Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Mereka bahkan menisbatkan kesalahan, pengakuan dosa, serta kebutuhan untuk menebus dosa kepada Allah ﷻ. Mereka berdusta dengan mengatakan bahwa bulan adalah kesalahan Allah. Menurut dongeng mereka, bulan berkata kepada Tuhan — Maha Suci Allah dari ucapan mereka: “Aku salah, karena Engkau menciptakanku lebih kecil daripada matahari.” Lalu Allah mengakui kesalahan itu dan berkata: “Sembelihlah untuk-Ku kurban sebagai penebus dosaku, karena Aku telah menciptakan bulan lebih kecil daripada matahari.” Na‘udzubillah! Bagaimana mungkin mereka berani mengaku bahwa Allah melakukan penebusan dosa? Dan kepada siapa Dia menebusnya?
Sesungguhnya akal-akal yang berani mengarang kedustaan seperti itu adalah akal-akal yang amat bodoh. Dan akal yang membenarkannya serta beriman kepadanya tidak kalah bodohnya. Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita petunjuk kepada kebenaran dan cahaya yang nyata.
Di antara kebodohan lain yang mereka jadikan sebagai akidah adalah keyakinan bahwa Allah bisa dikuasai oleh rasa emosi dan ketergesa-gesaan. Konon, ketika Ia marah kepada Bani Israil, Ia bersumpah akan menghalangi mereka dari kehidupan abadi. Namun setelah emosinya mereda, Ia menyesal atas sumpah itu dan tidak melaksanakannya karena dianggap bertentangan dengan keadilan.
Tidak berhenti sampai di situ. Mereka juga menuduh bahwa Allah bersumpah secara keliru, dengan kebodohan dan kecerobohan, lalu berlaku zalim, dan setelah itu butuh melakukan penebusan. Dalam Talmud mereka disebutkan: “Sesungguhnya apabila Allah bersumpah dengan sumpah yang tidak sah, Ia membutuhkan seseorang untuk membebaskannya dari sumpah itu. Salah seorang bijak dari kalangan Bani Israil mendengar Allah berkata: ‘Siapakah yang akan membebaskanku dari sumpah yang telah Aku ucapkan?’ Dan ketika para rabi mengetahui bahwa tidak ada yang membebaskannya, mereka menyebutnya bodoh, karena tidak membebaskan Allah dari sumpah-Nya. Maka mereka menetapkan seorang malaikat di antara langit dan bumi yang bernama (Mi) untuk membebaskan Allah dari sumpah dan nadzarnya jika diperlukan.”
Inilah sebagian contoh dari akidah Yahudi yang telah dipalsukan dan rusak, yang menjadi dasar agama mereka, dan tidak kalah rendahnya dari mitos-mitos Yunani maupun paganisme dalam menggambarkan tuhan-tuhan mereka.