Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi.
Siapa pun yang mengenalnya akan bertanya-tanya: bagaimana beliau mampu menulis sebanyak itu buku?
Namun kenyataannya, apa yang beliau baca, teliti, dan catat jauh lebih banyak daripada apa yang beliau tulis dan terbitkan. Hampir tidak terlihat satu menit pun waktunya terbuang sia-sia. Bahkan terkadang engkau bertanya: apakah beliau masih sempat bernapas sejenak atau tidur?
Terlepas dari gurauan, beliau benar-benar seorang manusia Al-Qur’an, sosok yang gemar membaca, meneliti, dan berilmu. Beliau memikul kepedulian untuk menyampaikan warisan keilmuan Islam kepada masyarakat dengan gaya yang sesuai zaman. Beliau telah mendedikasikan hidupnya untuk akidahnya, ilmu, dan buku. Foto yang ada dalam unggahan itu aku ambil saat salah satu perjalanan, setelah meminta izin kepada beliau.
Engkau tidak akan banyak melihat beliau dalam rapat-rapat administratif, atau konferensi mewah yang penuh cahaya dan hiasan. Tetapi engkau akan menemukannya di perpustakaan, di antara rak-rak buku dalam pameran buku, atau di tengah masyarakat memperbaiki keadaan dan menyatukan hati.
Beliau tidak mencari popularitas, tidak menunggu tepuk tangan, dan tidak menyibukkan diri agar namanya disebut dalam protokol atau acara-acara resmi. Beliau tidak menginginkannya, tidak mencarinya, bahkan tidak memikirkannya.
Kami belajar banyak hal dari ulama mulia ini; kami belajar adab, tawaduk, husnuzan, dan keikhlasan niat. Kami belajar bagaimana membaca sejarah Islam dengan sederhana namun sadar, agar dapat mengambil pelajaran dan hikmah darinya. Kami juga belajar bagaimana menjadi manusia yang memiliki kitab, ilmu, dan misi.
Beliau orang Libya, tetapi sebagian hatinya hidup di Istanbul. Beliau tinggal di Doha, tetapi Palestina hadir dalam jiwa dan kerinduannya. Beliau hidup di tengah para ulama, namun tetap memandang dirinya sebagai penuntut ilmu. Beliau dikenal dan masyhur, tetapi tidak sibuk dengan kemasyhurannya. Banyak membaca, dan banyak menulis pada saat yang sama.
Al-Qur’an hadir dalam pembicaraannya, analisisnya, caranya berpikir, dan kesimpulan yang beliau capai. Engkau merasakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an menyertainya dalam pemikiran, metode, dan pandangannya terhadap kehidupan. Dan yang beliau cari pada akhirnya adalah hakikat ayat-ayat itu dalam realitas manusia dan kehidupan.
Itulah sejarawan Muslim asal Libya, Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi.
Beliau berada di tengah kita, masih hidup, menjadi karunia maknawi bagi umat, dan teladan langka yang patut dikenal nilainya.
Dan dalam waktu dekat aku juga akan menulis tentang nama-nama lain, dari sudut pandang pribadiku. Aku tidak akan menunggu mereka wafat terlebih dahulu baru kemudian kita berbicara tentang mereka.
--- Ragab Sonkol, Direktur Dar Al-Ashalah
