Apa yang terjadi pada akal manusia hanya dalam sepuluh menit menjelajahi media sosial?
Dalam sepuluh menit saja, seseorang bisa berpindah dari video keagamaan, berita politik, adegan yang menyentuh, iklan komersial, kisah sedih, video lucu, pesan pekerjaan, foto kesuksesan, komentar penuh amarah, informasi ilmiah, lalu video yang bahkan ia sendiri tidak tahu mengapa menontonnya.
Semua itu… hanya dalam beberapa menit.
Pertanyaan utamanya bukan: apakah kontennya baik atau buruk?
Tetapi: apakah akal manusia memang diciptakan untuk menerima begitu banyak pertentangan dan gelombang emosi yang datang berturut-turut secepat itu?
Masalahnya, akal tidak sempat menjalani satu gagasan secara mendalam.
Tidak cukup bersedih…
Tidak cukup merenung…
Tidak cukup bergembira…
Karena ia terus-menerus ditarik dari satu perasaan ke perasaan lain, dan dari satu pikiran ke pikiran lain, tanpa henti.
Dalam beberapa menit singkat, seseorang bisa merasakan empati, lalu marah, lalu membandingkan diri, lalu takut, lalu tertawa, lalu cemas… seakan-akan emosi kini dikonsumsi dengan sangat cepat tanpa sempat menemukan ketenangan.
Dengan pengulangan setiap hari, dampaknya mulai muncul perlahan:
Lemahnya konsentrasi,
perhatian yang mudah terpecah,
sulit membaca secara mendalam,
cepat bosan,
dan merasa lelah secara mental meski tanpa usaha nyata.
Persoalan ini tidak berhenti pada kebiasaan menjelajah saja, tetapi meluas ke seluruh pola hidup.
Notifikasi tanpa akhir, banyak grup, berita yang terus berdatangan, dan pesan-pesan yang memotong alur pikir puluhan kali dalam sehari.
Di sinilah tampak sebuah paradoks penting:
Banyak orang yang lebih tenang, lebih produktif, dan lebih berpengaruh dalam hidupnya, belum tentu yang paling cerdas.
Namun mereka berhasil melindungi akalnya dari kebisingan yang terus-menerus.
Mereka memiliki waktu tenang,
jarak dari notifikasi,
dan kemampuan untuk sesekali melepaskan diri dari arus konten yang tak berhenti.
Mereka memahami bahwa fokus bukan sekadar keterampilan tambahan…
Tetapi gaya hidup.
Yang lebih penting lagi, kenyataan ini bukan hanya memengaruhi orang dewasa, tetapi juga satu generasi penuh yang tumbuh dengan kebiasaan berpindah cepat di antara ratusan rangsangan setiap hari.
Generasi yang lebih akrab dengan kecepatan daripada perenungan,
dan lebih terbiasa dengan distraksi daripada kedalaman.
Karena itu, menjaga akal pada hari ini bukan lagi kemewahan,
melainkan kebutuhan untuk menjaga kejernihan berpikir, keseimbangan jiwa, dan kemampuan membangun hidup yang bermakna.
Sebab akal yang tidak mendapatkan saat-saat hening…
akan perlahan kehilangan kemampuan melihat apa yang benar-benar layak diberi perhatian.
Dr. Abdul Karim Bakkar

Adanya push notification seperti nampak di gambar ini - dari kacamata Da'wah - membuat pesan dan khabar bisa langsung sampai kepada setiap orang langsung di genggaman mereka.
Inilah salah satu keunggulan Da'wah Digital, yang coba dirintis oleh Reza Ervani Institute lewat aplikasi rezandroid. Harapannya : informasi-informasi penting, mulai dari Jadwal Majelis Ilmu, Bacaan-bacaan Ilmiah, Kabar dari Negeri-negeri Islam hingga Kebutuhan Mendesak Saudara-saudara Muslim bisa dikabarkan dengan lebih cepat dan akurat.
Bantu kami sosialisasikan aplikasi rezandroid lebih jauh kepada keluarga dan rekan-rekan anda yok. Semoga Allah Ta'ala jadikan manfaat yang ada kembali kepada setiap yang terlibat berupa kebaikan dan pahala yang berlipat ganda. Aamiin
Jazaakumullahu ahsanal jazaa
rezandroid 4.2.2 sudah bisa diunduh/diupdate di Google Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.rezaervani.rezandroid
Tes setelah penambahan kanal
Teman-teman jangan lupa, di Madrasah Talaqqi Online - Reza Ervani Institute juga ada kelas baca kitab lho. Alhamdulillah salah seorang peserta dari Qatar sudah masuk Bab ke-3 Latihan Baca Kitab an Nahwu al Waadhih.
Informasi Kelas dan Pendaftaran : +62 812 132 08078 atau +62 812 8754 8752 atau email : reza@talaqqi.online
Semoga berkah dan meluas kemanfaatannya
Allahumma faqihnaa fiddiin

Test render rezaervani.com
assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulillah ana Wahyu kelas 12, sudah berhasil membuat akun github dan ana sudah buat web ana bisa di akses orang orang dan ini link web ana https://wahyurafi603-maker.github.io/kelas-hadis/. Reza Ervani
Qur'an digital
Serial Perintah LINUX #4 : clear - touch - cp
clear : untuk membersihkan layar
touch : untuk membuat file kosong atau memperbarui timestamp
cp : untuk menyalin file
Silahkan lihat video berikut ini
Serial Perintah LINUX #2 : mkdir (make directory)
Perintah ini digunakan untuk membuat direktori di tempat kita berada saat ini. Bagaimana menggunakannya bersama dengan pwd - ls - cd yang sudah kita pelajari sebelumnya ? Lihat video ini
UMUR YANG MENEMBUS ZAMAN ⏳🍃
Kutipan Hikmah:
فَهْد بنُ صَالِح العُلَيَّان:
العُمْرُ فِي مِيزَانِ الإِيمَانِ لَا يُقَاسُ بِالسِّنِينَ الَّتِي عَاشَهَا الإِنْسَانُ، بَلْ بِمِقْدَارِ مَا تَرَكَهُ مِنْ أَثَرٍ وَثَمَرَةٍ طَيِّبَةٍ
Syekh Fahd bin Shalih al-Ulayyan:
“Usia dalam timbangan iman tidaklah diukur dari jumlah tahun yang telah dilewati seseorang, melainkan dari seberapa besar jejak (pengaruh) dan buah kebaikan yang ia tinggalkan.”
(Kitab: Haka’iq wa Daqa’iq)
---
SYARAH RINGKAS 📖
Pesan ini mengingatkan kita bahwa ada perbedaan besar antara usia kronologis (angka tahun) dengan usia hakiki (keberkahan). Dalam pandangan syariat, umur bukanlah tentang seberapa lama kita bernapas di bumi, melainkan seberapa banyak manfaat yang lahir dari napas tersebut.
Banyak orang yang umurnya panjang namun berlalu sia-sia, sementara ada orang yang umurnya pendek namun namanya tetap hidup berabad-abad karena amal jariyah dan ilmunya.
POIN PENJELASAN ULAMA SALAF 📜
Imam Ibnu Atha'illah Al-Iskandari menjelaskan poin serupa dalam Al-Hikam:
"Boleh jadi umur itu pendek masanya namun luas manfaatnya. Dan boleh jadi umur itu panjang masanya namun sedikit manfaatnya."
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah juga menekankan:
“Umur manusia yang sesungguhnya adalah waktu yang ia habiskan bersama Allah. Selain dari itu, bukanlah bagian dari umurnya, melainkan hanya beban hidup yang menyerupai kehidupan binatang.”
---
APLIKASI DALAM KEHIDUPAN 🧭
1. Fokus pada Kualitas, bukan Sekadar Durasi: Jangan hanya berdoa minta umur panjang, tapi berdoalah minta umur yang penuh berkah dan amal shalih.
2. Membangun Jejak (Atsar): Mulailah menanam pohon kebaikan, baik berupa mendidik anak yang shalih, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, atau membantu sesama, agar pahalanya terus mengalir meski raga sudah di liang lahat.
3. Efisiensi Waktu: Menggunakan waktu luang untuk hal yang produktif bagi akhirat karena setiap detik adalah modal yang tak akan kembali.
---
Semoga Allah memberkahi sisa umur kita dan menjadikan kita hamba yang meninggalkan jejak kebaikan yang tak terputus. 🤲✨
♻️ Silakan dishare, semoga menjadi wasilah kebaikan.

Baru sekitar 1 (Satu) Minggu, Platform Media Sosial Mikronote diintegrasikan ke rezandroid. Sebagai platform yang baru lahir, masa-masa awal ini adalah waktu-waktu penting terkait banyak hal, termasuk warna apa yang ingin diberikan oleh platform media sosial yang kita kelola sendiri ini.
Menurut anda, bagaimana sebaiknya rezandroid - mikronote ini memposisikan dirinya ditengah-tengah media sosial yang ada saat ini ?
Tuliskan saran dan pendapat anda di komentar
Ahlan wa sahlan Ustadzah Yanik Imtiyas di Mikronote rezandroid
Ujicoba lagi Tag Reza Ervani
Mengapa banyak orang menjadi “lelah” padahal hidup mereka lebih mudah daripada sebelumnya?
Tiga puluh tahun lalu…
Manusia mengerahkan usaha yang lebih besar dan menghadapi kondisi yang lebih sulit. Namun, banyak orang justru lebih tenang dan lebih stabil dibanding hari ini.
Adapun sekarang, hampir segala sesuatu menjadi lebih cepat dan lebih mudah:
Makanan datang hanya dengan satu sentuhan tombol,
komunikasi berlangsung seketika,
informasi tersedia dalam hitungan detik…
Namun sebagai gantinya, tingkat kecemasan, stres, dan rasa kelelahan mental meningkat secara belum pernah terjadi sebelumnya.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
Masalahnya adalah manusia modern tidak lagi lelah hanya karena “kehidupan”, tetapi karena “jumlah besar hal-hal” yang melewati pikirannya setiap hari.
Dalam satu hari saja, seseorang bisa melihat:
berita perang,
video kesuksesan,
masalah orang lain,
perbandingan sosial,
pendapat yang saling bertentangan,
dan gambaran hidup yang tampak sempurna…
Semua itu bahkan sebelum ia menghabiskan secangkir kopinya.
Akal manusia tidak diciptakan untuk menghadapi arus yang terus-menerus seperti ini.
Karena itulah banyak orang merasa letih, padahal mereka sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang melelahkan secara fisik.
Yang lebih berbahaya, manusia mulai kehilangan kemampuan untuk merasakan “ketenangan batin”.
Diam terasa membosankan,
duduk tanpa ponsel terasa mengganggu,
berpikir mendalam menjadi sulit.
Bahkan hubungan antarmanusia pun berubah.
Sebagian orang mengetahui rincian hidup ratusan orang…
tetapi tidak menemukan satu pun orang yang benar-benar memahaminya dengan tulus.
Ironi yang menyakitkan adalah media sosial yang dirancang untuk mendekatkan manusia, justru membuat banyak orang merasa semakin kesepian.
Karena itu, ketenangan sejati bukan lagi terletak pada “memiliki lebih banyak”,
tetapi pada mengurangi kebisingan.
Mengurangi perbandingan.
Mengurangi distraksi.
Mengurangi konsumsi emosi harian.
Dan terkadang…
Nikmat terbesar yang dibutuhkan manusia hari ini bukanlah hidup yang sempurna,
melainkan akal yang tenang dan hati yang berdebar dalam cinta kepada Allah Ta'ala.
Dr. Abdul Karim Bakkar
Alhamdulillah. Selamat datang Ustadz Ikhsan Dwi Guspriadhi di Mikronote rezandroid. Kami tunggu tulisan-tulisannya yang penuh faidah.
Ibu anjaswati Nitria Tungga Dewi dan seluruh peserta kelas al Waqf wal Ibtida. Ada yang tahu surah apa ini ? Jawab di komentar ya

Tes tagging Reza Ervani
Ujicoba tag Reza Ervani
Memutus akses internet dari ponsel selama dua minggu saja terbukti menghasilkan lonjakan besar dalam fokus dan perhatian, setara dengan kondisi otak yang lebih muda 10 tahun, serta memperbaiki gejala depresi hingga 71%!
Dalam sebuah penelitian, akses internet pada ponsel 467 orang dihentikan selama dua minggu, dengan tetap memperbolehkan panggilan telepon, pesan teks, serta penggunaan internet melalui komputer.
Setelah hanya 14 hari, otak para peserta kembali memperoleh tingkat fokus yang setara dengan orang yang 10 tahun lebih muda. Mereka juga menunjukkan perbaikan gejala depresi hingga 71%, yang mungkin sebanding—bahkan bisa melampaui—efek obat antidepresan dalam jangka waktu yang singkat tersebut.
Aktivitas menggulir tanpa henti (scrolling) antar aplikasi membebani korteks prefrontal (bagian depan otak) dengan tugas yang melampaui kapasitasnya, sehingga menyebabkan “penuaan kognitif” (seperti mudah lupa, sulit konsentrasi, dan lambat memahami). Namun, begitu akses internet dihentikan, bagian otak ini dapat pulih dengan sangat cepat.
Dr. Abdul Karim Bakkar
🔥Berwakaf untuk Pendidikan Generasi:
BSI 7175555808
a/n Wakaf PP Alfatih Jawa Timur

NASIHAT EMAS: BERSEGERA DALAM KETAATAN ⏳
Teks Arab & Terjemahan
قَالَ الشَّيْخُ صَالِحُ الفَوْزَانُ حَفِظَهُ اللهُ:
(( عُمُرُ الإِنْسَانِ أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ، فَمَا دُمْتَ مُعَافًى فِي بَدَنِكَ، وَفِي أَمْنٍ وَاسْتِقْرَارٍ؛ فَسَارِعْ إِلَى الاشْتِغَالِ بِالطَّاعَاتِ ))
Syeikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berwasiat:
"Umur seseorang hanyalah beberapa hari saja. Selama raga Anda sehat, kondisi aman dan stabil, maka bersegeralah untuk menyibukkan diri dengan berbagai ketaatan."
[Syarh Kitab al-Kaba-ir, 565]
---
Syarah Ringkas & Penjelasan 📚
1. Hakikat Umur Manusia
Syeikh mengingatkan bahwa umur kita hanyalah kumpulan hari yang terbatas. Setiap hari yang berlalu berarti berkurangnya jatah hidup kita di dunia.
2. Memanfaatkan Dua Nikmat Utama
Beliau menekankan pentingnya kesehatan dan keamanan. Jika badan sehat dan lingkungan kondusif, tidak ada alasan lagi untuk menunda amal saleh.
3. Perintah Bersegera (Al-Mubadarah)
Jangan menunggu tua atau menunggu sakit untuk mulai beribadah. Menunda ketaatan adalah salah satu tipu daya setan yang paling berbahaya.
---
Mutiara Hikmah Ulama Salaf 💎
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata:
"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari pergi, maka pergi pulalah sebagian dirimu."
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berpesan:
"Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu."
---
Aplikasi Dalam Kehidupan 💡
✅ Segerakan Shalat tepat waktu begitu azan berkumandang.
✅ Manfaatkan Waktu Luang di sela kesibukan untuk berdzikir atau membaca Al-Qur'an.
✅ Jangan Menunggu Mapan untuk mulai bersedekah; mulailah dari yang kecil sekarang juga.
✅ Jaga Kesehatan sebagai modal utama untuk memaksimalkan ibadah kepada Allah.
---
📢 Silakan dishare! Semoga menjadi ladang pahala jariyah bagi kita semua. 🕌✨

Ibu anjaswati Nurul widayati rozalina Khoiriatul Abidah Sri Wahyuni Endang Sari Wahyuningsih Nitria Tungga Dewi Wawan Darmawan Jamaludin Mubarok Nuur Shofaa Ash Sholeh Dwiantina Hikmawati Retno Safitri Makkiyah Evi Yusfahani Djauharotul Muna
Ini mushaf indopak/bombay yang kemarin saya sebutkan. Coba kira-kira ada tanda yang terkait \'adul ayil Quran tidak di halaman Surah al Fatihah ini.
Silahkan komentar dibawah

Wahyu Rafi Firmansyah Muncul notifikasi ?
Test tagging lagi Reza Ervani
Coba Tagging Reza Ervani
coba tagging Talaqqi Online
Disaat pengguna medsos di rezandroid mulai meningkat pesat, eh fesbuk bilang saya boleh ikut cari duit di fesbuk dan instagram ... :D
Ayo bantu kami agar tetap istiqomah mengembangkan platform medsos mandiri dengan install rezandroid 4 dan mulai ramaikan : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.rezaervani.rezandroid
Semoga berlimpah berkah dan meluas kemanfaatannya.

Coba fitur tag dari rezandroid Reza Ervani
Reza Ervani Test Tagging
Sepuluh Kisah bagi Orang yang Mengira Kereta Ilmu Sudah Berlalu:
1. Abu ‘Iqāl Ghalbūn (w. 291 H):
Pada masa mudanya ia tumbuh sebagai orang yang gemar berfoya-foya dan hidup bebas. Kemudian ia beralih menekuni ilmu, memberi fatwa, dan beribadah. Ia wafat dalam keadaan sujud di belakang Maqam Ibrahim saat shalat tarawih.
[Riyāḍ an-Nufūs, 1/527]
2. Abu Ṭālib al-Karkhī (w. 585 H):
Ia dahulu sangat mahir memainkan alat musik ‘ud hingga menjadi perumpamaan dalam hal itu. Lalu ia meninggalkannya dan menekuni ilmu, hingga menjadi tokoh besar yang memberi manfaat kepada banyak orang.
[Al-‘Aqd al-Mudzhab fī Ṭabaqāt Ḥamalat al-Madzhab, hlm. 327]
3. Abu Ṭāhir al-Jābirī asy-Syāfi‘ī (w. 633 H):
Pada awal hidupnya ia seorang peminum dan pembuat khamar. Namun akhirnya keadaannya berubah hingga menjadi “Syekh Negeri Mesir”.
[Ṭabaqāt asy-Syāfi‘iyyah al-Kubrā karya as-Subkī, 8/49]
4. Ahmad al-Qinā’ī (w. 728 H):
Ia dahulu bekerja menggembala kambing. Kemudian mulai menuntut ilmu pada usia tiga puluh tahun. Dalam sehari ia mampu menghafal empat ratus baris tulisan.
[Ad-Durar al-Kāminah, 1/95]
5. Ibn al-Khaṭīb al-Quṭay‘ī (w. 739 H):
Ia pernah bekerja sebagai penulis di kantor-kantor para penguasa. Lalu ia meninggalkan pekerjaan itu dan fokus pada ilmu: membaca, menulis kitab, serta mengajar.
6. Ibrāhīm bin Aibak aṣ-Ṣafadī (w. 742 H):
Saudara dari sejarawan terkenal. Ia pernah melewati masa tenggelam dalam hiburan, lalu beralih sepenuhnya menuntut ilmu pada usia dua puluh tiga tahun.
[Al-Wāfī bil-Wafayāt, 2/216]
7. Ibn ar-Rassām aṣ-Ṣafadī (w. 749 H):
Ayahnya seorang tentara, sedangkan ia tumbuh sebagai pelukis kain. Kemudian gurunya mendorongnya menuntut ilmu. Ia pun menghafal kitab At-Ta‘jīz dan mendalami fikih.
[Ad-Durar al-Kāminah, 4/124]
8. Muḥammad bin ‘Irāq al-Qāyātī (w. 933 H):
Ia dahulu sibuk dengan berburu, catur, permainan nard, dan kepahlawanan berkuda. Lalu ia memusatkan diri pada ilmu hingga dijuluki “Syekh al-Islam”.
[Al-A‘lām karya az-Ziriklī, 6/290]
9. Makhlūf al-Balbālī (w. 941 H):
Ia mulai menuntut ilmu pada usia lanjut. Ia meninggalkan perdagangan hingga berhasil menghafal Ṣaḥīḥ al-Bukhārī secara lengkap.
[Nayl al-Ibtihāj bi Taṭrīz ad-Dībāj, hlm. 608]
10. Pemuda dari Syam:
Ia datang ke Madinah untuk menuntut ilmu dalam usia muda. Namun kematian menjemputnya dengan cepat. Imam Malik kemudian melihatnya dalam mimpi berada di derajat para pewaris nabi. Pemuda itu berkata: “Ilmulah yang telah menyampaikanku ke tempat ini.”
[Syarḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī karya Ibn Baṭṭāl, 1/134]
Dr. Asyraf Nizar Hasan
Ada seorang saleh menangis saat melepas keberangkatan para jemaah haji.
Dalam lirih hatinya, ia berkata,
"Betapa sedihnya hatiku…"
Ia bersedih karena belum dimampukan menjejakkan kaki ke Baitullah.
Lalu ia merenung dan berkata,
"Jika beginilah sedihnya hati orang yang terputus dari Baitullah, lalu bagaimanakah pula dengan orang yang terputus dari Allah?"
Ya Allah…
Janganlah Engkau haramkan kami dari menziarahi rumah-Mu, Baitullah Al-Haram.
Karuniakan kepada kami nikmat bermunajat di hadapan-Mu, serta kesempatan mengunjungi rumah-Mu tahun demi tahun, dalam keadaan sehat walafiat, penuh iman, hingga kami diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Alhamdulillah pertemuan tatap muka pertama Kelas al Waqf wal Ibtida di Masjid al Fath Villa Nusa Indah 3 sudah dimulai tadi pagi.
Allahummarhamnaa bil Quraan

Seorang suami pulang ke rumah dalam keadaan terbebani oleh perselisihan sesaat dengan istrinya. Baru saja ia membuka ponselnya untuk beristirahat sejenak, ternyata “algoritma” telah menyiapkan baginya jebakan yang sangat rapi: video-video yang berbicara tentang “pasangan narsistik”, yang lain memuji “istri ideal” yang sangat jauh dari kenyataan hidupnya, dan yang ketiga mencelanya secara pribadi serta meneguhkan rasa sakitnya. Maka kemarahannya pun semakin besar dan jurang perpecahan makin dalam.
Dalam pemandangan lain, seseorang berbincang dengan temannya di sebuah kafe tentang keinginannya mengganti mobil atau keluhannya terhadap pekerjaan tertentu. Tiba-tiba, pada sentuhan pertama ke layarnya, ia dikejutkan bahwa seluruh dunia digital seakan berubah menjadi pameran mobil atau panggung para pakar pengunduran diri dan kerja mandiri.
Pemandangan-pemandangan ini bukanlah kebetulan semata, tetapi merupakan gambaran nyata dari peran algoritma digital yang telah berubah menjadi “cermin pemantul krisis”, yang membentuk ulang kesadaran dan emosi manusia berdasarkan pemantauan cermat terhadap saat-saat kelemahan dan rapuhnya kondisi psikologis mereka.
Bahaya sesungguhnya bukan terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada kemampuannya mengurung seseorang di dalam “ruang gema” yang membesarkan perasaan sesaatnya dan mengubahnya menjadi kebenaran mutlak yang tidak menerima perdebatan.
Terjebak dalam “perangkap peneguhan”
Algoritma mulai menangkap “gelombang digital” dari kesempitan hati seseorang; baik melalui kata-kata pencarian, lamanya ia berhenti pada sebuah video tertentu, maupun melalui pemantauan percakapan sampingan lewat mikrofon yang terbuka dengan dalih “peningkatan layanan”. Di sinilah dimulai apa yang disebut “umpan balik”, ketika berbagai konten membanjiri pengguna untuk memberi makan kondisi psikologisnya saat itu.
Arus yang terus-menerus ini bekerja seperti bensin yang disiramkan ke api kecil. Perselisihan ringan berubah menjadi krisis besar, dan rasa marah semakin meningkat karena mesin itu terus meyakinkan seseorang bahwa dirinya adalah “korban”, sedangkan pihak lain adalah “yang bersalah”.
Membentuk kesadaran palsu
Algoritma tidak peduli pada kebenaran, dan tidak memahami makna “perbaikan” ataupun “pemaafan”. Tujuan satu-satunya hanyalah “mempertahankan pengguna”. Ia mengetahui bahwa manusia ketika sedang marah atau gelisah akan lebih banyak mengonsumsi konten yang menyuburkan emosinya. Karena itu, ia terus membangun dinding isolasi di sekelilingnya, hingga ia tidak melihat kecuali apa yang sejalan dengan hawa nafsu dan luka batinnya.
“Bias peneguhan” yang diciptakan platform-platform ini merampas kemampuan seseorang untuk melihat sisi positif dari kenyataannya. Ia pun membandingkan kehidupan manusiawinya yang serba kurang dengan model-model virtual buatan yang diproduksi di balik layar. Pada akhirnya, hubungan antarmanusia pun terkikis di bawah tekanan “kesempurnaan digital” yang semu.
Penjara “kata yang terdengar”
Teknologi kini telah melampaui tahap “apa yang kita tulis” menuju tahap “apa yang kita ucapkan”. Cukup dengan percakapan singkat tentang suatu hal, seseorang akan mendapati platform-platform dipenuhi hal-hal yang berkisar pada topik tersebut.
Pelanggaran privasi ini menciptakan keadaan “pengepungan pikiran”, hingga dunia terasa sangat sempit. Seseorang pun mengira bahwa “seluruh alam semesta” melihat apa yang ia lihat dan memikirkan apa yang sedang menyibukkannya.
Kebisingan digital ini merampas ketenangan batin manusia dan kemampuannya untuk merenung. Ia pun berubah menjadi roda kecil dalam mesin yang terus mendaur ulang emosinya demi kepentingan konsumtif, jauh dari kejernihan berpikir dan keseimbangan jiwa.
Akibat peradaban
Ketergantungan kepada algoritma platform dalam membentuk sikap kita terhadap orang-orang terdekat sejatinya adalah penyerahan sukarela terhadap “akal yang matang”.
Kedaulatan sejati manusia modern dimulai dari kesadarannya bahwa apa yang tampil di layar bukanlah “kebenaran”, melainkan “jalur yang dirancang” agar ia tetap emosional, tercerai-berai perhatiannya, dan terkurung dalam lingkaran minat yang sempit.
Kemandirian jiwa menuntut kemampuan untuk memutus lingkaran ini, lalu kembali kepada “realitas nyata” guna memperbaiki hubungan, jauh dari hiruk-pikuk “para provokator digital” yang mengambil keuntungan dari memperlebar jurang antarmanusia.
Dr. Abdul Karim Bakkar
Kisah Di Balik Buku “Di Bawah Panji Thufan”
Muhammad Zaki menulis buku itu di atas kertas-kertas dan buku catatan yang ia bawa di dalam kantong perlengkapan militernya. Bayangkan saja: berada di bawah tanah sedalam 40 atau 50 meter, dengan kelembapan, kurangnya oksigen, dan kegelapan total—tidak ada cahaya sama sekali. Ia menggunakan lampu kepala yang dipakai di kepala; ia menekan tombolnya untuk menyalakan dan melihat. Baterai lampu itu tentu memiliki masa pakai: bisa meredup, bisa melemah, bisa mati, dan membutuhkan ganti baterai atau pengisian.
Bayangkan adegan ini: seseorang duduk di sudut gelap, jauh di bawah tanah, 50 meter, dengan kelembapan di sekelilingnya… Nafas melemah, kelelahan, tubuh letih karena berjaga, bertempur, dan terus berada dalam kewaspadaan. Lalu datang satu jam di mana ia mendapatkan sedikit waktu istirahat, atau ketika ia tidak sedang dibebani tugas, pekerjaan, atau misi. Pada saat itulah ia mengeluarkan kertas-kertas itu dari tas perlengkapannya, membukanya, dan menuliskan apa yang Allah bukakan untuknya.
Aku membayangkan seseorang yang ingin menulis seperti apa yang tertulis dalam buku itu—siapa pun yang membaca buku itu akan memahami hal ini—hal itu membutuhkan konsentrasi yang sangat, sangat tinggi. Tulisan dalam buku itu, menurutku, jika dibaca oleh seorang ahli dalam ilmu syar’i, ia akan berkata: “Penulis ini sedang mengerahkan energi fokus tertingginya untuk mampu menyusun kalimat-kalimat seperti ini.” Susunan yang tidak sederhana, informasi yang tidak sederhana, dan pada beberapa bagian, menimbulkan pertanyaan: dari mana datangnya konsentrasi, kekuatan, kejernihan bahasa, dan keindahan susunan ini?
Semua itu adalah keberkahan—futuh dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ya, itu adalah berkah penjagaan di perbatasan, berkah orang-orang yang berjihad di jalan Allah: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Begitulah ia melakukannya: ketika ia menemukan momen istirahat, ia mengeluarkan lembaran-lembaran itu, menulis apa yang Allah bukakan untuknya, kemudian melipatnya kembali dan menyimpannya lagi di dalam tas perlengkapannya.
Baik, coba kamu bayangkan: apakah ia pernah membayangkan saat menulis kata-kata itu bahwa tulisannya akan keluar ke publik? Tidak. Aku katakan padamu: tidak. Kenapa? Karena ia membayangkan bahwa semuanya bisa saja berakhir bersamanya, lenyap bersamanya, mungkin saja hilang begitu saja.
Benar. Sebab selama pertempuran itu, banyak sekali sahabat-sahabatnya yang gugur. Dan beberapa jenazah mereka bahkan tidak bisa dijangkau karena berada di tempat terbuka atau terkena bom-bom besar.
Lalu, mengapa ia tetap menulis? “Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih, jangan hentikan amal kebaikan itu.”
Ya Allah… Jangan berhenti menanam kebaikan, meskipun kamu tidak melihat buah dari usaha itu di depan matamu. Ketahuilah, pasti ada buahnya di sisi Allah.
Ia menulis dengan keyakinan:
Jika ia hidup, Allah akan menjadikan ilmu ini keluar dan bermanfaat.
Jika ia tidak hidup, ia sudah menulis, berusaha, dan melakukan sebab-sebabnya.
Sekarang lihat sisi lain: ketika ia menulis semua itu, tulisan-tulisan itu terkumpul menjadi banyak lembaran. Ketika ia keluar dari garis depan setelah adanya gencatan senjata—gencatan senjata pertama, seingatku sekitar satu bulan… Wallahu a‘lam, aku tidak ingat persis, karena buku itu ditulis dalam beberapa tahap. Ia menulis sebagian, lalu terputus selama dua atau tiga bulan, kami tidak tahu kabarnya sama sekali, kemudian ia kembali dengan bagian baru dan memberikannya kepada pemuda yang memasukkan tulisannya ke laptop.
Aku hanya ingin memberikan gambaran umumnya. Ia memberikan tulisan-tulisan itu kepada pemuda itu dan berkata: “Masukkan ke file Word dan kirimkan kepada saudaraku, Abdurrahman, di luar negeri. Dialah yang akan mengurus dan meninjaunya.”
Semua itu terjadi sementara ia sendiri belum bisa berbicara denganku—tidak ada komunikasi sama sekali.
Kemudian, datang kesempatan setelah berhentinya perang pada sebuah gencatan senjata. Ia akhirnya bisa menghubungiku dan berkata: “Aku sudah mengirimkan kepadamu file berisi apa yang kutulis. Aku ingin engkau meninjau dan memverifikasinya… dan menerbitkannya tanpa menuliskan namaku.” Aku bertanya: “Kenapa, Abu Zaki?”
Ia menjawab: “Sudahlah, cukup tulis saja: ‘ditulis oleh Hudzaifah’, atau ‘Hudzaifah al-Ghazzi’. Aku tidak ingin itu diterbitkan dengan namaku.” Padahal ia menulis ilmu itu di tempat gelap yang sunyi dan menakutkan, dengan perjuangan besar. Namun ketika hendak diterbitkan, ia tidak ingin disebutkan namanya. Kenapa? Agar tidak dikenal… agar pahalanya tidak hilang… agar tidak ada sedikit pun niat yang mencampuri keikhlasannya atau merusaknya.
Lihatlah bagaimana ia berpikir… sejauh itu ia menjaga hatinya. Lalu ia gugur sebagai syahid. Aku sebenarnya sedang meninjau bukunya sebelum ia gugur. Kebetulan, bagian terakhir dari bukunya—sekitar 30 halaman yang membahas pertempuran-pertempuran terakhir—ia kirimkan kepadaku empat hari sebelum ia syahid.
— Dr. Abdurrahman Zaki (kakak penulis buku “Di Bawah Panji Thufan”)
🛒 Link Shopee : https://id.shp.ee/JgZx4YK
📲 Wa : 0851-7952-3933

Kisah Di Balik Buku “Di Bawah Panji Thufan”
Muhammad Zaki menulis buku itu di atas kertas-kertas dan buku catatan yang ia bawa di dalam kantong perlengkapan militernya. Bayangkan saja: berada di bawah tanah sedalam 40 atau 50 meter, dengan kelembapan, kurangnya oksigen, dan kegelapan total—tidak ada cahaya sama sekali. Ia menggunakan lampu kepala yang dipakai di kepala; ia menekan tombolnya untuk menyalakan dan melihat. Baterai lampu itu tentu memiliki masa pakai: bisa meredup, bisa melemah, bisa mati, dan membutuhkan ganti baterai atau pengisian.
Bayangkan adegan ini: seseorang duduk di sudut gelap, jauh di bawah tanah, 50 meter, dengan kelembapan di sekelilingnya… Nafas melemah, kelelahan, tubuh letih karena berjaga, bertempur, dan terus berada dalam kewaspadaan. Lalu datang satu jam di mana ia mendapatkan sedikit waktu istirahat, atau ketika ia tidak sedang dibebani tugas, pekerjaan, atau misi. Pada saat itulah ia mengeluarkan kertas-kertas itu dari tas perlengkapannya, membukanya, dan menuliskan apa yang Allah bukakan untuknya.
Aku membayangkan seseorang yang ingin menulis seperti apa yang tertulis dalam buku itu—siapa pun yang membaca buku itu akan memahami hal ini—hal itu membutuhkan konsentrasi yang sangat, sangat tinggi. Tulisan dalam buku itu, menurutku, jika dibaca oleh seorang ahli dalam ilmu syar’i, ia akan berkata: “Penulis ini sedang mengerahkan energi fokus tertingginya untuk mampu menyusun kalimat-kalimat seperti ini.” Susunan yang tidak sederhana, informasi yang tidak sederhana, dan pada beberapa bagian, menimbulkan pertanyaan: dari mana datangnya konsentrasi, kekuatan, kejernihan bahasa, dan keindahan susunan ini?
Semua itu adalah keberkahan—futuh dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ya, itu adalah berkah penjagaan di perbatasan, berkah orang-orang yang berjihad di jalan Allah: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Begitulah ia melakukannya: ketika ia menemukan momen istirahat, ia mengeluarkan lembaran-lembaran itu, menulis apa yang Allah bukakan untuknya, kemudian melipatnya kembali dan menyimpannya lagi di dalam tas perlengkapannya.
Baik, coba kamu bayangkan: apakah ia pernah membayangkan saat menulis kata-kata itu bahwa tulisannya akan keluar ke publik? Tidak. Aku katakan padamu: tidak. Kenapa? Karena ia membayangkan bahwa semuanya bisa saja berakhir bersamanya, lenyap bersamanya, mungkin saja hilang begitu saja.
Benar. Sebab selama pertempuran itu, banyak sekali sahabat-sahabatnya yang gugur. Dan beberapa jenazah mereka bahkan tidak bisa dijangkau karena berada di tempat terbuka atau terkena bom-bom besar.
Lalu, mengapa ia tetap menulis? “Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih, jangan hentikan amal kebaikan itu.”
Ya Allah… Jangan berhenti menanam kebaikan, meskipun kamu tidak melihat buah dari usaha itu di depan matamu. Ketahuilah, pasti ada buahnya di sisi Allah.
Ia menulis dengan keyakinan:
Jika ia hidup, Allah akan menjadikan ilmu ini keluar dan bermanfaat.
Jika ia tidak hidup, ia sudah menulis, berusaha, dan melakukan sebab-sebabnya.
Sekarang lihat sisi lain: ketika ia menulis semua itu, tulisan-tulisan itu terkumpul menjadi banyak lembaran. Ketika ia keluar dari garis depan setelah adanya gencatan senjata—gencatan senjata pertama, seingatku sekitar satu bulan… Wallahu a‘lam, aku tidak ingat persis, karena buku itu ditulis dalam beberapa tahap. Ia menulis sebagian, lalu terputus selama dua atau tiga bulan, kami tidak tahu kabarnya sama sekali, kemudian ia kembali dengan bagian baru dan memberikannya kepada pemuda yang memasukkan tulisannya ke laptop.
Aku hanya ingin memberikan gambaran umumnya. Ia memberikan tulisan-tulisan itu kepada pemuda itu dan berkata: “Masukkan ke file Word dan kirimkan kepada saudaraku, Abdurrahman, di luar negeri. Dialah yang akan mengurus dan meninjaunya.”
Semua itu terjadi sementara ia sendiri belum bisa berbicara denganku—tidak ada komunikasi sama sekali.
Kemudian, datang kesempatan setelah berhentinya perang pada sebuah gencatan senjata. Ia akhirnya bisa menghubungiku dan berkata: “Aku sudah mengirimkan kepadamu file berisi apa yang kutulis. Aku ingin engkau meninjau dan memverifikasinya… dan menerbitkannya tanpa menuliskan namaku.” Aku bertanya: “Kenapa, Abu Zaki?”
Ia menjawab: “Sudahlah, cukup tulis saja: ‘ditulis oleh Hudzaifah’, atau ‘Hudzaifah al-Ghazzi’. Aku tidak ingin itu diterbitkan dengan namaku.” Padahal ia menulis ilmu itu di tempat gelap yang sunyi dan menakutkan, dengan perjuangan besar. Namun ketika hendak diterbitkan, ia tidak ingin disebutkan namanya. Kenapa? Agar tidak dikenal… agar pahalanya tidak hilang… agar tidak ada sedikit pun niat yang mencampuri keikhlasannya atau merusaknya.
Lihatlah bagaimana ia berpikir… sejauh itu ia menjaga hatinya. Lalu ia gugur sebagai syahid. Aku sebenarnya sedang meninjau bukunya sebelum ia gugur. Kebetulan, bagian terakhir dari bukunya—sekitar 30 halaman yang membahas pertempuran-pertempuran terakhir—ia kirimkan kepadaku empat hari sebelum ia syahid.
— Dr. Abdurrahman Zaki (kakak penulis buku “Di Bawah Panji Thufan”)
🛒 Link Shopee : https://id.shp.ee/JgZx4YK
📲 Wa : 0851-7952-3933
Kisah Di Balik Buku “Di Bawah Panji Thufan”
Muhammad Zaki menulis buku itu di atas kertas-kertas dan buku catatan yang ia bawa di dalam kantong perlengkapan militernya. Bayangkan saja: berada di bawah tanah sedalam 40 atau 50 meter, dengan kelembapan, kurangnya oksigen, dan kegelapan total—tidak ada cahaya sama sekali. Ia menggunakan lampu kepala yang dipakai di kepala; ia menekan tombolnya untuk menyalakan dan melihat. Baterai lampu itu tentu memiliki masa pakai: bisa meredup, bisa melemah, bisa mati, dan membutuhkan ganti baterai atau pengisian.
Bayangkan adegan ini: seseorang duduk di sudut gelap, jauh di bawah tanah, 50 meter, dengan kelembapan di sekelilingnya… Nafas melemah, kelelahan, tubuh letih karena berjaga, bertempur, dan terus berada dalam kewaspadaan. Lalu datang satu jam di mana ia mendapatkan sedikit waktu istirahat, atau ketika ia tidak sedang dibebani tugas, pekerjaan, atau misi. Pada saat itulah ia mengeluarkan kertas-kertas itu dari tas perlengkapannya, membukanya, dan menuliskan apa yang Allah bukakan untuknya.
Aku membayangkan seseorang yang ingin menulis seperti apa yang tertulis dalam buku itu—siapa pun yang membaca buku itu akan memahami hal ini—hal itu membutuhkan konsentrasi yang sangat, sangat tinggi. Tulisan dalam buku itu, menurutku, jika dibaca oleh seorang ahli dalam ilmu syar’i, ia akan berkata: “Penulis ini sedang mengerahkan energi fokus tertingginya untuk mampu menyusun kalimat-kalimat seperti ini.” Susunan yang tidak sederhana, informasi yang tidak sederhana, dan pada beberapa bagian, menimbulkan pertanyaan: dari mana datangnya konsentrasi, kekuatan, kejernihan bahasa, dan keindahan susunan ini?
Semua itu adalah keberkahan—futuh dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ya, itu adalah berkah penjagaan di perbatasan, berkah orang-orang yang berjihad di jalan Allah: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Begitulah ia melakukannya: ketika ia menemukan momen istirahat, ia mengeluarkan lembaran-lembaran itu, menulis apa yang Allah bukakan untuknya, kemudian melipatnya kembali dan menyimpannya lagi di dalam tas perlengkapannya.
Baik, coba kamu bayangkan: apakah ia pernah membayangkan saat menulis kata-kata itu bahwa tulisannya akan keluar ke publik? Tidak. Aku katakan padamu: tidak. Kenapa? Karena ia membayangkan bahwa semuanya bisa saja berakhir bersamanya, lenyap bersamanya, mungkin saja hilang begitu saja.
Benar. Sebab selama pertempuran itu, banyak sekali sahabat-sahabatnya yang gugur. Dan beberapa jenazah mereka bahkan tidak bisa dijangkau karena berada di tempat terbuka atau terkena bom-bom besar.
Lalu, mengapa ia tetap menulis? “Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih, jangan hentikan amal kebaikan itu.”
Ya Allah… Jangan berhenti menanam kebaikan, meskipun kamu tidak melihat buah dari usaha itu di depan matamu. Ketahuilah, pasti ada buahnya di sisi Allah.
Ia menulis dengan keyakinan:
Jika ia hidup, Allah akan menjadikan ilmu ini keluar dan bermanfaat.
Jika ia tidak hidup, ia sudah menulis, berusaha, dan melakukan sebab-sebabnya.
Sekarang lihat sisi lain: ketika ia menulis semua itu, tulisan-tulisan itu terkumpul menjadi banyak lembaran. Ketika ia keluar dari garis depan setelah adanya gencatan senjata—gencatan senjata pertama, seingatku sekitar satu bulan… Wallahu a‘lam, aku tidak ingat persis, karena buku itu ditulis dalam beberapa tahap. Ia menulis sebagian, lalu terputus selama dua atau tiga bulan, kami tidak tahu kabarnya sama sekali, kemudian ia kembali dengan bagian baru dan memberikannya kepada pemuda yang memasukkan tulisannya ke laptop.
Aku hanya ingin memberikan gambaran umumnya. Ia memberikan tulisan-tulisan itu kepada pemuda itu dan berkata: “Masukkan ke file Word dan kirimkan kepada saudaraku, Abdurrahman, di luar negeri. Dialah yang akan mengurus dan meninjaunya.”
Semua itu terjadi sementara ia sendiri belum bisa berbicara denganku—tidak ada komunikasi sama sekali.
Kemudian, datang kesempatan setelah berhentinya perang pada sebuah gencatan senjata. Ia akhirnya bisa menghubungiku dan berkata: “Aku sudah mengirimkan kepadamu file berisi apa yang kutulis. Aku ingin engkau meninjau dan memverifikasinya… dan menerbitkannya tanpa menuliskan namaku.” Aku bertanya: “Kenapa, Abu Zaki?”
Ia menjawab: “Sudahlah, cukup tulis saja: ‘ditulis oleh Hudzaifah’, atau ‘Hudzaifah al-Ghazzi’. Aku tidak ingin itu diterbitkan dengan namaku.” Padahal ia menulis ilmu itu di tempat gelap yang sunyi dan menakutkan, dengan perjuangan besar. Namun ketika hendak diterbitkan, ia tidak ingin disebutkan namanya. Kenapa? Agar tidak dikenal… agar pahalanya tidak hilang… agar tidak ada sedikit pun niat yang mencampuri keikhlasannya atau merusaknya.
Lihatlah bagaimana ia berpikir… sejauh itu ia menjaga hatinya. Lalu ia gugur sebagai syahid. Aku sebenarnya sedang meninjau bukunya sebelum ia gugur. Kebetulan, bagian terakhir dari bukunya—sekitar 30 halaman yang membahas pertempuran-pertempuran terakhir—ia kirimkan kepadaku empat hari sebelum ia syahid.
— Dr. Abdurrahman Zaki (kakak penulis buku “Di Bawah Panji Thufan”)
🛒 Link Shopee : https://id.shp.ee/JgZx4YK
📲 Wa : 0851-7952-3933
SABAR ITU PAHIT, TAPI BERBUAH MANIS ☕🍯
Kutipan Perkataan Ulama:
قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ: «الصَّبْرُ كَاسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقُهُ، لَكِنَّ عَوَاقِبَهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ».
Terjemahan:
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sabar itu sesuai dengan namanya, rasanya pahit, tetapi hasil akhirnya lebih manis daripada madu.” (Madarij As-Salikin 2/158)
---
Syarah (Penjelasan) Ringkas:
📍 1. Makna Etimologi Sabar
Dalam bahasa Arab, kata Ash-Shabru juga merupakan nama bagi tanaman obat yang rasanya sangat pahit (sejenis gaharu/lidah buaya liar). Inilah mengapa Ibnul Qayyim menyebut sabar itu pahit sesuai namanya; karena menahan diri dari hawa nafsu dan keluh kesah memang menyesakkan jiwa.
📍 2. Kepahitan yang Sementara
Sabar terasa pahit karena kita dipaksa untuk Al-Habsu (memenjara diri). Memenjara lisan agar tidak mengeluh, memenjara hati agar tidak marah pada takdir, dan memenjara anggota badan agar tetap taat meski lelah.
📍 3. Kemanisan yang Abadi
Hasil dari kesabaran bukan hanya ketenangan di dunia, tapi pahala tanpa batas di akhirat. Kepahitan saat menahan diri akan digantikan dengan rasa syukur yang mendalam saat melihat pertolongan Allah datang.
---
Penjelasan Tambahan Ulama Salaf:
💡 Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menekankan pentingnya posisi sabar: "Kedudukan sabar dalam iman itu seperti kedudukan kepala pada tubuh. Jika kepala hilang, maka tubuh tidak akan ada gunanya."
💡 Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Kami menemukan kehidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran." Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan hakiki hanya bisa diraih oleh mereka yang lulus melewati ujian kepahitan.
---
Aplikasi dalam Kehidupan:
✅ Dalam Ketaatan: Sabar saat bangun malam atau saat cuaca panas menjalankan puasa. Awalnya berat, akhirnya nikmat.
✅ Dalam Menjauhi Maksiat: Menahan mata dan hati dari godaan haram memang "pahit" bagi nafsu, tapi berbuah manis berupa cahaya iman di hati.
✅ Dalam Musibah: Tidak terburu-buru menyalahkan keadaan. Sadarilah bahwa obat yang paling mujarab seringkali rasanya paling pahit.
Ingatlah, tidak ada jalan pintas menuju kemuliaan kecuali melalui jembatan kesabaran. 🪵🔥

Jangan putus asa pintu ampunan selalu terbuka
Mintalah kepada Allah keselamatan dan 'afiat!
Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wan Nihāyah, Ibnu Asakir dalam Tārīkh Dimasyq, dan Ibnu al-Jauzi dalam Shifat ash-Shafwah:
Bahwa Abdul Wahhab bin Sa'id berkata: Al-Hajjaj bin Yusuf pernah berhaji, lalu singgah di antara Mekah dan Madinah. Ia meminta dihidangkan makan siang, lalu berkata kepada penjaganya:
“Lihatlah siapa yang bisa makan bersamaku, dan aku ingin menanyakan beberapa hal kepadanya.”
Penjaga itu memandang ke arah gunung, lalu melihat seorang Arab Badui. Ia pun mendatanginya dan berkata:
“Datanglah menemui sang amir.”
Maka orang itu datang. Al-Hajjaj bin Yusuf berkata kepadanya:
“Cucilah tanganmu dan makan sianglah bersamaku.”
Orang Badui itu menjawab:
“Sesungguhnya aku telah dipanggil oleh Dzat yang lebih baik darimu, lalu aku memenuhi panggilan-Nya.”
Ia bertanya:
“Siapa itu?”
Ia menjawab:
“Allah Ta'ala memanggilku untuk puasa sunnah, maka aku memenuhinya.”
Ia berkata:
“Di tengah panas yang sangat terik ini?”
Ia menjawab:
“Aku berpuasa untuk menghadapi hari yang panasnya jauh lebih dahsyat daripada hari ini.”
Ia berkata:
“Berbukalah hari ini, lalu berpuasalah besok.”
Ia menjawab:
“Jika engkau menjamin aku masih hidup sampai besok.”
Ia berkata:
“Itu bukan kuasaku.”
Ia menjawab:
“Lalu bagaimana engkau memintaku menukar sesuatu yang tunai dengan sesuatu yang belum pasti, sedangkan engkau sendiri tidak mampu menjaminnya?”
Ia berkata:
“Ini makanan yang lezat.”
Orang Badui itu menjawab:
“Bukan engkau dan bukan pula juru masak yang membuatnya lezat, tetapi yang menjadikannya lezat adalah 'afiat.”
Renungkanlah dalam-dalam: tetapi yang menjadikannya lezat adalah 'afiat.
Nilai suatu nikmat terletak pada kemampuan untuk menikmatinya, bukan sekadar memilikinya.
Betapa banyak orang yang memiliki kenikmatan, dipandang orang lain dengan rasa kagum atau iri, padahal sejatinya ia adalah orang yang terhalang dari menikmatinya.
Banyak orang kaya memiliki harta yang sanggup membeli makanan untuk satu kota, namun karena penyakit yang menimpanya, ia tidak mampu memakan apa yang sanggup ia beli.
Aku pernah mendengar ceramah Muhammad Nabulsi, beliau menceritakan tentang seorang kaya yang dikenalnya. Orang itu tidak mampu makan selain sayuran rebus. Jika ia makan selain itu, ia bisa meninggal.
Dunia tidak terasa nikmat bagi orang semacam itu, walaupun semuanya berada di tangannya, karena ia kehilangan 'afiat pada tubuhnya.
Betapa banyak pula istana megah yang dipandang orang dari kejauhan, lalu mereka berharap menjadi penghuninya, padahal sesungguhnya ia hanyalah kuburan tempat orang-orang hidup dikuburkan.
Di dalamnya ada istri yang diabaikan seakan hanya perabot rumah, anak-anak yang dilalaikan karena ayah mereka sibuk dengan perdagangan dan dunia.
Kehidupan yang penuh kemewahan lahiriah, tetapi keras dalam kenyataan.
Seperti jasad wanita cantik yang dilihat orang lalu disangka sedang tidur sehingga diinginkan, namun ketika diketahui bahwa ia telah mati, semua orang berpaling darinya.
Itulah rumah yang telah dicabut darinya 'afiat berupa kasih sayang dan rahmat.
Maka jika kalian meminta sesuatu kepada Allah Ta'ala, mintalah agar Dia memberikannya bersama 'afiat. Karena jika 'afiat dicabut dari sesuatu, maka hilanglah nilainya.
— Adham Syarqawi
Ibn al-Jawzi, semoga Allah merahmatinya, berkata:
Sungguh disayangkan nasib seorang hamba yang semakin banyak dosanya, semakin sedikit permohonan ampunannya; dan semakin dekat ia dengan kuburan, semakin kuat rasa malasnya.
[Al-Tabsir (55/1)].

"Di Balik Keffiyeh Abu Ubaidah" mengajak pembaca menyingkap sosok yang selama ini dikenal dunia hanya melalui suara tegas, pernyataan militer, dan wajah yang tersembunyi di balik keffiyeh. Di tengah reruntuhan Gaza, namanya menjelma simbol keberanian, keteguhan, dan harapan bagi jutaan manusia yang merindukan kebebasan Palestina. Ia bukan sekadar juru bicara perlawanan, tetapi ikon yang menyalakan semangat dan menjaga nyala keyakinan di tengah gelapnya penjajahan.
Namun, di balik simbol itu, ada sisi manusiawi yang jarang tersentuh sorotan. Abu Ubaidah adalah seorang anak, saudara, suami, dan ayah—manusia biasa yang memikul beban luar biasa. Di antara suara yang menggema ke seluruh dunia dan sunyi rumah yang sederhana, tersimpan kisah tentang pengorbanan, cinta, kesetiaan, dan harga yang harus dibayar demi sebuah perjuangan.
Buku ini menghadirkan potret yang lebih utuh: tentang keberanian yang lahir dari iman, kepemimpinan yang tumbuh dari luka, dan sosok yang menjadikan hidupnya sebagai jalan pengabdian bagi agama, tanah air, dan kemerdekaan Al-Aqsha. Buku ini bukan hanya kisah seorang tokoh, tetapi cermin tentang makna perjuangan, kehormatan, dan harapan yang tak pernah padam.
📚 Dibuka PO Buku "Di Balik Keffiyeh Abu Ubaidah"
💰 Harga PO: Rp70.000 (sampai 31 Mei 2026)
💰 Harga Normal: Rp90.000
📖 Spesifikasi Buku: Bookpaper, Soft Cover, 164 Halaman (Ukuran A5)
Silakan lakukan pemesanan sebelum masa PO berakhir. Barakallahu fiikum.
📲 Info Buku: 0851-7952-3933
