Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Al Aqidah fiLlah - Detail Buku
Halaman Ke : 217
Jumlah yang dimuat : 228
« Sebelumnya Halaman 217 dari 228 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Dari perkataan mereka itu dipahami bahwa kehidupan Allah yang tiada akhir dianggap bersumber dari makan-Nya terhadap pohon kehidupan — Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan.

Sebagaimana mereka menisbatkan sifat jahil kepada Allah ﷻ, mereka juga menisbatkan kepada-Nya sifat sedih dan menyesal atas perbuatan yang dilakukan-Nya. Disebutkan dalam kitab mereka bahwa Allah bersedih karena menciptakan manusia ketika banyak kejahatan dan kerusakan yang terjadi pada zaman Nuh. Disebutkan: “Tuhan melihat bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata setiap hari. Maka menyesallah Tuhan bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu menyedihkan hati-Nya. Berfirmanlah Tuhan: ‘Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan dari muka bumi, baik manusia maupun hewan, binatang melata, dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka.’ Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan.”

Perhatikan pula dongeng yang terdapat dalam pasal ke-11 Kitab Kejadian. Setelah bumi dipenuhi dengan keturunan Nuh, semuanya masih memiliki satu bahasa dan satu perkataan. Ketika mereka berpindah ke sebelah timur, mereka menemukan tanah di Sinear dan tinggal di sana. Mereka berkata satu sama lain: “Mari kita membuat batu bata dan membakarnya dengan api.” Lalu batu bata dijadikan sebagai pengganti batu, dan ter buatlah tanah liat untuk menjadi bahan ikatan. Kemudian mereka berkata: “Mari kita dirikan bagi kita sebuah kota dan menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh muka bumi.”

Lalu Tuhan turun untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya mereka satu bangsa dengan satu bahasa untuk mereka semua. Inilah barulah permulaan usaha mereka, dan sekarang apa pun yang mereka rencanakan untuk dikerjakan, tidak ada yang mustahil bagi mereka. Mari Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, supaya mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.” Maka Tuhan menyerakkan mereka dari situ ke seluruh muka bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. Itulah sebabnya kota itu dinamakan Babel, karena di sanalah Tuhan mengacaubalaukan bahasa seluruh bumi, dan dari sanalah Tuhan menyerakkan mereka ke seluruh bumi.

Semua kisah ini jelas menisbatkan kedustaan kepada Allah ﷻ, menggambarkan-Nya dengan sifat kekurangan seperti sedih, menyesal, dan terbatas, bahkan seakan-akan Ia perlu turun untuk melihat pekerjaan manusia. Maha Suci Allah dari segala apa yang mereka katakan.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 217 dari 228 Berikutnya » Daftar Isi