User Avatar

Febry Yana

@febry-yana

4 Mengikuti
1 Pengikut
11 Posting
User Avatar
Febry Yana
4 Mei 2026 15.24.43 WIB ·Kategori: Tidak Ada Kategori

User Avatar
Febry Yana
4 Mei 2026 15.06.07 WIB ·Kategori: Tidak Ada Kategori

User Avatar
Febry Yana
4 Mei 2026 09.43.50 WIB ·Kategori: Tidak Ada Kategori

Jangan mengaku cinta jika enggan berkorban. Karena pengorbanan adalah bahasa paling jujur dari seorang hamba yang mencintai Rabb-nya.

Dan apapun yang kita korbankan karena Allah, yakinilah pasti akan diganti-Nya dengan yang lebih baik

​وَمَآ أَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُۥ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

"...Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Saba': 39)

​مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ

​"Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya."(HR Ahmad)

-----

Bismillah

Semoga Allah mudahkan kita berkorban di jalan Allah, salah satunya momentum idul adha tahun ini, di KAF Beji.

\"Hewan Terbaik Untuk Allah Yang Maha Baik\"

Setelah semua kisah agung itu.

Muncullah satu pertanyaan kecil yang ternyata diperdebatkan para ulama selama berabad-abad:

Hewan kurban apa yang paling utama?

Sebagian ulama berkata: Unta lebih utama. Dagingnya lebih banyak, manfaatnya lebih luas, dan bisa mencukupi lebih banyak orang.

Sapi menyusul di urutan berikutnya. Tapi sebagian ulama lain berkata: Kibas yang paling utama.

Alasannya? Sederhana namun kuat.

Ketika Allah ingin menebus Ismail, Allah tidak mengirimkan unta. Tidak mengirimkan sapi. Allah mengirimkan kibas.

Seandainya ada yang lebih utama, tentu Allah memilihnya.

Dan Nabi ﷺ sendiri berkurban dengan dua ekor kibas bertanduk dengan tangannya yang mulia.

Bahkan, dan ini yang membuat hati merinding, Ketika Nabi ﷺ menyembelih unta di hari Haji, beliau menyembelih 63 ekor dengan tangannya sendiri. Dan unta-unta itu berlomba-lomba menghampiri beliau. Masing-masing menjulurkan lehernya, seolah memohon untuk disembelih oleh tangan mulia Rasulullah ﷺ.

Padahal biasanya? Hewan lari sekencang-kencangnya dari orang yang hendak menyembelihnya.

Itulah mukjizat cinta.

Dan Imam Malik menegaskan: kibas jantan yang gemuk adalah sebaik-baik hewan kurban mengikuti jejak tebusan Ismail yang agung itu.

Kurban bukan soal seberapa mahal hewan yang kita sembelih. Kurban adalah soal seberapa ikhlas hati yang kita persembahkan.

Ibrahim membuktikannya di atas bukit. Ismail membuktikannya dengan pipinya yang menyentuh tanah. Dan kita, membuktikannya setiap tahun, dengan meneruskan warisan cinta kepada Allah yang tak pernah padam.

-----

Hadirkan Kurban Terbaik untuk tempat yang baik

👉🏻 s.id/semarakdzulhijjah

Post Image

User Avatar
Febry Yana
3 Mei 2026 08.45.46 WIB ·Kategori: al Quran

Kematian itu sunyi. Ia datang tanpa suara, tanpa peringatan, lalu memisahkan kita dari semua yang kita cintai.

Yang tertinggal bukan rencana, bukan harapan dunia, hanya amal yang pernah kita lakukan atau penyesalan yang tak sempat diperbaiki.

Dan di saat itu, kita hanya berharap: “Seandainya aku lebih dekat kepada Allah.” 🥺

> Saluran `Coretan Dakwah

User Avatar
Febry Yana
2 Mei 2026 03.09.06 WIB ·Kategori: Tidak Ada Kategori

{ وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦ يَٰقَوۡمِ إِنَّكُمۡ ظَلَمۡتُمۡ أَنفُسَكُم بِٱتِّخَاذِكُمُ ٱلۡعِجۡلَ فَتُوبُوٓاْ إِلَىٰ بَارِئِكُمۡ فَٱقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ عِندَ بَارِئِكُمۡ فَتَابَ عَلَيۡكُمۡۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ }

> Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertaubatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu.Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan menerima taubatmu. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. [Surah Al-Baqarah: 54]

Ketika Nabi Musa memanggil kaumnya dengan penuh kepedulian, ia mengingatkan bahwa kesyirikan bukan sekadar kesalahan biasa, melainkan kezaliman terhadap diri sendiri, merusak fitrah, dan memutus hubungan dengan Sang Pencipta. Sebagai bentuk taubat yang sangat berat, mereka diperintahkan untuk “membunuh diri mereka”, yang dipahami oleh para ulama sebagai hukuman kolektif di antara mereka, bukan tindakan bunuh diri secara bebas.

Perintah itu tampak keras, tetapi justru menunjukkan betapa seriusnya dosa syirik dan betapa mahalnya harga kembali kepada Allah. Di balik beratnya perintah tersebut, Allah tetap menutup ayat dengan sifat-Nya: At-Tawwab dan Ar-Rahim (Maha Menerima Taubat, Maha Penyayang). Seakan memberi isyarat bahwa bahkan setelah kesalahan sebesar itu, pintu kembali masih terbuka.

Dalam syariat Nabi Muhammad, Allah meringankan jalan taubat. Tidak ada lagi tuntutan pengorbanan fisik seperti itu. Cukup dengan penyesalan yang tulus, meninggalkan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Ini bukan tanda syariat menjadi ringan tanpa makna, tetapi justru bukti luasnya rahmat Allah kepada umat ini.

Ironisnya, manusia yang diberi kemudahan justru sering menganggap syariat ini berat dan keras. Padahal jika menoleh ke umat terdahulu, akan tampak bahwa kita sedang berjalan di jalan yang jauh lebih lapang, hanya saja hati yang lalai sering merasa sempit.

Ikuti saluran Tadabbur Channel di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaxihM32Jl8KxTSGpM3C

User Avatar
Febry Yana
2 Mei 2026 02.57.07 WIB ·Kategori: Pendidikan

Tidak ada perjalanan di dunia ini yang menyerupai perjalanan seorang ibu bersama anak-anaknya; ia adalah satu-satunya perjalanan yang dimulai dengan (darah), berlanjut dengan (air mata), dan disempurnakan dengan (doa). Ia adalah kisah tentang pemberian yang tak mengenal hitungan, kesabaran yang tak berbatas, dan cinta yang merupakan gambaran paling dekat dari rahmat Ilahi di muka bumi.

1. Permulaan: ketika detak itu satu

Kisah ini bermula ketika dua tubuh menyatu dalam satu tubuh; selama sembilan bulan, seorang ibu berbagi makanan, udara, bahkan detak jantungnya dengan janinnya. Kelemahan yang digambarkan Al-Qur’an sebagai “lemah di atas lemah” bukan sekadar keletihan fisik, melainkan proses “melebur”-nya satu diri demi menghidupkan diri yang lain. Di sanalah seorang perempuan belajar bahwa puncak kebahagiaannya justru terletak pada rasa sakit yang memberi kehidupan bagi selain dirinya.

2. Masa buaian: terjaganya mata demi menjaga mimpi

Kemudian datanglah persalinan, dan lahirlah “segumpal daging” yang merangkum seluruh dunia dalam satu tangisan. Di sinilah dimulai tahun-tahun begadang yang seakan tak berujung; sang ibu berubah menjadi penjaga yang selalu siaga, tak terpejam matanya. Betapa banyak malam ketika penyakit bersarang di tubuh si kecil, sementara sang ibu berdiri di “mihrab kesabaran”, mengukur suhu dengan dahinya dan memohon kepada Tuhannya dengan air mata. Sentuhan ibu di kepala anak yang sakit bukan sekadar kasih sayang, melainkan penawar yang menenangkan jiwa si kecil sebelum jasadnya.

3. Langkah pertumbuhan: pembentuk manusia

Burung-burung kecil pun mulai tumbuh… dan ibu memulai perjalanan “membangun jiwa”; dialah yang menanamkan kata pertama, ciuman pertama, dan nilai pertama. Ibu tidak sekadar membesarkan tubuh, tetapi membentuk hati nurani. Ia tersenyum saat mereka berbuat salah untuk mengajari bangkit, dan menangis dalam kesendiriannya saat mereka bersikap keras untuk mengajari arti memaafkan. Ia adalah pahlawan tanpa nama di balik setiap keberhasilan, dan pelabuhan aman tempat anak-anak kembali ketika badai kehidupan menerpa.

4. Kedewasaan: saat sayap mulai mengepak

Akhirnya tiba hari ketika anak-anak tumbuh kuat dan ingin terbang jauh membangun sarang mereka sendiri. Di sinilah tampak pengorbanan terbesar seorang ibu; dialah yang membuka sangkar hatinya untuk melepaskan mereka, dan melambaikan tangan perpisahan sementara hatinya teriris rindu. Ia tetap berdiri di jendela penantian, tak meminta apa pun selain kabar bahwa mereka baik-baik saja, dan lisannya tak henti berdoa: “Aku titipkan kalian kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan titipan-Nya.”

Sesungguhnya surga yang diletakkan di bawah telapak kaki ibu bukan sekadar balasan, melainkan penghargaan atas perjalanan panjang yang penuh kelelahan tanpa mengharap imbalan. Ibu adalah “lilin” yang membakar dirinya untuk menerangi jalan masa depan anak-anaknya, dan “pohon” yang tetap menaungi meski terik semakin menyengat.

Maka manfaatkanlah kesempatan untuk berbakti kepada mereka sebelum terlambat, dan ketahuilah bahwa satu doa dari ibu yang ridha bisa membuka pintu-pintu langit yang tak mampu dibuka oleh segala usaha dan upaya kalian.

— Dr. Abdul Karim Bakkar

Dzulqa’dah datang…

Dzulhijjah menyusul…

Muharram menutup…

Tiga bulan berturut-turut.

ini bukan kebetulan.

Tapi jalan yang Allah siapkan untuk menuju taat.

Jangan rusak jalan ini dengan maksiat.

------

Siapkan Kurban Terbaik mu,

Dapatkan Promo dan Keberkahan sampai dengan 500ribu.

klik 👉 s.id/WARpromokurban

Post Image

User Avatar
Febry Yana
1 Mei 2026 02.19.55 WIB ·Kategori: Pendidikan

Tugas menjadi Ibu itu berat dan tidak mudah..

karenanya Allah memuliakan seorang ibu..

\"ibumu.. ibumu.. ibumu.. barulah ayahmu..\"

mempersiapkan diri menjadi ibu, sama dengan menyiapkan satu generasi.

rusaknya seorang ibu, maka akan merusak satu generasi.

maka seorang ibu, wajib baginya untuk terus mengilmui diri.

karena peran ini bukan sebuah perlombaan di pandangan manusia. namun bagaimana kita bisa mendapatkan ridho-Nya

Post Image

User Avatar
Febry Yana
1 Mei 2026 02.03.34 WIB ·Kategori: Pendidikan

Imam Rajab Al-Hambali ialah seorang ulama besar yang memiliki keutamaan ilmu, zuhud, wara, dan dicintai oleh masyarakatnya karna nasihat-nasihatnya. dibalik kebesaran beliau sebagai seorang ulama ternyata ada sesosok ayah dan kakeknya yang telah memberi keteladanan di bidang ilmu. Ayah dan Kakeknya adalah seorang yang faqih agama juga saleh.

Inspirasi untuk kita bersama. untuk melahirkan generasi ahli ilmu, bisa dimulai dari kita orangtuanya. Belum terlambat, kita masih memiliki waktu untuk terus belajar.

Post Image