Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Al Aqidah fiLlah - Detail Buku
Halaman Ke : 223
Jumlah yang dimuat : 228
« Sebelumnya Halaman 223 dari 228 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Awal Mula Penyimpangan

Ibnu Ishaq menyebutkan bagaimana awal mula penyimpangan orang-orang Arab dari keturunan Ismail ‘alaihissalam dalam menyembah batu. Disebutkan: “Awalnya mereka mengagungkan tanah haram, sehingga tidak mau meninggalkannya. Namun ketika jumlah mereka semakin banyak dan tempatnya terasa sempit, mereka pun pergi mencari kelapangan negeri lain. Setiap kali salah seorang dari mereka bepergian meninggalkan tanah haram, ia selalu membawa sebuah batu dari tanah haram sebagai bentuk pengagungan. Di mana pun mereka singgah, mereka meletakkan batu itu dan bertawaf mengelilinginya sebagaimana mereka bertawaf mengelilingi Ka‘bah. Kemudian hal itu membawa mereka kepada penyembahan batu-batu tersebut. Hingga akhirnya mereka menyembah setiap batu yang mereka sukai.” (Sirah Ibnu Hisyam, 1/122)

Perhatikanlah bagaimana keadaan mereka. Dari Abu Raja’ al-‘Atāridī diriwayatkan: “Kami dahulu di masa jahiliyah menyembah batu. Jika menemukan batu yang lebih indah, kami buang yang sebelumnya dan mengambil yang baru. Jika tidak menemukan batu, kami mengumpulkan segenggam tanah, lalu kami bawa kambing, memerah susunya di atas tanah itu, kemudian kami thawaf mengelilinginya.”

Di antara keanehan jahiliyah, seorang lelaki yang bepergian membawa empat batu: tiga untuk memasak dan kebutuhan lainnya, dan satu untuk disembah.

Berhala-Orang Arab

Mereka juga membuat berhala-berhala. Hisham bin Muhammad as-Sa’ib al-Kalbi menyebutkan: “Berhala tertua mereka adalah Manāt. Ia ditempatkan di tepi Laut Merah di daerah al-Mushallal di Qudaid, antara Mekah dan Madinah. Seluruh bangsa Arab mengagungkannya. Kaum Aus dan Khazraj serta penduduk Madinah, Mekah, dan sekitarnya sangat mengagungkannya. Mereka berkurban untuknya dan mempersembahkan hadiah kepadanya. Tidak ada yang lebih mengagungkannya dibandingkan Aus dan Khazraj. Sampai-sampai mereka melakukan haji dan mengikuti semua manasik sebagaimana manusia lainnya, tetapi mereka tidak mencukur rambut kepala mereka kecuali setelah mendatangi Manāt. Mereka tidak merasa hajinya sempurna kecuali dengan itu.”

Manāt juga menjadi berhala bagi suku Hudhail dan Khuza‘ah. Lalu pada tahun Fathu Makkah, Rasulullah ﷺ mengutus Ali bin Abi Thalib untuk menghancurkannya.

Setelah itu mereka membuat berhala al-Lāt di Thaif, yang lebih baru dibandingkan Manāt. Ia berbentuk batu persegi empat, dengan penjaga dari kalangan suku Tsaqif. Mereka membangun bangunan di atasnya. Kaum Quraisy dan seluruh bangsa Arab sangat mengagungkannya. Bahkan lahirlah nama-nama seperti Zaid al-Lāt dan Taim al-Lāt sebagai bentuk pengagungan. Lokasinya berada di tempat menara kiri Masjid Thaif sekarang. Berhala itu tetap berdiri hingga Rasulullah ﷺ mengutus al-Mughirah bin Syu‘bah dan Abu Sufyan bin Harb setelah masuk Islamnya suku Tsaqif, lalu keduanya menghancurkannya dan membakarnya dengan api.


  1. Ibnu Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, 1/122.

Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 223 dari 228 Berikutnya » Daftar Isi