شين بلال لم تكن سيناً قط!!!
Huruf Syin Bilal Tidak Pernah Menjadi Sin !!! (Bagian Kedua)
Penulis: Dr. Haidar Aidarus Ali
Alih Bahasa: Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Huruf Syin Bilal Tidak Pernah Menjadi Sin ini masuk dalam Kategori Hadits
قال: ثم استأخر عني غير بعيد، ثم قال: وتقول إذا أقمت الصلاة: الله أكبر، الله أكبر، أشهد أن لا إله إلا الله، أشهد أن محمداً رسول الله، حي على الصلاة، حي على الفلاح، قد قامت الصلاة، قد قامت الصلاة، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله. فلما أصبحت أتيتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم فأخبرته بما رأيت. فقال: (إنَّهَا لَرُؤْيا حَقٍّ إن شاءَ اللهُ فَقُمْ مَعَ بِلالٍ، فَأَلْقِ عَلَيهِ مَا رَأَيْتَ، فَلْيُؤَذِّنْ بِهِ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتاً مِنْكَ).
Ia berkata: Kemudian orang itu menjauh sedikit dari saya, lalu ia berkata: ‘Dan engkau ucapkan jika hendak mendirikan salat (iqamah): Allahu Akbar, Allahu Akbar. Asyhadu alla ilaha illallah. Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Hayya ‘alas shalah, hayya ‘alal falah. Qad qamatis shalah, qad qamatis shalah. Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilaha illallah.’ Maka ketika pagi hari, saya mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan beliau tentang apa yang saya lihat. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar insya Allah, maka berdirilah bersama Bilal, ajarkanlah kepadanya apa yang engkau lihat agar ia mengumandangkannya, karena
فقمت مع بلال، فجعلت ألقيه عليه ويؤذن به، قال: فسمع ذلك عمر بن الخطاب وهو في بيته فخرج يجرُّ رداءَه، ويقول: والذي بعثك بالحق يا رسول الله لقد رأيتَ مثل ما رأى، فقال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: (فلله الحمد!).
“Maka aku berdiri bersama Bilal, aku pun membacakannya kepadanya dan ia mengumandangkannya. Ia berkata: Maka ‘Umar bin al Khaththab mendengar hal itu saat ia berada di rumahnya, lalu ia keluar dengan menarik jubahnya seraya berkata: ‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, wahai Rasulullah, sungguh aku telah melihat mimpi yang sama seperti yang ia lihat.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Maka segala puji bagi Allah!'”
قال أبو داود: هكذا رواية الزهري عن سعيد بن المسيب، عن عبد الله بن زيد، وقال فيه ابن إسحاق، عن الزهري: (الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر)، وقال معمر ويونس، عن الزهري فيه: (الله أكبر، الله أكبر) لم يثنيا[1].
Abu Dawuud berkata: Demikianlah riwayat az Zuhri dari Sa’iid bin al Musayyab, dari ‘Abdullah bin Zaid. Dan di dalamnya Ibnu Ishaq berkata dari az Zuhri: “(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar)”, sedangkan Ma’mar dan Yuunus berkata dari az Zuhri di dalamnya: “(Allahu Akbar, Allahu Akbar)” mereka tidak mengulanginya 1
وفي هذا ما يؤكد أن بلالاً رضي الله عنه كان فصيحاً، نديَّ الصوت.
Dan dalam hal ini terdapat penegasan bahwa Bilal radhiyallahu ‘anhu adalah sosok yang fasih lisannya lagi merdu suaranya.
أما معرفتُه بالعربية، ومقدرتُه على نظم الشعر؛ فيدل عليها ما أخرجه البخاريُّ في الصحيح، عن أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها أنها قالت: (لما قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينةَ وُعِك أبو بكرٍ وبلالٌ، قالت: فدخلتُ عليهما فقلت: يا أبتِ! كيف تجدك؟ ويا بلالُ كيف تجدك؟ قالت: فكان أبو بكر إذا أخذته الحمى، يقول: كلُّ امرئٍ مُصبَّحٌ في أَهلِهِ والموتُ أدنَى من شِراكِ نَعْلِهِِ
Adapun pengetahuannya tentang bahasa Arab dan kemampuannya dalam menyusun syai’r, hal itu ditunjukkan oleh apa yang dikeluarkan oleh al Bukhaari dalam Shahih-nya, dari Ummul Mukminiin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, Abu Bakr dan Bilal jatuh sakit. Ia berkata: Maka aku masuk menemui keduanya dan bertanya: Wahai ayahku! Bagaimana keadaanmu? Dan wahai Bilal, bagaimana keadaanmu? Ia berkata: Abu Bakr jika demam menyerangnya, ia berkata: Setiap orang berada di waktu pagi di tengah keluarganya, sementara maut lebih dekat daripada tali sandalnya.”
وكان بلالٌ إذا أقلعَ عنه يرفعُ عقيرتَه[2]، ويقول:
أَلا ليت شِعري هل أَبيتنَّ ليْلةً
بِوَادٍ وحَوْلي إِذخَرٌ وجَلِيلُ
وهل أَرِدَنْ يوماً مِياه مَجنّةٍ
وهل يبدوَن لي شَامَة وطَفِيلُ
Dan Bilal jika demamnya mereda, ia meninggikan suaranya 2 dan berkata:
Aduhai, apakah gerangan aku dapat bermalam walau semalam saja
di suatu lembah, sementara di sekelilingku terdapat pohon Idzkhir dan Jaliil?
Dan apakah suatu hari nanti aku akan mendatangi mata air Majannah?
Dan apakah akan tampak bagiku Gunung Syaamah dan Thafiil?
قالت عائشةُ: فجئتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم فأخبرته فقال: (اللهمَّ! حَبِّبْ إِلَيْنَا المدينةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أو أَشَدَّ، وَصَحِّحْهَا، وَبارِكْ لَنَا في صَاعِهَا وَمُدِّهَا، وَانْقُلْ حُمَّاهَا فَاجْعَلْهَا بِالجُحْفَةَ)[3].
‘Aisyah berkata: Maka aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan beliau, lalu beliau bersabda: “Ya Allah! Cintakanlah Madinah kepada kami sebagaimana cinta kami kepada Makkah atau lebih dari itu, dan sehatkanlah ia, serta berkahilah bagi kami pada shaa’ dan mud-nya, dan pindahkanlah demamnya lalu jadikanlah ia di al Juhfah.” 3
ولئن أحب بلالٌ رضي الله عنه مكةَ المكرمةَ، وعَبَّر عن هذا الحب (بالشعر)؛ فهذا يدل على أنها وطنه، وفيها نشأ، ومن نشأ في بلد أجاد لغة قومه وإن لم يكن أصله منهم،
Dan jika Bilal radhiyallahu ‘anhu mencintai Makkah al Mukarramah dan mengekspresikan cinta ini dengan (syai’r), maka hal ini menunjukkan bahwa Makkah adalah tanah airnya, di sanalah ia tumbuh besar. Siapa pun yang tumbuh besar di suatu negeri, niscaya ia akan menguasai bahasa kaumnya meskipun asalnya bukan dari mereka.
ولم يكن حبه لمكة بأكثر من حبه للنبي صلى الله عليه وسلم وبادله النبيُّ صلى الله عليه وسلم الحبَّ ذاتَه، فجعله أمينَ المال، ووَكَل إليه الأذانَ، والناسُ يعرفون فضلَ من يُنْتَدب إلى أمانةِ المال، وأمانةِ الأذان، فماذا لو كان المنتدِب هو رسولُ الله صلى الله عليه وسلم؟ ومن الصحابة من تمنى الأذان لنفسه!
Dan cintanya kepada Makkah tidaklah lebih besar daripada cintanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membalas cinta tersebut dengan cinta yang sama, maka beliau menjadikannya sebagai bendahara (penjaga harta) dan menyerahkan tugas adzan kepadanya. Orang-orang mengetahui keutamaan orang yang ditunjuk untuk memegang amanah harta dan amanah adzan, lalu bagaimana jika yang menunjuknya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Padahal di antara para shahabat ada yang menginginkan tugas adzan bagi dirinya sendiri!
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Catatan Kaki
- Dikeluarkan dalam as Sunan (499).
- Al ‘Aqiirah: ‘Aqiirah seseorang adalah suaranya ketika ia bernyanyi, membaca, atau menangis. Dikatakan: asalnya adalah ketika seseorang kakinya terluka, lalu ia meletakkan kaki yang terluka di atas kaki yang sehat dan menangis meratapi kondisinya dengan suara paling keras, maka dikatakan: ia mengangkat ‘aqiirah-nya. Kemudian ungkapan ini menjadi populer hingga suara nyanyian disebut ‘aqiirah. Al Jauhari berkata: Dikatakan kepada setiap orang yang mengangkat suaranya: ia telah mengangkat ‘aqiirah-nya, tanpa dibatasi hanya pada nyanyian saja. Lisanul ‘Arab (4/ 593 ‘aqar).
- Dikeluarkan oleh al Bukhaari (3926).
Leave a Reply