Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Surah al-Fatihah (1) Kelompok I ayat 4 Salah satu tema pokok yang menjadi perhatian al-Qur'an adalah persoalan hari Pembalasan. Ayat keempat di atas menyatakan bahwa Allah adalah pemilik atau raja hari Kemudian. Paling tidak ada dua makna yang dikandung oleh penegasan ini, yaitu: Pertama, Allah yang menentukan dan Dia pula satu-satunya yang mengetahui kapan tibanya hari tersebut, sebagaimana Firman-Nya: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu ada pada sisi Tuhanku, tidak satu (makhluk) pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya kecuali Dia semata. (OS. al-A'raf (7): 187). Kedua, Allah menguasai segala sesuatu yang terjadi dan apapun yang terdapat ketika itu. Kekuasaan-Nya sedemikian besar sampai-sampai jangankan bertindak atau bersikap menentang-Nya, berbicara pun harus dengan seizin-Nya. “Pada hari itu, Ruh (Malaikat Jibril) dan para malaikat (yang lain) berdiri bershaf-shaf. Tidak ada yang berbicara kecuali yang diizinkan oleh ar-Rahman dan dia mengucapkan kata-kata yang benar” (QS. an-Naba' [76]: 38). Sedemikian mencekam keadaan ketika itu, sehingga “Kamu tidak mendengar kecuali bisikan-bisikan saja” (9S. Thaha (201: 108). Kalau dipertanyakan mengapa ayat ini tidak berbunyi “Yang menguasai hari akhirat dan hari dunia, bukankah Tuhan menguasai pula hari dunia,ini?” Jawabannya terletak pada makna yang dikandung oleh kata Malik dan Milik seperti yang dikemukakan di atas, yakni bahwa ketika itu kekuasan dan kerajaan Tuhan sedemikian menonjol sehingga tidak satu makhluk pun yang tidak merasakannya dan tidak satu pun yang berani membangkang, serta tidak sesaat pun terlintas dalam benak siapapun kemampuan atau kehendak untuk mengingkari kekuasaan Allah. Berbeda halnya dengan kekuasaan dan kerajaan-Nya dalam kehidupan dewasa ini. Walaupun Allah juga Penguasa dan Raja dalam kehidu-pan dunia ini, namun tidak semua makhluk menyadari kekuasan dan kerajaan-Nya. Ada saja di antara mereka yang membangkang bahkan mengaku sebagi Tuhan. Berbagai argumentasi telah dikemukakan al-Gur'an untuk membuktikan keniscayaan hari tersebut. Salah satu di antaranya berkaitan dengan “nilai keadilan”. Bukankah masih banyak orang-orang yang berbuat kebaikan yang menemukan ganjaran kebaikannya secara sempurna? Bukankah pula sekian banyak orang melakukan kejahatan dan belum mendapatkan balasan kejahatannya? Orang-orang kafir berkata: “Hari kebangkitan tidak akan ada”, Katakanlah: “Dia pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib. Sesungguhnya Kiamat