Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Mereka menambahkan lagi dongeng-dongeng yang telah mereka jadikan sebagai akidah, bahwa: “Allah tidak lagi bermain dengan ikan setelah runtuhnya Baitul Maqdis, dan ketika tidak lagi bermain, Ia beralih menari bersama Hawa setelah menghiasinya dengan pakaian dan mengikat rambutnya.”
Celakalah mereka! Betapa mirip ucapan mereka dengan perkataan orang-orang kafir sebelumnya, ucapan umat-umat sesat penyembah berhala. Tuhan mereka dalam gambaran khayalan mereka tidak berbeda dengan manusia: berpikir seperti manusia, berbuat sebagaimana manusia, bermain, menari, bersedih, dan menangis. Menangisi apa? Menangisi runtuhnya Baitul Maqdis yang dahulu dibangun untuk mereka oleh Sulaiman.
Menurut keyakinan batil mereka, Baitul Maqdis itu adalah lambang kemuliaan Yahudi, dan sejak saat kehancuran rumah ibadah itu hingga kini, Allah disebut-sebut menangis tiga perempat malam, meraung seperti singa sambil berkata: “Celaka Aku! Karena Aku sendiri telah merelakan kehancuran rumah-Ku, pembakaran bait suci-Ku, dan penawanan anak-anak-Ku.”
Bahkan mereka semakin jauh dalam pemalsuan dan kedustaan, sampai-sampai mengatakan bahwa Dzat Allah—Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka katakan—menyusut karena kesedihan-Nya atas kehancuran bait itu. Disebutkan: “Allah hanya memenuhi empat lapis langit, setelah sebelumnya memenuhi langit dan bumi di segala masa.”
Mereka menggambarkan Tuhan Yang Maha Tinggi sebagai merendahkan diri-Nya, khususnya ketika dipuji oleh hamba-hamba-Nya (yang mereka maksud hanyalah Yahudi). Disebutkan dalam dongeng mereka: “Ketika Sang Pencipta mendengar pujian manusia, Ia menundukkan kepalanya dan berkata: ‘Betapa bahagianya seorang raja yang dipuji dan diagungkan dengan layak. Tetapi sungguh tidak pantas bagi seorang ayah yang meninggalkan anak-anaknya dalam penderitaan untuk mendapat pujian semacam itu.’”
Laknat Allah atas mereka! Betapa terbaliknya mereka dalam menyusun kebohongan. Lebih jauh lagi, mereka menisbatkan kepada Allah ﷻ bahwa Ia menampar wajah-Nya sendiri dan menangis, hingga air matanya jatuh. Disebutkan bahwa setiap hari Ia menyesali perbuatan-Nya meninggalkan Yahudi dalam kesengsaraan, sampai-sampai Ia menampar wajah-Nya dan menangis, lalu mengalir dua tetes air mata-Nya ke laut. Suara jatuhnya tetesan itu terdengar dari ujung dunia hingga ke ujung lainnya, menyebabkan air laut bergemuruh, bumi bergetar, dan sering terjadi gempa karenanya. Maha Tinggi Allah ﷻ dari semua kebohongan dan kedustaan yang mereka karang itu.