User Avatar
Maman Solihin
5 Mei 2026 23.31.15 WIB ·Kategori: Pendidikan
Mintalah kepada Allah keselamatan dan 'afiat!
Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidāyah wan Nihāyah, Ibnu Asakir dalam Tārīkh Dimasyq, dan Ibnu al-Jauzi dalam Shifat ash-Shafwah:
Bahwa Abdul Wahhab bin Sa'id berkata: Al-Hajjaj bin Yusuf pernah berhaji, lalu singgah di antara Mekah dan Madinah. Ia meminta dihidangkan makan siang, lalu berkata kepada penjaganya:
“Lihatlah siapa yang bisa makan bersamaku, dan aku ingin menanyakan beberapa hal kepadanya.”
Penjaga itu memandang ke arah gunung, lalu melihat seorang Arab Badui. Ia pun mendatanginya dan berkata:
“Datanglah menemui sang amir.”
Maka orang itu datang. Al-Hajjaj bin Yusuf berkata kepadanya:
“Cucilah tanganmu dan makan sianglah bersamaku.”
Orang Badui itu menjawab:
“Sesungguhnya aku telah dipanggil oleh Dzat yang lebih baik darimu, lalu aku memenuhi panggilan-Nya.”
Ia bertanya:
“Siapa itu?”
Ia menjawab:
“Allah Ta'ala memanggilku untuk puasa sunnah, maka aku memenuhinya.”
Ia berkata:
“Di tengah panas yang sangat terik ini?”
Ia menjawab:
“Aku berpuasa untuk menghadapi hari yang panasnya jauh lebih dahsyat daripada hari ini.”
Ia berkata:
“Berbukalah hari ini, lalu berpuasalah besok.”
Ia menjawab:
“Jika engkau menjamin aku masih hidup sampai besok.”
Ia berkata:
“Itu bukan kuasaku.”
Ia menjawab:
“Lalu bagaimana engkau memintaku menukar sesuatu yang tunai dengan sesuatu yang belum pasti, sedangkan engkau sendiri tidak mampu menjaminnya?”
Ia berkata:
“Ini makanan yang lezat.”
Orang Badui itu menjawab:
“Bukan engkau dan bukan pula juru masak yang membuatnya lezat, tetapi yang menjadikannya lezat adalah 'afiat.”
Renungkanlah dalam-dalam: tetapi yang menjadikannya lezat adalah 'afiat.
Nilai suatu nikmat terletak pada kemampuan untuk menikmatinya, bukan sekadar memilikinya.
Betapa banyak orang yang memiliki kenikmatan, dipandang orang lain dengan rasa kagum atau iri, padahal sejatinya ia adalah orang yang terhalang dari menikmatinya.
Banyak orang kaya memiliki harta yang sanggup membeli makanan untuk satu kota, namun karena penyakit yang menimpanya, ia tidak mampu memakan apa yang sanggup ia beli.
Aku pernah mendengar ceramah Muhammad Nabulsi, beliau menceritakan tentang seorang kaya yang dikenalnya. Orang itu tidak mampu makan selain sayuran rebus. Jika ia makan selain itu, ia bisa meninggal.
Dunia tidak terasa nikmat bagi orang semacam itu, walaupun semuanya berada di tangannya, karena ia kehilangan 'afiat pada tubuhnya.
Betapa banyak pula istana megah yang dipandang orang dari kejauhan, lalu mereka berharap menjadi penghuninya, padahal sesungguhnya ia hanyalah kuburan tempat orang-orang hidup dikuburkan.
Di dalamnya ada istri yang diabaikan seakan hanya perabot rumah, anak-anak yang dilalaikan karena ayah mereka sibuk dengan perdagangan dan dunia.
Kehidupan yang penuh kemewahan lahiriah, tetapi keras dalam kenyataan.
Seperti jasad wanita cantik yang dilihat orang lalu disangka sedang tidur sehingga diinginkan, namun ketika diketahui bahwa ia telah mati, semua orang berpaling darinya.
Itulah rumah yang telah dicabut darinya 'afiat berupa kasih sayang dan rahmat.
Maka jika kalian meminta sesuatu kepada Allah Ta'ala, mintalah agar Dia memberikannya bersama 'afiat. Karena jika 'afiat dicabut dari sesuatu, maka hilanglah nilainya.
— Adham Syarqawi