User Avatar

Kurban memiliki dimensi akidah, yaitu dalam bentuk mempersembahkan sembelihan kepada Allah.

Ia juga memiliki dimensi sejarah, yaitu menghidupkan kembali kisah Nabi Ibrahim dan putranya yang disembelih, Nabi Ismail ‘alaihimassalām.

Ia pun memiliki dimensi sosial, yaitu memberi makan kepada kaum fakir dan menghadiahkan daging kepada sesama.

Namun, kurban juga merupakan sebuah revolusi ekonomi.

Pada tahun lalu, menurut data statistik, kaum Muslimin menyembelih lima puluh juta hewan kurban. Bayangkanlah besarnya jumlah ternak yang terjual; penjualannya telah membuat kabilah-kabilah penggembala memperoleh penghasilan, sekaligus melindungi mereka dari pertikaian memperebutkan padang gembalaan. Sebab, dengan terjualnya ternak-ternak itu, mereka dapat memulai kembali siklus penggembalaan yang baru.

Berapa banyak perusahaan perdagangan yang membelinya lalu menjualnya kembali? Berapa banyak perusahaan transportasi yang mengangkutnya? Dan berapa banyak tukang jagal yang mendapatkan pekerjaan dari penyembelihannya?

Kurban jauh lebih besar daripada sekadar hari untuk makan daging. Ia benar-benar sebuah revolusi ekonomi:

﴿لَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ مَحِلُّهَا إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ﴾

“Bagi kalian padanya (hewan hadyu) terdapat berbagai manfaat sampai waktu yang ditentukan, kemudian tempat penyembelihannya berada di sekitar Baitul ‘Atiq (Ka‘bah).” [QS. Al-Hajj: 33]

Hatim Abdul 'Azhim