Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Alasan bangsa Arab mengikuti ‘Amr bin Luhayy adalah karena ia memiliki kedudukan yang tinggi di tengah mereka. Ia adalah pemimpin suku Khuza‘ah pada masa mereka menguasai Mekah dan Ka‘bah setelah mengusir kabilah Jurhum dari Mekah. Bangsa Arab menjadikannya sebagai pemimpin yang ditaati, hingga setiap bid‘ah yang ia buat mereka ikuti sebagai syariat. Hal ini karena ia terkenal sebagai orang yang memberi makan manusia dan memberi pakaian pada musim haji. Disebutkan bahwa ia pernah menyembelih sepuluh ribu unta dalam satu musim, dan memberi sepuluh ribu pakaian sebagai hadiah.
Diriwayatkan pula bahwa dialah yang pertama kali menyeru manusia untuk menyembah berhala al-Lāt. Ia dikenal sebagai seorang yang membuat minuman sūwīq (olahan gandum) bagi jamaah haji di Thaif di atas sebuah batu besar di sana. Ketika ia meninggal, ‘Amr bin Luhayy mengklaim bahwa orang itu tidak mati, melainkan masuk ke dalam batu tempat ia membuat sūwīq tersebut. Lalu ia memerintahkan orang-orang untuk menyembah batu itu.
Disebutkan juga bahwa dialah yang mengubah lafaz talbiyah yang sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menegaskan tauhid kepada Allah semata. Talbiyah itu dahulu berbunyi:
“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarīka laka labbaik.”
Kalimat itu terus terjaga hingga masa ‘Amr bin ‘Amir. Suatu ketika ia thawaf di Ka‘bah sambil bertalbiyah, setan menjelma dalam rupa seorang kakek yang juga ikut bertalbiyah. Ketika ia mengucapkan: “Labbaika laa syarīka laka,” setan itu berkata: “Kecuali seorang sekutu yang Engkau miliki.” Maka ‘Amr pun menolak perkataan itu dan bertanya: “Apa ini?” Setan menjawab: “Ucapkan: Engkau memilikinya dan juga apa yang dimilikinya, maka tidak mengapa.” Lalu ‘Amr pun mengucapkannya, dan sejak saat itu bangsa Arab menjadikannya talbiyah mereka.