على ما هو خير من ذلك؟ فقلت له: بلى! قال: فقال: تقول: الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، أشهد أن لا إله إلا الله، أشهد أن لا إله إلا الله، أشهد أن محمداً رسول الله، أشهد أن محمداً رسول الله، حي على الصلاة، حي على الصلاة، حي على الفلاح، حي على الفلاح، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله.

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membuat lonceng agar dibunyikan guna mengumpulkan orang-orang untuk salat, berkelilinglah mendatangi saya saat saya sedang tidur seorang laki-laki yang membawa lonceng di tangannya. Maka saya bertanya: ‘Wahai hamba Allah! Apakah engkau menjual lonceng ini?’ Ia bertanya: ‘Apa yang akan engkau lakukan dengannya?’ Saya menjawab: ‘Kami akan menggunakannya untuk menyeru orang agar salat.’ Ia berkata: ‘Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik dari itu?’ Saya menjawab: ‘Ya!’ Ia berkata: ‘Ucapkanlah: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Asyhadu alla ilaha illallah, asyhadu alla ilaha illallah. Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Hayya ‘alas shalah, hayya ‘alas shalah. Hayya ‘alal falah, hayya ‘alal falah. Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilaha illallah.’

sesungguhnya suaranya lebih merdu (dan lantang) darimu.'”

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.