@maman-solihin
Apa kata mereka tentang buku ini…
(Di Bawah Panji Thūfan)
🔥“Aku hidup bersama buku ini ketika menelaah dan meneliti isinya, kata demi kata, huruf demi huruf. Sering kali aku berhenti di tengah pembacaan, tertegun dan hanyut dalam apa yang tertulis, lalu menangis. Aku menangis atas diriku sendiri yang terhalang dari semua pahala besar itu; menangis bahagia atas pertolongan dan bimbingan Allah kepada mereka; dan menangis pilu atas keadaan mereka — serta atas lemahnya umat yang telah meninggalkan para pahlawan seperti mereka, yang sangat jarang dilahirkan kembali oleh zaman...”
> — Dr. Abdurrahman Zaki Hamad
🔥 “Syahid telah menuliskan bagi kita dalam bukunya kata-kata yang membuat hati menangis dan menyesak jiwa, di antaranya yang sering diulanginya, ‘Sungguh, seratus derajat yang telah disiapkan Allah untuk para mujahid sudah cukup bagi kita untuk meninggalkan segala kenikmatan dunia demi itu...’”
> — Syekh Dr. Nawaf Takruri
🔥 “Begitulah aku membacanya tiga kali, dan tak pernah merasa cukup. Aku mencuri waktu untuk membacanya kembali, berulang kali, berharap bisa hidup dalam peristiwanya dan masuk ke dalam suasana perjalanannya. Kadang aku takjub, kadang gembira, kadang sedih, kadang menangis dengan perih, dan kadang pikiranku terbang penuh rasa haru yang tak terucap...”
> — Syekh Dr. Muhammad Yusuf al-Jurani
📲:0851-7952-3933
🛒:https://id.shp.ee/JgZx4YK
> IG :@penerbit_pcp
> Tiktok :@pustakacahayaperadaban

Di Rumah NABI ﷺ!
Abu Bakar datang meminta izin untuk menemui Rasulullah ﷺ. Ia mendapati orang-orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, namun tidak seorang pun diizinkan masuk. Lalu Abu Bakar diizinkan masuk, maka ia pun masuk.
Kemudian Umar datang dan meminta izin, lalu diizinkan masuk. Ia mendapati Nabi ﷺ sedang duduk, dikelilingi oleh istri-istrinya, dalam keadaan murung dan diam.
Umar berkata dalam hati, “Aku akan mengatakan sesuatu yang bisa membuat Nabi ﷺ tertawa.”
Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihat putri Kharijah meminta nafkah kepadaku, maka aku pun berdiri dan memukul lehernya!”
Maka Rasulullah ﷺ tertawa dan bersabda:
“Lihatlah mereka di sekelilingku ini, semuanya meminta nafkah kepadaku!”
Maka Abu Bakar berdiri menuju Aisyah dan memukul lehernya dengan pukulan ringan sebagai teguran. Umar pun berdiri menuju Hafshah dan melakukan hal yang sama. Keduanya berkata:
“Kalian meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang beliau tidak memilikinya?!”
Mereka pun berkata:
“Demi Allah, kami tidak akan pernah lagi meminta sesuatu kepada Rasulullah ﷺ yang beliau tidak memilikinya!”
Setelah itu Nabi ﷺ menjauhi mereka selama sebulan, atau dua puluh sembilan hari. Kemudian turunlah ayat:
> “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan kuberikan kepada kalian mut‘ah dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Tetapi jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa saja di antara kalian yang berbuat baik.”
> (QS. Al-Ahzab: 28–29)
Maka Nabi ﷺ memulai dengan Aisyah dan bersabda:
“Wahai Aisyah, aku ingin menyampaikan suatu perkara kepadamu. Aku ingin engkau tidak tergesa-gesa hingga engkau bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.”
Aisyah berkata:
“Apakah itu wahai Rasulullah?”
Lalu beliau membacakan ayat tersebut kepadanya.
Aisyah berkata:
“Apakah tentang dirimu, wahai Rasulullah, aku perlu meminta pendapat kedua orang tuaku?! Bahkan aku memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Namun aku memintamu agar tidak memberitahukan kepada istri-istrimu yang lain tentang apa yang aku katakan.”
Beliau bersabda:
“Tidaklah salah seorang dari mereka bertanya kepadaku kecuali aku akan memberitahukannya. Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang mempersulit dan keras, tetapi Dia mengutusku sebagai pengajar yang memudahkan.”
#Pelajaran Pertama
Nabi ﷺ tidak selalu dalam keadaan miskin. Namun beliau adalah manusia paling dermawan, baik ketika miskin maupun kaya. Kedermawanan beliau sampai pada tingkat beliau menginfakkan sebagian besar hartanya untuk manusia, dan tidak menyisakan bagi dirinya serta keluarganya kecuali sedikit saja.
Ibu-ibu kaum mukminin pun merasakan sempitnya kehidupan. Harta adalah roda kehidupan bagi semua manusia, baik mukmin maupun durhaka. Tidak ada seorang pun kecuali menyukai kehidupan yang lapang, dan itu bukanlah cela ataupun kekurangan.
Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang memiliki iman dan hati seperti Nabi ﷺ. Maka istri-istri beliau tidak mampu menanggung apa yang beliau sanggupi. Mereka meminta agar beliau memperbanyak nafkah untuk mereka.
Sedangkan beliau ingin agar keluarganya memiliki keyakinan kepada Allah dan semangat bersedekah di jalan-Nya sebagaimana yang beliau miliki. Inilah yang membuat beliau bersedih. Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, seluruh hidup beliau adalah untuk Allah.
#Pelajaran Kedua
Perselisihan rumah tangga terjadi di semua rumah. Kita adalah manusia: memiliki tabiat, keinginan, suasana hati, dan emosi.
Kehidupan, betapa pun bahagianya, tentu akan diselingi beberapa saat kesempitan dan kegelisahan. Kita tidak menyeru kepada rumah tangga yang tidak memiliki masalah. Kalau ada rumah yang bebas darinya, tentu rumah Nabi ﷺ dan para sahabatlah yang paling pantas, karena merekalah manusia yang paling tinggi iman dan akhlaknya.
Namun yang kita serukan adalah: hendaknya kita berselisih dengan cara yang mulia. Jangan melampaui batas, jangan berlaku kasar, jangan merendahkan martabat, dan tetap menjaga kehormatan satu sama lain.
#Pelajaran Ketiga
Kehidupan itu berat bagi semua orang, baik suami maupun istri. Yang bisa kita lakukan hanyalah saling meringankan perjalanan.
Sesekali aku memikul bebanmu, dan sesekali engkau memikul bebanku. Engkau memahami perjuanganku mencari nafkah, dan aku memahami perjuanganmu mengurus anak-anak serta tanggung jawab rumah.
Kehidupan ideal yang bebas dari lelah, kesedihan, dan kesulitan hanyalah di surga. Adapun dunia ini adalah tempat letih dan perjuangan.
Tidak ada pilihan bagi kita selain meringankannya dengan kasih sayang dan akhlak yang baik, atau justru menambah kerasnya dengan egoisme dan kerasnya hati.
#Pelajaran Keempat
Rumah tangga yang tenang, bahagia, dan stabil bukanlah rumah yang tidak pernah memiliki masalah. Tetapi rumah yang masalah-masalahnya hanya lewat sebentar.
Hari-hari panjang penuh cinta, kadang diselingi sedikit kejengkelan. Banyak saat penuh ketenangan, kadang diselingi sesaat kegelisahan. Umur yang penuh kemanjaan, kadang ternoda beberapa hari saling berpaling. Sejarah panjang penuh kelembutan, kadang terusik beberapa saat kekerasan.
Demikianlah rumah-rumah orang saleh. Dan pemimpin orang-orang saleh adalah Nabi kita ﷺ.
#Pelajaran Kelima
Wanita yang baik asal-usul dan akhlaknya akan bersabar bersama suaminya menghadapi kerasnya dunia. Sedangkan wanita yang buruk perangainya akan berpihak kepada dunia untuk melawan suaminya.
Hakikat manusia tidak tampak saat lapang dan rukun, karena di saat-saat seperti itu semua orang tampak mulia. Namun ketika dunia berpaling, manusia menjadi berbeda; tampak mana yang baik dan mana yang buruk.
Pada akhirnya, hidup ini adalah kumpulan sikap dan ujian.
#Pelajaran Keenam
Nabi ﷺ tidak mengizinkan orang-orang masuk menemui beliau karena keadaan hati beliau saat itu tidak memungkinkan untuk bertemu siapa pun.
Sudahkah kita memahami bahwa seseorang terkadang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, beristirahat dari beratnya kehidupan?
Namun beliau mengizinkan Abu Bakar dan Umar masuk karena masalah itu adalah masalah keluarga. Keduanya juga merupakan mertua beliau: Abu Bakar adalah ayah Aisyah dan Umar adalah ayah Hafshah.
Ini adalah pelajaran besar agar kita tidak menjadikan masalah rumah tangga sebagai konsumsi semua orang.
#Pelajaran Ketujuh
Umar bin Khaththab tidak tega melihat kesedihan di wajah Nabi ﷺ, maka ia ingin membuat beliau tertawa.
Ia menceritakan sebuah kisah lucu yang masih berkaitan dengan masalah yang sedang terjadi, yaitu permintaan nafkah dari istri-istri Nabi ﷺ sementara beliau tidak memiliki harta saat itu.
Termasuk bentuk memahami cara menghibur orang yang sedang punya masalah adalah dengan membuatnya merasa bahwa semua rumah tangga juga mengalami perselisihan.
#Pelajaran Kedelapan
Abu Bakar dan Umar tidak ridha putri-putri mereka meminta sesuatu yang tidak dimiliki Nabi ﷺ. Inilah kemuliaan para ayah.
Jika keluarga mengetahui keadaan suami yang sempit dan kekurangan harta, maka mereka seharusnya membantu menasihati putri mereka agar hidup sesuai dengan apa yang Allah berikan.
Karena banyaknya tuntutan kepada suami yang kesulitan harta akan memberatkan pundaknya, membuatnya merasa tidak mampu, menumbuhkan kejenuhan antara suami istri, bahkan bisa merusak rumah tangga.
Maka bersikaplah lembut dan penuh pengertian.
— Adham Syarqawi,
Ibu-ibu Generasi
Ditulis Oleh Sang Mujahid Zaki Hamad
Tanggung jawab wanita itu besar, dan amanahnya agung. Dialah yang mendidik dan menumbuhkan untuk kita para pahlawan mujahid. Terutama di zaman ini yang marak kemanjaan dan hal-hal remeh. Maka bentengilah diri kalian dengan ilmu dan keteguhan, dan tanamlah benih dengan baik wahai ibu-ibu generasi.
Yang menambah penting amanah ini adalah bahwa kita hidup di zaman pamer dan hal-hal yang berkaitan dengannya, berupa akhlak buruk yang merusak batin dan lahir manusia. Mulai dari pamer ilmu dan yang berkaitan dengannya, seperti menjamurnya ritual budaya buku, menulis, dan kopi hitam. Sampai pamer merek dan brand, mengejar tren. Sampai memfoto momen buka kado. Sampai memfoto kemewahan berupa makanan dan pakaian. Sampai memfoto dekorasi dan alat pintar. Sampai memfoto keistimewaan dan keunikan diri dari orang lain. Sampai berubah dari pamer baju dan barang, menjadi pamer tubuh. Kita hidup di zaman mesin dan kemunduran manusia! Jangan lupa bahwa apa yang telah disebutkan tadi akan merusak kesucian hatimu, maka berhati-hatilah, dan jangan jadi ikut-ikutan!
Aku meyakini bahwa salah satu fungsi pendidikan terpenting bagi ibu-ibu generasi mendatang adalah mengajarkan anak-anak mereka makna \"privasi\". Mengajarkan mereka bahwa tubuh mereka bukan untuk dipamerkan di aplikasi, dan tidak setiap kenangan perlu dipamerkan, serta peristiwa penting bisa disikapi dengan tenang.
Di zaman pamer, serba cepat, dan menjamurnya syahwat serta hal melalaikan, telah menjadi akhlak yang langka atau sedikit di kalangan anak perempuan, misalnya: Seorang gadis yang punya mushaf khusus yang ia baca wiridnya terus-menerus! Seorang gadis yang memperpanjang sujud, berdoa, dan menangis! Seorang gadis yang shalat fardhu berjamaah di rumahnya! Seorang gadis yang membaca dzikir pagi dan petang dan menjaganya! Seorang gadis yang mendengar nasihat bermanfaat lalu membentengi dirinya dengannya dan meninggalkan kebiasaan pindah-pindah antara halaman dan platform!
Selalu ingat: Allah tidak melihat bentuk fisikmu, tapi Dia melihat hatimu. Maka perhatikanlah hatimu. Masa depan itu berat, dan butuh kesabaran serta keteguhan.

Ikatan-ikatan Islam
Ditulis oleh Sang Mujahid Zaki Hamad
Dari Abu Umamah Al-Bahili , dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda: “Sungguh ikatan-ikatan Islam akan terurai satu demi satu. Setiap kali satu ikatan terurai, manusia akan berpegang pada ikatan setelahnya. Dan ikatan yang pertama kali terurai adalah hukum, dan yang terakhir adalah shalat.”
Pesan dan arahan dari hadits ini: Wahai pemilik cita-cita tinggi, jadilah engkau takdir Allah yang menunda terurainya ikatan-ikatan Islam. Meneladani Abu Bakar Ash-Shiddiq ketika beliau berkata saat memerangi orang-orang yang menolak zakat: “Apakah agama akan berkurang sedangkan aku masih hidup?”[2]
Maka ajaklah bicara dirimu sendiri wahai pemuda Muslim, dan katakan padanya: Apakah kita adalah generasi yang di zaman kitalah kesucian-kesucian itu akan diruntuhkan?!.[3]
Dari sudut pandang lain, sementara manusia tenggelam dalam urusan dunia dan syahwat mereka... hatiku terikat pada pemuda itu yang dunia di sekitarnya penuh godaan, tapi ia tetap setia menjaga proyeknya, ide-nya, dan perjuangannya. Ia tidak peduli kecuali pada ruang pengaruhnya, bidang kreatifnya, dan pencapaian tujuannya.
Cita-citanya terfokus pada menghafal Al-Qur’an dan memantapkan bacaannya serta maknanya, pada mengajar anak-anak Al-Fatihah, pada membantu orang miskin dan memenuhi kebutuhan mereka, pada mencetak dan menyebarkan buku saku dan ringkasan kecil yang bermanfaat bagi generasi. Cita-citanya adalah menolak syubhat dari pemikiran kaum Muslimin. Dan cita-citanya benar-benar terfokus, bukan sekadar formalitas, pada menyiapkan kekuatan dan mengembangkan kerja militer melawan musuh-musuh umat.
Singkatnya... cita-citanya terfokus pada amal hari dan malamnya, serta manfaat untuk agama dan umatnya!!
Demi Allah, inilah orang yang memberi manfaat bagi dirinya dan bagi kita. Kelak banyak orang akan menyadari betapa gelapnya kegelapan yang mereka jalani. Dan dia akan menyadari nilai jihad di bidang pembangunan dan pengaruh yang ia habiskan waktunya untuk itu.
Adapun orang-orang yang banyak bicara, yang berkeliling pada setiap hal remeh, maka mereka hanyalah beban bagi orang lain. Maka ya Allah, tunjukilah mereka dan tunjukilah kami. Dan kita katakan kepada mereka: Cabang-cabang iman menantimu untuk mengisinya, maka bergeraklah dan tunjukkan kepada Allah kebaikan dari dirimu. Karena umur itu berlalu sekejap mata!!

Atau Apakah Mereka Tidak Mengenal Rasul Mereka? ﷺ
Ditulis oleh Sang Mujahid Zaki Hamad
Banyak dari anak-anak umat Islam yang tidak mengetahui tentang Rasulullah ﷺ kecuali sedikit saja. Allah berfirman:
“Atau apakah mereka tidak mengenal rasul mereka, sehingga mereka mengingkarinya?” [Al-Mu’minun: 69]
Maka mari kita mengenal kilasan cepat dari manhaj dan politik Rasulullah ﷺ:
1- Jago dalam pembinaan moral untuk pasukan militernya. Pembinaan ini berkontribusi dalam menyiapkan ratusan pasukan. Dan sampai hari ini kita masih menggunakan ungkapan-ungkapan yang sama untuk menyemangati para pejuang.
2- Beliau selalu berada di barisan depan dalam memerangi para penyerang agama Allah dan wali-wali-Nya. Beliau juga mengarahkan pasukannya untuk menyerang kekuatan militer musuh hingga ke ujung Jazirah Arab.
3- Beliau mengharamkan pemungutan pajak dari seluruh lapisan masyarakat. Bahkan beliau mengarahkan penguasa untuk hanya mengambil zakat dari orang-orang kaya saja. Islam hanya membolehkan pajak dalam kondisi sangat sempit, seperti ketika kas negara kosong atau untuk menolak bencana dan serangan terhadap negara Muslim. Dan itu pun hanya diambil dari orang kaya.
4- Beliau bangkit melawan riba Yahudi yang menyebar di Jazirah Arab. Beliau menolak dan memeranginya, bahkan menghancurkan proyek-proyek riba mereka sampai tuntas.
5- Beliau menandatangani perjanjian dan traktat, baik lokal maupun internasional. Beliau menjadikan masa gencatan senjata sebagai waktu untuk menegakkan fondasi negara dan menyatukan kekuatannya, bukan sebagai pengakuan terhadap kebatilan atau tunduk padanya.
6- Beliau menyurati imperium-imperium besar di zamannya seakan beliau adalah kekuatan yang setara atau bahkan lebih besar dari mereka. Dan beliau mengakui hak suaka politik pada sebagian mereka.
7- Beliau memberikan ampunan terbesar yang dikenal sejarah ketika membebaskan Makkah Al-Mukarramah.
8- Beliau memerangi pilar-pilar sistem lama, dan menghukumi darah sebagian dari mereka. Dengan itu beliau memperingatkan umat agar tidak menerima tokoh-tokoh yang merupakan simbol sistem lama di sebuah negara atau pemerintahan yang terbentuk setelah perang atau revolusi. Karena mereka dianggap sebagai pemikir dan perwakilan dari sistem lama mereka dan “negara bayangan” yang akan menghancurkan negara baru.
9- Beliau memuliakan wanita dan anak, memberi mereka hak sepenuhnya, dan menegakkan konstitusi yang menuntut keadilan bagi mereka yang hukumnya masih berlaku sampai hari ini.
10- Beliau menikahi lebih dari satu wanita yang sudah lanjut usia. Sebagiannya untuk kemaslahatan agama, sebagiannya untuk kemaslahatan sosial, dan sebagiannya untuk kemaslahatan psikologis. Sebagai faidah: pernikahan yang paling berat di umat ini adalah pernikahan Nabi ﷺ.
11- Beliau menyampaikan konstitusi dari sisi Allah. Beliau tidak menambah dan tidak menguranginya. Dan di dalamnya tidak ada satu kisah pun tentang kehidupan salah seorang dari anak-anak atau putri-putri beliau.
12- Beliau meluangkan waktu untuk menyendiri dengan Pencipta alam semesta, untuk tazkiyatun nafs dan menenangkan hatinya. Beliau bermunajat, berdoa, shalat, sujud, dan kadang menangis karena cinta kepada Tuhannya!
Sesungguhnya konstitusi dan manhaj yang ditegakkan Muhammad ﷺ telah memperbaiki kepemimpinan umat manusia di semua bidang, setelah bumi rusak, kehidupan menjadi tua dan lapuk, kepemimpinan membusuk, dan umat manusia merasakan penderitaan karena busuknya pemikiran dan perilaku pada saat itu.
Sungguh Muhammad ﷺ datang dengan pandangan baru tentang nilai, kehidupan, sistem, dan pemerintahan. Dan semua ini tidak terjadi secara kebetulan.
Maka aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah ﷺ.

Hari raya dalam Islam memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar kegembiraan sesaat…
Ia selalu datang setelah musim perjuangan, kesungguhan, dan pendekatan diri kepada Allah.
Idul Fitri datang setelah Ramadan,
dan Idul Adha datang setelah hari-hari agung yang dipenuhi puasa, zikir, doa, dan ibadah haji.
Seakan-akan pesan yang terus berulang setiap tahun adalah:
bahwa hati setelah ketaatan menjadi lebih mampu merasakan kebahagiaan,
lebih tenang,
dan lebih peka terhadap nikmat-nikmat kecil dalam hidup yang sering kali dilewati manusia tanpa perhatian.
Karena itu,
hari raya bukan sekadar momen pakaian baru, jamuan makanan, atau kunjungan,
melainkan saat di mana ruh kembali mendapatkan sebagian ringan dan lapangnya setelah lelah yang panjang.
Dan di antara hal terindah dari hari raya…
ialah bahwa ia mengembalikan manusia kepada makna-makna sederhana yang menghadirkan kehangatan sejati dalam kehidupan.
Aroma kopi di rumah-rumah,
gema takbir,
keceriaan anak-anak,
berkumpulnya keluarga,
serta tawa yang kembali hadir setelah lama tersibukkan.
Kehidupan modern telah mengambil banyak hal dari manusia:
ketenangan,
kedekatan,
waktu,
dan kehangatan keluarga…
Lalu datanglah hari raya,
seakan mengingatkan semua orang bahwa hati masih mampu berbahagia,
dan rumah-rumah masih bisa dipenuhi kasih sayang kembali, betapa pun berat hari-hari yang telah dilalui.
Karena itu,
hari raya yang paling indah bukanlah yang membuat seseorang memiliki lebih banyak…
melainkan yang membuatnya merasakan kedekatan yang lebih besar:
dengan Allah,
dengan keluarganya,
dan dengan dirinya sendiri.
Sebagian orang mungkin akan lupa setelah bertahun-tahun:
apa hadiah yang mereka terima saat hari raya…
namun mereka tidak akan pernah lupa:
siapa yang membuat mereka merasa dicintai,
siapa yang mengunjungi mereka,
siapa yang berdamai dengan mereka,
dan siapa yang mengembalikan ketenangan ke dalam hati mereka melalui kata-kata yang tulus.
Hari raya bukanlah hari yang berlalu begitu saja…
melainkan pengingat lembut bahwa hidup — betapa pun berat hari-harinya — masih memiliki ruang untuk kebahagiaan, kasih sayang, dan awal-awal yang indah.
— Dr. Abdul Karim Bakkar
TAKAYA: Tempat Tinggal bagi Penuntut Ilmu dan Musafir
Takiyah (dalam bentuk tunggal dari takaya) adalah bangunan yang biasanya didirikan di dekat masjid, dan berisi kamar-kamar tempat berlindung bagi para penuntut ilmu atau mereka yang terputus dari negeri asalnya. Takiyah menyebar luas pada masa kekhalifahan Utsmaniyah di negeri-negeri Islam yang berada di bawah kekuasaan mereka.
Kata takiyah berasal dari bahasa Turki dan sejalan dengan istilah khanqah (tempat sufi berkhalwat) dan zawiyah(pondok sufi). Kata ini menjadi populer dikalangan Utsmaniyah. Asal usul katanya tidak begitu jelas, namun ada beberapa pendapat: sebagian mengaitkannya dengan kata kerja Arab [ wata a] atau [ittaka a] yang berarti bersandar atau bertumpu, apalagi mengingat makna kata takiyah dalam bahasa Turki adalah: bersandar, bertumpu, atau menyandarkan diri pada seauatu untuk beristirahat dan bersantai.
Ibnu Jubair, seorang musafir asal Andalusia yang mengunjungi Suriah pada abad ke -12 Masehi, menuturkan tentang takiyah ini:
Ia adalah bangunan-bangunan megah yang dialiri air di seluruh sisinya dengan pemandangan yang sangat indah. Kaum sufi yang tinggal di takiyah hidup seperti para raja di negeri ini, karena Allah telah mencukupi mereka dari urusan dunia dan segala kelebihannya, dan mengosongkan pikiran mereka untuk beribadah kepadanya, tanpa perlu memikirkan cara mencari penghidupan. Mereka tinggal di bangunan-bangunan yang mengingatkan mereka pada istana jin."
Seiring waktu, kata takiyah menjadi lebih umum digunakan untuk menyebut tempat-tempat yang menyediakan makanan gratia bagi fakir miskin, penduduk sekitar masjid, dan para pelayan masjid - tanpa lagi dikaitkan secara khusus dengan dunia tasawuf. Takiyah dikenal dan tersebar dibanyak kota islam seperti Damaskus, Baghdad, Basrah, Makkah, Hijaz, Sulaimaniyah, Al-Quds, Hebron, Tripoli, kawasan Maghrib (Afrika Utara), Mesir, dan negeri-negeri Islam lainnya.
📚Kreatifitas Wakaf dalam Peradaban Islam
🖋️Dr. Isa al-Qaddumi
📲https://wa.me/c/6285179523933
🛒https://id.shp.ee/WPSXWsAE
Kekasih Hati Kami, Wahai Tuan Kami Rasulullah ﷺ
Ditulis oleh Sang Mujahid Zaki Hamad
Kami tidak mengetahui ada kebaikan yang sampai kepada kami kecuali Nabi ﷺ menjadi sebab dan memiliki keutamaan di dalamnya. Tidak ada kebaikan yang kami alami, dan tidak ada pahala yang kami peroleh, kecuali semua itu dengan berkah Rasulullah ﷺ.
Allah berfirman: “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus seorang rasul di tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Sungguh, sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” [Ali ‘Imran: 164]
Beliau adalah cahaya yang nyata, diutus oleh Tuhan semesta alam untuk mengeluarkan kita dari kegelapan kebodohan dan kesesatan menuju taman-taman kebenaran dan petunjuk. Beliau telah menyampaikan agama dengan penyampaian yang sempurna dari Tuhannya. Dengan beliau, Allah meluruskan agama yang bengkok, dan dengan dakwahnya Allah membuka mata yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang tertutup. Hingga agama ini sampai kepada kita, dan Allah memuliakan kita dengan kenikmatan ini.
Maka semoga Allah membalasmu dengan balasan terbaik untuk kami, wahai kekasihku, wahai Rasulullah.
Betapa besar kebutuhan kita untuk mengenal dan memperkenalkan manusia kepada Rasulullah ﷺ, serta mengikat alam semesta dengan manhaj dan sirah beliau. Dengan itu mereka akan mendapatkan berkah dengan mengikuti nabi yang mulia ini. Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” [Al-Anbiya’: 107]
Kami terbiasa di bulan Rabi’ul Awwal setiap tahun untuk mengadakan majelis-majelis kajian terhadap salah satu kitab yang membahas Nabi ﷺ, sirah beliau, dan kedudukan beliau yang mulia. Itu kami lakukan bersama sekelompok orang-orang terkasih dari kalangan penuntut ilmu.
Alangkah agung kedudukanmu, wahai kekasihku Rasulullah. Dan alangkah besar hakmu atas kami. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan-Nya, memuliakan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang.” [Al-Fath: 8-9]
Sungguh, tidak pernah hidup orang yang tidak hidup untuk risalahmu, wahai Tuan kami, wahai Rasulullah.
Alhamdulillah, selama lima tahun berturut-turut kami telah menyelesaikan lima persinggahan singkat dalam rangka mengenal Nabi ﷺ:
1. Kami memulainya dengan syarah Al-Arjuzah Al-Mi’iyyah fi Dzikri Hal Asyrafil Bariyyah karya Ibnu Abi Al-‘Izz Al-Hanafi ﷺ.
2. Di tahun kedua, kami lanjutkan dengan Mukhtasar Asy-Syifa’ bi Ta’rif Huquqil Mustafa karya Qadhi ‘Iyadh ﷺ.
3. Pada tahun ketiga, Allah memuliakan kami dengan mengkaji kitab Asy-Syama’il Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi ﷺ.
4. Pada tahun keempat, kami mengkaji kitab Ma La Na’rifuhu ‘an Rasulillah ﷺ karya Syaikh Hazim Shalih Abu Isma’il — semoga Allah memerdekakannya dengan kemuliaan.
Dan pada tahun terakhir, beberapa hari sebelum perang ini dimulai, kami mengkaji dengan linangan air mata kitab Wa Azhlamatil Madinah.. Wafatun Nabi ﷺ karya guru kami, Syaikh Asy-Syahid Nizar Rayyan ﷺ.
Meski dengan lima persinggahan ini, kami tetap merasa belum mengenalmu kecuali sedikit, wahai Tuan kami, wahai Rasulullah.
Allah memuliakanku dengan menunaikan ibadah umrah setahun sebelum pertempuran ini dimulai. Aku mengunjungi Tuan kami Rasulullah ﷺ, berdiri di depan makam beliau yang mulia, dan merasakan seakan aku berada dalam jamuan kemurahan beliau. Berbagai renungan melintas di benakku pada saat itu.
Ya Allah, betapa beratnya beban dakwahmu, wahai Tuan kami Rasulullah. Dan betapa besar kelalaian kami!
Ya Allah, betapa agungnya risalah Islam kita, dan betapa dakwah ini telah dizalimi hingga ia berubah menjadi sekadar pandangan-pandangan!
Alangkah agung hatimu, wahai Tuan kami Rasulullah. Alangkah agung syariatmu.
Aku merasakan sesuatu yang besar di hatiku, yang tidak kutahu apa namanya. Perasaan antara kemuliaan yang kami ambil dari Al-Qur’an dan syariat kami, dan antara kesedihan atas orang-orang yang tersesat dari jalanmu, serta atas para penguasa zalim yang jauh dari tujuan Rasulullah ﷺ.
Engkau tidak pernah lalai, wahai Tuan kami Rasulullah. Mustahil. Engkaulah kebanggaan kami di antara umat-umat.
Aku juga menyampaikan kepadanya bahwa aku telah menghafal Al-Qur’an dan memantapkannya di luar kepala. Maka air mataku pun mengalir. Aku kira beliau merasa senang dengan itu.
Aku memohon kepada Allah di Raudhah Asy-Syarifah yang diberkahi agar Dia memberiku taufik untuk mengamalkan apa yang telah kuhafal.
Aku sampaikan kepadanya semangat para mujahidin dan para syekh kami, dan kusampaikan salamku dan salam mereka. Alangkah besar cinta mereka kepadamu, wahai Rasulullah!!
Aku berdoa untuk orang-orang yang kami cintai, orang tua kami, para guru kami, dan siapa saja yang memiliki jasa atas kami.
Kami memperbarui baiat kami kepada Rasulullah ﷺ, dan hal-hal mulia lainnya.
Demi Allah, sungguh ziarah kepada Nabi ﷺ telah menghidupkanku kembali. Kedudukan beliau di hatiku sangat agung.
Maka bantulah aku, ya Rabb, untuk memikul beban syariat dan dakwah beliau. Kumpulkanlah aku dan orang-orang yang kucintai di bawah benderanya dan dalam golongannya.
Ini adalah perasaan-perasaan yang ingin kuungkapkan untuk menambah kerinduan para pecinta Rasulullah ﷺ, agar mereka mengenal beliau lebih dalam dan mengikuti jejak serta sunnah beliau.

Otoritas Pengkhianatan
Ditulis oleh: Sang Mujahid Zaki Hamad
Sejak detik pertama dimulainya pertempuran Thufan, Otoritas Abbas langsung terjepit dalam dilema!!
Apakah mereka akan mengecam operasi heroik yang membuat setiap muslim bergembira, lalu menyampaikan belasungkawa kepada Israel atas musibahnya? Dengan begitu mereka akan menampakkan bahwa loyalitas penuh mereka hanya untuk penjajah, dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan mereka dalam pertempuran antara kebenaran dan kebatilan.
Atau akankah mereka memuji operasi itu dan kehilangan semua teman mereka dari kalangan Israel, Amerika, Barat, dan Zionis?!!
Inilah dilema orang-orang munafik di setiap zaman. Inilah sunnah Allah pada makhluk-Nya, sebagaimana firman-Nya:
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik.” [Ali ‘Imran: 179]
Tentu saja, dengan kebodohan yang luar biasa, yang dilakukan oleh otoritas kehinaan ini hanyalah menjadikan perkara itu sebagai pertempuran antara dua kubu: [Hamas dan Yahudi], [Sinwar dan Netanyahu].
Bahkan anak buah Saba’ yang suka mengumandangkan kebusukan mereka berkata terang-terangan: “Netanyahu berambisi pada kekuasaan, dan Hamas juga berambisi pada kekuasaan.” Ia mengatakan itu tepat saat penyerbuan ke Rumah Sakit Al-Shifa.
Kemudian, yang dilakukan oleh penjahat Abbas hanyalah mengatakan:
“Sesungguhnya kesalahan Hamas pada 7 Oktober telah membuat penjajah berani untuk semakin tenggelam dalam darah rakyat kami.”
Ia mencaci para mujahidin dengan sebutan “anak anjing” dan menuntut mereka menyerahkan tawanan Israel secara cuma-cuma. Ia membebankan tanggung jawab kepada perlawanan dan menyamakan antara algojo dan korban.
Yang aneh, pernyataan ini keluar pada hari yang sama ketika terjadi dua pembantaian besar yang menewaskan ratusan syuhada sipil yang tidak bersalah.
Sesungguhnya berafiliasi kepada otoritas ini adalah kejahatan secara syar’i, apalagi setelah terlihat jelas kerja sama mereka dengan penjajah dalam memburu para mujahidin dan pejuang perlawanan, lalu menyerahkan mereka kepada penjajah dengan tangan mereka sendiri.
Perbuatan-perbuatan ini, meskipun pelakunya menamakannya “koordinasi”, pada hakikatnya adalah murtad dari agama Allah.
Maka atas setiap orang yang berafiliasi kepada otoritas ini, hendaklah ia menyucikan senjatanya iia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, apalagi penjajah perampas itu berbuat kerusakan di Tepi Barat siang dan malam. Padahal jumlah pasukan di aparat otoritas itu lebih dari tujuh puluh ribu orang bersenjata.
Apa yang telah diberikan Abbas kepada rakyat Yahudi sejak tahun 2005 M hingga sekarang, bahkan tidak diberikan oleh sebagian perdana menteri Zionis!!
Aku tidak menemukan penjelasan untuk ini kecuali bahwa ia adalah [orang-orang yang disebutkan dalam firman-Nya]: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu.” [Al-Ma’idah: 51]
Serial Abbas dan kelompoknya kini telah memasuki episode-episode terakhirnya. Kini ia sedang hidup dalam saat-saat penghinaan dan kehinaan.
Kehancuran sistemnya sudah semakin dekat.
Namun pertanyaannya: apakah para pemuda muslim yang mulia di Tepi Barat sudah siap untuk mengambil alih kendali negeri ini setelah kebinasaan pengkhianat ini?
Ataukah akan muncul lagi munafik lain untuk menggantikannya?

Sistem Mesir
Ditulis oleh: Sang Mujahid Zaki Hamad
Mesir yang disebut Kinana dengan posisi strategisnya, cadangan sumber daya manusianya, dan sumber daya alamnya yang berlimpah, serta kedekatannya dengan tanah yang diberkahi, selalu menjadi incaran setiap penyerbu dan penjajah.
Karena itu ia menjadi tujuan kampanye Salib dan penjajahan asing sepanjang masa, untuk mendudukinya dan menyingkirkannya dari panggung Islam, serta mencegahnya menjalankan peran hakikinya dalam menolong Islam dan menegakkan negaranya. Penjajah asing berusaha mewujudkan itu dengan penjajahan langsung kadang, dan penjajahan melalui perantara berupa rezim-rezim represif kadang lain, disertai perubahan pada budaya masyarakat dan dibukanya pintu bagi berbagai bentuk penjajahan pemikiran.
Maka orang-orang Mesir diuji dengan rezim-rezim fajir yang berganti-ganti dan penguasa-penguasa zalim. Merekalah yang mengajarkan rezim-rezim lain di dunia Arab cara-cara zalim, penindasan, penyiksaan, dan penghilangan. Mereka memberikan loyalitas dan ketundukan kepada penjajah asing, mulai dari Muhammad Ali Pasha, lalu era monarki, kemudian Sadat, Abdul Nasser, Mubarak, sampai akhirnya zaman membawa kita pada Sisi — musuh Allah — dan era represifnya yang fajir, yang belum pernah disaksikan Mesir tandingannya dalam hal kezaliman, pembunuhan, penjara, kemiskinan, dan kehancuran.
Sungguh entitas Zionis yang tidak sah itu bersungguh-sungguh untuk membuat front Mesir tetap tertidur dan berada di luar konflik. Caranya adalah dengan memperbarui komitmen lisan saja pada perjanjian Camp David yang khianat itu, dan membelenggu Mesir dalam kebutuhan dasarnya akan energi dengan mengikatnya pada perjanjian gas. Gas yang dicuri oleh entitas itu lalu dijual kembali ke Mesir dengan harga yang jauh lebih mahal.
Yang lebih menyakitkan adalah adanya kesepakatan dengan sistem yang berkuasa saat ini untuk menutupi kekurangan di pasar Israel akibat perang, pemanggilan pasukan cadangan, terhentinya pabrik-pabrik mereka, dan terganggunya jalur transportasi laut.
Statistik resmi menunjukkan bahwa ekspor Mesir ke entitas perampas itu berupa semen, baja, dan bahan makanan meningkat lebih dari 3000% dibandingkan periode sebelum pertempuran Thufan Al-Aqsa.
Di saat yang sama, rakyat Mesir menderita kemiskinan yang parah, kenaikan harga yang tinggi, dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pokok hidup. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
Sesungguhnya sistem Mesir adalah mitra sejati, bahkan langsung, dalam mengepung penduduk Gaza dan membuat mereka kelaparan. Merekalah yang menutup satu-satunya penyeberangan darat untuk Jalur Gaza dari pihak mereka dan dengan kemauan mereka sendiri. Mereka mencegah masuknya truk-truk bantuan hingga menumpuk puluhan ribu seperti kota-kota truk, dan muatannya rusak setelah hampir dua tahun menunggu. Bantuan itu pun dirusak dan dibuang ke tempat sampah, padahal warga Gaza yang muslim saat itu sangat membutuhkan seteguk air dan sepotong roti.
Sesungguhnya sistem Mesir dan militer Mesir mampu melakukan upaya yang besar dan efektif dalam mengancam entitas Zionis dan membungkamnya jika mereka mau. Tetapi yang ada hanyalah ketundukan dan kehinaan. Semoga Allah merahmati laki-laki saleh itu ketika ia berkata: “Kami tidak akan membiarkan Gaza sendirian.” Saat itu ia mengambil beberapa langkah sederhana, dan Israel pun terpaksa menghentikan perang.
Andai seorang sejarawan Islam ditakdirkan untuk mencatat hari-hari yang kita jalani, niscaya ia akan menulis:
“Pada tahun 1446 Hijriyah, Mesir dan umat Arab serta Islam — yang saat itu jumlahnya banyak, memiliki harta, kedudukan, istana, pasukan, dan persenjataan — tidak mampu memasukkan roti bagi penduduk Gaza yang terkepung, kelaparan, dan kehausan dari perbatasan Rafah Mesir.
Pada tahun yang sama, banyak anak-anak Gaza meninggal karena kelaparan yang hebat. Harga satu karung tepung mencapai lima belas gram emas... padahal barangnya langka!!
Negara Mesir yang terjajah itu tidak mampu membuka penyeberangan kecuali dengan izin pihak Israel, karena Mesir bertindak mewakili Israel dalam mengelola penyeberangan sesuai dengan perjanjian penyeberangan...
Pada tahun yang sama, setelah Israel membunuh lebih dari lima puluh ribu penduduk Gaza, sebagian besar negara Arab dan Islam tetap mempertahankan perjanjian mereka dengan Yahudi.
Laa haula wa laa quwwata illa billah atas kehancuran dan pengkhianatan ini.”

Sistem Yordania
Ditulis oleh: Syang Mujahid Zaki Hamad
Di antara gagasan yang sering diulang oleh guru kami Muhammad Ilhami -semoga Allah meneguhkannya- adalah bahwa rezim-rezim Arab menggantikan peran penjajah, dan bahwa kewajiban pertama adalah mencabut rezim-rezim pengkhianat ini dengan cara apa pun.
Dan Gerakan Hamas telah diberi taufik untuk menyelesaikan urusan di Jalur Gaza pada hari ketika ia menyelesaikan urusan rezim pengkhianat itu, dan Gaza pun diperintah oleh anak-anaknya yang mujahid.
Perang ini datang, berlarut-larut, dan menyingkapkan hakikat rezim-rezim itu serta pengkhianatan mereka yang terang-terangan. Apa yang dulunya terjadi di bawah meja, kini terjadi secara terang-terangan tanpa rasa malu.
Tetapi yang penting dari semua ini: Apakah sampai hari ini masih ada di antara kita yang masih tertipu oleh rezim-rezim ini, dan tidak melihat bahwa merekalah salah satu sebab terbesar keterpurukan dan kehinaan kita?!!
Renungkanlah bersama aku tentang sistem Yordania. Ia adalah salah satu rezim Arab yang berkuasa paling berbahaya. Ia dianggap sebagai katup pengaman bagi entitas Zionis dari arah timur, dan pintu masuk pengaruh Barat ke kawasan kami.
Dalam seratus tahun terakhir, hampir seluruh rezim di dunia Arab telah berubah, kecuali sistem Yordania. Ia tetap bertahan dengan batu-batunya seperti apa adanya!!! Bukankah ini sesuatu yang mencolok?!
Sekilas pandang pada sejarah kelahiran sistem Yordania, pada pengkhianatan-pengkhianatan yang berturut-turut, pada loyalitasnya kepada Inggris dan kerja samanya dengan mereka, kemudian kerja samanya dengan Yahudi setelah itu, semua itu akan memberitahumu betapa berbahayanya sistem ini bagi Islam dan kawasan.
Kemudian perhatikan pula upaya mereka dalam mengagungkan keluarga yang berkuasa dan menjadikan rakyat tunduk kepada mereka, dengan memaksakan sanksi, pengejaran, dan teror terhadap siapa saja yang menyentuh kedudukan raja, meski hanya dengan sindiran.
Semua itu dilakukan karena takut rakyat akan sadar dan bergerak. Dan semua ini terjadi pada waktu yang sama ketika agama dan nilai-nilai dasar diserang, kurikulum diubah, dan perjanjian-perjanjian yang bertentangan dengan fitrah dipaksakan dengan restu dan persetujuan sistem, untuk merusak masyarakat dan mengendalikannya lebih jauh dari yang sudah ada. Terlebih lagi karena Barat dan kaki tangannya mengetahui apa yang bisa dilakukan oleh front timur Palestina jika penduduknya bangkit dan bergerak menuju tanah yang diberkahi.
Karena itulah mereka mencurahkan segala upaya untuk menggagalkan setiap upaya mulia ke arah itu, dan menunda kebangkitan itu semampu mereka.
Di sisi lain, jika engkau melihat perbatasan Yordania-Palestina dan panjangnya — di mana ia adalah perbatasan darat terpanjang dan terlemah dengan Palestina — maka engkau akan mengetahui betapa pentingnya keberlangsungan sistem Yordania bagi Israel.
Hal ini bahkan dinyatakan sendiri oleh Netanyahu, bahwa ia akan membela sistem Yordania dengan tangannya sendiri jika sistem itu terancam dan tidak mampu membela dirinya.
Sederhananya: karena ia tidak akan menemukan pelindung, antek, dan agen yang lebih setia daripada sistem ini sejak berdirinya apa yang disebut “Negara Israel”.
Sesungguhnya kaum Muslimin di Yordania memikul beban kewajiban yang sangat berat.
Kewajiban itu dimulai dengan menjaga agama mereka dari permainan dan penyelewengan melalui sistem ini, perangkatnya, dan alat-alatnya — yang keadaannya sudah sampai pada tahap memerangi pusat-pusat tahfiz Al-Qur’an dan menutupnya.
Kemudian jatuh pula kewajiban atas mereka untuk menjaga kewaspadaan generasi, agar tidak dijinakkan dan ditipu sehingga menjadi budak bagi sistem yang ada.
Bahkan mereka harus membangun generasi itu dengan kekuatan, keberanian, dan persiapan di jalan Allah.
Mengajarkan mereka tentang kewajiban yang Allah bebankan: memiliki kekuatan, menolak musuh mereka, dan menolong saudara-saudara serta tetangga mereka di Palestina yang terjajah.
Karena jika mereka tetap diam dan hanya menjadi penonton, maka giliran akan sampai kepada mereka.
Israel akan memerintah mereka secara langsung, bukan lagi melalui para wakil dan kaki tangannya — sebagaimana yang diucapkan musuh sendiri dalam periode terakhir ini.
Dan saat itu mereka akan merasakan akibat buruk dari pengkhianatan mereka terhadap keluarga dan saudara mereka sendiri, kecuali jika mereka menyadari diri dengan kembali yang jujur kepada Tuhan mereka, menegakkan agama-Nya, dan mengangkat bendera jihad di jalan-Nya.

Takbir dari Sekolah Gaza
Ditulis oleh: Sang Mujahid Zaki Hamad
Allah Akbar, Allah Akbar, Allah Akbar.
La ilaha illallah, Allah Akbar, Allah Akbar, wa lillahil hamd.
Allah Akbar ketika orang-orang tak berdosa dibunuh saat mereka sedang tidur.
Allah Akbar ketika rumah-rumah retak dan runtuh di atas kepala penghuninya.
Allah Akbar ketika suara-suara berteriak dari bawah reruntuhan: “Ada yang masih hidup?!”
Dan tidak ada yang menjawab kecuali rahmat Allah.
Allah Akbar ketika tenggorokan kering karena memohon pertolongan.
Allah Akbar ketika tangan-tangan terangkat ke langit merintih: “Ya Rabb, selamatkan Gaza!”
Allah Akbar atas setiap zalim yang sewenang-wenang.
Allah Akbar atas setiap pengkhianatan dan diam.
Allah Akbar atas penjajahan yang tidak menghormati hari raya dan kehormatan manusia.
Gaza, hari rayanya adalah takbir-takbir di bawah reruntuhan,
tahlil-tahlil di antara air mata,
dan sujud di sudut-sudut harapan...
Tetapi ini adalah hari raya dengan kesabaran, keteguhan, dan kemuliaannya.
Allah Akbar wahai Gaza.
Hari raya tidak akan sempurna kecuali dengan menyebut namamu.
Kegembiraan kami tidak akan lengkap sementara engkau masih berdarah.
Betapa banyak kebaikan yang telah engkau berikan kepada kami wahai Gaza.
Di antara keutamaan Gaza bagi kami adalah bahwa ia:
- Membangunkan orang-orang kami yang sedang tidur.
- Menyatukan urusan kami di sekitar masalah Al-Quds.
- Menyibukkan kami dari hal-hal remeh dan perselisihan sampingan.
- Menumbuhkan dalam diri kami ruh iman dan keyakinan.
- Membuat kami merasakan kemuliaan Islam.
- Memperkenalkan kami pada para pahlawan kaum Muslimin.
- Mengobarkan keinginan kami untuk berjihad.
- Memahamkan kami makna akidah secara praktik, bukan sekadar teori.
- Mengajarkan kami sabar dan keteguhan secara nyata.
- Menumbuhkan kerinduan kami untuk meraih kemuliaan syahadah.
- Mengajarkan kami berkorban dengan jiwa, keluarga, harta, tempat tinggal, keamanan, dan seluruh dunia — semua itu murah demi agama dan jihad di jalan Allah.
- Menggerakkan dalam diri kami keinginan untuk beramal bagi agama ini.
- Memperdalam rasa persaudaraan kami satu sama lain.
- Meruntuhkan sekat-sekat menjijikkan dan batas-batas yang dibenci di antara kami.
- Memperlihatkan kepada kami para pengkhianat yang menjadi wali musuh.
- Memperkenalkan kami pada orang-orang munafik, penyebar kabar buruk, dan pelemah semangat.
- Mengubah dalam diri kami konsep tentang teladan dan standar dalam memilihnya.
- Mengajarkan kami keberanian dan keberanian maju.
- Memahamkan kami bahwa jalan menuju kemuliaan dan kebebasan tidaklah kecuali dengan jihad.
- Memahamkan kami bahwa Allah menggunakan hamba-hamba pilihan-Nya untuk agama-Nya, dan tidak akan rugi orang-orang yang mengkhianati mereka.
- Memperlihatkan kepada kami bahwa semua ibu kota kami tenang dan aman karena ia tunduk, sedangkan Gaza dibombardir karena ia merdeka.
- Mengajarkan kami.
Ia mengajari kami untuk tidak dihinakan dan tidak bisa ditandingi.
Ia mengajari kami bahwa bersenandung tentang makna Islam dan iman saja tidak akan menjadikan seseorang muslim yang beriman.
Ia mengajari kami untuk kufur kepada masyarakat internasional dan beriman hanya kepada Allah serta menjadikan jihad sebagai jalan.
Ia mengajari kami bahwa iman itu melahirkan singa-singa, bukan sekadar orang yang beriman.
Ia menempatkan kami di depan kenyataan bahwa kebodohan dengan fitrah yang selamat lebih baik dan lebih lurus bagi kami daripada ilmu dengan fitrah yang rusak.
Ia memperlihatkan kepada kami bahwa banyak orang yang dipandang rendah oleh manusia, ternyata mereka lebih baik daripada banyak orang yang diagungkan manusia dan diangkat tinggi-tinggi.
Dan sekolah Gaza masih terus mengajari kami banyak hal!
Sesungguhnya ibadah jihad di jalan Allah Ta’ala yang dihidupkan kembali oleh Gaza di zaman ini adalah tingkatan tertinggi dari kesadaran peradaban. Karena tidak ada kesadaran yang terpisah dari pemahaman tentang hakikat kehidupan dan makhluk hidup, dan tidak ada hakikat bagi kehidupan dan makhluk hidup yang lebih dalam daripada sunnatullah dalam pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Sunnah yang Allah tegakkan dunia di atasnya, dan menjadikan kebaikannya bergantung pada adanya sunnah ini.
Allah berfirman:
{Kalau tidaklah Allah menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia terhadap seluruh alam.} [QS. Al-Baqarah: 251]
Seakan-akan seorang mujahid ketika ia menghunus senjatanya untuk membunuh dan bertarung, dan ia bergerak di muka bumi untuk menolak dan mencari,
maka ia sedang mempraktikkan kesadaran peradaban yang maju yang Allah pahamkan kepadanya, yang diharamkan dari orang-orang rendahan...
Dan Allah lebih mengetahui di mana Dia meletakkan risalah-Nya!

Ini kutipan dari buku "Syeikh Ahmad Yasin: Syahid yang Membangunkan Umat"
> Harapanku.. Semoga Allah Meridhaiku
>
> Ini adalah harapan dari seorang pecinta Allah, yang penuh keyakinan terhadap takdir-Nya. Yang menarik, pria ini sering mengulanginya, seakan dengan firasat seorang mukmin, ia tahu bahwa ia sedang menuju kesyahidan – semoga Allah meridhoinya.
>
> "Saya adalah seorang manusia yang telah menjalani hidup saya dengan satu harapan: harapan saya adalah agar Allah meridhoi saya,
> dan ridha-Nya hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya. Ketaatan kepada Allah tercermin dalam jihad untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi, dan untuk membersihkan bumi Allah dari kerusakan yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Allah. Jika saya mencapai tujuan pertama, yaitu membersihkan tanah Islam dari perampasan, dan mendirikan sistem Islam di atasnya, maka itu adalah harapan saya yang saya perjuangkan dan saya mohon kepada Allah agar saya dapat menemuinya. Jika itu tercapai, maka itu adalah anugerah-Nya. Jika saya mati sebelum itu tercapai, saya telah memulai jalan ini dan telah melangkah beberapa langkah. "Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti." [QS. Yusuf: 21].
>
> Saya sangat mencintai kehidupan, saya mencintai segala yang diciptakan Allah di bumi ini, saya mencintai kehidupan untuk diri saya dan orang lain, saya tidak membenci kehidupan... saya tidak iri dengan apa yang diberikan Allah kepada orang lain, saya menerima dengan lapang hati apa yang Allah takdirkan untuk saya. Namun, saya menolak kehinaan, penindasan, dan penyerangan terhadap diri saya. Saya mencintai keadilan dan akan menegakkannya, bahkan jika itu untuk diri saya sendiri. Saya akan menegakkannya dengan tegas dan tidak akan ragu-ragu dalam hal itu. Saya menginginkan kebaikan untuk rakyat saya, umat saya, dan seluruh dunia. Saya selalu optimis, saya melihat cangkir dan melihat bagian yang terisi, bukan yang kosong. Saya melihat yang baik dan bukan yang kurang, karena itu yang memberi saya eksistensi yang masih saya nikmati meskipun saya telah menderita lumpuh selama 45 tahun. Saya memuji Allah karena saya memiliki keyakinan penuh kepada Allah dan tawakkal yang besar kepada-Nya. Saya menerima segala yang terjadi sesuai takdir-Nya. Jika itu kebaikan, saya bersyukur; jika itu keburukan, saya bersabar. Inilah sikap saya, Insya Allah, saya akan tetap berjihad, Insya Allah, sampai tanah air saya bebas, karena saya tidak takut mati. Karena
> umur ada di tangan Allah, takdir yang tidak bertambah dan tidak berkurang. Saya juga tidak takut kekurangan, karena rezeki ada di tangan Allah, sudah ditentukan, tidak ada yang bisa hidup dengan rezeki yang belum sampai, kecuali ia akan mendapatkannya. Maka, mengapa harus takut? Mengapa harus ragu? Inilah sikap saya, saya mencintai seluruh dunia dan semua makhluk, namun saya membenci kegelapan dan keburukan. Saya akan melawannya dan akan terus melawan dengan segala daya yang saya miliki. Saya mencintai keadilan, meskipun itu untuk diri saya sendiri, Insya Allah."
📲https://wa.me/c/6285179523933
🛒https://id.shp.ee/6QjdTHTb
Kurban memiliki dimensi akidah, yaitu dalam bentuk mempersembahkan sembelihan kepada Allah.
Ia juga memiliki dimensi sejarah, yaitu menghidupkan kembali kisah Nabi Ibrahim dan putranya yang disembelih, Nabi Ismail ‘alaihimassalām.
Ia pun memiliki dimensi sosial, yaitu memberi makan kepada kaum fakir dan menghadiahkan daging kepada sesama.
Namun, kurban juga merupakan sebuah revolusi ekonomi.
Pada tahun lalu, menurut data statistik, kaum Muslimin menyembelih lima puluh juta hewan kurban. Bayangkanlah besarnya jumlah ternak yang terjual; penjualannya telah membuat kabilah-kabilah penggembala memperoleh penghasilan, sekaligus melindungi mereka dari pertikaian memperebutkan padang gembalaan. Sebab, dengan terjualnya ternak-ternak itu, mereka dapat memulai kembali siklus penggembalaan yang baru.
Berapa banyak perusahaan perdagangan yang membelinya lalu menjualnya kembali? Berapa banyak perusahaan transportasi yang mengangkutnya? Dan berapa banyak tukang jagal yang mendapatkan pekerjaan dari penyembelihannya?
Kurban jauh lebih besar daripada sekadar hari untuk makan daging. Ia benar-benar sebuah revolusi ekonomi:
﴿لَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾
“Bagi kalian padanya (hewan hadyu) terdapat berbagai manfaat sampai waktu yang ditentukan, kemudian tempat penyembelihannya berada di sekitar Baitul ‘Atiq (Ka‘bah).” [QS. Al-Hajj: 33]
Hatim Abdul 'Azhim
Haji adalah Rumah dan Keluarga…
Ibrahim, Hajar, dan Isma'il hadir dalam setiap manasik—dalam thawaf, sa’i, penyembelihan hewan kurban, dan lainnya…
Shalat juga tentang rumah dan keluarga…
"Dan perintahkanlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya." (QS. Thaha: 132)
"Beliau ﷺ bangun di malam hari, lalu membangunkan keluarganya…" (Hadis)
Ramadhan adalah Rumah dan Keluarga…
Berpuasa bersama, shalat malam bersama, pergi ke tarawih bersama, shalat tahajud dan makan sahur bersama…
Seolah-olah surga akhirat yang menyatukan pasangan—
"Surga ‘Adn yang mereka masuki bersama orang-orang shaleh dari bapak-bapak, istri-istri, dan keturunan mereka…" (QS. Ar-Ra'd: 23)
"Masuklah kalian ke dalam surga bersama pasangan kalian dalam kebahagiaan…" (QS. Az-Zukhruf: 70)
Seakan-akan surga di akhirat itu bermula dari kenikmatan surga dunia, yaitu shalat, puasa, dan haji yang dilakukan bersama…
Ramadhan adalah surga dunia yang paling panjang masanya dan paling banyak menghadirkan ketaatan dalam rumah dan bersama keluarga… Maka manfaatkanlah bersama…
Dr. Khalid Hamdi
Khutbah Idul Adha
Dutulis oleh: Mujahid Zaki Hamad
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Allahu Akbar, telah bersinar hari-hari sepuluh yang hijau, hari-hari terbaik di dunia di sisi Allah ﷻ.
Dan kita semua, wahai Tuhan kami, adalah hamba yang miskin, yang mengetuk pintu-Mu, mengharap penerimaan dan karunia-Mu.
Allahu Akbar, Engkau wahai Tuhan lebih besar dari segala kegundahan, lebih besar dari segala penyakit, lebih besar dari segala kesusahan.
Milik-Mulah, wahai Tuhan, kekekalan dan keabadian.
Di tangan-Mu, Maha Agung Keagungan-Mu, takdir setiap orang.
Allahu Akbar, keputusan adalah keputusan-Mu, maka tidak ada hukum kecuali hukum-Mu.
Kemuliaan adalah kemuliaan-Mu, maka tidak ada rahmat seperti rahmat-Mu.
Allahu Akbar, maka tidak ada Tuhan selain Engkau wahai Yang Maha Mulia.
Engkau telah menghidupkan kami hingga hari ini dari sepuluh hari ini sebagai anugerah dan kemurahan.
Maka sayangilah kami, sesungguhnya kami adalah fakir-Mu wahai Yang Paling Penyayang dari yang memiliki.
Kasihanilah kami, sesungguhnya kami adalah hamba-Mu yang lemah wahai Yang Paling Penyayang dari yang menetapkan.
Berilah kami, karena kami senantiasa memohon kepada-Mu selama kami berada di bumi.
Kami adalah hamba-Mu, penduduk bumi adalah tanggungan-Mu.
Kami tidak akan lelah, karena Engkau Pemberi rezeki kami yang kami sandarkan.
Kami tidak akan lemah, karena Engkau Penolong kami yang kami harapkan.
Ya Allah, kami semua adalah hamba yang tertindas dan fakir itu,
yang memanggil dengan suara seorang yang bertauhid:
"Madad ya Ahad! Madad ya Ahad!"
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Allahu Akbar, maka tolonglah kami wahai Penolong orang-orang yang dalam kesusahan.
Balaskanlah dendam kami wahai Tuhan langit.
Pandanglah kami dengan pandangan rahmat yang dengannya Engkau menolong kami,
yang dengannya Engkau menyembuhkan dahaga, memperbanyak yang sedikit wahai Yang Maha Agung,
dan menyembuhkan dada-dada wahai Yang Maha Agung.
Kasih sayang dari sisi-Mu wahai Yang Maha Agung, kasih sayang dari sisi-Mu wahai Yang Maha Agung.
Kita semua senantiasa melantunkan sepanjang zaman:
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Banyak orang yang dulu hidup tanpa tujuan dan tanpa identitas,
kini menjadi mulia di mala'ul a'la dengan mengangkat bendera jihad dan menjaga agama.
Allahu Akbar, tidaklah dibangun untuk Allah sebuah tempat ibadah, dan tidaklah dimakmurkan sebuah masjid, kecuali dengan keteguhan orang-orang beriman.
Allahu Akbar, sungguh kami akan membalas dendam untuk setiap rumah yang dihancurkan.
Allahu Akbar, sungguh kami akan membalas dendam untuk setiap pemuda yang dibunuh.
Dan kalaupun umur kami singkat, kami akan meninggalkan di belakang kami pasukan-pasukan yang tidak akan lengah dalam menolong kebenaran.
Allahu Akbar, kami berjalan di atas petunjuk Rasulullah ﷺ dalam berperang.
Beliau menempuh jalan kehidupan, maka kami pun menempuhnya.
Beliau merasakan lapar dan kepayahan di jalan Allah, maka kami pun merasakannya.
Allahu Akbar, sesungguhnya peperangan dan pengorbanan membangunkan kami kembali,
dan mengarahkan kami kepada apa yang Allah inginkan dari kami.
Idul Adha datang kepada kami sementara darah-darah masih tertumpah dan musibah semakin berat.
Kami hidup dengan makna pengorbanan dan tebusan.
Sungguh, qurban telah diterjemahkan menjadi pengorbanan.
Maka orang-orang yang jujur telah mengorbankan jiwa dan yang paling berharga.
Demi Allah, ini adalah kemuliaan. Maka janganlah kalian menolak kemuliaan yang Allah berikan kepada kalian.
Ini adalah keberuntungan yang besar, dan tidak akan mendapatkannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.
Maka Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Tidak ada satu pun orang dari Gaza yang keluar sebagai haji ke tanah-tanah yang diberkahi itu.
Tetapi lisan keadaan kami berkata:
Wahai para jamaah Baitullah, sampaikan salam kami kepada Nabi ﷺ dan kabarkan kepadanya bahwa Gaza tidak menyaksikan haji pada tahun ini.
Sampaikan salam kami kepada Rasulullah ﷺ, sang pejuang yang berjaga, mujahid, dan syahid.
Kabarkan kepada beliau, wahai para jamaah Baitullah, tentang uzur penduduk Gaza.
Kabarkan kepada beliau tentang luka kami yang menganga, tentang rasa sakit dan keadaan kami.
Kabarkan kepada beliau bahwa thaifah manshurah yang beliau kabarkan kabar gembiranya, bahwa ia berada di sekitar Baitul Maqdis, tidak berubah dan tidak mengganti.
Tidak membahayakannya orang yang menyelisihinya dan tidak pula orang yang mengkhianatinya.
Ia tidak memberikan kehinaan dalam agamanya, dan masih tetap di atas janji dan baiatnya.
Kabarkan kepada beliau bahwa orang-orang Yahudi telah menodai tempat mi’rajnya dan mencacinya di lapangan-lapangannya.
Maka Gaza bangkit sebagai pemenang untuk membela tempat mi’raj Rasulullah ﷺ.
Ia telah mempersembahkan di jalan itu pemuda-pemudanya yang terbaik, buah hatinya, ruh para lelakinya, dan segala yang dimilikinya berupa rumah dan harta, dengan senang hati dan ikhlas di jalan Allah Ta’ala.
Kabarkan kepada Rasulullah ﷺ pengaduan kami atas setiap orang yang bersekongkol melawan kami,
atas setiap orang yang mengkhianati kami, dan atas setiap orang yang duduk di rumahnya menonton darah kami,
potongan tubuh anak-anak kami, dan jeritan wanita-wanita kami, lalu meninggalkan kami.
Kabarkan kepada beliau bahwa Gaza mencintainya sebagaimana Gunung Uhud mencintainya.
Kabarkan kepada beliau bahwa Gaza, dengan jalan-jalannya, laki-lakinya, wanitanya, lorong-lorongnya, dan rumah-rumahnya yang hancur, serta setiap manusia dan batu di dalamnya, mencintainya.
Ia tidak menjatuhkan benderanya dan tidak akan menyerahkan dirinya kepada musuhnya.
Demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah.
Terjemahan:
Benar, aku belum pernah melihat cahaya dari wajahmu,
Dan tak pernah sehari pun mendengar merdunya suaramu,
Dan tak pernah sehari pun mengangkat pedang di barisanmu.
Tak pernah sehari pun kemarahanmu meledak dari sini seperti bara api,
Aku tidak pernah berperang di Uhud, dan tidak pernah bertempur di Badar melawan para jagoan kaum kafir.
Aku tidak pernah berhijrah di suatu hari, dan tidak pernah menjadi golongan Anshar.
Aku tidak pernah memikul bekal dan takwa ke pintu gua.
Kekasihku wahai Rasulullah, apakah engkau akan menerimaku?
Aku bukanlah Abu Bakar yang melayanimu,
Bukan pula Umar yang menyokongmu,
Bukan Hamzah, bukan Amr, dan bukan Khalid.
Islamku aku raih sebagai kemuliaan dari orang tuaku,
Aku tidak pernah mendengar Bilal pada saat takbir,
Badanku tidak pernah terbakar hidup-hidup di padang pasir dengan segala teriknya,
Aku tidak pernah menghancurkan berhala, dan tidak pernah sehari pun mengangkat bendera yang berkibar.
Aku hanyalah seorang anak kecil yang menyembunyikan kegagalannya demi engkau.
Tetapi demi Allah, wahai Nabi Allah, aku benar-benar mencintaimu.
Api cinta dalam hatiku berkobar seperti angin topan, maka apakah engkau akan menerimaku?
Aku bukanlah Ali ketika ia menjagamu,
Bukan Utsman ketika ia kulihat menolongmu,
Dan aku bukanlah seorang anak yang menutupi kekurangannya karena engkau.
Tetapi wahai Rasulullah, jiwaku ini sangat merindu cintamu wahai Rasulullah, dan cinta Allah.
Lisan kita semua di musim haji dan hari raya mengucapkan:
Labbaika Allahumma labbaik.
Labbaik, kami tidak naik ke Arafah,
Tetapi kami naik menghadapi persenjataan terbesar kebatilan di zaman ini.
Labbaik, kami tidak bermalam di Muzdalifah,
Tetapi kami bermalam pada malam-malam ribath yang gelap gulita.
Labbaik, kami tidak tawaf di Baitullah,
Tetapi kami melakukan Taufan yang dahsyat yang meruntuhkan singgasana para penzalim.
Labbaik, kami tidak sa’i antara Shafa dan Marwah,
Tetapi kami berlari-lari di medan pertempuran dan keteguhan antara serangan dan mundur.
Labbaik, kami tidak melempar setan,
Tetapi kami melempari kepala-kepala kekufuran dan setan-setan dari kalangan manusia.
Labbaik, kami tidak menuju kerumunan orang-orang yang bertalbiyah di Baitul Haram karena tempatnya jauh,
Tetapi kami menuju-Mu karena Engkau lebih dekat kepada kami daripada urat leher kami.
Labbaik, meskipun aku tidak berada di antara kerumunan orang yang bertalbiyah,
Labbaika Rabbi wa in lam akun baina al-hujjaji sa’iyan.
Labbaika Allahumma labbaik.
Sungguh penduduk Gaza terhalang dari ibadah haji,
Tetapi Allah menyibukkan mereka dengan sesuatu yang lebih agung dan lebih tinggi derajatnya bagi mereka, insyaAllah.
Sesungguhnya ketika para tamu Ar-Rahman menunaikan fardhu haji,
maka kami menunaikan fardhu jihad melawan musuh-musuh Allah.
Musuh-musuh Allah, para penjajah yang merampas, sebagai pengganti umat Islam yang besar.
Sungguh jauh berbeda antara dua ibadah ini.
Ini adalah Kitab Allah yang berbicara di antara kita:
Tidaklah sama debu kuda Allah di hidung seseorang
dengan asap api yang menyala-nyala.
Dan sungguh telah datang kepada kita dari ucapan Nabi kita
ucapan yang benar, jujur, tidak berdusta:
Tidaklah sama seorang yang syahid dengan orang yang mati di kasur dan tidak berdusta.
Wanginya minyak kesturi untuk kalian,
sedangkan wangi kami adalah debu kuku kuda dan debu yang paling harum.
Atau adakah kudanya lelah di jalan kebatilan?
Maka kuda-kuda kami di waktu pagi benar-benar lelah.
Orang yang memukuli pipinya dengan air matanya,
maka leher-leher kami berlumuran darah kami.
Wahai orang yang beribadah di dua Tanah Haram, jika engkau melihat kami,
niscaya engkau akan tahu bahwa engkau hanya bermain-main dalam ibadah.
{Tidaklah sama orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah. Mereka tidak sama di sisi Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.} [QS. At-Taubah: 19-22]
Sungguh fardhu haji telah dipermainkan oleh kaki tangan Barat.
Ingatlah ini wahai generasi kami.
Sebagaimana konsep jihad telah dirusak,
dan mereka membuat orang-orang mengira bahwa bergabung dengan tentara negara adalah jihad.
Demikian pula konsep haji telah dirusak,
seolah-olah ia hanyalah ritual yang dikerjakan lalu seorang mukmin kembali tidur lagi.
Dan kami katakan:
Bergabung dengan tentara negara-negara Arab bukanlah jihad,
dan berkunjung untuk ritual bukanlah haji seperti yang Allah inginkan dari syariat.
Wahai saudaraku yang beriman, tahukah engkau bahwa Baiat Aqabah kedua adalah titik penting yang lebih besar dari hijrah menurut banyak sejarawan?
Tempat pertemuan itu adalah pada musim haji,
dan pertemuan para tokoh berpengaruh terjadi pada saat haji.
Aku terheran dengan ucapan Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه ketika ia berkata:
"Orang-orang menyangka bahwa hari ini adalah hari Badar, padahal menurut kami ini adalah peristiwa Aqabah!!"
Demi Allah, barangsiapa yang menunaikan haji tetapi tidak memahami makna persiapan dan pembekalan, maka hajinya cacat, cacat.
Dan Allah lah Pemberi taufik dan Penolong.
Sesungguhnya haji mengembalikan setiap tahun persatuan umat ini,
dan memperkenalkan umat ini kepada dirinya sendiri,
kepada asal-usulnya, kepada wahyunya, kepada tanah sucinya,
dan kepada cita-citanya dalam bersatu dan tertib.
Agar umat ini menjadi seperti jamaah haji:
satu dalam penampilan dan gerakan serta tujuan,
meskipun berbeda warna, bahasa, negara, ras, dan ciri!
Haji mengembalikan pengingat kepada umat tentang:
asal-usulnya (Ibrahim dan Ismail عليهما السلام),
wahyunya (Al-Qur’an),
kiblatnya (Ka’bah),
nabinya (Ambillah dariku manasik kalian),
musuhnya (setan dan golongannya),
kebangsaannya (umat Islam),
tujuannya (hari akhir),
dan risalahnya (jihad dan zuhud).
Dan tidak ada pemandangan yang lebih kuat dalam jihad dan zuhud daripada pemandangan orang-orang yang berbalut kain kafan putih,
mereka bertawaf, bertalbiyah, bertakbir, dan bersa’i antara dua gunung,
serta bermalam dalam kesempitan dan desakan.
Sungguh itu seperti pertunjukan militer yang agung.
Sesungguhnya Thufan Al-Aqsa telah dilancarkan demi Masjid Al-Aqsha,
saudara dua Tanah Haram yang mulia.
Dan manasik haji adalah kesempatan tahunan untuk mengingatkan umat dua miliar Muslim
tentang hakikat pertarungan kita dengan musuh kita
yang menodai tempat mi’raj Rasulullah ﷺ dan berbuat kerusakan serta yahudisasi di dalamnya setiap hari.
Sesungguhnya hari raya kita wahai umat Islam adalah hari raya gerakan dan amal.
Hari raya adalah hari kekuatan orang-orang beriman.
Dan ayat-ayat yang turun pada hari raya kepada Nabi ﷺ menegaskan bahwa hari-hari raya kaum Muslimin menegaskan persatuan umat,
kekuatannya, dan berlepas dirinya dari kekafiran dan orang-orang kafir.
Maka di antara ayat yang turun pada hari raya adalah:
{Dan inilah suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin...} [QS. At-Taubah: 3]
Dan sebagai penutup:
Mubarak hari raya kalian wahai orang-orang yang dikejar-kejar di antara reruntuhan rumah.
Mubarak hari raya kalian wahai yang berdebu dan lusuh.
Mubarak hari raya kalian wahai para tawanan kami, wahai orang-orang yang dilupakan oleh para politisi dan lembaga internasional.
Mubarak hari raya kalian wahai para pemberontak.
Mubarak hari raya kalian wahai para hamba Allah yang berada di bawah tanah.
Mubarak hari raya kalian wahai orang-orang yang dilupakan semua orang.
Mubarak hari raya kalian wahai mahkota di atas kepala.
Hari raya yang diberkahi bagi para tahanan dakwah dan keluarga mereka di setiap tempat.
Kalianlah orang-orang yang membuat kami malu di hadapan Allah.
Hari raya yang diberkahi bagi para pengungsi yang terusir dari rumah-rumah mereka...
Ya Allah, kembalikan kepada kami hari raya ini dengan kemenangan, pertolongan, berkumpulnya orang-orang yang bertalbiyah, dan kelapangan yang dekat bagi setiap penjara dan para tahanan.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Khutbah Dua Hari Raya
Ditulis Oleh: Mujahid Zaki Hamad
Hari Raya di Gaza Sebelum Perang
Dulu hari raya di Gaza adalah shalat dan suasana meriah, silaturahmi dan menyambung kekerabatan, kegembiraan dan kebahagiaan. Sejak aku mengenal dunia, musuh yang jahat dan kotor ini selalu berusaha mengacaukan setiap hari raya kami dengan invasi, pembunuhan, dan penghancuran.
Namun meski begitu, kami selalu berusaha melewati luka-luka kami dan tetap bergembira di hari raya. Itu sebagai bentuk ibadah kepada Allah ﷻ dan kelapangan untuk keluarga dan diri kami sendiri.
Tapi perang kali ini berbeda. Musuh yang jahat itu telah menghancurkan segala sesuatu. Tidak tersisa rumah, masjid, pasar, maupun jalan bagi kami.
Semoga Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dan memenuhinya dengan api atas mereka.
Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha kutulis dengan darah dan air mata, dan kusampaikan juga dengan darah dan air mata.
Aku merasa, dengan pertolongan Allah, ini adalah salah satu stasiun yang menambah keimanan.
Ya Allah, ampunilah riya’ dan sum’ahku.
---
Khutbah Idul Fitri
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang berfirman:
"Dan bertakbirlah kamu kepada Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu."
Maka Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Aku bershalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad ﷺ yang kepadanya turun firman:
"Hai orang yang berselimut, bangunlah, dan berilah peringatan!"
Maka Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Tidak ada yang memiliki manfaat dan mudarat kecuali Dia Mahasuci.
Tidak ada yang memiliki kemenangan kecuali Dia.
Rakyat berjihad dengan sabar, shalat, dan infak.
Perlawanan kami berjihad dengan keteguhan, ribath, dan pertempuran di dalam terowongan.
Allahu Akbar, tidak ada yang memiliki umur dan ajal kecuali Dia.
Allahu Akbar, sejak penduduk Gaza bersabar atas ketakutan, kelaparan, dan kekurangan jiwa dan harta serta buah-buahan.
Allahu Akbar, sejak para lelaki mulia berjihad.
Allahu Akbar, tidak ada kemuliaan kecuali bagi mereka yang bertempur langsung.
Allahu Akbar, kami telah mempersembahkan putra-putra dan pemuda kami sebagai syuhada.
Allahu Akbar, telah pergi orang-orang yang jujur, dan di antara mereka ada yang masih menunggu dan tidak mengubah janjinya sedikit pun.
Allahu Akbar, kami berpuasa, shalat, qiyam, dan bertahajud di bulan Ramadhan pada jarak setengah kilometer dari pasukan musuh yang berkumpul.
Allahu Akbar.
Tidak ada yang berhak membuat syariat yang baik bagi hamba-hamba-Nya kecuali Dia Mahasuci.
Aku memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya, bertaubat dari dosaku dan memohon ampunan atas dosaku, dosa kedua orang tuaku, dan dosa kaum mukminin dan mukminat.
Syiar kami adalah takbir.
Kami memulai shalat kami dengan takbir, berpindah rukun di dalamnya dengan takbir, memulai adzan kami dengan takbir, dan menutupnya juga dengan takbir dan tahlil.
Syiar kami adalah takbir.
Mujahidin kami berperang dengan berkah takbir.
Dengan takbir kami menghancurkan thaghut dan para diktator yang berkata dengan lisan keadaan atau perkataan: "Akulah Tuhanmu yang paling tinggi."
Allah menghendaki dengan pekikan takbir yang menggema agar kita tidak menyerahkan leher kita kepada para diktator.
Kami tidak beriman kepada kesombongan kecuali hanya milik Allah semata.
Ya, kemuliaan inilah yang membuat kami memberontak terhadap kebatilan.
Maka Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Pada hari ini kami berpisah dengan rukun keempat dari rukun Islam, kami berpisah dengan rukun puasa.
Dan sungguh, salah seorang dari kami telah berpindah dari puasa sementara selama tiga puluh hari menuju puasa abadi.
Betapa mudahnya puasa sementara di bulan Ramadhan dengan meninggalkan makan, minum, dan syahwat, dibandingkan puasa abadi sepanjang tahun.
Yang kumaksud dengan itu adalah kita menahan diri dari hal-hal yang diharamkan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Hari ini wahai para kekasih, kami memperbarui janji kami dengan Al-Qur'an Al-Karim.
Kitab yang agung ini yang bersama kami selama tiga puluh hari, bahkan demi Allah, ia bersama kami sepanjang pertempuran besar ini.
Al-Qur'an inilah yang mengatur jalannya pertempuran sejak detik dimulainya hingga saat kita sekarang ini.
Kami memperbarui janji kami dengan Al-Qur'an Al-Karim bahwa ia adalah ruh dan kehidupan kami:
"Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami." [QS. Asy-Syura: 52]
Dan orang yang di dalam hatinya tidak ada sedikit pun dari Al-Qur'an, maka ia seperti rumah yang hancur.
Maka janganlah engkau putus hubunganmu dengan Al-Qur'an wahai Muslim, dan jangan putus tali Allah yang terbentang dari langit ke bumi.
Kepahlawanan sekarang adalah mengkhatamkan Al-Qur'an di bulan Syawal.
Anggaplah ini sebagai kepahlawanan dan janji yang agung bersama Al-Qur'an Al-Karim.
Allahu Akbar atas Yahudi dan Zionis serta orang-orang yang loyal dan menolong mereka.
Millah apa yang dianut oleh orang-orang kafir fajir itu, yang dengannya mereka membunuh anak-anak dan wanita serta membombardir rumah sakit?!
Millah apa yang dianut oleh Zionisme global yang berdusta kepada dunia?
Wajah mereka yang licik jauh lebih buas daripada bom Hiroshima dan Nagasaki.
Sungguh mereka lebih berbelas kasih ketika menjatuhkan bom atom kepada mereka itu. Mengapa?!
Karena mereka memakarkan makar terhadap Islam dan kaum Muslimin siang dan malam.
Mereka berkumpul sesama mereka, merencanakan urusan mereka di malam hari. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka rencanakan.
Mereka berkumpul di siang hari dengan pena-pena dan peta-peta mereka, lalu membagi negeri-negeri kaum Muslimin menjadi negara-negara kecil dan bagian-bagian yang tidak Allah turunkan atasnya kekuasaan apa pun.
Maka jadilah umat Islam terpecah belah.
Tetapi, jauh sekali, jauh sekali, jauh sekali!
Sungguh darah kemuliaan di Gaza telah menjadi obor kehidupan bagi umat ini.
Jika kita tidak melihat kehidupan ini sekarang, maka generasi mendatang akan melihatnya, insyaAllah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Telah gagal semua proyek Zionis.
Ya, orang-orang rendahan itu masih berada di atas kekotoran mereka.
Tetapi Allah ﷻ akan menegakkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya dan akan memusnahkan sampai ke akar-akarnya orang-orang kafir.
Ini adalah ujian yang lebih banyak, dan cobaan yang lebih banyak, agar barisan menjadi jelas dan orang-orang yang gugur itu berguguran.
Hendaklah gugur orang-orang yang berdamai dengan musuh, orang-orang yang pengecut, dan orang-orang yang berkoordinasi dengan musuh.
Mereka akan dilempar ke tempat sampah sejarah.
Demi Allah, tidak seorang pun akan mengasihani mereka.
Tidak anak kecil, tidak orang dewasa.
Sejarah pun tidak akan mengasihani mereka. Sejarah akan melempar mereka ke tempat sampahnya.
Allahu Akbar atas dunia yang munafik dan pendusta ini,
atas laki-laki Barat berambut pirang bermata biru itu, yang menampakkan kepada dunia bahwa dirinya pengasih, lembut, penyayang.
Padahal hakikatnya ia adalah penjahat kotor, pembunuh anak-anak dan wanita.
Sesungguhnya kepemimpinan orang Barat atas dunia telah hampir sirna, dan kepalsuannya telah terbongkar.
Bukan karena peradaban Barat telah bangkrut secara materi atau melemah dari sisi kekuatan ekonomi dan militer tetapi karena sistem Barat telah selesai masa perannya.
Karena ia tidak lagi memiliki simpanan nilai-nilai yang memungkinkannya untuk memimpin.
Dan sekarang telah tiba giliran kepemimpinan anak-anak umat Islam.
Maka bersiaplah wahai anak-anak umat Islam.
Bersegeralah, bersegeralah, dan bulatkan tekad wahai pemuda umat.
Giliran kalian akan datang, insyaAllah.
Janganlah kalian berputus asa, janganlah kalian berputus asa.
Jangan kalian bandingkan jumlah pasukan dengan jumlah pasukan, dan jangan bandingkan persenjataan dengan persenjataan.
Kami adalah umat yang tidak menang dengan apa yang kami bawa di tangan kami berupa besi.
Melainkan kami adalah umat yang menang dengan apa yang kami bawa di hati kami berupa akidah.
Maka jika akidah kami kuat dan hubungan kami dengan Allah kuat, Allah akan memberikan kekuatan pada besi yang kami miliki.
Lalu kami melemparkannya kepada para pengikut kebatilan.
Sehingga terwujudlah firman Allah:
"Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu ia menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap." [QS. Al-Anbiya: 18]
Maka Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Puasa adalah madrasah jihad,
karena ia melatih kita atas lapar, dahaga, dan kepayahan yang dihadapi para mujahidin.
Ia juga melatih kita untuk disiplin dan komitmen.
Jika engkau makan satu suap saja setelah masuk waktu puasa, maka batal puasamu.
Dan disiplin inilah hakikat kedisiplinan militer.
Barangsiapa menang atas dirinya dalam pertempuran puasa dan qiyamul lail,
maka ia layak untuk memasuki pertempuran jihad melawan musuhnya.
Maka puasa dan jihad dalam Islam adalah dua hal yang berpasangan.
Hari raya datang kepada kita tahun ini berlumuran luka.
Hari raya ini datang kepada kita penuh dengan kesakitan dan kesulitan yang berat.
Tetapi cukuplah bagi kami bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menetapkannya.
Kami ridha wahai Tuhan dengan apa yang Engkau tetapkan untuk kami.
Maka ridhailah kami wahai Tuhan kami, dan terimalah kami sebagai hamba-hamba yang jujur.
Dan teladan kami dalam hal itu adalah pemimpin para nabi ﷺ.
Sesungguhnya hari raya pertama yang dijalani kaum Muslimin adalah beberapa hari setelah Perang Badar.
Hari raya Nabi ﷺ bukanlah hari raya perhiasan dan lampu-lampu.
Melainkan hari raya darah dan syahadah.
Hari raya di mana Nabi ﷺ mengguncang umat dan mendorongnya untuk menolak kebatilan.
Inilah hari raya kita wahai Ahlul Islam.
Dan ini adalah tanda kebaikan, insyaAllah, bahwa umat ini masih baik dan masih bergerak.
Umat ini bergerak, umat ini bangkit, dan Ahlullah sedang berperang.
Inilah hari raya kita wahai para kekasih yang mulia.
Jika umat ini diam, tenang, dan membisu, tidak berkata "tidak" kepada kebatilan, dan mengira bahwa Islam hanyalah ketundukan dan shalat yang tenang di masjid serta memperpanjang sujud, maka itu adalah kerahiban.
Sungguh Allah telah mencela orang-orang Nasrani ketika mereka meyakini bahwa hubungan dengan-Nya seperti itu. Allah berfirman:
"Tetapi mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka." [QS. Al-Hadid: 27]
Sungguh umat Nasrani berada dalam kerahiban ibadah berupa shalat, puasa, dan haji, namun mereka tidak bergerak.
Maka bagaimana kita mengguncang umat Muhammad ﷺ?
Islam bukanlah kerahiban di dalam sebuah pertapaan.
Islam tidak terkurung di sudut-sudut masjid.
Islam mengguncang seluruh dunia.
Islam mengguncang umat menuju peperangan, menuju tumpahnya darah.
Islam mengguncang umat untuk menghancurkan batu-batu sistem dunia yang zalim.
Umat ini tidak akan membuat jalannya sendiri dengan diam dan tenang.
Umat ini tidak akan membuka jalannya kecuali setelah ia mempersembahkan sesuatu untuk Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Idul Fitri kalian mubarak.
Kami akan bergembira meskipun ada sesak di hati kami.
Orang-orang yang telah kami kebumikan, mereka berada di surga.
Orang-orang yang telah kami kehilangan, cukuplah bagi kami bahwa Allah ﷻ telah menjamu mereka.
Orang-orang yang terluka, pahalanya di sisi Allah pada Hari Kiamat sangat besar.
Seandainya orang-orang yang tertimpa musibah melihat apa yang Allah sediakan untuk mereka pada Hari Kiamat, niscaya mereka akan melupakan semua siksaan dan musibah dunia.
Para tawanan, kami mengira merekalah yang akan membuka jalan, insyaAllah, menuju kemenangan yang besar dan kemuliaan umat ini.
Dunia ini akan lenyap, dan kami akan bergembira dengan kegembiraan yang besar di surga Allah ﷻ.
Kami akan saling berpelukan, dan saling mengucapkan selamat bahwa Allah telah menerima kesabaran kami, dan bahwa Allah telah mengganti kami dengan Firdaus yang tertinggi.
Setiap lapar yang telah kami rasakan, Allah ﷻ akan menggantinya dengan air salsabil.
Dan Dia akan membuat musuh kami merasakan makanan yang menyesakkan dan azab yang pedih.
Idul Fitri kalian mubarak wahai penduduk Gaza.
Idul Fitri kalian mubarak wahai orang-orang yang keluar di jalan Allah agar umat ini terangkat dari kehinaan dan kekalahan.
Idul Fitri kalian mubarak wahai para murabithun di perbatasan.
Idul Fitri kalian mubarak wahai para mujahidin di dalam terowongan.
Idul Fitri kalian mubarak wahai para tawanan dan tahanan kami.
Karena dari penawanan kalianlah pembebasan umat ini dimulai.
Idul Fitri kalian mubarak wahai semua orang yang mengorbankan dirinya untuk Allah.
Wahai setiap orang yang berdiri menjaga salah satu pos kebaikan.
Idul Fitri kalian mubarak wahai orang-orang yang bersabar.
Dan kalian telah teguh serta telah memberikan pengorbanan di jalan Allah.
Idul Fitri kalian mubarak wahai orang-orang yang terusir dan diusir di jalan Allah.
Kalianlah wahai rakyat kami yang diberkahi.
Kalianlah yang telah menghidupkan perlawanan.
Kalianlah yang menjadi benteng kokoh bagi perlawanan kalian.
Demi Allah, perlawanan itu tidak akan sanggup bertahan kalau bukan karena kesabaran dan keteguhan kalian.
Kalian adalah mahkota di atas kepala.
Kalian adalah puncak kemuliaan.
Semoga Allah melindungi kalian, meneguhkan kalian, menjaga kalian, dan mengganti setiap kepedihan yang kalian rasakan dengan surga dan Firdaus yang tertinggi.
Di dalam surga-surga dan sungai-sungai, di tempat yang mulia di sisi Raja Yang Maha Kuasa.
Wahai kekasih-kekasih kami, wahai para pemimpin kami, wahai mahkota kemuliaan di atas kepala kami:
para mujahidin dan para tawanan di penjara-penjara penjajahan dan penjara-penjara para thaghut,
para ulama yang jujur, dan seluruh orang yang bekerja untuk agama Allah,
serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan, yang mencintai mereka, menolong mereka, dan membela mereka.
Semoga Allah menerima puasa kalian, qiyam kalian, dan amal shalih kalian.
Semoga Dia menjadikan bulan yang mulia ini sebagai ketinggian derajat bagi kalian dan cahaya di jalan kalian.
Dan semoga Allah mengembalikannya kepada kami dan kepada kalian dalam keadaan penuh kebaikan, kemuliaan, dan keberkahan.

Imam Haram Makkah dan Madinah
Ditulis oleh : Sang Mujahid Zaki Hamad
Bukan perkara mudah menjadi imam di salah satu dari dua tanah haram yang mulia, Makkah dan Madinah Al-Munawwarah.
Itu adalah kedudukan yang agung dan amanah yang besar.
Aku selalu mengatakan: Kekuatan sosial yang diberikan Islam kepada ulama jauh melebihi kekuatan yang diberikan kepada penguasa.
Satu pawai saja jika keluar dari Masjidil Haram menuju institusi-institusi negara, niscaya cukup untuk mengubah keadaan negeri.
Alangkah ruginya seorang imam Haram jika ia mengira dirinya hanyalah seorang qari bersuara merdu yang menjalankan tugas shalat, lalu pulang ke rumahnya.
Aku tidak tahu bagaimana mereka tidak bangkit?!
Aku tidak tahu bagaimana mereka membaca di bulan Ramadhan:
"Hai orang yang berselimut, bangunlah, dan berilah peringatan!" [QS. Al-Muddatstsir: 1-2]
Sungguh aku tidak mengerti, bagaimana seorang imam Haram akan membaca di hadapan jamaah kaum Muslimin pada bulan Ramadhan Surat At-Taubah, Al-Anfal, Al-Ahzab, Muhammad, Ash-Shaff, dan Al-Adiyat.
Aku tidak tahu bagaimana ia akan membaca:
"Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan tanganmu..." [QS. At-Taubah: 14]
Atau apa yang akan ia jawab kepada Allah tentang firman-Nya:
"Mengapa tidak kamu perangi orang-orang yang merusak sumpah mereka?" [QS. At-Taubah: 13]
Atau bagaimana perasaannya ketika membaca:
"Apakah kamu menganggap memberi minum orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram sama dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah." [QS. At-Taubah: 19]
Atau apa yang akan ia lakukan di hadapan ancaman Allah bagi orang yang lebih mencintai perdagangan, harta, anak, dan istrinya daripada jihad:
"Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." [QS. At-Taubah: 24]
Atau bagaimana ia akan membaca:
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah." [QS. At-Taubah: 41]
Dan apa yang akan ia katakan kepada Tuhannya, yang telah menjelaskan kepadanya bahwa adanya orang-orang mustadh'afin dalam umat berarti wajibnya berperang di jalan Allah dan tidak boleh menunda-nundanya?
Akan berlalu atas mereka semua ayat-ayat yang tertulis dan diturunkan itu, dan semuanya akan menjadi saksi atas mereka, baik yang membaca maupun yang mendengar.
Ayat-ayat itu akan menegakkan hujjah atas mereka, dan tidak akan memberi ampun...
Kecuali jika mereka bertaubat, memperbaiki diri, berpegang teguh, dan mengikhlaskan agama mereka hanya untuk Allah.
Hanya untuk Allah, bukan untuk raja, bukan untuk jubah bersulam emas, bukan untuk mobil mewah, bukan untuk hotel berbintang, dan bukan untuk gaji yang besar.

Malam ke-27 Ramadhan
Diyulis Oleh: Sang Mujahid Zaki Hamad
Sejak awal malam ke-27 Ramadhan yang agung ini, artileri Zionis yang jahat terus menggempur wilayah-wilayah yang tersebar dan acak di Jalur Gaza.
Kami shalat tarawih di mushala-mushala sederhana dari terpal nilon, yang tidak mampu melindungi kami dari dingin, apalagi dari serpihan bom!
Kami shalat Isya dan beberapa rakaat tarawih dengan tergesa-gesa, khawatir serpihan jatuh.
Aku beritahukan kepada orang-orang:
Barangsiapa shalat Isya berjamaah dan Subuh berjamaah, maka seolah-olah ia telah shalat malam seluruhnya.
Dan barangsiapa shalat bersama imam hingga selesai, maka ditulis baginya pahala qiyamul lail semalam penuh.
Aku sampaikan itu agar orang-orang bisa meraih Lailatul Qadar, dan janganlah ada seorang pun yang menyusahkan dirinya untuk datang ke mushala.
Karena menjaga jiwa lebih didahulukan daripada shalat malam berjamaah.
Kami shalat sementara serpihan bom jatuh hanya beberapa meter dari kami, demi Allah!
Kami shalat tanpa bisa khusyuk dan tanpa bisa tenang karena dahsyatnya suara peluru di sekitar kami!
Penembakan sangat dekat dengan kami, dan masih terus berlangsung hingga sekarang saat aku menulis kata-kata ini!
Demikianlah jam-jam Lailatul Qadar berlalu atas kami.
Wahai engkau yang duduk di mihrabmu, di atas sajadah, dengan atap di atasmu,
dan tidak mendengar suara pesawat mata-mata apalagi pesawat F-16 yang menyerang…
Ingatlah saudara-saudaramu, dan tetaplah di tempatmu.
Semoga tahajud yang sedang kau jalani itu mendorongmu untuk merindukan kedudukan-kedudukan tinggi yang di dalamnya ada manfaat bagi umat.
Allah berfirman:
"Dan pada sebagian malam, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." [QS. Al-Isra: 79]
Tahajud adalah jalan agar engkau menjadi orang yang bertekad tinggi dan bermanfaat bagi umat!
Adapun sekadar bersenang-senang dengan Ramadhan, menjadikannya hanya ritual dan lampu-lampu hias,
aku tidak tahu apakah Nabi Muhammad ﷺ melakukan itu atau ada kaitannya dengan itu!
Tahajud telah digandengkan dengan kebangkitan umat:
"Hai orang yang berselimut, bangunlah!" [QS. Al-Muddatstsir: 1]
"Hai orang yang berselimut, bangunlah!" [QS. Al-Muzzammil: 1]
Bangunlah! Maka tuan kami Rasulullah ﷺ pun bangkit dengan kebangkitan yang membuat dunia takjub.
Beliau menghabiskan tujuh ratus hari di luar Madinah untuk safar dakwah dan jihad,
padahal usia beliau telah melewati lima puluh tahun!!
Sementara engkau, masih saja berat badan dan berat semangatnya!

Adzan
Ditulis Oleh : Sang Mujahid Zaki Hamad
Maha Suci Allah yang mensyariatkannya sebagai ketenangan dan ketenteraman.
Kami tidak mendengar adzan dari masjid-masjid di dalam terowongan.
Maka aku sengaja mengumandangkan adzan ketika masuk waktu shalat.
Sungguh hati menjadi penuh dengan keimanan, dan setan pun lari pada saat adzan dikumandangkan.
Kami berada di salah satu pusat penampungan.
Lalu saudaraku Abu Al-Bara’ berdiri dan mengumandangkan adzan Subuh.
Sudah lama kami tidak mendengar adzan yang indah.
Ketika ia selesai adzan, orang-orang berteriak dari jendela kamar mereka:
"Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, semoga Allah membukakan untukmu."
Demi Allah, adzan itu adalah bekal iman yang agung.
"Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati."
Aku merasa bahwa benda-benda mati dan hewan-hewan pun merindukan adzan.
Itu karena seluruh masjid di Gaza telah hancur.
Suatu kali aku mengumandangkan adzan Subuh di salah satu pusat penampungan.
Lalu datang seorang laki-laki kepadaku dan berkata: "Engkau tadi yang adzan, aku dan istriku menangis!!"
Maha Suci Allah, Allah Maha Besar, tidak ada yang lebih besar dari-Nya.
Pada shalat Jumat pertama yang kami laksanakan setelah kembali ke rumah di Khan Yunis,
seorang laki-laki yang sudah lanjut usia mengumandangkan adzan.
Ia dikenal menjaga adzan selama empat puluh tahun,
namun terputus dari adzan karena pengungsian dari negerinya.
Hari itu ia mengumandangkan adzan untuk shalat Jumat.
Di akhir adzan ia mengucapkan: "Laa ilaaha illallah" sambil menangis tersedu-sedu.
Kemudian ia sujud syukur kepada Allah ﷻ karena Allah menakdirkan ia bisa adzan lagi di negerinya setelah diusir darinya.
Maka segala puji bagi Allah.
Aku sangat memperhatikan adzan dan mengagungkannya,
karena ia adalah bekal yang agung yang tidak boleh diremehkan.

\"Ya Allah, jadikanlah pahala ini dalam lembaran catatan Imam Ahmad.\"
Ditulis oleh: Sang Mujahid Zaki Hamad
Kedudukan yang tinggi tidak akan diraih oleh orang-orang yang hanya berangan-angan.
Kepemimpinan dalam agama tidak akan diraih kecuali setelah melalui ujian, kesabaran, dan keyakinan.
Salah seorang murid Imam Ahmad berkata:
\"Kami pernah berada dalam perang melawan Romawi, lalu aku melihat salah seorang mujahid memukul seorang tentara kafir dengan tangannya sambil berkata: \'Ya Allah, jadikanlah pahala ini dalam lembaran catatan Imam Ahmad\'.\"
Aku menyaksikan sebagian mujahidin mendoakan sebagian ulama, dan mereka berdoa kepada Allah di medan pertempuran agar Allah menerima usaha para syaikh mereka.
Salah seorang berkata kepadaku: \"Aku adalah satu kebaikan dari kebaikan-kebaikan Syaikh Fulan.\"
Yang lain berdoa kepada Allah: \"Ya Allah, jadikanlah pahala ini dalam lembaran catatan guruku Fulan.\"
Dan yang ketiga berkata: \"Ulama Fulan, kami dididik di atas pelajaran-pelajaran beliau, dan prinsip-prinsip yang beliau tanamkan kepada kami sangatlah agung. Maka ya Allah, ikutkanlah beliau bersama kami dalam pahala.\"
Betapa sering kami menyebut para ulama yang berada di penjara.
Maha Suci Allah yang telah memadamkan nama-nama orang yang bebas, dan menyebarkan keutamaan-keutamaan ahli penjara.
Sungguh ada suatu kaum yang menyangka bahwa tidak ada kebaikan sama sekali pada ulama umat ini.
Ini tidak diridhai Allah. Justru umat ini penuh dengan kebaikan yang besar.
Banyak dari ulama yang beramal berdiri di pos-pos penjagaan mereka, membela kebenaran.
Telah sampai kepada kami sebagian usaha dan perkataan mereka, dan itu memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menguatkan dan meneguhkan kami.
Kami juga membaca tulisan-tulisan sebagian mereka tentang keberkahan jihad kami dan bantahan terhadap syubhat orang-orang yang berniat buruk dan melemahkan semangat.
Maka semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan.
Yang paling menggembirakan hati kami dalam usaha-usaha ini adalah berkumpulnya sekelompok besar ulama dan ahli pendapat dengan sebuah inisiatif dan seruan mulia dari Hai\'ah Ulama Palestina untuk menyusun Piagam Ulama tentang Thufan Al-Aqsa.
Sehingga piagam itu mengatur arah pembicaraan para ulama, meletakkan titik pada hurufnya, dan menutup jalan bagi orang-orang yang menyerang jihad kami.
Allah telah memuliakan mereka dengan menyelesaikannya.
Ratusan ulama dan dai umat ini telah menandatanganinya, di garda terdepan mereka adalah sekelompok ahli medan dari ulama Gaza yang beramal.
Dan Allah telah memuliakanku untuk melihat salah satu salinan piagam ini.
Aku telah membaca piagam itu dan menandatanganinya.
Maka semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan dari kami.
Semoga Allah mengumpulkan kami dan mereka di medan-medan pertempuran, berada di barisan terdepan para mujahidin, dan meninggikan kalimat kebenaran dan agama.

Haji adalah Rumah dan Keluarga…
Ibrahim, Hajar, dan Isma'il hadir dalam setiap manasik—dalam thawaf, sa’i, penyembelihan hewan kurban, dan lainnya…
Shalat juga tentang rumah dan keluarga…
"Dan perintahkanlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya." (QS. Thaha: 132)
"Beliau ﷺ bangun di malam hari, lalu membangunkan keluarganya…" (Hadis)
Ramadhan adalah Rumah dan Keluarga…
Berpuasa bersama, shalat malam bersama, pergi ke tarawih bersama, shalat tahajud dan makan sahur bersama…
Seolah-olah surga akhirat yang menyatukan pasangan—
"Surga ‘Adn yang mereka masuki bersama orang-orang shaleh dari bapak-bapak, istri-istri, dan keturunan mereka…" (QS. Ar-Ra'd: 23)
"Masuklah kalian ke dalam surga bersama pasangan kalian dalam kebahagiaan…" (QS. Az-Zukhruf: 70)
Seakan-akan surga di akhirat itu bermula dari kenikmatan surga dunia, yaitu shalat, puasa, dan haji yang dilakukan bersama…
Ramadhan adalah surga dunia yang paling panjang masanya dan paling banyak menghadirkan ketaatan dalam rumah dan bersama keluarga… Maka manfaatkanlah bersama…
Dr. Khalid Hamdi
Kisah Cinta Para Tokoh Terkenal
Ditulis oleh Sang Mujahid Zaki Hamad
Hingga saat tulisan ini ditulis, para pejuang telah melewati empat ratus hari.
Mereka tidak melihat istri-istri mereka selama itu, dan tidak menoleh kepada syahwat mereka!!
Maka dengan karunia Allah, mereka adalah manusia yang paling menjaga kehormatan, baik secara lahir maupun batin.
Dan tidak pernah tercatat satu pun kejadian pelanggaran akhlak dari mereka!!
Adapun tentara Israel, ia adalah tentara yang tidak berakhlak.
Angka pelecehan, pemerkosaan, dan penyimpangan di antara mereka telah mencapai tingkat yang sangat besar.
Setiap periode terbongkar skandal-skandal akhlak di kalangan mereka, di kamp pelatihan dan tempat bermalam, yang tidak masuk akal.
Kejatuhan moral dan penyimpangan perilaku ini ada di setiap tentara dunia yang tidak dibangun di atas makna-makna Islam.
Lihatlah Napoleon Bonaparte, ia adalah pecinta wanita.
Ia meminta gadis-gadis tercantik untuk menjalin hubungan asmara dengannya.
Ia memanfaatkan jabatannya sebagai panglima militer untuk memuaskan syahwatnya.
Dan seperti dia, banyak pemimpin Barat lain yang terengah-engah mengejar wanita terhormat dengan dalih melindungi negara.
Hingga salah seorang dari mereka berkata kepada seorang gadis ketika ia ragu memenuhi ajakan panglima tentara untuk perbuatan keji:
"Ada pertimbangan, wahai Nyonya, yang harus mengalahkan segala hal. Hari ini kita berada di hadapan upaya menyelamatkan seluruh bangsa. Maka sebaiknya rasa tidak enak yang menimpamu hilang, dan penuhilah undangan makan malam panglima tentara. Ketahuilah, penolakan dalam kondisi seperti ini tidak akan dilakukan oleh wanita setia yang memahami bahaya besar yang menimpa negerinya!!"
Lihatlah bagaimana mereka memahami perkara.
Menurut mereka, memuaskan nafsu bejat mereka akan membebaskan tanah dan mengembalikan negeri!!
Ah, betapa hinanya mereka.
Inilah akal manusia jika ia berpikir jauh dari wahyu langit.
Tentara kita tidak seperti tentara-tentara lainnya.
Kita berperang untuk menjaga kehormatan, bukan untuk mendekatinya.
Kita adalah tentara Allah.
Kita khawatir kesucian iman kita ternodai oleh pandangan yang sekadar lewat.
Kita menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram, agar Allah menjaga bashirah dan penglihatan kita di medan pertempuran.
Wahai pemuda yang kecanduan kisah cintamu dan syahwatmu,
Harus ada pelurusan jalan untuk mencapai kedudukan yang tinggi.
Keluarlah dari belenggu dan tawananmu.
Jika tidak, engkau akan tetap menjadi sandera bagi dirimu sendiri dan syahwatmu,
Sampai engkau memutuskan untuk menebusnya dan menang melawannya.

Khutbah Idul Adha di Gaza!
1. Salam untukmu wahai Gaza, salam untukmu pada hari yang menyerupaimu dalam kejernihan, kejujuran, pengorbanan, dan gema takbir.
2. Salam atasmu pada hari engkau bangkit, pada hari engkau terluka, dan pada hari engkau dibangkitkan kembali.
3. Salam atasmu pada hari engkau bersabar dengan kesabaran yang agung, pada hari engkau berjaga di garis perjuangan, dan pada hari engkau menerobos serta mendatangi mereka dari setiap penjuru.
4. Salam atasmu pada hari engkau menolak untuk dipenjara, menolak untuk dikuburkan, dan terus melawan sang penjaga penjara hingga bantuan bumi pun terputus.
5. Salam atasmu pada hari engkau meminum air asin, memakan makanan kering, menyusui anak-anakmu dengan pahitnya tanaman hanzhal yang kering, dan menghirup asap hitam pekat.
6. Salam atasmu pada hari engkau ingin menjadi cahaya matahari, dan engkau enggan memujinya hanya ketika gelap gulita datang.
7. Salam atasmu pada hari engkau mengorbankan kebahagiaan demi kemuliaan, dan engkau merasa cukup tanpa keluhan karena kemuliaan jiwamu di hadapan semua orang zalim.
8. Salam atasmu pada hari engkau menghidupkan kami dari kematian putus asa kami, dan pada hari engkau membuka batas-batas dunia terhadap kenyataan yang telah lama mereka butakan.
9. Salam atasmu pada hari engkau naik ke langit setelah mereka menyalakan kobaran api di atas lautmu yang tawar, lalu engkau menjadi awan berat yang menggelegar, menyambar bagai kilat, sarat dengan pertolongan kemuliaan dan minyak pengorbanan.
10. Salam atasmu wahai banjir besar yang ditumpahkan kepada badai-badai bodoh yang hanya mengumpulkan sampah bumi, daun-daun gugur, dan debu yang beterbangan di jalan-jalan yang buta.
11. Salam atasmu wahai pemisah sejarah, wahai saat perubahan yang dinantikan, dan wahai janji langit yang ditunggu-tunggu.
12. Kami telah lama bersandar kepadamu, namun engkau tidak patah meski segala beban berat akibat pengkhianatan dan ketergantungan kami menimpamu. Kami tahu bahwa condongnya ranting-ranting zaitunmu hanyalah karena beratnya beban yang memancarkan minyak kemuliaan dan balsem penghiburanmu.
13. Mereka mengira telah membakar bulu-bulu perisaimu, tetapi kami tahu mereka belum mencapai tulang bentengmu yang tegak menjulang di langit, yang kelak akan membuka pintu-pintunya atas mereka dari seluruh penjuru bumi, dekat maupun jauh.
14. Salam atas para syekh dan pejuang kebenaran yang Allah karuniakan akhir kehidupan yang mulia di bumi ini, bumi yang telah mendapatkan kembali harta kehormatannya dan kebanggaan agungnya yang bersejarah.
15. Salam atas burung-burung surga yang terbang setelah menandatangani dengan darah mereka surat-surat dakwaan dan kesaksian para saksi.
16. Salam atas para ibu di harimu dan ibu-ibu di masa depanmu; dunia mungkin perlu beristirahat berabad-abad sebelum mampu melahirkan wanita-wanita seperti kalian.
17. Salam atas orang-orang yang teguh dan sabar, yang telah mengajarkan dunia nilai-nilai kebenaran, keadilan, kebaikan, dan perdamaian.
18. Salam atas para hawariyyun (para pembela setia) yang bergerak dengan senapan mereka di atas bumimu, di bawah bumimu, di lautanmu yang bergelora, dan pada layar-layar perahu yang berlayar di angkasa.
19. Ya Allah, sempurnakanlah untuk kami keselamatan dengan keselamatan-Mu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Sempurnakanlah ia untuk kami dengan kemenangan-Mu Yang Mulia lagi Maha Pemurah, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang beruntung di dalamnya.
20. Salam atasmu pada hari engkau berkata dengan sepenuh suaramu sebagaimana para nabi berkata pada hari raya mereka: “Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
— Dr. Usamah Al-Asyqar
Meraih Surga dengan 4 Sifat Utama
Selasa, 09 Dzulhijjah 1447 H / 26 Mei 2026 M
Hadits Nabi SAW tentang Golongan yang Haram Disentuh Api Neraka:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: "كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ قَرِيبٍ سَهْلٍ"
Artinya:
"Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Maukah kalian aku tunjukkan orang yang haram baginya tersentuh api neraka?' Para sahabat menjawab, 'Mau, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda, '(Yang diharamkan adalah) setiap orang yang Hayyin, Layyin, Qorib, dan Sahl.'" (HR. At-Tirmidzi & Ibnu Hibban).
Syarah Ringkas dan Aplikasi dalam Kehidupan:
1. Hayyin (Tenang & Berwibawa)
Definisi: Orang yang memiliki ketenangan lahir dan batin, tidak grusa-grusu, dan tidak mudah marah.
Aplikasi: Saat menerima berita hoax atau provokasi di grup WA, orang yang Hayyin tidak langsung bereaksi emosional. Ia menahan diri dan penuh pertimbangan.
2. Layyin (Lemah Lembut)
Definisi: Orang yang santun dalam tutur kata dan perbuatan, tidak kasar, serta menjaga perasaan orang lain.
Aplikasi: Saat menegur kesalahan anggota keluarga atau rekan kerja, pilihlah kata yang menyejukkan. Kelembutan adalah kunci pembuka pintu hati.
3. Qorib (Ramah & Akrab)
Definisi: Pribadi yang menyenangkan, murah senyum, dan mudah bergaul.
Aplikasi: Jangan menjadi orang yang "berjarak" atau angkuh. Sapa dan tebarlah senyum ramah kepada orang lain agar hubungan silaturahmi tetap hangat.
4. Sahl (Memudahkan)
Definisi: Orang yang tidak mempersulit urusan orang lain, solutif, dan ringan tangan.
Aplikasi: Jadilah sosok yang dicari saat orang lain kesulitan, bukan justru menambah beban. Jika bisa dipermudah, mengapa harus dibuat rumit?
Tambahan Penjelasan:
Para ulama menekankan bahwa sifat-sifat ini adalah cerminan dari akhlak Rasulullah SAW. Keempat sifat ini saling berkaitan. Seseorang yang memiliki Hayyin (ketenangan) akan lebih mudah bersikap Layyin (lembut), sehingga ia menjadi Qorib (akrab) bagi manusia dan selalu membantu dengan Sahl (kemudahan).
Semoga Allah SWT menganugerahkan kita sifat-sifat mulia ini agar kita termasuk golongan yang dijauhkan dari api neraka. Aamiin.
Beginilah Para Salaf di Hari Arafah
➤ Mutharrif bin Abdullah pernah wuquf di Arafah bersama Bakr al-Muzani. Salah seorang dari keduanya berkata:
اللَّهُمَّ لَا تَرُدَّ أَهْلَ الْمَوْقِفِ مِنْ أَجْلِي
“Ya Allah, jangan Engkau tolak orang-orang yang hadir di tempat wuquf ini karena diriku.”
Yang lainnya berkata:
“Betapa mulianya tempat wuquf ini dan betapa besar harapan bagi orang-orangnya, seandainya aku tidak berada di dalamnya.”
➤ Al-Fudhail bin 'Iyadh berdiri di Arafah sementara manusia berdoa, sedangkan beliau menangis seperti tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya dan terbakar hatinya. Tangisan itu sampai menghalangi beliau dari berdoa. Ketika matahari hampir terbenam, beliau mengangkat kepalanya ke langit lalu berkata:
وَاسَوْأَتَاهُ مِنْكَ وَإِنْ عَفَوْتَ
“Betapa malunya aku di hadapan-Mu, meskipun Engkau memaafkan.”
Beliau juga berkata kepada Syu‘aib bin Ḥarb:
“Jika engkau mengira ada seseorang di tempat wuquf ini yang lebih buruk daripada aku dan dirimu, maka sungguh buruk prasangkamu.”
➤ Abu Ubaidah al-Khawwas sangat dikuasai rasa rindu dan kegelisahan, seraya berkata:
“Betapa rindunya aku kepada Dzat yang melihatku sementara aku tidak dapat melihat-Nya.”
Ketika beliau telah tua, beliau memegang janggutnya sambil berkata:
يَا رَبِّ قَدْ كَبُرْتُ فَأَعْتِقْنِي
“Wahai Rabbku, sungguh aku telah tua, maka bebaskanlah aku.”
➤ Ali bin Abi Thalib berkata:
“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba dari neraka daripada hari Arafah. Karena itu, perbanyaklah mengucapkan:
اللَّهُمَّ أَعْتِقْ رَقَبَتِي مِنَ النَّارِ، وَأَوْسِعْ لِي مِنَ الرِّزْقِ الْحَلَالِ، وَاصْرِفْ عَنِّي فَسَقَةَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ
‘Ya Allah, bebaskanlah diriku dari api neraka, luaskanlah untukku rezeki yang halal, dan jauhkanlah dariku gangguan orang-orang fasik dari kalangan jin dan manusia.’
Karena sesungguhnya itulah kebanyakan doaku pada hari ini.”
➤ Al-Awza'i berkata:
“Aku pernah menjumpai orang-orang yang menyimpan hajat-hajat mereka hingga hari Arafah untuk mereka panjatkan kepada Allah pada hari itu.”
➤ Al-Husain bin Ali pernah berkata kepada para jamaah haji:
“Kalian adalah tamu-tamu Allah. Jika kalian telah tiba di Makkah, maka kumpulkanlah seluruh kebutuhan dan permintaan kalian, lalu mintalah semuanya kepada Allah.”
➤ Abdullah bin al-Mubarak berkata:
“Aku mendatangi Sufyan al-Tsauri pada sore hari Arafah. Saat itu beliau berlutut, sedangkan kedua matanya berlinang air mata.”
Aku bertanya: “Siapakah orang yang paling buruk keadaannya di tempat ini?”
Beliau menjawab: “Orang yang mengira bahwa Allah tidak akan mengampuninya.”
➤ Hakim bin Hizam biasa wuquf di Arafah bersama seratus ekor unta yang telah diberi tanda kurban dan seratus budak. Lalu beliau memerdekakan budak-budaknya, sehingga orang-orang menangis dan berdoa:
“Wahai Rabb kami, hamba-Mu ini telah memerdekakan budak-budaknya, sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu, maka bebaskanlah kami dari neraka.”
➤ Sebagian salaf berdoa di Arafah:
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ لَمْ تَقْبَلْ حَجِّي وَتَعَبِي وَنَصَبِي فَلَا تَحْرِمْنِي أَجْرَ الْمُصِيبَةِ عَلَى تَرْكِكَ الْقَبُولَ مِنِّي
“Ya Allah, jika Engkau tidak menerima hajiku, kelelahan dan kepayahanku, maka janganlah Engkau menghalangiku dari pahala musibah karena tidak diterimanya amalku.”
➤ Salah seorang salaf berkata:
“Selama lima puluh tahun aku terus berdoa pada hari Arafah, dan belumlah berlalu satu tahun melainkan aku melihat doa-doa itu terkabul dengan jelas seperti terangnya fajar.”
#HariArafah
Pemboman Tempat Penampungan Pengungsi dan Kejutan Peringatan Pengungsian
Ditulis oleh : Sang Mujahid Zaki Hamad
Musuh yang berbuat jahat itu mengikuti kebijakan membombardir pusat penampungan beserta orang-orang di dalamnya dengan dalih adanya buronan.
Sikap ini adalah kriminalitas murni.
Seorang mujahid tidak menembakkan roket dari pusat penampungan, tidak pula menyimpan senjata di dalamnya.
Pusat penampungan itu justru tempat beberapa orang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak dan remaja, dan sebagian mereka mengimami manusia dalam shalat.
Namun musuh telah membombardir lebih dari seratus pusat penampungan dan melakukan pembantaian yang mengerikan.
Kami telah membuka halaqah-halaqah tahfizh Al-Qur’an di tempat penampungan.
Setiap bulan kami mengadakan ujian.
Pada hari ujian itu, enam puluh siswa sedang menunggu giliran, semuanya anak-anak.
Tiba-tiba datang telepon kepada salah satu pengungsi di tempat penampungan:
\"Kalian punya sepuluh menit untuk mengosongkan pusat ini. Kami akan membombardirnya..!\"
Begitu saja, tanpa pendahuluan.
Orang-orang pun berlari mengambil apa yang bisa mereka bawa berupa selimut dan sepotong roti.
Mereka keluar ke jalan dengan tergesa-gesa.
Tidak berselang lama, pesawat tempur membombardir tempat penampungan itu dan meratakannya dengan tanah.
Yang mengherankan di sini ada dua hal:
Pertama: Peringatan tempat penampungan melalui telepon sebelum dibom.
Musuh yang jahat itu sering membom pusat-pusat penampungan tanpa peringatan.
Tapi aku menduga, pada kali ini kami diliputi keberkahan Al-Qur’an, sehingga tidak ada seorang pun yang terluka.
Kedua: Perwira terkutuk yang menelepon salah satu pengungsi itu berkata kepadanya:
\"Kami akan membom pusat penampungan karena kalian menghafal Al-Qur’an di dalamnya!!\"
Demi Allah, mereka adalah para perusak di muka bumi.
Mereka tidak memiliki pengalaman bertempur, mereka hanya menambal harga diri mereka di sana-sini...
Dan ini adalah janji yang kami ikat atas diri kami dan kami persaksikan kepada Allah:
Kami akan terus melangkah dalam perjalanan Al-Qur’an untuk membebaskan manusia dari para penjahat Nazi ini.
Ya Allah, jagalah kami dengan Al-Qur’an, dan jadikanlah ia penyejuk hati kami.

Kuatkanlah Punggungku Dengan Dia
Ditulias oleh: Sang Mujahid Zaki Hamad
Seluruh anggota keluargaku mengungsi di selatan Jalur Gaza.
Satu-satunya anggota keluarga yang bisa kutemui hanyalah adikku yang langsung di bawahku, Abu al-Baraa’, dan kakak perempuanku yang sudah menikah dan tinggal di rumah kerabatnya – semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan.
Adikku ini adalah bara api semangat.
Ia memadukan jiwa kepemudaan dengan keberanian seorang pemuda yang menerjang kesulitan.
Ia dermawan, tidak pernah pelit kepada siapa pun.
Aku merasa ia adalah amanah bagiku, tapi ia justru membuatku merasa bahwa akulah amanah baginya.
Tidak hilang dari ingatanku pertemuan pertama kami di medan pertempuran setelah tiga puluh dua hari.
Semoga Allah tidak pernah memutuskan silaturahmi kita, dan tidak menjauhkan cinta di antara kita.
Ia lebih dulu mendahuluiku dalam melayani manusia.
Ia sering bermusyawarah denganku dalam hampir semua urusannya, dan aku tidak pernah menahan apa yang Allah bukakan untukku.
Ia menguatkan punggungku dalam putaran pertempuran ini, dan aku belajar darinya makna ikhlas dalam persaudaraan.
Ia adalah senjata lain yang bersamaku selain senjataku sendiri:
> Saudaramu, saudaramu! Sungguh orang yang tak punya saudara
> Bagaikan orang yang maju ke medan perang tanpa senjata
Kami telah berjanji setia untuk mati bersama.
Masing-masing dari kami membawa bom untuk saat terakhir.
Kami akan melemparkannya ke musuh dan bertempur habis-habisan.
Dan hanya butuh beberapa saat, kehidupan ini akan berakhir menuju surga Allah.
Sikap maju seperti ini jauh lebih ringan daripada menanggung beban ditawan.
Ia membelikanku tas kecil, meletakkan bom di dalamnya, lalu memberikannya kepadaku sebagai hadiah.
Adikku ini adalah kepala bagian pengungsian, seorang pelayan yang dermawan, imam shalat bagi orang-orang, sekaligus fotografer dan pelaksana proyek-proyek.
Allah memberinya taufik yang luar biasa.
Aku memohon kepada Allah agar menambah keteguhan dan kemampuannya.
Rabbku, kuatkanlah punggungku dengan dia, dan jadikanlah dia ikut serta dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu dan banyak mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat keadaan kami.

Persahabatan Orang-Orang Suci
Ditulis oleh : Sang Mujahid Syaikh Zaki Hamad
Alangkah indahnya persahabatan dengan orang-orang saleh.
Itu adalah salah satu pemberian terbesar dari Sang Maha Pemurah سبحانه.
Ia adalah ketenangan di masa keterasingan.
Ia adalah kenikmatan surga yang disegerakan di dunia.
Ia adalah cinta yang kekal, yang tidak terputus oleh kematian.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari kiamat: "...dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya."
> Sejatinya sahabat adalah yang bersamamu
> Yang rela merugikan dirinya untuk memberimu manfaat
> Dan ketika himpitan zaman memecah belahmu
> Ia merelakan dirinya tercerai berai agar bisa menyatukanmu
Sebagian sahabatku memiliki keutamaan besar dalam perjalanan ini.
Sebagian mereka membantuku tanpa aku minta apa pun.
Pernah aku menghubungi salah seorang dari mereka agar mencarikan tempat bagi keluargaku untuk menginap di tengah pengungsian yang berulang-ulang.
Saat itu mustahil mendapatkan tempat kecil untuk disewa.
Namun ia orang yang mulia, ia menutupiku dengan kedermawanannya.
Ia memberitahuku bahwa ruang tamu rumahnya cukup untuk menampung keluargaku.
Aku pun berdoa agar Allah membalasnya, dan aku tidak akan melupakan kebaikannya itu.
Sahabat lain tidak tahu bahwa keluargaku mengungsi di daerahnya.
Ketika ia tahu, ia berkata: "Semoga Allah memaafkanmu, keluargamu ada di tempat kami dan kami tidak tahu."
Dari kemurnian persahabatannya terlihat bahwa ia ingin memberikan apa saja untuk mereka.
Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dariku.
Banyak orang telah berbuat baik kepada kami dalam perang ini.
Kakakku yang sulung menjaga istri dan anak-anakku.
Kakakku yang lain tidak pernah lalai dalam merawat mereka.
Sungguh, akhlak seseorang akan terlihat jelas di saat-saat sulit.
Ya Allah, muliakanlah orang-orang yang telah memuliakan kami.
Bukakanlah bagi mereka pintu-pintu kebaikan dan keberkahan dari arah yang tidak mereka sangka.

Dakwah adalah Modal Seorang Da’i
Ditulis oleh: Sang Mujahid Syaikh Zaki Hamad
Setiap kali aku lalai dalam mendakwahi manusia kepada Rabb semesta alam, aku teringat Nabi Yusuf dan betapa besar perhatiannya terhadap dakwah saat ia berada di kegelapan penjara.
Ia dipenjara karena tuduhan akhlak, padahal ia bersih dan seorang yang mulia. Sungguh berat baginya dituduh dalam kehormatannya.
Namun meski begitu, ia tetap berdakwah dengan penuh semangat. Ia berkata:
"Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?" [QS. Yusuf: 39]
Dalam perang ini aku bertemu dengan orang-orang yang suci hatinya dan mencintai Allah.
Aku pun mengajari sebagian dari mereka cara wudhu, dan Allah memberi kami taufik untuk menjelaskan hukum-hukum tayammum kepada mereka dan yang lainnya.
Sesungguhnya tugas seorang da’i tidak terikat pada waktu dan keadaan.
Manusia justru paling membutuhkan nasihat dan penjelasan ketika berada dalam musibah dan peperangan.
Aku melihat dalam perang ini betapa hausnya manusia terhadap segala yang menghubungkan mereka dengan Allah.
Berikut garis-garis besar yang baik bagi seorang da’i untuk dipegang dan disampaikan dalam perang dan krisis:
1. Qada’ dan qadar: Menguatkan keimanan kepada keduanya, mengaitkan manusia dengan Allah, dan mengajarkan tawakal yang baik kepada-Nya.
2. Hikmah di balik musibah: Menjelaskan bahwa Allah Maha Adil lagi Maha Bijaksana, dan bahwa pada setiap takdir ada banyak hikmah. Sebagian kita ketahui, dan sebagian lain tersembunyi dari kita.
3. Hukum-hukum fikih yang mendesak: Seperti fikih thaharah, shalat, dan beberapa muamalah yang dibutuhkan.
4. Taubat dan istighfar: Serta fikih kembali kepada Allah untuk menghilangkan kesusahan.
5. Ukhuwah dan ikatan sosial: Saling menanggung, bekerja sama dalam kebaikan dan takwa.
6. Kemunafikan dan bahayanya: Membongkar perilaku dan cara orang-orang munafik.
7. Syahidah dan jihad: Hukumnya, keutamaannya, dan mengaitkan hati dengan negeri akhirat.
Wahai para da’i, alangkah besar dosa kalian jika kalian tertidur bersama orang-orang yang tertidur.
Jangan tinggalkan pos kalian.
Dan alangkah indahnya jika engkau mati syahid dalam keadaan berdiri di pos dakwah, meneguhkan manusia.
Maka engkau akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan mulia.
Sungguh, tujuh puluh sahabat Rasulullah ﷺ terbunuh di Bi’r Ma’unah saat mereka berada dalam tugas dakwah.
Alangkah mulianya akhir kehidupan itu.
Aku melihat dalam perang ini semangat tinggi dari para da’i yang menghidupkan halaqah-halaqah tahfizh, menegakkan shalat berjamaah dan shalat Jumat, memberi nasihat kepada manusia, serta menjelaskan hukum-hukum shalat dan puasa.
Aku juga melihat da’i-da’i yang melepaskan diri dari tugas mereka karena beratnya keadaan.
Semoga Allah meridhai orang-orang yang ikhlas, dan memberi hidayah kepada orang-orang yang lalai.
Pemberian dalam timbangan seorang da’i sama seperti penerimaan, bahkan kegembiraannya dalam memberi dan kebaikannya dalam memanfaatkannya lebih besar.

Delegasi Perunding
Ditulis oleh : Sang Mujahid Zaki Hamad
\"Mengapa mereka meninggalkan Gaza dan bersenang-senang di hotel-hotel Turki dan Qatar?!\"
Ide ini telah memengaruhi banyak orang, dan setan telah menghiasinya untuk mereka.
Padahal sejenak saja merenung dengan jujur sudah cukup bagi orang berakal untuk mengetahui kebenarannya.
Bahaya mengintai mereka di mana pun mereka berada. Musuh bahkan telah membunuh sebagian dari mereka di luar Gaza, di antaranya pimpinan gerakan Abu al-‘Abd Haniyah dan wakilnya Syaikh Shalih al-‘Aruri .
Kami yakin, seandainya mereka berada di Gaza, niscaya mereka semua akan menjadi sasaran, pimpinan gerakan dan pucuk pimpinannya akan dibunuh.
Akibatnya kita tidak akan bisa berunding dengan musuh dan tidak bisa menyampaikan suara kepada dunia.
Setiap sistem yang berakal akan membuat dirinya memiliki \"tubuh lain\" dan cabang-cabang di beberapa tempat untuk menjaga kelangsungannya.
Sirah Nabawiyah telah menceritakan kepada kita bahwa Nabi ﷺ mengirim 100 sahabat untuk hijrah ke Habasyah, padahal saudara-saudara mereka di Mekkah sedang disiksa.
Itu dilakukan agar dakwah memiliki tubuh lain di tempat yang berbeda, sehingga sulit dicabut dan dimusnahkan.
Jika kita melihat perilaku musuh kita, sejumlah besar orang Yahudi Zionis tinggal di Amerika dan Eropa.
Mereka menggerakkan lobi Zionis, bertugas menghasut, menggalang massa, dan mengumpulkan dana untuk kepentingan bangsa Yahudi.
Banyak dari mereka adalah unsur terlatih yang beroperasi di luar perbatasan untuk melakukan pengejaran, pembunuhan, dan lainnya.
Hal ini mewajibkan kita sebagai umat yang tersebar di seluruh penjuru bumi untuk mendahului mereka dalam hal itu.
Kita harus memiliki pasukan pemukul di setiap tempat. Kita lebih berhak melakukan itu daripada mereka.
Tidak masuk akal jika Gaza tetap bertempur sendirian dengan darah dan dagingnya, sementara seluruh komponen umat hanya menonton dari jauh!!
Termasuk mengagungkan syariat adalah memuliakan ulama yang beramal dan mendahului dalam kebaikan, memuliakan para mujahid yang membela kehormatan syariat, orang-orang yang berbicara atas nama mereka, para perunding mereka, dan mendoakan mereka.
Orang yang paling butuh doa agar diberi taufik dan kebenaran adalah saudara-saudara kita para perunding.
Lebih dari satu ikhwan dari kalangan mujahid telah memberitahuku bahwa ia mengkhususkan delegasi perundingan.
Kami mendoakan delegasi perunding kami di hari-hari yang mulia dan pada waktu mustajab doa.
Ini adalah tanda kebaikan, kekompakan, dan saling menyayangi.
Aku wasiatkan kepada delegasi perunding kami agar selalu melakukan istikharah dalam setiap perkara penting, memperbanyak istighfar, dan memohon hidayah serta kebenaran.
Ya Allah, ilhamkanlah mereka petunjuk-Mu dan lindungilah mereka dari keburukan diri mereka sendiri.
Pada tahun 2014 M, Azzam al-Ahmad pernah berunding atas nama perlawanan, dan kita menuai malapetaka karena mereka yang memegang kendali perundingan.
Namun alhamdulillah, yang berunding atas nama kita hari ini adalah perlawanan yang amanah.
Ini adalah hak kita: memiliki pimpinan yang amanah, yang bisa kita percayakan pada diri kita dan urusan kita ketika mereka berdua saja di ruangan tertutup bersama rezim kekufuran dan kefasikan.
Kita bisa yakin dengan apa yang mereka rencanakan dan sepakati.
Bangunlah wahai pemuda umat!
Karena para penguasa kalian di ruangan tertutup itu meminta maaf atas masa lalu kalian, menjual masa kini kalian, dan melepaskan masa depan serta kesucian kalian.
Dan Allah akan meminta pertanggungjawaban kita atas itu.
Sesuatu mengingatkan pada sesuatu yang lain.
Telah disebarkan juga isu lain, yaitu bahwa pimpinan perlawanan aman di dalam terowongan sementara rakyat berada dalam kesengsaraan dan penyiksaan.
Aku telah mendengar sebagian syaikh suu’ dari luar Gaza mengulang-ulang hal ini.
Media Yahudi pun mendukung isu-isu ini melalui gambar karikatur, ejekan, dan berita bohong.
Sungguh aneh! Yahudi berkata kepada pimpinan perlawanan: “Keluarlah dari terowongan dan jangan bersembunyi di dalamnya, karena itu pengecut.”
Sementara kami berkata kepada mereka dengan logika yang sama: “Hancurkan tembok pemisah, hentikan sistem pengawasan, lalu hadapi kami berhadap-hadapan wahai para pengecut!!”
Parit-parit dan terowongan kami bukanlah pengecut, wahai para pengecut.
Medan pertempuran mengenal serangan kami.
Tank-tank berat kalian tahu betapa kecilnya mereka ketika mujahidin kami menaikinya.
Terowongan kami adalah taktik dan seni perang yang kami terpaksa gunakan karena sifat pertempuran dan karena kalian pengecut menghadapi pertempuran langsung.
Aku katakan ini agar tidak ada yang menertawakan kaum muslimin dan menggoyahkan kepercayaan diri mereka!
Penutup
Dan sebagai penutup, agar aku bersikap realistis: Percayalah, terowongan itu bukanlah hotel, dan tidak layak untuk kehidupan manusia.
Namun itu adalah harga dari kemuliaan dan jihad di jalan Allah, serta surga yang di hadapannya segala sesuatu menjadi ringan.

Nethanyahu
Sungguh, Netanyahu telah melampaui batas di muka bumi dan memperbanyak kerusakan di dalamnya.
Ia bersikap sombong dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun di zaman ini.
Sampai-sampai keadaannya sampai pada titik ia berkata: “Kami akan mengalahkan Hamas, meskipun Allah bersama mereka.”
Abaikan dulu realitas lapangan dan fakta bahwa ia tidak mampu menyelesaikan pertempuran melawan sebuah jamaah mujahadah yang dikepung.
Kepungan itu tidak berarti apa-apa dalam peta geografi, tetapi ia besar dan agung dalam lembaran sejarah.
Dan perhatikanlah bersamaku satu sisi penting yang akan kusebutkan.
Sesungguhnya Netanyahu dengan ketinggian dan kesombongan ini sedang menghabiskan jatah penangguhan hukumannya.
Agar Allah mengambilnya dengan siksaan yang keras di dunia dan akhirat.
Kegilaan kesombongan yang ada padanya, bahkan kompleks inferioritasnya, akan menjerumuskan si bodoh sombong ini kepada nasib yang sama seperti para thaghut dan orang-orang yang melampaui batas sebelumnya.
Sungguh Allah memberi tangguh, tetapi tidak melalaikan.
Allah berfirman tentang Fir‘aun:
\"Maka Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia yang dijadikan pelajaran. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang yang takut.\" [QS. An-Nazi‘at: 25-21]
Aku pastikan bahwa Netanyahu seperti Fir‘aun.
Keduanya menderita insomnia dan kecemasan besar karena takut kerajaannya runtuh…
Dan Netanyahu suatu hari akan hancur sebagaimana Fir‘aun hancur.
Akan berakhir pula legenda yang ia bersusah payah ingin bangun…
Si thaghut itu hanyalah hamba yang berputar di sekitar dirinya sendiri.
Ia tidak mengenal keagungan Allah.
Ia menyangka Allah terbang bersama burung, atau menyangkanya duduk di atas awan.
Ia tidak mengenal ‘Arsy dan Kursi.
Allah berfirman:
\"Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.\" [QS. Al-An‘am: 91]
Netanyahu menjanjikan bangsanya kemenangan mutlak.
Dan Allah telah menjanjikan kita tamkin, walau setelah beberapa waktu.
Kita akan lihat janji mana yang ditepati.
Demi Allah, tidak akan ditepati kecuali janji Allah.
Dan tidak akan menang kecuali dakwah Allah.
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
Masalah yang Akan Kita Semua Dimintai Pertanggungjawabannya: Para Tahanan!
Sesungguhnya hukum-hukum Islam menolak jika orang kafir menguasai atau meninggi atas orang mukmin dalam keadaan apa pun.
Maka bagaimana menurut kalian jika mereka memenjarakan dan menyiksanya?!
Ribuan tahanan mendekam di balik jeruji secara zalim dan permusuhan.
Para mujahid dan perlawanan memikul beban mereka, mendatangi keluarga mereka, menghibur mereka, dan menyusun rencana untuk menculik tentara musuh agar bisa membebaskan para tahanan.
Sementara umat ini tidak bergerak diam.
Sungguh, banyak dari saudara-saudara kita yang meninggal di penjara.
Sebagian kehilangan penglihatan, dan yang ketiga menjadi gila akibat banyaknya siksaan.
Bayangkan jika tahanan laki-laki atau perempuan itu adalah saudari, ibu, atau anak perempuanmu?!
Apakah engkau akan tetap duduk tenang seolah perkara ini tidak menyangkutmu?!
Bukankah engkau telah membaca: "Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan untuk membela orang-orang yang lemah..."?
Bukankah engkau telah membaca: "Perlindungan orang-orang muslim adalah satu, diusahakan oleh orang yang paling rendah di antara mereka..."?
Bukankah engkau telah membaca: "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak menzaliminya dan tidak menghinakannya"?
Demi Allah, sungguh kita akan ditanya tentang mereka.
Apa yang telah kita lakukan untuk para tahanan?!
Maka siapkanlah jawaban untuk pertanyaan itu.
Dan berikut sebagian langkah praktis untuk menolong para tahanan:
1. Khutbah Jumat tentang perkara mereka, untuk mengenalkan dan memotivasi manusia agar beramal untuk membebaskan mereka.
2. Aksi duduk/demonstrasi yang terus-menerus tanpa lelah dan bosan.
3. Mengekspos para sipir penjara ke dunia internasional, menyebut mereka sebagai penjahat perang, dan mengancam mereka beserta keluarga mereka melalui media sosial.
4. Membicarakan para pemimpin tahanan di penjara dan menulis biografi orang-orang yang meninggal dalam tawanan.
5. Memeriksa keadaan keluarga dan kerabat mereka serta menanggung nafkah mereka.
Semua ini adalah usaha dari orang yang memiliki sedikit kemampuan sebelum mereka dikeluarkan dan dibebaskan.
Dan tidak ada lagi iman setelah itu walau sebesar biji sawi.

Makna Kisah Pengorbanan
➤ Ujian tidak meminta izin terlebih dahulu, maka persiapkanlah dirimu dengan amal saleh yang menjadikanmu –setelah pertolongan Allah kepadamu– layak untuk dipilih oleh-Nya.
➤ Orang yang paling besar cintanya kepada Tuhannya adalah yang paling berat ujiannya… (Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata).
➤ Ibrahim bersikap santun kepada ayahnya yang kafir, lalu ia dikaruniai anak shaleh yang berkata kepadanya saat akan disembelih:
"Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu…"
(Balasan kebaikan anak yang shaleh datang lebih awal).
➤ Tebusan (sembelihan) telah disiapkan, sementara Ibrahim dan Ismail sedang diuji… Engkau pun dalam ujianmu, takdir Allah sedang bekerja menyiapkan balasan untukmu!
➤ Keshalehan anak-anak memiliki dua sebab: sebab lahir dan batin… Bersungguh-sungguhlah dalam sebab lahir, dan jangan tinggalkan yang batin, di antaranya semua bentuk sembelihan (aqiqah, hadiah kurban, dan hewan kurban)… Sebagaimana dalam hadis: “Anak tergadaikan dengan aqiqahnya.”
➤ Sekalipun para ayah mengorbankan usia dan harta mereka demi anak yang saleh, itu tidaklah berlebihan… Karena ucapan Ismail kepada Ibrahim: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu” meringankan segala kesulitan yang dialami oleh setiap Ibrahim dalam upaya mereka mendidik anak yang saleh.
➤ Kabar gembira dari Allah yang datang secara tiba-tiba setelah kesulitan yang dahsyat mampu melupakan si teruji dari segala rasa sakit dan luka, betapapun besarnya…
"Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu."
➤ Semua kesusahan dunia menjadi ringan bila kau memiliki istri seperti Hajar dan anak seperti Ismail!
Andai saja orang-orang yang menghabiskan hidupnya demi mengisi perut anak-anak mereka tahu bahwa hati, jiwa, dan akal anak-anak mereka jauh lebih utama.
➤ Sikap Ibrahim dan Ismail memberi manfaat bagi umat Islam hingga hari kiamat… Semua Muslim ikut menikmati daging kurban dan kegembiraan Idul Adha…
Begitu pula para pembaru (mujaddid dan pendidik)… Mereka menjadi keberkahan bagi umat mereka walau mereka sendiri tidak menyadarinya…
Namun… andai saja para pembaru itu menyadari!
➤ Di balik setiap Ismail ada ibu seperti Hajar… Sejak para ibu seperti Hajar tak lagi mendidik “Ismail”-nya, kita kehilangan banyak anak-anak yang saleh dan berbakti!!
Dr. Khalid Hamdi
Dan esok kita akan menengadahkan tangan kepada Allah dengan doa-doa di Hari Arafah...
Dan hal pertama yang terbit di dalam dadaku, yang aku niatkan untuk aku mulai dalam doaku...
adalah (doa) untuk mereka yang terkepung namun tetap teguh di tanah suci...
dan untuk para tahanan yang melebur dalam panasnya penjara...
juga untuk mereka yang letih dan payah dari kalangan keluarga mereka dan orang-orang terdekat mereka...
Sungguh, semua telah merasakan penderitaan... dan mereka tidak memiliki siapa pun selain Dia, Yang Maha Penyayang di antara para penyayang...
Mari kita bersatu dalam doa untuk saudara-saudari kita...
Mari kita buat gemuruh doa kita untuk mereka naik ke langit—penuh, tulus, dan ikhlas...
Dan aku yakin, jika doa-doa orang-orang yang terzalimi dan mereka yang mendukungnya berkumpul di Hari Arafah, maka Allah pasti akan menjadikan di baliknya sebuah jalan keluar yang dekat.
Sebab Hari Arafah adalah hari penuh harapan yang tak pernah mengecewakan.
Ikhlaskan diri hanya untuk Allah, dan majulah...
Karena di antara kita pasti ada yang jujur dan ikhlas.
Dr. Khalid Hamdi
إلى عَرَفَاتٍ سَنَمْضِي غَدًا وَشَوْقٌ بِقَلْبِ الْمُحِبِّ بَدَا
Esok kita akan berangkat menuju Arafah, dan kerinduan pun tampak di hati sang pecinta.
فَهٰذَا مَقَامُ الدُّعَاءِ الَّذِي يُجَابُ فَمُدُّوا لِرَبِّي الْيَدَا
Inilah tempat berdoa yang mustajab, maka ulurkanlah tangan kalian kepada Tuhanku.
يُبَاهِي بِكُمْ رَبُّكُمْ فَاسْعَدُوا وَيَنْزِلُ يَسْمَعُ كُلَّ النَّدَا
Tuhan kalian membanggakan kalian (di hadapan para malaikat), maka bergembiralah! Dia turun (ke langit dunia) dan mendengarkan setiap seruan.
فَمَنُّوا دُمُوعَ الْأَسَىٰ تَوْبَةً وَقُولُوا أَتَيْنَاكَ يَا ذَا الْعُلَا
Jadikan air mata kesedihan itu sebagai taubat, dan ucapkanlah: “Kami datang kepada-Mu, wahai Yang Maha Luhur!”
زَائِرَ الرَّوْضَةِ لَا تَنسَ تَبْلِيغَ سَلَامِي
Wahai para peziarah Raudhah, jangan lupakan untuk menyampaikan salamku.
لِلنَّبِيِّ العَرَبِيِّ القُرشِيِّ التَّهَامِيِّ
Kepada Nabi yang Arab, dari Quraisy, dari (daerah) Tihamah.
وَابْكِ عَنْ قَلْبِي بِإِنْشَادٍ وَأَلْحَانِ
Tangisilah (untukku) dari lubuk hatimu, dengan lantunan syair dan nyanyian penuh cinta.
Hari Arafah…
Hari ketika langit begitu dekat dengan bumi…
Hari ketika Rabb (Tuhan) mendekat kepada makhluk-Nya…
Hari di mana para salaf menyimpan doa-doa dan menabung hajat-hajat untuk hari ini…
Seakan-akan Allah memilih hari ini untuk para jemaah haji, agar Dia membalas mereka atas berdirinya mereka dalam keadaan telanjang (dari dunia) dan penuh kehinaan di hadapan-Nya…
Dan bagi yang tidak berhaji, karena mereka berpuasa dan bersungguh-sungguh dalam doa…
Masuklah kepada Allah di hari ini melalui pintu kehinaan dan kerendahan diri…
Aku tidak mengira bahwa Allah memerintahkan ihram bagi para jemaah haji dan umrah, kecuali karena Dia mencintai melihat mereka dalam keadaan seperti ini…
Seorang lelaki berkata kepada Imam Ahmad pada hari Arafah:
"Wahai Imam, pakaian ihramku menjadi kotor, apakah boleh aku menggantinya?"
Ia menjawab:
“Dari sisi fikih, boleh saja. Tapi aku menyukai agar Allah melihatmu dalam keadaan seperti ini — penuh kefakiran, kelembutan, dan kelemahan — agar Dia mengampunimu!”
Demikian pula Dia mencintai bau mulut orang yang berpuasa, ketika mereka berada dalam puncak rasa lapar dan hausnya…
Dan Dia mencintai tetesan air mata dari orang yang merasa lemah, miskin, dan tunduk di hadapan-Nya…
Masuklah kepada-Nya melalui pintu sedekah… seakan-akan kalian berkata kepada-Nya dengan bahasa keadaan, bukan kata-kata:
“Inilah pemberian seorang hamba yang pelit dan menahan hartanya… maka bagaimana dengan pemberian Tuhan yang Maha Pemurah?”
Masuklah kepada-Nya melalui pintu pujian… dan sebaik-baik pujian adalah apa yang dipilih-Nya sendiri untuk hari Arafah:
Lā ilāha illallāh, waḥdahu lā syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr.
(Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).
Masuklah kepada-Nya melalui pintu amalan tersembunyi… sebab tidak ada yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada Allah dibanding amalan rahasia yang dilakukannya dengan harapan mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya…
Masuklah dari semua pintu, atau dari salah satunya… yang penting adalah masuklah… dan masuklah dengan segera, bukan terlambat; dengan penuh harap dan semangat, bukan dengan berpaling dan acuh…
Aku pernah masuk ke sebuah tenda milik seseorang pada hari Arafah, dan aku dapati penghuninya sedang bermain game elektronik di ponsel atau perangkat mereka… maka aku khawatir mereka termasuk dalam sabda Nabi ﷺ:
“Adapun yang ketiga, maka ia berpaling, maka Allah pun berpaling darinya.”
Lalu aku masuk ke tenda lain, aku dapati penghuninya sedang bersiap untuk tidur… maka aku berkata kepada mereka:
“Ini bukan hari untuk tidur… ini hari untuk menangis, berdoa, dan berharap…
Jika kalian mampu berdiri sepanjang hari ini, maka lakukanlah… sebab sesungguhnya ini hanya beberapa jam yang akan segera berlalu.”
Adapun jam-jam terakhir dari hari Arafah… maka bersungguh-sungguhlah di dalamnya…
Karena pada saat itu banyak leher yang dibebaskan dari neraka, rahmat Allah turun, doa-doa dikabulkan, dan harapan-harapan diwujudkan…
Betapa banyak orang yang diberi setelah sebelumnya tak memiliki… betapa banyak yang ditolong dalam kegelisahan… dan betapa banyak pendosa yang diterima taubatnya…
Persiapkan rintihanmu untuk waktu itu… ajak anggota keluargamu yang lemah… bawalah hatimu, air matamu, dan permintaan besar-besarmu…
Jangan lupakan umatmu yang sedang terluka… anak-anakmu yang dikepung oleh setan dari kalangan manusia dan jin… istrimu, saudara-saudaramu… dan sebelum mereka semua — akhiratmu, dosamu, duniamu, dan seluruh urusanmu…
Sebab jika Yang Maha Pemurah memberi… maka pemberian-Nya tiada bandingnya.
Jika kamu merasakan hatimu hadir… maka tambahlah (ibadahmu)… sebab hadirnya hati adalah tanda diterimanya amal…
Dan jika kamu merasakan kekerasan dan kelalaian… maka paksakan dirimu untuk menangis… dan segeralah menghimpun kembali hatimu yang tercerai…
Sebab berpalingnya hati di saat dekat sangatlah menakutkan…
Jangan tinggalkan tempatmu hingga adzan maghrib… sebab tangan terakhir yang mengangkat doa adalah yang paling berhak atas pemberian…
Dan jika Allah menyempurnakan harimu, menggembirakan hatimu, melancarkan lisan dan air matamu… maka bergembiralah atas diterimanya amalmu…
Sebab jika Dia membukakan lisanmu untuk berdoa, itu adalah tanda bahwa Dia ingin memberimu — sebagaimana dikatakan oleh Ibn ‘Aṭhā’illah.
Itulah Arafah… bagi siapa yang mengenalnya…
Adapun yang tidak… maka betapa aku menyesalkan keadaannya…
Hiduplah di hari Arafah seolah-olah kalian sedang mendengar nama-nama orang yang dibebaskan dari neraka disebutkan di langit…
Bayangkan namamu disebut di antara mereka…
Tidak ada nama-nama yang dipanggil seperti nama-nama yang dipanggil di hari ini…
Karena ganjaran-ganjaran pada hari Arafah langsung diberikan… maka raihlah salah satunya…
Sebab, kamu hanya butuh satu jam kejujuran dan satu momen kembali kepada Allah untuk menyusul mereka.
Dr. Khalid Hamdi
Salah satu tanda lemahnya kesadaran peradaban adalah ketika masyarakat lebih sibuk dengan konsumsi daripada produksi.
Mereka mengonsumsi ide,
mengonsumsi konten,
mengonsumsi teknologi,
dan mengikuti apa yang dibuat oleh orang lain, tanpa sungguh-sungguh bertanya:
apa yang kita hasilkan?
Bangsa-bangsa tidak maju hanya karena banyaknya apa yang dimiliki, melainkan karena kemampuan mereka untuk memberi tambahan, berpengaruh, dan menciptakan pengetahuan.
Karena itu, hal paling berbahaya yang dapat terjadi pada suatu masyarakat bukan hanya kemiskinan materi, melainkan ketika mereka terbiasa menjadi “penerima” semata.
Kesadaran peradaban dimulai ketika pertanyaan berubah dari:
apa yang kita beli?
menjadi:
apa yang kita buat?
apa yang kita tambahkan?
dan bagaimana kita menjadi bagian dari proses pembangunan, bukan sekadar penonton?
— Dr. Abdul Karim Bakkar
سَتَظَلُّ نَبْضًا فِي القُلُوبِ إِلَى الأَبَدِ
Engkau akan tetap menjadi detak di hati selamanya
نَمْ يَا أَبَا عُبَيْدَةَ، فَاللِّثَامُ بَاقٍ
Tidurlah, wahai Abu Ubaidah, penutup keffiyeh itu tetap ada
وَالصَّوْتُ فِينَا لَمْ يَغِبْ صَدَاهُ
Dan suara di antara kita tak pernah hilang gema-nya
خَلْفُكَ جَيْشٌ لِلْفِدَاءِ سَوَاك
Di belakangmu ada tentara pengorbanan yang sebanding
حَتَّى يَرَى النَّصْرَ الَّذِي تَهْوَى
Hingga kemenangan yang diidamkan pun terlihat
#AbuUbaidah
#SuaraPerlawanan
Jadwal Urutan Amalan Hari Arafah
(Amalan Hari Arafah dari shalat Subuh hingga berbuka puasa)
Ini adalah lima puluh amalan ringan yang aku harapkan semoga Allah Ta'ala menuliskan bagi orang yang melaksanakannya kemenangan pada Hari Arafah:
1. Zikir-zikir pada berbagai keadaan (keluar rumah, masuk toilet, berwudu, masuk masjid, keluar masjid, dan lain-lain).
2. Menghadiri azan Subuh di masjid dan mengikutinya.
3. Shalat sunah fajar.
4. Duduk berdoa antara azan dan iqamah.
5. Shalat Subuh berjamaah.
6. Zikir setelah shalat.
7. Mendengarkan kajian pagi (usulan tema kajian: penjelasan tentang keutamaan Hari Arafah dan amalan-amalannya).
8. Duduk hingga waktu terbit matahari.
9. Zikir pagi.
10. Shalat dua rakaat isyraq.
11. Duduk membaca Al-Qur’an.
12. Shalat Dhuha delapan rakaat (usulan waktu shalat Duha antara pukul 10.30 hingga 11.00).
13. Tidur selama satu setengah jam dengan niat untuk mendapatkan pahala dan menguatkan diri dalam ketaatan (usulan waktu tidur: dua jam sebelum Zhuhur).
14. Adab dan zikir sebelum tidur.
15. Shalat zawal empat rakaat (sesaat sebelum Zhuhur setelah matahari condong ke arah barat).
16. Menghadiri azan Zhuhur di masjid dan mengikutinya.
17. Shalat sunah qabliyah Zuhur empat rakaat.
18. Duduk berdoa antara azan dan iqamah.
19. Shalat Zhuhur berjamaah.
20. Zikir setelah shalat.
21. Mendengarkan kajian Zhuhur (usulan tema kajian: dorongan untuk memperbanyak ibadah sunah seperti shalat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan lain-lain).
22. Shalat sunah ba’diyah Zhuhur empat rakaat.
23. Duduk membaca Al-Qur’an dan berzikir.
24. Menghadiri azan Ashar di masjid dan mengikutinya.
25. Shalat sunah qabliyah Asar empat rakaat.
26. Menghabiskan waktu antara azan dan iqamah dengan berdoa.
27. Shalat Ashar berjamaah.
28. Zikir setelah shalat.
29. Menghadiri kajian Ashar (usulan tema kajian: membaca beberapa bagian tentang Hari Arafah, seperti hadis musalsal bil-awwaliyah dan bil-mahabbah, kitab “Faḍlu Yaumi ‘Arafah” karya Ibnu ‘Asakir, “Faḍlu Yaumi ‘Arafah” karya Al-Warraq, “Faḍlu ‘Asyri Dzilhijjah” karya Ath-Thabarani, dan “Faḍlu Yaumi ‘Arafah” karya Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi).
30. Zikir petang.
31. Duduk membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.
32. Menghadiri azan Maghrib di masjid dan mengikutinya.
33. Shalat sunah qabliyah Maghrib.
34. Shalat Maghrib berjamaah.
35. Zikir setelah shalat.
36. Shalat sunah ba’diyah Maghrib.
37. Berbuka puasa.
38. Menghadiri kajian Magrib setelah berbuka (usulan tema kajian: membaca hadis musalsal bil-awwaliyah, bil-mahabbah, dan tentang hari raya, serta sebagian dari kitab-kitab: Kutub Tis‘ah, Al-Muwaththa’ riwayat Asy-Syaibani, dan Asy-Syamā’il Al-Muhammadiyyah).
39. Amalan-amalan umum:
40. Bersedekah.
41. Menyambung silaturahim.
42. Mendoakan kedua orang tua.
43. Membantu menghilangkan kesusahan orang lain.
44. Mendamaikan perselisihan.
45. Mengajak kepada kebaikan.
46. Bertaubat.
47. Memperbanyak istighfar.
48. Bershalawat kepada Nabi ﷺ.
49. Bertakbir.
50. Memberi makan orang yang berbuka puasa.
Inilah lima puluh amalan yang memenuhi Hari Arafah, yang insyaallah mampu dilakukan seorang mukmin dengan pertolongan Allah Ta‘ala, dengan mudah dan ringan.
Aku juga menganjurkan agar para penyelenggara kegiatan Hari Arafah mencetak daftar ini dan membagikannya kepada seluruh peserta yang hadir, serta setiap orang berusaha konsisten melaksanakannya dengan memberi tanda pada amalan yang telah ia kerjakan.
Wahai Rabb kami, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ditulis oleh
Ahmad Al-Jauhari Abdul Jawwad
Pada tanggal 6 Dzulhijjah 1447 H
Keutamaan empat kalimat mulia—tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), tahlil (Laa ilaha illallah), dan takbir (Allahu Akbar)
1. Perkataan yang Paling Dicintai Allah
Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Perkataan yang paling dicintai oleh Allah ada empat hal: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, wallahu Akbar. Tidak mengapa bagimu memulai dengan yang mana saja." (HR. Muslim, no. 2137)
2. Lebih Dicintai daripada Dunia dan Isinya
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Sungguh, jika aku mengucapkan: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, wallahu Akbar, hal itu lebih aku cintai daripada segala apa yang matahari terbit di atasnya (dunia dan isinya)." (HR. Muslim, no. 2695)
3. Menggugurkan Dosa Seperti Daun Kering yang Berjatuhan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ pernah melewati sebuah pohon yang daunnya sudah kering, lalu beliau memukul pohon tersebut dengan tongkatnya sehingga daun-daunnya berjatuhan. Kemudian beliau bersabda:
> "Sesungguhnya ucapan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, wallahu Akbar dapat menggugurkan dosa-dosa sebagaimana pohon ini menggugurkan daun-daunnya." (HR. Tirmidzi, no. 3530. Di-hasan-kan oleh Al-Albani)
4. Menjadi Tanaman Surga
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau bertemu dengan Nabi Ibrahim 'alaihissalam pada malam Isra' Mi'raj. Nabi Ibrahim menitipkan salam untuk umat Islam dan berpesan:
> "...Bahwa surga itu memiliki tanah yang baik, air yang tawar, dan tanahnya itu rata (belum ditanami). Dan sungguh, tanaman surganya adalah ucapan: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, wallahu Akbar." (HR. Tirmidzi, Di-hasan-kan oleh Al-Albani)
5. Pelebur Dosa di Atas Bumi Meskipun Sebanyak Buih di Lautan
Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Tidaklah ada seorang manusia pun di atas bumi ini yang mengucapkan: Laa ilaha illallah, Allahu Akbar, Subhanallah, Alhamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan." (HR. Tirmidzi, Di-hasan-kan oleh Al-Albani)
Memeriksa ponsel anak… perlindungan yang diperlukan atau merusak kepercayaan?
Salah satu persoalan pendidikan yang paling banyak diperdebatkan para ayah dan ibu hari ini adalah:
apakah mereka berhak memeriksa ponsel anak-anak mereka?
Dan apakah hal itu termasuk bentuk perlindungan dan pendidikan… atau justru pelanggaran privasi?
Sebenarnya, jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”.
Karena hal ini berkaitan dengan usia anak, tingkat kedewasaannya, dan bentuk hubungan di dalam keluarga.
Anak kecil atau mereka yang baru memasuki masa remaja (sekitar usia 10–15 tahun) umumnya belum memiliki kematangan yang cukup untuk menghadapi dunia internet sendirian.
Pada tahap ini, anak-anak lebih rentan terpengaruh oleh:
konten yang tidak pantas,
hubungan yang berbahaya,
pemerasan,
kecanduan digital,
atau meniru secara membabi buta apa yang mereka lihat setiap hari.
Karena itu, pengawasan pada fase ini bukanlah bentuk memata-matai, melainkan bagian dari tanggung jawab pendidikan dan perlindungan.
Namun masalahnya bukan pada “pengawasan” itu sendiri…
melainkan pada cara melakukannya.
Ketika hubungan berubah menjadi pemeriksaan mendadak yang terus-menerus,
penuh kecurigaan,
dan pelanggaran privasi secara kasar,
maka hasilnya bisa berupa:
rasa takut,
kebohongan,
menyembunyikan akun,
dan hilangnya kepercayaan antara anak dan orang tua.
Sebaliknya, pendidikan yang lebih sadar berusaha membangun sesuatu yang lebih penting daripada sekadar pengawasan:
yaitu pengawasan dari dalam diri.
Hal itu dilakukan melalui dialog,
edukasi,
kedekatan emosional,
membangun kepercayaan,
serta menjelaskan bahaya, bukan sekadar melarang.
Cara pengawasan juga perlu berubah seiring bertambahnya usia anak.
Semakin anak mendekati usia matang,
semakin mereka membutuhkan ruang yang lebih besar untuk dihormati, dipercaya, dan belajar bertanggung jawab,
bukan diperlakukan seolah-olah selalu menjadi tersangka.
Karena itu, tujuan sebenarnya bukan mengendalikan anak sepenuhnya,
melainkan mencapai tahap di mana anak mampu melindungi dirinya sendiri bahkan ketika tidak diawasi.
Keberhasilan pendidikan tidak tampak ketika anak hanya taat karena takut,
tetapi ketika mereka mampu memilih yang benar karena kesadaran dalam dirinya mulai matang.
Dan pertanyaan penting yang tetap layak didiskusikan adalah:
Di mana batas peran perlindungan… dan di mana dimulai ruang privasi yang dibutuhkan anak-anak di zaman ini?
— Dr. Abdul Karim Bakkar
Bagaimana Cara Memahami Keindahan Al-Qur'an?
Tidak ada momen yang lebih indah daripada ketika seorang mukmin hidup bersama Al-Qur'an melalui hafalan, renungan, dan tadabbur. Keagungan Al-Qur'an terletak pada kemampuannya untuk memperkuat kemampuan bahasa Arab hanya dengab pengulangan dan hafalan. Bahkan, mengulang-ulang bacaan dan mendengarkan Al-Qur'an memberikan banyak manfaat linguistik dan balaghah (keindahan bahasa).
Ketika saya menemui beberapa kata yang sulit dipahami, saya biasa merujuk pada tafsir yang sederhana atau kamus bahasa yang mudah diakses. Kadang, saya merenungkan satu ayat Al-Qur'an selama satu jam, mencoba memikirkan maknanya, kata-katanya, dan implikasinya. Dengan cara ini, saya mendapatkan makna baru hanya dengan merenungkan. Karenanya, Allah Ta'ala berfirman,
اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا ٨٢
Tidakkah mereka menadaburi Al-Qur’an? Seandainya (Al-Qur’an) itu tidak datang dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.[QS. An-Nisa': 82]
Seni Manajemen Waktu & Menghafal Al-Qur'an
📲https://wa.me/c/6285179523933
🛒https://id.shp.ee/ssMNcqF5
Selama ini, sepanjang umur yang telah berlalu, aku mengira Hudzaifah (Abu Ubaidah) hanya menerima naskah pidato yang sudah jadi, lalu ia menambahkan beberapa sentuhan, kemudian menyampaikannya dengan suaranya yang indah yang telah menawan relung-relung hati… hingga ia gugur… lalu satu per satu rahasia pun tersingkap!!
Keajaiban yang sungguh menakjubkan pada diri Hudzaifah.
Ternyata Hudzaifah bukan hanya menulis pidatonya sendiri… bahkan ia adalah penanggung jawab penuh atas seluruh komunikasi dan pidato media. Ia adalah menteri informasi perlawanan—jika boleh dikatakan demikian. Ia menyusun keseluruhan strategi media, kemudian tim kerja di bawahnya mengikuti langkah-langkah yang telah ia tetapkan.
Sampai pada tingkat bahwa dialah yang menamai berbagai pertempuran: “Batu-batu Daud”, “Tongkat Musa”.
Demikian yang disampaikan oleh putranya yang mulia, Ibrahim—semoga Allah menjaganya.
Karena itulah engkau dapati ia sebagai satu dari empat orang dalam Dewan Kepemimpinan pada Hari Penyeberangan.
Ia benar-benar sebuah sekolah media yang utuh, yang menghancurkan agensi-agensi media terkuat di dunia,
terutama media Barat, Amerika, dan Zionis, serta media Arab yang mengikuti garis Zionis seperti Al-Arabiya, Sky News, dan lainnya.
Seluruh sampah itu ia kumpulkan lalu dihantamnya hingga hancur total 🔻
Dengan narasinya, ia membakar miliaran dana yang telah dihabiskan serta umur-umur yang terkuras untuk memalsukan fakta dan memperindah serta memoles wajah kebatilan.
Inilah yang mengherankan:
seorang lelaki sederhana, tumbuh di kamp pengungsi “Jabalia”, tidak menempuh pendidikan di universitas-universitas internasional ternama, tidak pula meraih gelar akademik tertinggi, tidak lahir dari ayah pemilik perusahaan dan bisnis besar, bukan pula dari keluarga berjabatan atau memiliki relasi politik dan internasional!
Namun ia datang dan mempermalukan raksasa-raksasa di bidang ini, menundukkan hidung mereka ke tanah.
Jika engkau ingin melihat besarnya dampak yang dilakukan lelaki ini—dengan izin Allah—
lihatlah juru bicara militer Israel, “Daniel Hagari”.
Perutmu akan sakit hanya dengan memandang wajahnya,
atau mungkin rahangmu akan pegal karena terlalu banyak tertawa.
Orang ini telah menjadi bahan olok-olok dunia,
hingga akhirnya ia mengundurkan diri dari jabatannya.
Kemudian lihatlah hari pengumuman kesyahidan Hudzaifah,
agar engkau memahami apa yang sebenarnya terjadi di dunia!
Namun, apakah engkau mengira ini semua hanyalah kebetulan?
Ada rahasia, wahai saudaraku… rahasia yang besar.
Aku masih mencarinya.
Aku mencarinya sekarang di halaman-halaman saudara-saudara Hudzaifah dan putranya,
dalam sejarahnya,
dalam kehidupannya,
dalam kesehariannya.
Putranya, Ibrahim, berkata bahwa ia pernah melihat ayahnya di tengah peperangan.
Ia bertanya, “Wahai Ayah, berapa banyak Al-Qur’an yang Ayah baca?”
Ia menjawab, “Aku mengkhatamkan Al-Qur’an setiap dua atau tiga hari!!”
Apa?!
Lelaki yang diburu oleh seluruh badan intelijen dunia?!
Yang memikul tanggung jawab pengelolaan media perang secara penuh?!
Setiap dua atau tiga hari?!
Berarti lelaki ini memang berbeda.
Carilah pesan tesis magisternya,
lihat halaman Facebook-nya yang berhenti aktif sejak lebih dari sepuluh tahun lalu.
Pasti ada rahasia.
Ada keadaan batin tertentu.
Lelaki yang melalui pidato-pidatonya membuatku merasa bahwa aku belum mengenal Islam dengan sebenar-benarnya.
Redaksi shalawat kepada Rasulullah ﷺ yang ia gunakan—
yang belum pernah aku dengar sebelumnya—
namun sangat teliti dan sepenuhnya benar menurut penjelasan para salaf!
Lelaki yang memandang agama sebagaimana tidak banyak orang beragama memandangnya.
Hingga pada akhirnya,
ia berdiri dalam khutbah perpisahannya,
mantap dalam kata-kata,
mengangkat telunjuknya,
berbicara kepada seluruh pemerintahan,
partai-partai,
kelompok-kelompok,
dan para ulama,
lalu ia kumpulkan mereka semua dalam satu kalimat,
dan menggugat mereka di hadapan Hakim pada Hari Pembalasan:
أنتم خصومنا أمام الله يوم القيامة
“Kalian adalah lawan kami di hadapan Allah pada Hari Kiamat.”
Maka tak seorang pun dari mereka mampu mengucapkan sepatah kata pun!
--- Shalahuddin Ayman
Dikutip dari buku "Di Balik Keffiyeh Abu Ubaidah"
Info PO Buku
📲 0851-7952-3933
45 ISTINBATH DARI HADITS "10 HARI DZULHIJJAH"
Oleh: Syekh Dr. Fadhl 'Abdullah Murad
«عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضي الله عنهما - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ" فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ؟ قَالَ: "وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ"»
Dari Abdullah ibn Abbas رضي الله عنهما, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal shaleh pada hari-hari itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari sepuluh ini (sepuluh pertama Dzulhijjah).”
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali sedikit pun dari keduanya.”
Aku telah merenungi hadits shahih ini, lalu aku menarik 45 istinbath darinya dalam bidang fiqih, ushul fiqih, maqashid syariah, keutamaan amal, dan aqidah.
Sebagian ulama juga ada yang mengambil berbagai istinbath dari hadits ini, dan tidak diragukan lagi bahwa mungkin terdapat kesepakatan pada sebagian poin tersebut. Namun, inilah pemahaman yang tampak bagiku dari hadits ini, dan Allah lebih mengetahui.
1. Hadits ini menunjukkan bahwa keutamaan sepuluh hari tersebut mencakup hari raya Iduladha; karena amal shaleh pada hari itu termasuk yang paling dicintai Allah, sebab ia termasuk bagian terakhir dari sepuluh hari tersebut. Banyak manusia lalai dari hal ini.
2. Hadits ini menunjukkan bahwa sepuluh hari Dzulhijjah adalah hari-hari terbaik di sisi Allah dalam hal amal shaleh.
3. Hadits ini menunjukkan adanya tingkatan keutamaan amal shaleh di sisi Allah, sebagaimana adanya tingkatan keutamaan hari-hari.
4. Amal shaleh menjadi lebih utama karena kemuliaan waktunya.
5. Seorang mukmin tidak sepatutnya lalai dari hari-hari ini, karena kecintaan seorang mukmin berkaitan dengan apa yang dicintai Allah. Terlebih lagi, amal pada hari-hari ini adalah amal yang paling dicintai-Nya dan tidak tertandingi.
6. Hadits ini menunjukkan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya, karena Dia menjadikan musim-musim ketaatan dan membuka berbagai kesempatan untuk mendekat kepada-Nya.
7. Hadits ini menunjukkan bahwa hari-hari sepuluh Dzulhijjah lebih utama untuk amal shaleh dibanding hari-hari Ramadan, sepuluh malam terakhir Ramadan, bahkan malam Lailatul Qadar. Adapun pendapat Ibn Taimiyah bahwa malam-malam sepuluh terakhir Ramadan lebih utama karena adanya Lailatul Qadar dianggap lemah menurut penulis, karena bertentangan dengan dalil yang tegas tentang keutamaan hari-hari sepuluh Dzulhijjah.
8. Keutamaan ini juga mencakup malam-malamnya, dan tidak ada dalil yang mengkhususkan keutamaan hanya pada siang hari. Sebab kata “hari” dalam bahasa Arab dapat mencakup siang dan malam.
9. Shalat fardhu pada hari-hari tersebut lebih dicintai Allah dibanding waktu lainnya.
10. Umrah pada sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama daripada umrah di waktu lain.
11. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah mencintai amal shaleh dan membenci kemaksiatan.
12. Hadits ini memberi peluang besar bagi orang yang berada di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, atau Masjid Al-Aqsha, karena pahala amal dilipatgandakan dengan sebab kemuliaan tempat dan waktu sekaligus.
13. Amal-amal sunnah pada hari-hari tersebut lebih utama dibanding hari lainnya.
14. Jihad di jalan Allah adalah amal paling utama, dan hal ini telah dipahami para sahabat, sehingga mereka bertanya: “Tidak juga jihad?”
15. Amal shaleh pada sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama daripada jihad biasa.
16. Orang yang syahid di jalan Allah lebih utama di sisi Allah daripada amal shaleh lainnya, meskipun dilakukan pada sepuluh hari Dzulhijjah.
17. Jihad melawan musuh pada sepuluh hari Dzulhijjah, bila memenuhi syarat-syaratnya, menjadi amal paling utama, baik gugur sebagai syahid ataupun tidak.
18. Berjihad dengan jiwa dan harta merupakan bentuk jihad yang paling agung.
19. Puasa kafarat karena pelanggaran ihram atau puasa bagi orang yang tidak mampu menyembelih hadyu lebih utama dilakukan pada hari-hari tersebut.
20. Waktu-waktu tidaklah sama; ada waktu-waktu penuh berkah yang lebih utama dibanding lainnya.
21. Orang yang memiliki utang puasa Ramadan lalu mengqadhanya pada sepuluh hari ini, maka itu lebih dicintai Allah. Karena itulah Umar ibn al-Khaththab memberi fatwa demikian.
22. Hadits ini menetapkan sifat mahabbah (cinta) bagi Allah dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya.
23. Puasa Arafah memiliki dua keutamaan:
- Ia termasuk amal shaleh pada sepuluh hari Dzulhijjah.
- Ia menghapus dosa dua tahun.
24. Kemaksiatan pada hari-hari ini lebih besar keburukannya, karena Allah mengkhususkannya untuk amal-amal shaleh.
25. Dianjurkan memperbanyak dan memvariasikan amal shaleh pada hari-hari ini, baik yang wajib maupun sunnah, karena dengan memperbanyak dan memvariasikan amal maka bertambah pula keutamaannya.
26. Ada keistimewaan besar untuk memperbanyak zikir kepada Allah pada hari-hari ini berdasarkan hadits shahih: “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid.”
27. Disyariatkan mengeraskan maupun merendahkan suara dalam takbir dan tahlil, baik sendiri maupun berjamaah pada hari-hari tersebut, karena itu termasuk amal shaleh.
28. Menyembelih hewan kurban pada hari Iduladha lebih utama daripada hari-hari tasyrik setelahnya, karena Iduladha termasuk bagian dari sepuluh hari tersebut.
29. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat Id, takbir pada hari raya, menyambung silaturahim, serta memperhatikan orang miskin dan tetangga.
30. Berbuka bagi jamaah haji pada hari Arafah lebih utama dan lebih dicintai Allah daripada berpuasa, karena puasa dapat melemahkan mereka dalam menjalankan manasik.
31. Hadits ini menunjukkan agungnya kedudukan haji dan amalan-amalannya.
32. Hari Iduladha lebih utama dalam amal shaleh dibanding hari Idulfitri.
33. Jika beberapa amal utama bertemu dan saling bertabrakan waktunya, maka yang lebih didahulukan adalah kewajiban yang berkaitan dengan waktu tersebut.
34. Menyempurnakan manasik haji dan thawaf ifadhah pada hari raya lebih utama daripada menundanya.
35. Berkumpulnya berbagai ibadah dalam satu waktu melipatgandakan keutamaannya.
36. Dianjurkan mendorong manusia untuk memanfaatkan hari-hari mulia dan mengingatkan mereka tentangnya.
37. Bolehnya bertanya tentang sesuatu yang tampak bertentangan, sebagaimana para sahabat bertanya tentang perbandingan antara amal pada sepuluh hari Dzulhijjah dan jihad.
38. Kata “ما” penafian dan kata nakirah setelahnya menunjukkan makna umum dalam kaidah bahasa Arab.
39. Lafaz umum tetap berlaku umum kecuali yang dikecualikan.
40. Hadits ini menunjukkan besarnya maqashid syariat dalam menjaga jiwa.
41. Hadits ini memberikan solusi terhadap kesan pertentangan antara dalil-dalil.
42. Kata “amal” mencakup ucapan dan perbuatan.
43. Huruf “ال” pada bentuk mufrad menunjukkan makna umum.
44. Sedekah jariyah setelah kematian, seperti wakaf, menyebarkan ilmu, menulis, atau mengajarkan ilmu, termasuk amal yang paling dicintai Allah pada sepuluh hari tersebut.
45. Salah satu metode pendidikan terpenting adalah tanya jawab antara guru dan murid.
– Syekh Dr. Fadhl Abdullah Murad
- Sekretaris Jenderal Pembantu International Union of Muslim Scholars
- Profesor Fiqih dan Isu Kontemporer – Qatar
Jangan Benci Ujianmu Hari Ini... Bisa Jadi Itu Jalan Bahagiamu Esok
Hanya 4 menit
*(Tulisan lama... namun maknanya selalu baru)
Aku dan istriku, dengan karunia Allah, menunaikan haji wajib pada tahun 2004. Kami sepakat untuk berpuasa beberapa hari di bulan Dzulhijjah sebagai persiapan jiwa dan hati menghadapi ibadah haji yang akan kami jalani.
Guru-guru kami mengajarkan bahwa apa yang dilakukan sebelum ibadah fardhu akan membantumu merasakan nikmatnya ibadah itu sendiri.
Kami pun sepakat untuk berbuka puasa dengan sesuatu yang ringan. Maka, kami membeli satu kotak keju dan empat potong roti yang diselipkan istriku ke dalam tasnya, lalu kami masuk ke Masjidil Haram sebelum Maghrib dengan niat untuk berbuka dan beri’tikaf.
Kami salat Maghrib, lalu mengeluarkan makanan buka puasa kami. Di sebelah kananku, aku melihat seorang pria tua asal Yaman, lalu aku memberinya sepotong roti dengan sedikit keju di atasnya. Ia menerimanya dengan syukur tanpa ragu. Kemudian aku melihat ke sebelah kiriku, dan ada seorang pria asal Aljazair, usianya sekitar lima puluhan. Aku memberinya sepotong roti juga seperti yang lainnya, dan ia pun menerimanya dengan penuh rasa syukur. Aku dan istriku memakan dua potong roti yang tersisa...
Betapa lezatnya roti itu... Makanan yang dimakan dengan penuh keridaan terasa lebih nikmat... dan dalam ketaatan terasa jauh lebih manis.
Saat kami makan, aku pun berkenalan dengan saudara dari Aljazair itu... Alangkah indahnya jika roti yang mengenyangkan bisa disertai dengan manisan perkenalan dan cinta karena Allah.
Jarak antara hati orang-orang beriman itu sangat dekat, bahkan seseorang bisa menempuhnya hanya dalam hitungan detik... Dan begitulah yang terjadi antara aku dan saudaraku dari Aljazair itu...
Kami mulai dengan sesuap makanan, dilanjut dengan senyuman... dan ditutup dengan kasih sayang dan keakraban.
Menjelang waktu shalat Isya, aku merasa butuh untuk memperbarui wudhuku... Dan kalian tentu tahu bagaimana sulitnya memperbarui wudhu di musim haji... Satu jam pun belum tentu cukup—itu pun kalau kau bisa keluar dari masjid.
Aku berkata kepada istriku: “Mungkin aku tak bisa kembali sampai setelah shalat Isya, setelah orang-orang keluar dan orang baru diizinkan masuk, dan ini mungkin butuh waktu dua atau tiga jam... Jadi, tetaplah di tempatmu setelah salat hingga aku kembali, meskipun aku terlambat.”
Dan memang... yang kutakutkan benar-benar terjadi. Aku baru kembali kepada istriku setelah orang-orang bubar dan tempat itu mulai lengang—hanya tersisa dia dan beberapa orang di sekitarnya.
Aku meminta maaf karena keterlambatanku, lalu bertanya: “Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
Dia menjawab: “Tidak ada, kecuali pria Aljazair itu, ketika melihatmu tak kunjung kembali, dia duduk sendirian agak jauh. Lalu saat keterlambatanmu makin lama, dia datang padaku dan menawarkan untuk mengantarkanku ke hotel, karena khawatir aku tersesat atau kehilanganmu. Aku berterima kasih kepadanya, lalu dia pergi tak jauh dari tempatku. Sekitar satu jam kemudian, dia kembali dan kembali menawarkan bantuannya. Katanya, ‘Aku tak akan pergi sampai suamimu kembali, atau kau menginap saja di masjid.’
Dia lalu duduk di belakang salah satu tiang masjid, hingga waktunya terasa sangat lama. Ketika dia mulai merasa sungkan karena kehadirannya, dan mungkin mengira aku merasa cemas terhadapnya, dia datang kepadaku dan berkata:
‘Wahai putriku, demi Allah, kalau bukan karena rasa maluku padamu, aku tidak akan pulang sebelum suamimu kembali... Tapi bagaimanapun, sampaikan salamku untuk suamimu, ucapkan terima kasih padanya karena telah memberiku makan, dan katakan padanya bahwa jika dunia tak mempertemukan kita lagi, semoga pertemuan kita terjadi di surga, insya Allah...’
Lalu ia pun pergi.”
Kata-kata istriku yang menceritakan ucapan pria Aljazair itu membuatku menangis...
Saat itu aku benar-benar merasakan... betapa lemahnya batas-batas dunia ini di hadapan ukhuwah keimanan!!
Dan betapa haji dapat melakukan sesuatu pada umat ini yang tak bisa dilakukan oleh ibadah lain...
Lalu aku tersentak... bahwa kedekatan antara kita sesungguhnya hanya butuh sepotong keju, sepatah kata manis, atau seulas senyuman tulus dari hati...
Kita ini umat yang sebenarnya saling dekat, tetapi para pengkhianat Arab dan para pendosa dari bangsa asing telah menjauhkan kita...
Ya Allah... hanya dengan duduk bersama selama satu jam, hanya dengan sepotong roti yang kami bagi, dan hanya dengan ibadah yang kami jalani bersama, pria itu merasa bahwa kehormatanku adalah kehormatannya, bahwa istriku adalah anak perempuannya, dan bahwa surga adalah tempat pertemuan kita jika dunia tak sempat mempertemukan...
Kita ini umat yang dipisahkan musuh-musuh dengan ribuan batas dan garis... Tapi agama, Al-Qur’an, dan hati-hati yang saling mencintai telah menghancurkan semua batas itu... Hingga tak ada pagar atau tembok yang bisa mencegahnya!
Itulah mengapa luka dan bahagia bisa menyatukan kita kembali... Dan sering kali, sepotong roti dan sedikit keju bisa menghidupkan kembali cinta dan kesatuan itu...
Suatu hari, Khilafah Rasyidah kita pasti akan kembali...
Karena umat Khilafah, meskipun telah melewati lebih dari empat belas abad setengah, tetap memiliki ikatan darah Islam, ukhuwah iman, dan persatuan dalam luka dan harapan...
Itulah mengapa kita semua menangisi al-Quds, mendoakan Gaza, dan turut bersuka cita atas kebahagiaan negeri Muslim mana pun...
Umat ini, demi Allah, masih hidup dan saling mencintai... Tapi ia hanya butuh sedikit usaha untuk menyingkirkan debu perpecahan yang ditinggalkan penjajahan di antara kita...
Dan sepotong roti serta sejumput keju adalah saksi atas semua itu.
Dr. Khalid Hamdi
#SepuluhHariMenghidupkan_Hati
Di antara kelembutan Allah kepada kita adalah datangnya musim-musim ketaatan secara beruntun…
Belum sempat energi keimanan Ramadhan hampir habis, Allah dengan kasih-Nya kembali menghadirkan kepada kita sepuluh hari pertama Dzulhijjah…
Dan belum lama Dzulhijjah berlalu, datang pula Muharram dengan puasa Tasu’a dan Asyura-nya… sehingga hati kembali penuh sebelum benar-benar kosong, dan taman jiwa kembali berbunga setelah hampir layu…
Yang paling indah dari sepuluh hari Dzulhijjah adalah bahwa ia menjadi semacam “haji dengan hati” bagi orang yang terhalang pergi ke sana dengan jasadnya…
Puasa di hari-harinya menjadi pelepas dahaga bagi jiwa yang merindukan puasa setelah Ramadhan…
Qiyamullail di malam-malam panjangnya menyerupai keadaan orang-orang kusut dan berdebu di Padang Arafah…
Doa-doa para pecinta Allah saat berbuka di hari-hari itu mirip dengan kebahagiaan orang-orang yang menyembelih hewan hadyu, tersenyum bahagia karena musim ibadah hampir selesai di tenda-tenda Mina…
Adapun zikir di hari-hari itu, alangkah manisnya… seperti zikir orang yang tenggelam dalam ibadah haji hingga kedua matanya bercucuran air mata karena manisnya zikir itu, meskipun tenggorokannya kering karena banyaknya talbiyah saat ifadhah (bertolak dari Arafah menuju Muzdalifah)…
Adapun puasa Arafah, betapa manisnya… Allah menganjurkanmu untuk berpuasa pada hari itu, sementara Dia tidak menganjurkannya bagi jamaah haji… seakan-akan Allah berkata kepadamu:
“Jika orang-orang yang wukuf di Arafah menanti datangnya waktu maghrib untuk merasakan sejuknya penerimaan amal, maka engkau pun seperti mereka: menunggu tenggelamnya matahari pada hari Arafah dalam keadaan berpuasa, sambil merasakan penghapusan dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang…”
Adapun kegembiraan hari raya, tanyakanlah kepada orang yang Allah beri taufik untuk berpuasa sembilan hari pertama, menghidupkan malam-malamnya, dan menikmati zikir di dalamnya… bagaimana mereka merasakan kebahagiaan Idul Adha?!
Agar kalian tahu bahwa hari raya yang sejati adalah bagi orang yang sebelumnya berada di Arafah di Makkah, dan juga bagi orang yang seperti mereka: istiqamah dalam ketaatan meskipun tidak berada di Makkah!!
Adapun selain mereka, hari rayanya memang indah dipandang, tetapi hambar rasanya…
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah… jika engkau menikmati ibadah di dalamnya, engkau akan merasa seakan-akan baru saja menunaikan haji!!
— Dr. Khalid Hamdi
Simfoni Indah Antara Malu dan Iman
إِنَّ الْحَيَاءَ وَالْإِيمَانَ قُرِنَا جَمِيعًا، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الْآخَرُ
“Akhlak malu dan keimanan senantiasa bergandengan, jika salah satunya hilang; maka akan hilang sebagian yang lain.”
(HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitab al-Iman, no. 7. Atsar shahih dari Sahabat Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma).
---
SYARAH RINGKAS (PENJELASAN)
Pernahkah kita berpikir apa hubungan antara rasa malu dan iman? Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma memberikan perumpamaan yang sangat indah. Iman dan malu itu ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Ketika seseorang memiliki iman yang kuat di dalam hatinya, maka secara otomatis akan tumbuh rasa malu (al-haya'). Malu kepada siapa? Terutama malu kepada Allah saat ingin berbuat maksiat, dan malu kepada manusia jika menjatuhkan kehormatan diri. Sebaliknya, ketika rasa malu itu sudah terkikis atau hilang, maka benteng keimanan seseorang sedang dalam kondisi yang sangat rapuh.
Penjelasan Tambahan dari Ulama Salaf:
Para ulama menjelaskan bahwa rasa malu yang dimaksud di sini adalah sifat mulia yang mendorong seseorang untuk meninggalkan keburukan dan mencegahnya dari melalaikan hak orang lain.
1. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah mengatakan:
"Malu adalah bagian dari iman, dan iman itu tempatnya di surga."
2. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah juga menekankan:
"Kekuatan rasa malu seseorang tergantung pada kekuatan hatinya. Sedikitnya rasa malu disebabkan oleh matinya hati dan ruh. Setiap kali hati itu hidup, maka pada saat itulah rasa malu akan semakin sempurna."
---
APLIKASI DI KEHIDUPAN NYATA
Bagaimana kita menerapkan untaian hikmah ini dalam keseharian kita di zaman modern?
1. Menjaga Jari dan Lisan di Media Sosial
Malu kepada Allah untuk mengetik komentar yang mencela, menyebarkan hoax, atau pamer (riya') yang bisa merusak pahala amal kita.
2. Malu Saat Berduaan dalam Maksiat
Ketika sedang sendiri dan tidak ada orang yang melihat, ingatlah bahwa Allah Maha Melihat. Rasa malu kepada Allah akan menahan kita dari membuka hal-hal yang diharamkan di gadget kita.
3. Amanah dalam Pekerjaan
Malu jika makan dari harta yang tidak halal, malu jika korupsi waktu, atau tidak bertanggung jawab terhadap tugas yang sudah diberikan.
Semoga Allah senantiasa menghiasi hati kita dengan indahnya iman dan kokohnya rasa malu. Amin.
---
Silakan dishare ke keluarga dan kerabat, semoga menjadi ladang pahala jariyah untuk kita semua.
🌟Lumpuh Tapi Menghidupkan Umat...🌟
🌱Syekh Ahmad Yasin adalah sosok yang meski fisiknya lumpuh total, mampu mengguncang dunia dengan gagasan, keteguhan, dan perjuangannya. Lahir pada tahun 1936 di desa Al-Jura, dekat Ashkelon (Palestina), ia menjadi simbol perlawanan Palestina dan pendiri gerakan Hamas.
🌱Pada usia muda, ia mengalami cedera tulang belakang akibat kecelakaan olahraga yang membuatnya lumpuh dari leher ke bawah. Namun kondisi ini tidak memadamkan semangatnya. Dengan tubuh yang lemah tapi jiwa yang kuat, ia aktif dalam dakwah, pendidikan, dan politik. Ia mendirikan masjid, menyampaikan khutbah, dan membimbing generasi muda untuk mencintai agama dan tanah air.
🌱Puncak pengaruhnya adalah saat mendirikan Harakah al-Muqawamah al-Islamiyyah (Hamas) pada akhir tahun 1980-an. Di tengah penjajahan dan penindasan, ia menyerukan perlawanan dan jihad melawan pendudukan Zionis, dengan visi kebebasan penuh untuk Palestina.
🌱Syekh Ahmad Yasin dipenjara beberapa kali oleh penjajah Israel, dan tetap tegar menghadapi penyiksaan dan penindasan. Namun suara dan perjuangannya terus hidup, hingga akhirnya ia gugur syahid dalam serangan udara Israel pada 22 Maret 2004, saat keluar dari masjid setelah salat subuh.
Warisan perjuangannya tetap hidup hingga kini.
🔥Syekh Ahmad Yasin adalah bukti nyata bahwa kekuatan tidak selalu datang dari fisik, tapi dari keyakinan, ketulusan, dan semangat yang tak pernah padam.
📲0851-7952-3933
🛒https://id.shp.ee/spLamfvT

Dari khutbah Syekh Prof. Dr. Ali Muhyiddin Al-Qaradaghi hari ini di Masjid Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha, di Doha Qatar
Pernikahan dalam Islam bukan sekadar perpindahan dari masa lajang menuju kehidupan bersama, melainkan sebuah pengumuman dimulainya proyek kehidupan, serta risalah yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang di dalamnya dikisahkan makna kasih sayang dan rahmat.
Barangkali yang menjadi ciri budaya kita adalah bahwa kita tidak memandang pernikahan hanya sebagai pengaturan hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi sebagai fondasi ikatan suci. Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta‘ala tidak menyebutnya dengan istilah “keluarga” (usrah), melainkan menyebutnya sebagai “perjanjian yang kuat” (mitsaqan ghalizhan). Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا﴾
“Dan mereka (istri-istri) telah mengambil dari kalian perjanjian yang kuat.” (QS. An-Nisa: 21)
Ungkapan yang sama juga digunakan dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan perjanjian dengan para nabi. Hal itu menunjukkan bahwa pernikahan adalah tanggung jawab besar di sisi Allah, sebagaimana kenabian juga merupakan amanah yang agung.
“Perjanjian yang kuat” bukan sekadar akad di atas kertas, melainkan akad yang terikat di hati, akal, dan perasaan. Ia adalah ikatan yang dibangun di atas keterhubungan, penguatan janji, niat yang tulus, dan usaha meraih ketenangan. Nilainya jauh lebih agung daripada sekadar biaya sosial atau penampilan lahiriah.
Adapun kata “keluarga” (usrah) dalam bahasa Arab berasal dari kata al-asr, yang berarti mengikat dan menghimpun. Ketika seseorang memasuki kehidupan keluarga, ia terikat oleh janji dan dibatasi oleh tanggung jawab. Karena itu, ia harus tulus dan setia kepada keluarganya, menjalankan perannya dalam pendidikan, serta menghiasi diri dengan rasa malu dan akhlak mulia.
Hakikat keluarga adalah amanah dan tanggung jawab, sebelum ia menjadi simbol kehormatan atau kedudukan sosial. Keluarga adalah rumah keamanan dan makna, yang berdiri di atas enam pilar utama:
- Pertama: adanya perasaan kesetaraan kemanusiaan antara suami dan istri, sehingga tidak ada salah satu yang merasa lebih tinggi dari yang lain, serta tidak menjadikan kepemimpinan, peran, atau kemampuan sebagai sarana kesombongan dan penindasan.
- Kedua: suami merasakan bahwa istrinya adalah bagian dari dirinya sendiri, perpanjangan ruh dan kehidupannya, bukan makhluk asing atau sekadar bawahan. Jika makna ini tertanam kuat, maka bahasa hubungan akan berubah; memuliakan pasangan menjadi sesuatu yang alami, melindungi menjadi akhlak, dan kesetiaan menjadi tabiat.
- Ketiga: mawaddah (kasih sayang), yaitu kehangatan hati, kelembutan perasaan, dan kemampuan mengungkapkan cinta, agar pernikahan tidak berubah menjadi sekadar kemitraan yang dingin atau kewajiban yang kering.
- Keempat: rahmat, yaitu sisi kemanusiaan yang mendalam dalam hubungan; ketika masing-masing melihat kelemahan, kelelahan, dan kebutuhan pasangannya, lalu memperlakukannya dengan lembut, bersabar atasnya, dan menguatkan kekurangannya.
- Kelima: sakinah, yaitu ketika masing-masing menemukan ketenangan jiwa, kenyamanan ruh, dan kestabilan sosial pada diri pasangannya, sehingga ia kembali kepadanya sebagaimana seorang perantau kembali ke tanah airnya.
- Keenam: pemikiran mendalam tentang urusan keluarga dan masa depannya. Sebab keluarga tidak dibangun hanya dengan perasaan, tetapi juga dengan kesadaran, perencanaan, kebijaksanaan dalam mendidik, mencari rezeki, membangun hubungan, dan memikirkan akibat jangka panjang.
Dengan pilar-pilar inilah keluarga berubah menjadi perjanjian kasih sayang, sekolah pendidikan, tempat ketenangan, dan mihrab kecil tempat kemanusiaan manusia dijaga.
#Keluarga
#PilarPeradaban
Keutamaan puasa di 9 hari pertama Dzulhijjah
Dari salah seorang istri Nabi ﷺ, ia radhiyallahu 'anha berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ
"Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada sembilan hari (pertama) bulan Dzulhijjah, hari Asyura, dan tiga hari setiap bulan; yaitu Senin pertama di bulan tersebut serta hari Kamis." (HR. Abu Daud)
Menggabungkan Niat Puasa Sunnah
Khusus puasa Senin & Kamis bisa menggabungkan 2 niat puasa. Semisal, puasa Senin & Kamis dan puasa di 9 hari awal Dzulhijjah, wallahu a'lam.
Rasullulah ﷺ bersabda :
"Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu & setahun yang akan datang (HR. Muslim)

Mengapa Kita Mengulang Doa
Yakinkanlah bahwa doa-doamu di sisi Allah tidak akan hilang dan Allah tidak akan melupakannya. Bahkan Allah meninggikan doa orang yang didzalimi di atas awan dan berfirman, "Demi kehormatan-Ku, Aku pasti menolongmu, walau setelah beberapa saat."
Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menjelaskan hikmah mengulang doa dan kaitannya dengan banyak ibadah lainnya. Beliau bersabda, "Sesungguhnya thawaf di ka'bah, antara shafa dan marwah, dan melempar jumrah dilakukan untuk menegakkan dzikir kepada Allah." Artinya, Allah ingin engkau selalu mengingat-Nya, maka Dia akan mencintaimu dan mengangkat derajatmu.
Syekh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Fann al-Dzikr wa al-Du'a 'Inda Khatam al-Anbiya' mengatakan, "Seperti kita mengulang basuhan agar pakaian menjadi bersih, demikian pula kita mengulang doa."
Sejak aku berumur tujuh tahun, aku mendengar imam masjid berdoa, "Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami hari yang gelap bagi orang-orang Yahudi." Doa itu diulang lebih dari dua puluh tahun hingga datang hari 7 Oktober, dan Allah memperlihatkan kepada kami hari yang agung bagi mereka, yang disebut orang Yahudi sebagai Sabtu Hitam.
Kita ditugaskan untuk berdoa, bukan untuk menjamin terkabulnya doa. Hal ini termasuk ujian: apakah Allah akan memberimu yang kau inginkan? "Apakah manusia akan mendapat segala yang diinginkannya?" [An-Najm: 24]
📚DIBAWAH PANJI THUFAN AL-AQSA
✍️ Asy Syahid Al Mujahid Muhammad Zaki Hamad ( Komandan Elit Al Qassam di Beit Hanoun)
📲https://wa.me/c/6285179523933
🛒https://id.shp.ee/rwThSijH
Mengapa Kita Mengulang Doa
Yakinkanlah bahwa doa-doamu di sisi Allah tidak akan hilang dan Allah tidak akan melupakannya. Bahkan Allah meninggikan doa orang yang didzalimi di atas awan dan berfirman, "Demi kehormatan-Ku, Aku pasti menolongmu, walau setelah beberapa saat."
Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menjelaskan hikmah mengulang doa dan kaitannya dengan banyak ibadah lainnya. Beliau bersabda, "Sesungguhnya thawaf di ka'bah, antara shafa dan marwah, dan melempar jumrah dilakukan untuk menegakkan dzikir kepada Allah." Artinya, Allah ingin engkau selalu mengingat-Nya, maka Dia akan mencintaimu dan mengangkat derajatmu.
Syekh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Fann al-Dzikr wa al-Du'a 'Inda Khatam al-Anbiya' mengatakan, "Seperti kita mengulang basuhan agar pakaian menjadi bersih, demikian pula kita mengulang doa."
Sejak aku berumur tujuh tahun, aku mendengar imam masjid berdoa, "Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami hari yang gelap bagi orang-orang Yahudi." Doa itu diulang lebih dari dua puluh tahun hingga datang hari 7 Oktober, dan Allah memperlihatkan kepada kami hari yang agung bagi mereka, yang disebut orang Yahudi sebagai Sabtu Hitam.
Kita ditugaskan untuk berdoa, bukan untuk menjamin terkabulnya doa. Hal ini termasuk ujian: apakah Allah akan memberimu yang kau inginkan? "Apakah manusia akan mendapat segala yang diinginkannya?" [An-Najm: 24]
📚DIBAWAH PANJI THUFAN AL-AQSA
✍️ Asy Syahid Al Mujahid Muhammad Zaki Hamad ( Komandan Elit Al Qassam di Beit Hanoun)
📲https://wa.me/c/6285179523933
🛒https://id.shp.ee/rwThSijH
Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi.
Siapa pun yang mengenalnya akan bertanya-tanya: bagaimana beliau mampu menulis sebanyak itu buku?
Namun kenyataannya, apa yang beliau baca, teliti, dan catat jauh lebih banyak daripada apa yang beliau tulis dan terbitkan. Hampir tidak terlihat satu menit pun waktunya terbuang sia-sia. Bahkan terkadang engkau bertanya: apakah beliau masih sempat bernapas sejenak atau tidur?
Terlepas dari gurauan, beliau benar-benar seorang manusia Al-Qur’an, sosok yang gemar membaca, meneliti, dan berilmu. Beliau memikul kepedulian untuk menyampaikan warisan keilmuan Islam kepada masyarakat dengan gaya yang sesuai zaman. Beliau telah mendedikasikan hidupnya untuk akidahnya, ilmu, dan buku. Foto yang ada dalam unggahan itu aku ambil saat salah satu perjalanan, setelah meminta izin kepada beliau.
Engkau tidak akan banyak melihat beliau dalam rapat-rapat administratif, atau konferensi mewah yang penuh cahaya dan hiasan. Tetapi engkau akan menemukannya di perpustakaan, di antara rak-rak buku dalam pameran buku, atau di tengah masyarakat memperbaiki keadaan dan menyatukan hati.
Beliau tidak mencari popularitas, tidak menunggu tepuk tangan, dan tidak menyibukkan diri agar namanya disebut dalam protokol atau acara-acara resmi. Beliau tidak menginginkannya, tidak mencarinya, bahkan tidak memikirkannya.
Kami belajar banyak hal dari ulama mulia ini; kami belajar adab, tawaduk, husnuzan, dan keikhlasan niat. Kami belajar bagaimana membaca sejarah Islam dengan sederhana namun sadar, agar dapat mengambil pelajaran dan hikmah darinya. Kami juga belajar bagaimana menjadi manusia yang memiliki kitab, ilmu, dan misi.
Beliau orang Libya, tetapi sebagian hatinya hidup di Istanbul. Beliau tinggal di Doha, tetapi Palestina hadir dalam jiwa dan kerinduannya. Beliau hidup di tengah para ulama, namun tetap memandang dirinya sebagai penuntut ilmu. Beliau dikenal dan masyhur, tetapi tidak sibuk dengan kemasyhurannya. Banyak membaca, dan banyak menulis pada saat yang sama.
Al-Qur’an hadir dalam pembicaraannya, analisisnya, caranya berpikir, dan kesimpulan yang beliau capai. Engkau merasakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an menyertainya dalam pemikiran, metode, dan pandangannya terhadap kehidupan. Dan yang beliau cari pada akhirnya adalah hakikat ayat-ayat itu dalam realitas manusia dan kehidupan.
Itulah sejarawan Muslim asal Libya, Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi.
Beliau berada di tengah kita, masih hidup, menjadi karunia maknawi bagi umat, dan teladan langka yang patut dikenal nilainya.
Dan dalam waktu dekat aku juga akan menulis tentang nama-nama lain, dari sudut pandang pribadiku. Aku tidak akan menunggu mereka wafat terlebih dahulu baru kemudian kita berbicara tentang mereka.
--- Ragab Sonkol, Direktur Dar Al-Ashalah

Tipu Daya Setan
Sesungguhnya Iblis yang telah bersumpah atas nama kebesaran Allah untuk menyesatkan manusia dan membawa mereka ke neraka bersamanya tidak akan membiarkan umat ini mendekati Al-Qur'an, mengambil iman darinya, dan terlindungi dari tipu dayanya, agar mereka tetap mengikuti jalan Allah yang lurus dan akhirnya masuk surga.
Bagaimana mungkin ia membiarkan hal itu terjadi, padahal ia telah menyaksikan betapa kuatnya pengaruh Al-Qur'an terhadap para sahabat Nabi? Jika Al-Qur'an tetap hidup dan diamalkan oleh umat Muslim, rencana Iblis akan hancur dan semua jalannya tertutup.
Namun, setan juga tidak bisa memutarbalikkan isi Al-Qur'an, karena Allah telah menjaganya dengan firman-Nya,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَفِظُونَ ))
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." [QS. Al-Hijr: 9].
Selain itu, setan tidak bisa memaksa umat Islam untuk menolak atau menjauh dari kitab suci mereka, sebab Al-Qur'an adalah wahyu dari Nabi mereka yang harus dijaga dan diikuti.
Lalu, apa yang dilakukan setan terhadap Al-Qur'an?!
Setan berhasil menipu umat Islam dan secara perlahan menjauhkan mereka dari pemanfaatan Al-Qur'an yang sesungguhnya. la membiarkan umat Islam tetap berinteraksi dengan Al-Qur'an, tetapi hanya sebatas bentuk lahiriah saja.
Merasakan Kekuatan Al-Qur'an Seperti Generasi Awal hal 216
Dr. Majdi Al-Hilali
Wakaf Produktif
Wakaf yang kuat bukan sekadar harta diberi,
Namun dikelola produktif agar manfaatnya abadi.
Ilmu dan amal jadi panduan utama, Agar wakaf tak jadi mimpi yang sirna.
Jika niat ikhlas karena Allah semata, Kelola profesional pun bertambah pahala.
Tanah yang diwakafkan jika ditanami pohon penghasil Buahnya bisa terus mengalirkan pahala tak putus-putus.
Dana wakaf jika dikembangkan dengan cermat, Bisa membiayai umat di segala saat.
Jangan biarkan wakaf hanya terbengkalai, Produktifkan agar manfaatnya terus mengalir dan tak pernah putus.
Aceh memberi teladan dengan Baitul Asyi yang diberdayakan,
Riyal demi riyal untuk jamaah diberikan.
Pembagian bukan akhir dari cerita, Tapi bukti wakaf produktif kokoh terjaga.
Wakaf produktif butuh amanah dan ilmu pengelolaan, Agar aset tetap tumbuh dan tak termakan zaman.
Nazhir yang jujur lagi cakap mengatur, Wakaf pun berkembang bagai pohon rindang nan subur.
Jangan hanya bangga saat wakaf diikrarkan,
Namun buktikan dengan hasil yang dirasakan.
Kokohkan wakaf dengan sistem dan niat ibadah,
Agar menjadi warisan umat penuh keberkahan.

Prof Craig Roberts: Pentingnya Persatuan Dunia Muslim Melawan Agenda Israel Raya
Prof. Paul Craig Roberts, mantan pejabat Asisten Sekretaris Bendahara AS dan ekonom terkemuka, menekankan pentingnya persatuan dunia Muslim menghadapi agresi Israel. Menurutnya, Israel memiliki agenda ekspansionis yang jelas dan agresif. Tanpa front bersatu, negara-negara Arab dan Muslim akan terus dipukul satu per satu , yang ia sebut sebagai pendekatan tidak masuk akal.
Roberts menilai Iran telah berhasil mempermalukan AS dan Israel dalam konflik terkini. Namun, ia mempertanyakan beberapa keputusan strategis Teheran yang dianggap kurang tepat. Wawancara ini membahas risiko eskalasi, termasuk kemungkinan Israel menggunakan senjata nuklir terhadap Iran.
Greater Israel Plan (Rencana Israel Raya) disebut sebagai ancaman eksistensial bagi seluruh dunia Arab dan Muslim. Agenda ini dianggap melampaui batas pertahanan biasa dan menjadi pendorong agresi regional yang sistematis. Roberts mendesak negara-negara Muslim untuk tidak lagi terpecah belah .
Ia menyoroti kegagalan organisasi-organisasi Arab dalam melihat ancaman tersebut secara jelas. Menurut Roberts, sikap pasif dan terpecah ini memudahkan Israel serta sekutunya untuk terus melanjutkan ekspansi. Persatuan menjadi kunci utama perlawanan.
Roberts juga menyentuh isu uranium dan kontrol sumber daya dalam dinamika konflik. Ia menegaskan bahwa Israel memiliki agenda agresi yang terorganisir, bukan sekadar respons terhadap ancaman. Hal ini menuntut respons kolektif yang lebih kuat dari dunia Muslim.
Dalam wawancara penuh di Going Underground, Roberts menganalisis kebijakan luar negeri AS yang mendukung Israel. Ia memperingatkan bahaya jangka panjang jika Greater Israel tidak dihadapi secara bersama. Persatuan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Kesimpulannya, pesan Roberts tegas: dunia Muslim harus segera membentuk front bersatu melawan agenda ekspansi Israel. Tanpa itu, agresi akan terus berlanjut dan merugikan seluruh umat. Wawancara ini menjadi panggilan mendesak bagi kesadaran geopolitik regional.
https://x.com/i/status/2053951802698350660
Apa yang terjadi pada akal manusia hanya dalam sepuluh menit menjelajahi media sosial?
Dalam sepuluh menit saja, seseorang bisa berpindah dari video keagamaan, berita politik, adegan yang menyentuh, iklan komersial, kisah sedih, video lucu, pesan pekerjaan, foto kesuksesan, komentar penuh amarah, informasi ilmiah, lalu video yang bahkan ia sendiri tidak tahu mengapa menontonnya.
Semua itu… hanya dalam beberapa menit.
Pertanyaan utamanya bukan: apakah kontennya baik atau buruk?
Tetapi: apakah akal manusia memang diciptakan untuk menerima begitu banyak pertentangan dan gelombang emosi yang datang berturut-turut secepat itu?
Masalahnya, akal tidak sempat menjalani satu gagasan secara mendalam.
Tidak cukup bersedih…
Tidak cukup merenung…
Tidak cukup bergembira…
Karena ia terus-menerus ditarik dari satu perasaan ke perasaan lain, dan dari satu pikiran ke pikiran lain, tanpa henti.
Dalam beberapa menit singkat, seseorang bisa merasakan empati, lalu marah, lalu membandingkan diri, lalu takut, lalu tertawa, lalu cemas… seakan-akan emosi kini dikonsumsi dengan sangat cepat tanpa sempat menemukan ketenangan.
Dengan pengulangan setiap hari, dampaknya mulai muncul perlahan:
Lemahnya konsentrasi,
perhatian yang mudah terpecah,
sulit membaca secara mendalam,
cepat bosan,
dan merasa lelah secara mental meski tanpa usaha nyata.
Persoalan ini tidak berhenti pada kebiasaan menjelajah saja, tetapi meluas ke seluruh pola hidup.
Notifikasi tanpa akhir, banyak grup, berita yang terus berdatangan, dan pesan-pesan yang memotong alur pikir puluhan kali dalam sehari.
Di sinilah tampak sebuah paradoks penting:
Banyak orang yang lebih tenang, lebih produktif, dan lebih berpengaruh dalam hidupnya, belum tentu yang paling cerdas.
Namun mereka berhasil melindungi akalnya dari kebisingan yang terus-menerus.
Mereka memiliki waktu tenang,
jarak dari notifikasi,
dan kemampuan untuk sesekali melepaskan diri dari arus konten yang tak berhenti.
Mereka memahami bahwa fokus bukan sekadar keterampilan tambahan…
Tetapi gaya hidup.
Yang lebih penting lagi, kenyataan ini bukan hanya memengaruhi orang dewasa, tetapi juga satu generasi penuh yang tumbuh dengan kebiasaan berpindah cepat di antara ratusan rangsangan setiap hari.
Generasi yang lebih akrab dengan kecepatan daripada perenungan,
dan lebih terbiasa dengan distraksi daripada kedalaman.
Karena itu, menjaga akal pada hari ini bukan lagi kemewahan,
melainkan kebutuhan untuk menjaga kejernihan berpikir, keseimbangan jiwa, dan kemampuan membangun hidup yang bermakna.
Sebab akal yang tidak mendapatkan saat-saat hening…
akan perlahan kehilangan kemampuan melihat apa yang benar-benar layak diberi perhatian.
Dr. Abdul Karim Bakkar
UMUR YANG MENEMBUS ZAMAN ⏳🍃
Kutipan Hikmah:
فَهْد بنُ صَالِح العُلَيَّان:
العُمْرُ فِي مِيزَانِ الإِيمَانِ لَا يُقَاسُ بِالسِّنِينَ الَّتِي عَاشَهَا الإِنْسَانُ، بَلْ بِمِقْدَارِ مَا تَرَكَهُ مِنْ أَثَرٍ وَثَمَرَةٍ طَيِّبَةٍ
Syekh Fahd bin Shalih al-Ulayyan:
“Usia dalam timbangan iman tidaklah diukur dari jumlah tahun yang telah dilewati seseorang, melainkan dari seberapa besar jejak (pengaruh) dan buah kebaikan yang ia tinggalkan.”
(Kitab: Haka’iq wa Daqa’iq)
---
SYARAH RINGKAS 📖
Pesan ini mengingatkan kita bahwa ada perbedaan besar antara usia kronologis (angka tahun) dengan usia hakiki (keberkahan). Dalam pandangan syariat, umur bukanlah tentang seberapa lama kita bernapas di bumi, melainkan seberapa banyak manfaat yang lahir dari napas tersebut.
Banyak orang yang umurnya panjang namun berlalu sia-sia, sementara ada orang yang umurnya pendek namun namanya tetap hidup berabad-abad karena amal jariyah dan ilmunya.
POIN PENJELASAN ULAMA SALAF 📜
Imam Ibnu Atha'illah Al-Iskandari menjelaskan poin serupa dalam Al-Hikam:
"Boleh jadi umur itu pendek masanya namun luas manfaatnya. Dan boleh jadi umur itu panjang masanya namun sedikit manfaatnya."
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah juga menekankan:
“Umur manusia yang sesungguhnya adalah waktu yang ia habiskan bersama Allah. Selain dari itu, bukanlah bagian dari umurnya, melainkan hanya beban hidup yang menyerupai kehidupan binatang.”
---
APLIKASI DALAM KEHIDUPAN 🧭
1. Fokus pada Kualitas, bukan Sekadar Durasi: Jangan hanya berdoa minta umur panjang, tapi berdoalah minta umur yang penuh berkah dan amal shalih.
2. Membangun Jejak (Atsar): Mulailah menanam pohon kebaikan, baik berupa mendidik anak yang shalih, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, atau membantu sesama, agar pahalanya terus mengalir meski raga sudah di liang lahat.
3. Efisiensi Waktu: Menggunakan waktu luang untuk hal yang produktif bagi akhirat karena setiap detik adalah modal yang tak akan kembali.
---
Semoga Allah memberkahi sisa umur kita dan menjadikan kita hamba yang meninggalkan jejak kebaikan yang tak terputus. 🤲✨
♻️ Silakan dishare, semoga menjadi wasilah kebaikan.

Mengapa banyak orang menjadi “lelah” padahal hidup mereka lebih mudah daripada sebelumnya?
Tiga puluh tahun lalu…
Manusia mengerahkan usaha yang lebih besar dan menghadapi kondisi yang lebih sulit. Namun, banyak orang justru lebih tenang dan lebih stabil dibanding hari ini.
Adapun sekarang, hampir segala sesuatu menjadi lebih cepat dan lebih mudah:
Makanan datang hanya dengan satu sentuhan tombol,
komunikasi berlangsung seketika,
informasi tersedia dalam hitungan detik…
Namun sebagai gantinya, tingkat kecemasan, stres, dan rasa kelelahan mental meningkat secara belum pernah terjadi sebelumnya.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
Masalahnya adalah manusia modern tidak lagi lelah hanya karena “kehidupan”, tetapi karena “jumlah besar hal-hal” yang melewati pikirannya setiap hari.
Dalam satu hari saja, seseorang bisa melihat:
berita perang,
video kesuksesan,
masalah orang lain,
perbandingan sosial,
pendapat yang saling bertentangan,
dan gambaran hidup yang tampak sempurna…
Semua itu bahkan sebelum ia menghabiskan secangkir kopinya.
Akal manusia tidak diciptakan untuk menghadapi arus yang terus-menerus seperti ini.
Karena itulah banyak orang merasa letih, padahal mereka sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang melelahkan secara fisik.
Yang lebih berbahaya, manusia mulai kehilangan kemampuan untuk merasakan “ketenangan batin”.
Diam terasa membosankan,
duduk tanpa ponsel terasa mengganggu,
berpikir mendalam menjadi sulit.
Bahkan hubungan antarmanusia pun berubah.
Sebagian orang mengetahui rincian hidup ratusan orang…
tetapi tidak menemukan satu pun orang yang benar-benar memahaminya dengan tulus.
Ironi yang menyakitkan adalah media sosial yang dirancang untuk mendekatkan manusia, justru membuat banyak orang merasa semakin kesepian.
Karena itu, ketenangan sejati bukan lagi terletak pada “memiliki lebih banyak”,
tetapi pada mengurangi kebisingan.
Mengurangi perbandingan.
Mengurangi distraksi.
Mengurangi konsumsi emosi harian.
Dan terkadang…
Nikmat terbesar yang dibutuhkan manusia hari ini bukanlah hidup yang sempurna,
melainkan akal yang tenang dan hati yang berdebar dalam cinta kepada Allah Ta'ala.
Dr. Abdul Karim Bakkar
Memutus akses internet dari ponsel selama dua minggu saja terbukti menghasilkan lonjakan besar dalam fokus dan perhatian, setara dengan kondisi otak yang lebih muda 10 tahun, serta memperbaiki gejala depresi hingga 71%!
Dalam sebuah penelitian, akses internet pada ponsel 467 orang dihentikan selama dua minggu, dengan tetap memperbolehkan panggilan telepon, pesan teks, serta penggunaan internet melalui komputer.
Setelah hanya 14 hari, otak para peserta kembali memperoleh tingkat fokus yang setara dengan orang yang 10 tahun lebih muda. Mereka juga menunjukkan perbaikan gejala depresi hingga 71%, yang mungkin sebanding—bahkan bisa melampaui—efek obat antidepresan dalam jangka waktu yang singkat tersebut.
Aktivitas menggulir tanpa henti (scrolling) antar aplikasi membebani korteks prefrontal (bagian depan otak) dengan tugas yang melampaui kapasitasnya, sehingga menyebabkan “penuaan kognitif” (seperti mudah lupa, sulit konsentrasi, dan lambat memahami). Namun, begitu akses internet dihentikan, bagian otak ini dapat pulih dengan sangat cepat.
Dr. Abdul Karim Bakkar
🔥Berwakaf untuk Pendidikan Generasi:
BSI 7175555808
a/n Wakaf PP Alfatih Jawa Timur

NASIHAT EMAS: BERSEGERA DALAM KETAATAN ⏳
Teks Arab & Terjemahan
قَالَ الشَّيْخُ صَالِحُ الفَوْزَانُ حَفِظَهُ اللهُ:
(( عُمُرُ الإِنْسَانِ أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ، فَمَا دُمْتَ مُعَافًى فِي بَدَنِكَ، وَفِي أَمْنٍ وَاسْتِقْرَارٍ؛ فَسَارِعْ إِلَى الاشْتِغَالِ بِالطَّاعَاتِ ))
Syeikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berwasiat:
"Umur seseorang hanyalah beberapa hari saja. Selama raga Anda sehat, kondisi aman dan stabil, maka bersegeralah untuk menyibukkan diri dengan berbagai ketaatan."
[Syarh Kitab al-Kaba-ir, 565]
---
Syarah Ringkas & Penjelasan 📚
1. Hakikat Umur Manusia
Syeikh mengingatkan bahwa umur kita hanyalah kumpulan hari yang terbatas. Setiap hari yang berlalu berarti berkurangnya jatah hidup kita di dunia.
2. Memanfaatkan Dua Nikmat Utama
Beliau menekankan pentingnya kesehatan dan keamanan. Jika badan sehat dan lingkungan kondusif, tidak ada alasan lagi untuk menunda amal saleh.
3. Perintah Bersegera (Al-Mubadarah)
Jangan menunggu tua atau menunggu sakit untuk mulai beribadah. Menunda ketaatan adalah salah satu tipu daya setan yang paling berbahaya.
---
Mutiara Hikmah Ulama Salaf 💎
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata:
"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari pergi, maka pergi pulalah sebagian dirimu."
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berpesan:
"Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu."
---
Aplikasi Dalam Kehidupan 💡
✅ Segerakan Shalat tepat waktu begitu azan berkumandang.
✅ Manfaatkan Waktu Luang di sela kesibukan untuk berdzikir atau membaca Al-Qur'an.
✅ Jangan Menunggu Mapan untuk mulai bersedekah; mulailah dari yang kecil sekarang juga.
✅ Jaga Kesehatan sebagai modal utama untuk memaksimalkan ibadah kepada Allah.
---
📢 Silakan dishare! Semoga menjadi ladang pahala jariyah bagi kita semua. 🕌✨

Sepuluh Kisah bagi Orang yang Mengira Kereta Ilmu Sudah Berlalu:
1. Abu ‘Iqāl Ghalbūn (w. 291 H):
Pada masa mudanya ia tumbuh sebagai orang yang gemar berfoya-foya dan hidup bebas. Kemudian ia beralih menekuni ilmu, memberi fatwa, dan beribadah. Ia wafat dalam keadaan sujud di belakang Maqam Ibrahim saat shalat tarawih.
[Riyāḍ an-Nufūs, 1/527]
2. Abu Ṭālib al-Karkhī (w. 585 H):
Ia dahulu sangat mahir memainkan alat musik ‘ud hingga menjadi perumpamaan dalam hal itu. Lalu ia meninggalkannya dan menekuni ilmu, hingga menjadi tokoh besar yang memberi manfaat kepada banyak orang.
[Al-‘Aqd al-Mudzhab fī Ṭabaqāt Ḥamalat al-Madzhab, hlm. 327]
3. Abu Ṭāhir al-Jābirī asy-Syāfi‘ī (w. 633 H):
Pada awal hidupnya ia seorang peminum dan pembuat khamar. Namun akhirnya keadaannya berubah hingga menjadi “Syekh Negeri Mesir”.
[Ṭabaqāt asy-Syāfi‘iyyah al-Kubrā karya as-Subkī, 8/49]
4. Ahmad al-Qinā’ī (w. 728 H):
Ia dahulu bekerja menggembala kambing. Kemudian mulai menuntut ilmu pada usia tiga puluh tahun. Dalam sehari ia mampu menghafal empat ratus baris tulisan.
[Ad-Durar al-Kāminah, 1/95]
5. Ibn al-Khaṭīb al-Quṭay‘ī (w. 739 H):
Ia pernah bekerja sebagai penulis di kantor-kantor para penguasa. Lalu ia meninggalkan pekerjaan itu dan fokus pada ilmu: membaca, menulis kitab, serta mengajar.
6. Ibrāhīm bin Aibak aṣ-Ṣafadī (w. 742 H):
Saudara dari sejarawan terkenal. Ia pernah melewati masa tenggelam dalam hiburan, lalu beralih sepenuhnya menuntut ilmu pada usia dua puluh tiga tahun.
[Al-Wāfī bil-Wafayāt, 2/216]
7. Ibn ar-Rassām aṣ-Ṣafadī (w. 749 H):
Ayahnya seorang tentara, sedangkan ia tumbuh sebagai pelukis kain. Kemudian gurunya mendorongnya menuntut ilmu. Ia pun menghafal kitab At-Ta‘jīz dan mendalami fikih.
[Ad-Durar al-Kāminah, 4/124]
8. Muḥammad bin ‘Irāq al-Qāyātī (w. 933 H):
Ia dahulu sibuk dengan berburu, catur, permainan nard, dan kepahlawanan berkuda. Lalu ia memusatkan diri pada ilmu hingga dijuluki “Syekh al-Islam”.
[Al-A‘lām karya az-Ziriklī, 6/290]
9. Makhlūf al-Balbālī (w. 941 H):
Ia mulai menuntut ilmu pada usia lanjut. Ia meninggalkan perdagangan hingga berhasil menghafal Ṣaḥīḥ al-Bukhārī secara lengkap.
[Nayl al-Ibtihāj bi Taṭrīz ad-Dībāj, hlm. 608]
10. Pemuda dari Syam:
Ia datang ke Madinah untuk menuntut ilmu dalam usia muda. Namun kematian menjemputnya dengan cepat. Imam Malik kemudian melihatnya dalam mimpi berada di derajat para pewaris nabi. Pemuda itu berkata: “Ilmulah yang telah menyampaikanku ke tempat ini.”
[Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī karya Ibn Baṭṭāl, 1/134]
Dr. Asyraf Nizar Hasan
Ada seorang saleh menangis saat melepas keberangkatan para jemaah haji.
Dalam lirih hatinya, ia berkata,
"Betapa sedihnya hatiku…"
Ia bersedih karena belum dimampukan menjejakkan kaki ke Baitullah.
Lalu ia merenung dan berkata,
"Jika beginilah sedihnya hati orang yang terputus dari Baitullah, lalu bagaimanakah pula dengan orang yang terputus dari Allah?"
Ya Allah…
Janganlah Engkau haramkan kami dari menziarahi rumah-Mu, Baitullah Al-Haram.
Karuniakan kepada kami nikmat bermunajat di hadapan-Mu, serta kesempatan mengunjungi rumah-Mu tahun demi tahun, dalam keadaan sehat walafiat, penuh iman, hingga kami diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Seorang suami pulang ke rumah dalam keadaan terbebani oleh perselisihan sesaat dengan istrinya. Baru saja ia membuka ponselnya untuk beristirahat sejenak, ternyata “algoritma” telah menyiapkan baginya jebakan yang sangat rapi: video-video yang berbicara tentang “pasangan narsistik”, yang lain memuji “istri ideal” yang sangat jauh dari kenyataan hidupnya, dan yang ketiga mencelanya secara pribadi serta meneguhkan rasa sakitnya. Maka kemarahannya pun semakin besar dan jurang perpecahan makin dalam.
Dalam pemandangan lain, seseorang berbincang dengan temannya di sebuah kafe tentang keinginannya mengganti mobil atau keluhannya terhadap pekerjaan tertentu. Tiba-tiba, pada sentuhan pertama ke layarnya, ia dikejutkan bahwa seluruh dunia digital seakan berubah menjadi pameran mobil atau panggung para pakar pengunduran diri dan kerja mandiri.
Pemandangan-pemandangan ini bukanlah kebetulan semata, tetapi merupakan gambaran nyata dari peran algoritma digital yang telah berubah menjadi “cermin pemantul krisis”, yang membentuk ulang kesadaran dan emosi manusia berdasarkan pemantauan cermat terhadap saat-saat kelemahan dan rapuhnya kondisi psikologis mereka.
Bahaya sesungguhnya bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada kemampuannya mengurung seseorang di dalam “ruang gema” yang membesarkan perasaan sesaatnya dan mengubahnya menjadi kebenaran mutlak yang tidak menerima perdebatan.
Terjebak dalam “perangkap peneguhan”
Algoritma mulai menangkap “gelombang digital” dari kesempitan hati seseorang; baik melalui kata-kata pencarian, lamanya ia berhenti pada sebuah video tertentu, maupun melalui pemantauan percakapan sampingan lewat mikrofon yang terbuka dengan dalih “peningkatan layanan”. Di sinilah dimulai apa yang disebut “umpan balik”, ketika berbagai konten membanjiri pengguna untuk memberi makan kondisi psikologisnya saat itu.
Arus yang terus-menerus ini bekerja seperti bensin yang disiramkan ke api kecil. Perselisihan ringan berubah menjadi krisis besar, dan rasa marah semakin meningkat karena mesin itu terus meyakinkan seseorang bahwa dirinya adalah “korban”, sedangkan pihak lain adalah “yang bersalah”.
Membentuk kesadaran palsu
Algoritma tidak peduli pada kebenaran, dan tidak memahami makna “perbaikan” ataupun “pemaafan”. Tujuan satu-satunya hanyalah “mempertahankan pengguna”. Ia mengetahui bahwa manusia ketika sedang marah atau gelisah akan lebih banyak mengonsumsi konten yang menyuburkan emosinya. Karena itu, ia terus membangun dinding isolasi di sekelilingnya, hingga ia tidak melihat kecuali apa yang sejalan dengan hawa nafsu dan luka batinnya.
“Bias peneguhan” yang diciptakan platform-platform ini merampas kemampuan seseorang untuk melihat sisi positif dari kenyataannya. Ia pun membandingkan kehidupan manusiawinya yang serba kurang dengan model-model virtual buatan yang diproduksi di balik layar. Pada akhirnya, hubungan antarmanusia pun terkikis di bawah tekanan “kesempurnaan digital” yang semu.
Penjara “kata yang terdengar”
Teknologi kini telah melampaui tahap “apa yang kita tulis” menuju tahap “apa yang kita ucapkan”. Cukup dengan percakapan singkat tentang suatu hal, seseorang akan mendapati platform-platform dipenuhi hal-hal yang berkisar pada topik tersebut.
Pelanggaran privasi ini menciptakan keadaan “pengepungan pikiran”, hingga dunia terasa sangat sempit. Seseorang pun mengira bahwa “seluruh alam semesta” melihat apa yang ia lihat dan memikirkan apa yang sedang menyibukkannya.
Kebisingan digital ini merampas ketenangan batin manusia dan kemampuannya untuk merenung. Ia pun berubah menjadi roda kecil dalam mesin yang terus mendaur ulang emosinya demi kepentingan konsumtif, jauh dari kejernihan berpikir dan keseimbangan jiwa.
Akibat peradaban
Ketergantungan kepada algoritma platform dalam membentuk sikap kita terhadap orang-orang terdekat sejatinya adalah penyerahan sukarela terhadap “akal yang matang”.
Kedaulatan sejati manusia modern dimulai dari kesadarannya bahwa apa yang tampil di layar bukanlah “kebenaran”, melainkan “jalur yang dirancang” agar ia tetap emosional, tercerai-berai perhatiannya, dan terkurung dalam lingkaran minat yang sempit.
Kemandirian jiwa menuntut kemampuan untuk memutus lingkaran ini, lalu kembali kepada “realitas nyata” guna memperbaiki hubungan, jauh dari hiruk-pikuk “para provokator digital” yang mengambil keuntungan dari memperlebar jurang antarmanusia.
Dr. Abdul Karim Bakkar
Kisah Di Balik Buku “Di Bawah Panji Thufan”
Muhammad Zaki menulis buku itu di atas kertas-kertas dan buku catatan yang ia bawa di dalam kantong perlengkapan militernya. Bayangkan saja: berada di bawah tanah sedalam 40 atau 50 meter, dengan kelembapan, kurangnya oksigen, dan kegelapan total—tidak ada cahaya sama sekali. Ia menggunakan lampu kepala yang dipakai di kepala; ia menekan tombolnya untuk menyalakan dan melihat. Baterai lampu itu tentu memiliki masa pakai: bisa meredup, bisa melemah, bisa mati, dan membutuhkan ganti baterai atau pengisian.
Bayangkan adegan ini: seseorang duduk di sudut gelap, jauh di bawah tanah, 50 meter, dengan kelembapan di sekelilingnya… Nafas melemah, kelelahan, tubuh letih karena berjaga, bertempur, dan terus berada dalam kewaspadaan. Lalu datang satu jam di mana ia mendapatkan sedikit waktu istirahat, atau ketika ia tidak sedang dibebani tugas, pekerjaan, atau misi. Pada saat itulah ia mengeluarkan kertas-kertas itu dari tas perlengkapannya, membukanya, dan menuliskan apa yang Allah bukakan untuknya.
Aku membayangkan seseorang yang ingin menulis seperti apa yang tertulis dalam buku itu—siapa pun yang membaca buku itu akan memahami hal ini—hal itu membutuhkan konsentrasi yang sangat, sangat tinggi. Tulisan dalam buku itu, menurutku, jika dibaca oleh seorang ahli dalam ilmu syar’i, ia akan berkata: “Penulis ini sedang mengerahkan energi fokus tertingginya untuk mampu menyusun kalimat-kalimat seperti ini.” Susunan yang tidak sederhana, informasi yang tidak sederhana, dan pada beberapa bagian, menimbulkan pertanyaan: dari mana datangnya konsentrasi, kekuatan, kejernihan bahasa, dan keindahan susunan ini?
Semua itu adalah keberkahan—futuh dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ya, itu adalah berkah penjagaan di perbatasan, berkah orang-orang yang berjihad di jalan Allah: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Begitulah ia melakukannya: ketika ia menemukan momen istirahat, ia mengeluarkan lembaran-lembaran itu, menulis apa yang Allah bukakan untuknya, kemudian melipatnya kembali dan menyimpannya lagi di dalam tas perlengkapannya.
Baik, coba kamu bayangkan: apakah ia pernah membayangkan saat menulis kata-kata itu bahwa tulisannya akan keluar ke publik? Tidak. Aku katakan padamu: tidak. Kenapa? Karena ia membayangkan bahwa semuanya bisa saja berakhir bersamanya, lenyap bersamanya, mungkin saja hilang begitu saja.
Benar. Sebab selama pertempuran itu, banyak sekali sahabat-sahabatnya yang gugur. Dan beberapa jenazah mereka bahkan tidak bisa dijangkau karena berada di tempat terbuka atau terkena bom-bom besar.
Lalu, mengapa ia tetap menulis? “Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih, jangan hentikan amal kebaikan itu.”
Ya Allah… Jangan berhenti menanam kebaikan, meskipun kamu tidak melihat buah dari usaha itu di depan matamu. Ketahuilah, pasti ada buahnya di sisi Allah.
Ia menulis dengan keyakinan:
Jika ia hidup, Allah akan menjadikan ilmu ini keluar dan bermanfaat.
Jika ia tidak hidup, ia sudah menulis, berusaha, dan melakukan sebab-sebabnya.
Sekarang lihat sisi lain: ketika ia menulis semua itu, tulisan-tulisan itu terkumpul menjadi banyak lembaran. Ketika ia keluar dari garis depan setelah adanya gencatan senjata—gencatan senjata pertama, seingatku sekitar satu bulan… Wallahu a‘lam, aku tidak ingat persis, karena buku itu ditulis dalam beberapa tahap. Ia menulis sebagian, lalu terputus selama dua atau tiga bulan, kami tidak tahu kabarnya sama sekali, kemudian ia kembali dengan bagian baru dan memberikannya kepada pemuda yang memasukkan tulisannya ke laptop.
Aku hanya ingin memberikan gambaran umumnya. Ia memberikan tulisan-tulisan itu kepada pemuda itu dan berkata: “Masukkan ke file Word dan kirimkan kepada saudaraku, Abdurrahman, di luar negeri. Dialah yang akan mengurus dan meninjaunya.”
Semua itu terjadi sementara ia sendiri belum bisa berbicara denganku—tidak ada komunikasi sama sekali.
Kemudian, datang kesempatan setelah berhentinya perang pada sebuah gencatan senjata. Ia akhirnya bisa menghubungiku dan berkata: “Aku sudah mengirimkan kepadamu file berisi apa yang kutulis. Aku ingin engkau meninjau dan memverifikasinya… dan menerbitkannya tanpa menuliskan namaku.” Aku bertanya: “Kenapa, Abu Zaki?”
Ia menjawab: “Sudahlah, cukup tulis saja: ‘ditulis oleh Hudzaifah’, atau ‘Hudzaifah al-Ghazzi’. Aku tidak ingin itu diterbitkan dengan namaku.” Padahal ia menulis ilmu itu di tempat gelap yang sunyi dan menakutkan, dengan perjuangan besar. Namun ketika hendak diterbitkan, ia tidak ingin disebutkan namanya. Kenapa? Agar tidak dikenal… agar pahalanya tidak hilang… agar tidak ada sedikit pun niat yang mencampuri keikhlasannya atau merusaknya.
Lihatlah bagaimana ia berpikir… sejauh itu ia menjaga hatinya. Lalu ia gugur sebagai syahid. Aku sebenarnya sedang meninjau bukunya sebelum ia gugur. Kebetulan, bagian terakhir dari bukunya—sekitar 30 halaman yang membahas pertempuran-pertempuran terakhir—ia kirimkan kepadaku empat hari sebelum ia syahid.
— Dr. Abdurrahman Zaki (kakak penulis buku “Di Bawah Panji Thufan”)
🛒 Link Shopee : https://id.shp.ee/JgZx4YK
📲 Wa : 0851-7952-3933

Kisah Di Balik Buku “Di Bawah Panji Thufan”
Muhammad Zaki menulis buku itu di atas kertas-kertas dan buku catatan yang ia bawa di dalam kantong perlengkapan militernya. Bayangkan saja: berada di bawah tanah sedalam 40 atau 50 meter, dengan kelembapan, kurangnya oksigen, dan kegelapan total—tidak ada cahaya sama sekali. Ia menggunakan lampu kepala yang dipakai di kepala; ia menekan tombolnya untuk menyalakan dan melihat. Baterai lampu itu tentu memiliki masa pakai: bisa meredup, bisa melemah, bisa mati, dan membutuhkan ganti baterai atau pengisian.
Bayangkan adegan ini: seseorang duduk di sudut gelap, jauh di bawah tanah, 50 meter, dengan kelembapan di sekelilingnya… Nafas melemah, kelelahan, tubuh letih karena berjaga, bertempur, dan terus berada dalam kewaspadaan. Lalu datang satu jam di mana ia mendapatkan sedikit waktu istirahat, atau ketika ia tidak sedang dibebani tugas, pekerjaan, atau misi. Pada saat itulah ia mengeluarkan kertas-kertas itu dari tas perlengkapannya, membukanya, dan menuliskan apa yang Allah bukakan untuknya.
Aku membayangkan seseorang yang ingin menulis seperti apa yang tertulis dalam buku itu—siapa pun yang membaca buku itu akan memahami hal ini—hal itu membutuhkan konsentrasi yang sangat, sangat tinggi. Tulisan dalam buku itu, menurutku, jika dibaca oleh seorang ahli dalam ilmu syar’i, ia akan berkata: “Penulis ini sedang mengerahkan energi fokus tertingginya untuk mampu menyusun kalimat-kalimat seperti ini.” Susunan yang tidak sederhana, informasi yang tidak sederhana, dan pada beberapa bagian, menimbulkan pertanyaan: dari mana datangnya konsentrasi, kekuatan, kejernihan bahasa, dan keindahan susunan ini?
Semua itu adalah keberkahan—futuh dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ya, itu adalah berkah penjagaan di perbatasan, berkah orang-orang yang berjihad di jalan Allah: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Begitulah ia melakukannya: ketika ia menemukan momen istirahat, ia mengeluarkan lembaran-lembaran itu, menulis apa yang Allah bukakan untuknya, kemudian melipatnya kembali dan menyimpannya lagi di dalam tas perlengkapannya.
Baik, coba kamu bayangkan: apakah ia pernah membayangkan saat menulis kata-kata itu bahwa tulisannya akan keluar ke publik? Tidak. Aku katakan padamu: tidak. Kenapa? Karena ia membayangkan bahwa semuanya bisa saja berakhir bersamanya, lenyap bersamanya, mungkin saja hilang begitu saja.
Benar. Sebab selama pertempuran itu, banyak sekali sahabat-sahabatnya yang gugur. Dan beberapa jenazah mereka bahkan tidak bisa dijangkau karena berada di tempat terbuka atau terkena bom-bom besar.
Lalu, mengapa ia tetap menulis? “Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih, jangan hentikan amal kebaikan itu.”
Ya Allah… Jangan berhenti menanam kebaikan, meskipun kamu tidak melihat buah dari usaha itu di depan matamu. Ketahuilah, pasti ada buahnya di sisi Allah.
Ia menulis dengan keyakinan:
Jika ia hidup, Allah akan menjadikan ilmu ini keluar dan bermanfaat.
Jika ia tidak hidup, ia sudah menulis, berusaha, dan melakukan sebab-sebabnya.
Sekarang lihat sisi lain: ketika ia menulis semua itu, tulisan-tulisan itu terkumpul menjadi banyak lembaran. Ketika ia keluar dari garis depan setelah adanya gencatan senjata—gencatan senjata pertama, seingatku sekitar satu bulan… Wallahu a‘lam, aku tidak ingat persis, karena buku itu ditulis dalam beberapa tahap. Ia menulis sebagian, lalu terputus selama dua atau tiga bulan, kami tidak tahu kabarnya sama sekali, kemudian ia kembali dengan bagian baru dan memberikannya kepada pemuda yang memasukkan tulisannya ke laptop.
Aku hanya ingin memberikan gambaran umumnya. Ia memberikan tulisan-tulisan itu kepada pemuda itu dan berkata: “Masukkan ke file Word dan kirimkan kepada saudaraku, Abdurrahman, di luar negeri. Dialah yang akan mengurus dan meninjaunya.”
Semua itu terjadi sementara ia sendiri belum bisa berbicara denganku—tidak ada komunikasi sama sekali.
Kemudian, datang kesempatan setelah berhentinya perang pada sebuah gencatan senjata. Ia akhirnya bisa menghubungiku dan berkata: “Aku sudah mengirimkan kepadamu file berisi apa yang kutulis. Aku ingin engkau meninjau dan memverifikasinya… dan menerbitkannya tanpa menuliskan namaku.” Aku bertanya: “Kenapa, Abu Zaki?”
Ia menjawab: “Sudahlah, cukup tulis saja: ‘ditulis oleh Hudzaifah’, atau ‘Hudzaifah al-Ghazzi’. Aku tidak ingin itu diterbitkan dengan namaku.” Padahal ia menulis ilmu itu di tempat gelap yang sunyi dan menakutkan, dengan perjuangan besar. Namun ketika hendak diterbitkan, ia tidak ingin disebutkan namanya. Kenapa? Agar tidak dikenal… agar pahalanya tidak hilang… agar tidak ada sedikit pun niat yang mencampuri keikhlasannya atau merusaknya.
Lihatlah bagaimana ia berpikir… sejauh itu ia menjaga hatinya. Lalu ia gugur sebagai syahid. Aku sebenarnya sedang meninjau bukunya sebelum ia gugur. Kebetulan, bagian terakhir dari bukunya—sekitar 30 halaman yang membahas pertempuran-pertempuran terakhir—ia kirimkan kepadaku empat hari sebelum ia syahid.
— Dr. Abdurrahman Zaki (kakak penulis buku “Di Bawah Panji Thufan”)
🛒 Link Shopee : https://id.shp.ee/JgZx4YK
📲 Wa : 0851-7952-3933
Kisah Di Balik Buku “Di Bawah Panji Thufan”
Muhammad Zaki menulis buku itu di atas kertas-kertas dan buku catatan yang ia bawa di dalam kantong perlengkapan militernya. Bayangkan saja: berada di bawah tanah sedalam 40 atau 50 meter, dengan kelembapan, kurangnya oksigen, dan kegelapan total—tidak ada cahaya sama sekali. Ia menggunakan lampu kepala yang dipakai di kepala; ia menekan tombolnya untuk menyalakan dan melihat. Baterai lampu itu tentu memiliki masa pakai: bisa meredup, bisa melemah, bisa mati, dan membutuhkan ganti baterai atau pengisian.
Bayangkan adegan ini: seseorang duduk di sudut gelap, jauh di bawah tanah, 50 meter, dengan kelembapan di sekelilingnya… Nafas melemah, kelelahan, tubuh letih karena berjaga, bertempur, dan terus berada dalam kewaspadaan. Lalu datang satu jam di mana ia mendapatkan sedikit waktu istirahat, atau ketika ia tidak sedang dibebani tugas, pekerjaan, atau misi. Pada saat itulah ia mengeluarkan kertas-kertas itu dari tas perlengkapannya, membukanya, dan menuliskan apa yang Allah bukakan untuknya.
Aku membayangkan seseorang yang ingin menulis seperti apa yang tertulis dalam buku itu—siapa pun yang membaca buku itu akan memahami hal ini—hal itu membutuhkan konsentrasi yang sangat, sangat tinggi. Tulisan dalam buku itu, menurutku, jika dibaca oleh seorang ahli dalam ilmu syar’i, ia akan berkata: “Penulis ini sedang mengerahkan energi fokus tertingginya untuk mampu menyusun kalimat-kalimat seperti ini.” Susunan yang tidak sederhana, informasi yang tidak sederhana, dan pada beberapa bagian, menimbulkan pertanyaan: dari mana datangnya konsentrasi, kekuatan, kejernihan bahasa, dan keindahan susunan ini?
Semua itu adalah keberkahan—futuh dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ya, itu adalah berkah penjagaan di perbatasan, berkah orang-orang yang berjihad di jalan Allah: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Begitulah ia melakukannya: ketika ia menemukan momen istirahat, ia mengeluarkan lembaran-lembaran itu, menulis apa yang Allah bukakan untuknya, kemudian melipatnya kembali dan menyimpannya lagi di dalam tas perlengkapannya.
Baik, coba kamu bayangkan: apakah ia pernah membayangkan saat menulis kata-kata itu bahwa tulisannya akan keluar ke publik? Tidak. Aku katakan padamu: tidak. Kenapa? Karena ia membayangkan bahwa semuanya bisa saja berakhir bersamanya, lenyap bersamanya, mungkin saja hilang begitu saja.
Benar. Sebab selama pertempuran itu, banyak sekali sahabat-sahabatnya yang gugur. Dan beberapa jenazah mereka bahkan tidak bisa dijangkau karena berada di tempat terbuka atau terkena bom-bom besar.
Lalu, mengapa ia tetap menulis? “Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih, jangan hentikan amal kebaikan itu.”
Ya Allah… Jangan berhenti menanam kebaikan, meskipun kamu tidak melihat buah dari usaha itu di depan matamu. Ketahuilah, pasti ada buahnya di sisi Allah.
Ia menulis dengan keyakinan:
Jika ia hidup, Allah akan menjadikan ilmu ini keluar dan bermanfaat.
Jika ia tidak hidup, ia sudah menulis, berusaha, dan melakukan sebab-sebabnya.
Sekarang lihat sisi lain: ketika ia menulis semua itu, tulisan-tulisan itu terkumpul menjadi banyak lembaran. Ketika ia keluar dari garis depan setelah adanya gencatan senjata—gencatan senjata pertama, seingatku sekitar satu bulan… Wallahu a‘lam, aku tidak ingat persis, karena buku itu ditulis dalam beberapa tahap. Ia menulis sebagian, lalu terputus selama dua atau tiga bulan, kami tidak tahu kabarnya sama sekali, kemudian ia kembali dengan bagian baru dan memberikannya kepada pemuda yang memasukkan tulisannya ke laptop.
Aku hanya ingin memberikan gambaran umumnya. Ia memberikan tulisan-tulisan itu kepada pemuda itu dan berkata: “Masukkan ke file Word dan kirimkan kepada saudaraku, Abdurrahman, di luar negeri. Dialah yang akan mengurus dan meninjaunya.”
Semua itu terjadi sementara ia sendiri belum bisa berbicara denganku—tidak ada komunikasi sama sekali.
Kemudian, datang kesempatan setelah berhentinya perang pada sebuah gencatan senjata. Ia akhirnya bisa menghubungiku dan berkata: “Aku sudah mengirimkan kepadamu file berisi apa yang kutulis. Aku ingin engkau meninjau dan memverifikasinya… dan menerbitkannya tanpa menuliskan namaku.” Aku bertanya: “Kenapa, Abu Zaki?”
Ia menjawab: “Sudahlah, cukup tulis saja: ‘ditulis oleh Hudzaifah’, atau ‘Hudzaifah al-Ghazzi’. Aku tidak ingin itu diterbitkan dengan namaku.” Padahal ia menulis ilmu itu di tempat gelap yang sunyi dan menakutkan, dengan perjuangan besar. Namun ketika hendak diterbitkan, ia tidak ingin disebutkan namanya. Kenapa? Agar tidak dikenal… agar pahalanya tidak hilang… agar tidak ada sedikit pun niat yang mencampuri keikhlasannya atau merusaknya.
Lihatlah bagaimana ia berpikir… sejauh itu ia menjaga hatinya. Lalu ia gugur sebagai syahid. Aku sebenarnya sedang meninjau bukunya sebelum ia gugur. Kebetulan, bagian terakhir dari bukunya—sekitar 30 halaman yang membahas pertempuran-pertempuran terakhir—ia kirimkan kepadaku empat hari sebelum ia syahid.
— Dr. Abdurrahman Zaki (kakak penulis buku “Di Bawah Panji Thufan”)
🛒 Link Shopee : https://id.shp.ee/JgZx4YK
📲 Wa : 0851-7952-3933
SABAR ITU PAHIT, TAPI BERBUAH MANIS ☕🍯
Kutipan Perkataan Ulama:
قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ: «الصَّبْرُ كَاسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقُهُ، لَكِنَّ عَوَاقِبَهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ».
Terjemahan:
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sabar itu sesuai dengan namanya, rasanya pahit, tetapi hasil akhirnya lebih manis daripada madu.” (Madarij As-Salikin 2/158)
---
Syarah (Penjelasan) Ringkas:
📍 1. Makna Etimologi Sabar
Dalam bahasa Arab, kata Ash-Shabru juga merupakan nama bagi tanaman obat yang rasanya sangat pahit (sejenis gaharu/lidah buaya liar). Inilah mengapa Ibnul Qayyim menyebut sabar itu pahit sesuai namanya; karena menahan diri dari hawa nafsu dan keluh kesah memang menyesakkan jiwa.
📍 2. Kepahitan yang Sementara
Sabar terasa pahit karena kita dipaksa untuk Al-Habsu (memenjara diri). Memenjara lisan agar tidak mengeluh, memenjara hati agar tidak marah pada takdir, dan memenjara anggota badan agar tetap taat meski lelah.
📍 3. Kemanisan yang Abadi
Hasil dari kesabaran bukan hanya ketenangan di dunia, tapi pahala tanpa batas di akhirat. Kepahitan saat menahan diri akan digantikan dengan rasa syukur yang mendalam saat melihat pertolongan Allah datang.
---
Penjelasan Tambahan Ulama Salaf:
💡 Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menekankan pentingnya posisi sabar: "Kedudukan sabar dalam iman itu seperti kedudukan kepala pada tubuh. Jika kepala hilang, maka tubuh tidak akan ada gunanya."
💡 Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Kami menemukan kehidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran." Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan hakiki hanya bisa diraih oleh mereka yang lulus melewati ujian kepahitan.
---
Aplikasi dalam Kehidupan:
✅ Dalam Ketaatan: Sabar saat bangun malam atau saat cuaca panas menjalankan puasa. Awalnya berat, akhirnya nikmat.
✅ Dalam Menjauhi Maksiat: Menahan mata dan hati dari godaan haram memang "pahit" bagi nafsu, tapi berbuah manis berupa cahaya iman di hati.
✅ Dalam Musibah: Tidak terburu-buru menyalahkan keadaan. Sadarilah bahwa obat yang paling mujarab seringkali rasanya paling pahit.
Ingatlah, tidak ada jalan pintas menuju kemuliaan kecuali melalui jembatan kesabaran. 🪵🔥

Jangan putus asa pintu ampunan selalu terbuka
Mintalah kepada Allah keselamatan dan 'afiat!
Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wan Nihāyah, Ibnu Asakir dalam Tārīkh Dimasyq, dan Ibnu al-Jauzi dalam Shifat ash-Shafwah:
Bahwa Abdul Wahhab bin Sa'id berkata: Al-Hajjaj bin Yusuf pernah berhaji, lalu singgah di antara Mekah dan Madinah. Ia meminta dihidangkan makan siang, lalu berkata kepada penjaganya:
“Lihatlah siapa yang bisa makan bersamaku, dan aku ingin menanyakan beberapa hal kepadanya.”
Penjaga itu memandang ke arah gunung, lalu melihat seorang Arab Badui. Ia pun mendatanginya dan berkata:
“Datanglah menemui sang amir.”
Maka orang itu datang. Al-Hajjaj bin Yusuf berkata kepadanya:
“Cucilah tanganmu dan makan sianglah bersamaku.”
Orang Badui itu menjawab:
“Sesungguhnya aku telah dipanggil oleh Dzat yang lebih baik darimu, lalu aku memenuhi panggilan-Nya.”
Ia bertanya:
“Siapa itu?”
Ia menjawab:
“Allah Ta'ala memanggilku untuk puasa sunnah, maka aku memenuhinya.”
Ia berkata:
“Di tengah panas yang sangat terik ini?”
Ia menjawab:
“Aku berpuasa untuk menghadapi hari yang panasnya jauh lebih dahsyat daripada hari ini.”
Ia berkata:
“Berbukalah hari ini, lalu berpuasalah besok.”
Ia menjawab:
“Jika engkau menjamin aku masih hidup sampai besok.”
Ia berkata:
“Itu bukan kuasaku.”
Ia menjawab:
“Lalu bagaimana engkau memintaku menukar sesuatu yang tunai dengan sesuatu yang belum pasti, sedangkan engkau sendiri tidak mampu menjaminnya?”
Ia berkata:
“Ini makanan yang lezat.”
Orang Badui itu menjawab:
“Bukan engkau dan bukan pula juru masak yang membuatnya lezat, tetapi yang menjadikannya lezat adalah 'afiat.”
Renungkanlah dalam-dalam: tetapi yang menjadikannya lezat adalah 'afiat.
Nilai suatu nikmat terletak pada kemampuan untuk menikmatinya, bukan sekadar memilikinya.
Betapa banyak orang yang memiliki kenikmatan, dipandang orang lain dengan rasa kagum atau iri, padahal sejatinya ia adalah orang yang terhalang dari menikmatinya.
Banyak orang kaya memiliki harta yang sanggup membeli makanan untuk satu kota, namun karena penyakit yang menimpanya, ia tidak mampu memakan apa yang sanggup ia beli.
Aku pernah mendengar ceramah Muhammad Nabulsi, beliau menceritakan tentang seorang kaya yang dikenalnya. Orang itu tidak mampu makan selain sayuran rebus. Jika ia makan selain itu, ia bisa meninggal.
Dunia tidak terasa nikmat bagi orang semacam itu, walaupun semuanya berada di tangannya, karena ia kehilangan 'afiat pada tubuhnya.
Betapa banyak pula istana megah yang dipandang orang dari kejauhan, lalu mereka berharap menjadi penghuninya, padahal sesungguhnya ia hanyalah kuburan tempat orang-orang hidup dikuburkan.
Di dalamnya ada istri yang diabaikan seakan hanya perabot rumah, anak-anak yang dilalaikan karena ayah mereka sibuk dengan perdagangan dan dunia.
Kehidupan yang penuh kemewahan lahiriah, tetapi keras dalam kenyataan.
Seperti jasad wanita cantik yang dilihat orang lalu disangka sedang tidur sehingga diinginkan, namun ketika diketahui bahwa ia telah mati, semua orang berpaling darinya.
Itulah rumah yang telah dicabut darinya 'afiat berupa kasih sayang dan rahmat.
Maka jika kalian meminta sesuatu kepada Allah Ta'ala, mintalah agar Dia memberikannya bersama 'afiat. Karena jika 'afiat dicabut dari sesuatu, maka hilanglah nilainya.
— Adham Syarqawi
Ibn al-Jawzi, semoga Allah merahmatinya, berkata:
Sungguh disayangkan nasib seorang hamba yang semakin banyak dosanya, semakin sedikit permohonan ampunannya; dan semakin dekat ia dengan kuburan, semakin kuat rasa malasnya.
[Al-Tabsir (55/1)].

"Di Balik Keffiyeh Abu Ubaidah" mengajak pembaca menyingkap sosok yang selama ini dikenal dunia hanya melalui suara tegas, pernyataan militer, dan wajah yang tersembunyi di balik keffiyeh. Di tengah reruntuhan Gaza, namanya menjelma simbol keberanian, keteguhan, dan harapan bagi jutaan manusia yang merindukan kebebasan Palestina. Ia bukan sekadar juru bicara perlawanan, tetapi ikon yang menyalakan semangat dan menjaga nyala keyakinan di tengah gelapnya penjajahan.
Namun, di balik simbol itu, ada sisi manusiawi yang jarang tersentuh sorotan. Abu Ubaidah adalah seorang anak, saudara, suami, dan ayah—manusia biasa yang memikul beban luar biasa. Di antara suara yang menggema ke seluruh dunia dan sunyi rumah yang sederhana, tersimpan kisah tentang pengorbanan, cinta, kesetiaan, dan harga yang harus dibayar demi sebuah perjuangan.
Buku ini menghadirkan potret yang lebih utuh: tentang keberanian yang lahir dari iman, kepemimpinan yang tumbuh dari luka, dan sosok yang menjadikan hidupnya sebagai jalan pengabdian bagi agama, tanah air, dan kemerdekaan Al-Aqsha. Buku ini bukan hanya kisah seorang tokoh, tetapi cermin tentang makna perjuangan, kehormatan, dan harapan yang tak pernah padam.
📚 Dibuka PO Buku "Di Balik Keffiyeh Abu Ubaidah"
💰 Harga PO: Rp70.000 (sampai 31 Mei 2026)
💰 Harga Normal: Rp90.000
📖 Spesifikasi Buku: Bookpaper, Soft Cover, 164 Halaman (Ukuran A5)
Silakan lakukan pemesanan sebelum masa PO berakhir. Barakallahu fiikum.
📲 Info Buku: 0851-7952-3933

Inilah kenapa banyak Ayat Al-Qur'an menegaskan bahwa Allah senantiasa membersamai dan mencintai hamba-Nya.
Ikuti saluran Tadabbur Channel di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaxihM32Jl8KxTSGpM3C

Mari terus bantu saudara-saudara kita di Palestina! donasi yang kita salurkan bukanlah sedekah biasa melainkan jihad harta
https://donasipalestina.com/

AYAH BISU
Oleh: Ustadz Budi Ashari, Lc.
Judul tulisan ilmiah tersebut adalah:
حِوَارُ اْلآباَءِ مَعَ اْلأبْناَءِ فيِ اْلقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَتَطْبِيْقَاتُهُ التَّرْبَوِيَّةِ
“Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”
Dari judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya. Menarik ya yah….
Sudah gak sabar nih untuk baca bersama….
Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.
Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:
• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)
Lihatlah ayah, subhanallah…
Ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas.
Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering. 14 banding 2!
Kalau hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi. Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias ngamuk, eh maaf…marah. Ada lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara. Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menyela, “Cukup yah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah.” Saking rutinitas yang hanya basa basi dan itu-itu saja.
Jika begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera memaksakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, terus menyampaikan pesannya, kisahnya dan dialognya.
Ayah, kembali ke al-Qur’an..
Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur’an, hanya dialog ayah kepada anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya. Sebuah nasehat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan tabungan yang diberikan kepadanya.
Dengan kajian di atas, kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog seorang ibu dengan anaknya. Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin menyeru kepada semua ayah: ayah, kalian harus rajin berdialog dengan anak. Lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian.
Dan…
Jangan jadi ayah bisu!
Sumber: Parentingnabawiyyah.com

Sesungguhnya layanan terbesar yang kita berikan kepada anak-anak kita di era “ledakan pengetahuan” bukanlah membekali mereka dengan informasi, tetapi membekali mereka dengan alat untuk memeriksa informasi. Anak yang tidak mampu mengatakan “mengapa?” di rumahnya, akan menjadi tidak mampu mengatakan “tidak” di hadapan arus pemikiran asing yang menyerbu kesadarannya melalui layar-layar.
Metode “indoktrinasi” membangun hafalan, tetapi “bertanya” membangun akal.
Ketika seorang anak bertanya mengapa dan bagaimana, ia sedang menjalankan langkah pertama untuk menguasai akalnya sendiri. Kewajiban kita sebagai orang tua dan pendidik bukanlah menekan rasa ingin tahunya dengan alasan “adab” atau “pasrah menerima”, tetapi mengarahkannya agar menjadi keterampilan kritis yang mampu memilah.
Akal yang terlindungi bukanlah akal yang tidak mendengar, tetapi akal yang tahu bagaimana mengurai apa yang didengarnya, serta membedakan antara yang benar dan yang batil dengan kesadaran diri, bukan karena tekanan dari luar.
Tujuan kita bukanlah menjaga anak-anak dari dunia, tetapi menjaga dalam diri mereka kemampuan berpikir, agar mereka mampu menghadapi dunia.
Abdul Karim Bakkar
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Mari mengawal ananda menuju kegemilangannya bersama Kuttab Al-Fatih Sidoarjo.
✨ Ini ikhtiar kami,
💖 Ridhai & bahagiakan kami ya Allah...
@kaf.sidoarjo
📲 Info PSB: 081-5555-1000
💌💌💌💌💌💌💌💌💌

yuk sebarkan!