Kisah Di Balik Buku “Di Bawah Panji Thufan”
Muhammad Zaki menulis buku itu di atas kertas-kertas dan buku catatan yang ia bawa di dalam kantong perlengkapan militernya. Bayangkan saja: berada di bawah tanah sedalam 40 atau 50 meter, dengan kelembapan, kurangnya oksigen, dan kegelapan total—tidak ada cahaya sama sekali. Ia menggunakan lampu kepala yang dipakai di kepala; ia menekan tombolnya untuk menyalakan dan melihat. Baterai lampu itu tentu memiliki masa pakai: bisa meredup, bisa melemah, bisa mati, dan membutuhkan ganti baterai atau pengisian.
Bayangkan adegan ini: seseorang duduk di sudut gelap, jauh di bawah tanah, 50 meter, dengan kelembapan di sekelilingnya… Nafas melemah, kelelahan, tubuh letih karena berjaga, bertempur, dan terus berada dalam kewaspadaan. Lalu datang satu jam di mana ia mendapatkan sedikit waktu istirahat, atau ketika ia tidak sedang dibebani tugas, pekerjaan, atau misi. Pada saat itulah ia mengeluarkan kertas-kertas itu dari tas perlengkapannya, membukanya, dan menuliskan apa yang Allah bukakan untuknya.
Aku membayangkan seseorang yang ingin menulis seperti apa yang tertulis dalam buku itu—siapa pun yang membaca buku itu akan memahami hal ini—hal itu membutuhkan konsentrasi yang sangat, sangat tinggi. Tulisan dalam buku itu, menurutku, jika dibaca oleh seorang ahli dalam ilmu syar’i, ia akan berkata: “Penulis ini sedang mengerahkan energi fokus tertingginya untuk mampu menyusun kalimat-kalimat seperti ini.” Susunan yang tidak sederhana, informasi yang tidak sederhana, dan pada beberapa bagian, menimbulkan pertanyaan: dari mana datangnya konsentrasi, kekuatan, kejernihan bahasa, dan keindahan susunan ini?
Semua itu adalah keberkahan—futuh dari Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ya, itu adalah berkah penjagaan di perbatasan, berkah orang-orang yang berjihad di jalan Allah: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Begitulah ia melakukannya: ketika ia menemukan momen istirahat, ia mengeluarkan lembaran-lembaran itu, menulis apa yang Allah bukakan untuknya, kemudian melipatnya kembali dan menyimpannya lagi di dalam tas perlengkapannya.
Baik, coba kamu bayangkan: apakah ia pernah membayangkan saat menulis kata-kata itu bahwa tulisannya akan keluar ke publik? Tidak. Aku katakan padamu: tidak. Kenapa? Karena ia membayangkan bahwa semuanya bisa saja berakhir bersamanya, lenyap bersamanya, mungkin saja hilang begitu saja.
Benar. Sebab selama pertempuran itu, banyak sekali sahabat-sahabatnya yang gugur. Dan beberapa jenazah mereka bahkan tidak bisa dijangkau karena berada di tempat terbuka atau terkena bom-bom besar.
Lalu, mengapa ia tetap menulis? “Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian ada benih, jangan hentikan amal kebaikan itu.”
Ya Allah… Jangan berhenti menanam kebaikan, meskipun kamu tidak melihat buah dari usaha itu di depan matamu. Ketahuilah, pasti ada buahnya di sisi Allah.
Ia menulis dengan keyakinan:
Jika ia hidup, Allah akan menjadikan ilmu ini keluar dan bermanfaat.
Jika ia tidak hidup, ia sudah menulis, berusaha, dan melakukan sebab-sebabnya.
Sekarang lihat sisi lain: ketika ia menulis semua itu, tulisan-tulisan itu terkumpul menjadi banyak lembaran. Ketika ia keluar dari garis depan setelah adanya gencatan senjata—gencatan senjata pertama, seingatku sekitar satu bulan… Wallahu a‘lam, aku tidak ingat persis, karena buku itu ditulis dalam beberapa tahap. Ia menulis sebagian, lalu terputus selama dua atau tiga bulan, kami tidak tahu kabarnya sama sekali, kemudian ia kembali dengan bagian baru dan memberikannya kepada pemuda yang memasukkan tulisannya ke laptop.
Aku hanya ingin memberikan gambaran umumnya. Ia memberikan tulisan-tulisan itu kepada pemuda itu dan berkata: “Masukkan ke file Word dan kirimkan kepada saudaraku, Abdurrahman, di luar negeri. Dialah yang akan mengurus dan meninjaunya.”
Semua itu terjadi sementara ia sendiri belum bisa berbicara denganku—tidak ada komunikasi sama sekali.
Kemudian, datang kesempatan setelah berhentinya perang pada sebuah gencatan senjata. Ia akhirnya bisa menghubungiku dan berkata: “Aku sudah mengirimkan kepadamu file berisi apa yang kutulis. Aku ingin engkau meninjau dan memverifikasinya… dan menerbitkannya tanpa menuliskan namaku.” Aku bertanya: “Kenapa, Abu Zaki?”
Ia menjawab: “Sudahlah, cukup tulis saja: ‘ditulis oleh Hudzaifah’, atau ‘Hudzaifah al-Ghazzi’. Aku tidak ingin itu diterbitkan dengan namaku.” Padahal ia menulis ilmu itu di tempat gelap yang sunyi dan menakutkan, dengan perjuangan besar. Namun ketika hendak diterbitkan, ia tidak ingin disebutkan namanya. Kenapa? Agar tidak dikenal… agar pahalanya tidak hilang… agar tidak ada sedikit pun niat yang mencampuri keikhlasannya atau merusaknya.
Lihatlah bagaimana ia berpikir… sejauh itu ia menjaga hatinya. Lalu ia gugur sebagai syahid. Aku sebenarnya sedang meninjau bukunya sebelum ia gugur. Kebetulan, bagian terakhir dari bukunya—sekitar 30 halaman yang membahas pertempuran-pertempuran terakhir—ia kirimkan kepadaku empat hari sebelum ia syahid.
— Dr. Abdurrahman Zaki (kakak penulis buku “Di Bawah Panji Thufan”)
🛒 Link Shopee : https://id.shp.ee/JgZx4YK
📲 Wa : 0851-7952-3933
Post Image