Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
RANAY Kelompok I ayat 4 Surah al-Fatihah (1) $ ER ilu pasti akan datang kepada kamu. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya, seberat zarrah yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak pula yang lebih kecil dari ilu dan yang lebih besar, melainkan tercantum di dalam kitab yang nyata. (Keniscayaan hari Kiamat adalah) agar Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia” (OS. Saba' (34): 3-4). Apa yang dikemukakan di atas adalah berdasarkan pengertian kalimat yaum ad-din sebagai “Hari Pembalasan di akhirat nanti setelah kehidupan di dunia ini.” Sementara pakar al-Qur'an, walaupun menerima pendapat tersebut, namun menamakan pengertian di atas sebagai pengertian lahiriah. Sedang pengertian batiniahnya melebihi apa yang dikemukakan di atas. Menurut pakar-pakar tersebuty yaww (hari) dalam bahasa al-Qur'an berarti “sesuatu saat yang cukup bagi terselesaikannya suatu perbuatan nyata, baik singkat maupun panjang”. Hari Pembalasan dalam ayat ini secara lahiriah adalah hari tampaknya secara jelas kemandirian Allah dalam memberi balasan, kemandirian yang menjadikan semua pihak yang tadinya ragu atau menduga memiliki kemampuan, menjadi tidak berkutik sama sekali. Hari itu dimulai dari saat kebangkitan dari kubur sampai dengan saat kekekalan (di surga atau neraka). Itulah makna lahiriahnya. Adapun makna batiniahnya adalah bahwa pada hakikatnya “hari Pembalasan” bermula sejak saat seseorang melakukan pelanggaran; pada saat itu pulalah terjadi pembalasan Tuhan. Pembalasan Allah tidak ditunda, hanya saja terkadang ia tidak nampak atau tidak dirasakan manusia. Dan di sanalah letak sisi “batiniah”nya. Dalam konteks ini Nabi SAW. bersabda: “Apabila seseorang berdosa, diteteskan ke dalam hatinya suatu titik hitam” (HR. at-Tirmidzi, an-Nas2'i, Ibn Majah melalui Abu Hurairah). Titik hitam ini adalah pembalasan Tuhan. Di samping itu, menurut penganut pendapat ini, semua malapetaka yang terjadi di dunia melalui tangan makhluk-makhluk Allah pada hakikatnya adalah pembalasan Tuhan, walaupun orang-orang yang lengah, melemparkannya kepada perbuatan manusia. Allah berfirman: “Dan apa saja malapetaka yang menimpa kamu, maka itu disebabkan perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kamu)” (OS. asy-Syura (42): 30). Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari, Nabi bersabda: “Demam adalah sekelumit dari angin neraka, maka dinginkanlah ta dengan air,” yakni letakkanlah kain basah di dahinya.