User Avatar

Di Rumah NABI ﷺ!

Abu Bakar datang meminta izin untuk menemui Rasulullah ﷺ. Ia mendapati orang-orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, namun tidak seorang pun diizinkan masuk. Lalu Abu Bakar diizinkan masuk, maka ia pun masuk.

Kemudian Umar datang dan meminta izin, lalu diizinkan masuk. Ia mendapati Nabi ﷺ sedang duduk, dikelilingi oleh istri-istrinya, dalam keadaan murung dan diam.

Umar berkata dalam hati, “Aku akan mengatakan sesuatu yang bisa membuat Nabi ﷺ tertawa.”

Lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau melihat putri Kharijah meminta nafkah kepadaku, maka aku pun berdiri dan memukul lehernya!”

Maka Rasulullah ﷺ tertawa dan bersabda:

“Lihatlah mereka di sekelilingku ini, semuanya meminta nafkah kepadaku!”

Maka Abu Bakar berdiri menuju Aisyah dan memukul lehernya dengan pukulan ringan sebagai teguran. Umar pun berdiri menuju Hafshah dan melakukan hal yang sama. Keduanya berkata:

“Kalian meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang beliau tidak memilikinya?!”

Mereka pun berkata:

“Demi Allah, kami tidak akan pernah lagi meminta sesuatu kepada Rasulullah ﷺ yang beliau tidak memilikinya!”

Setelah itu Nabi ﷺ menjauhi mereka selama sebulan, atau dua puluh sembilan hari. Kemudian turunlah ayat:

> “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan kuberikan kepada kalian mut‘ah dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik. Tetapi jika kalian menginginkan Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa saja di antara kalian yang berbuat baik.”

> (QS. Al-Ahzab: 28–29)

Maka Nabi ﷺ memulai dengan Aisyah dan bersabda:

“Wahai Aisyah, aku ingin menyampaikan suatu perkara kepadamu. Aku ingin engkau tidak tergesa-gesa hingga engkau bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.”

Aisyah berkata:

“Apakah itu wahai Rasulullah?”

Lalu beliau membacakan ayat tersebut kepadanya.

Aisyah berkata:

“Apakah tentang dirimu, wahai Rasulullah, aku perlu meminta pendapat kedua orang tuaku?! Bahkan aku memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Namun aku memintamu agar tidak memberitahukan kepada istri-istrimu yang lain tentang apa yang aku katakan.”

Beliau bersabda:

“Tidaklah salah seorang dari mereka bertanya kepadaku kecuali aku akan memberitahukannya. Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang mempersulit dan keras, tetapi Dia mengutusku sebagai pengajar yang memudahkan.”

#Pelajaran Pertama

Nabi ﷺ tidak selalu dalam keadaan miskin. Namun beliau adalah manusia paling dermawan, baik ketika miskin maupun kaya. Kedermawanan beliau sampai pada tingkat beliau menginfakkan sebagian besar hartanya untuk manusia, dan tidak menyisakan bagi dirinya serta keluarganya kecuali sedikit saja.

Ibu-ibu kaum mukminin pun merasakan sempitnya kehidupan. Harta adalah roda kehidupan bagi semua manusia, baik mukmin maupun durhaka. Tidak ada seorang pun kecuali menyukai kehidupan yang lapang, dan itu bukanlah cela ataupun kekurangan.

Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang memiliki iman dan hati seperti Nabi ﷺ. Maka istri-istri beliau tidak mampu menanggung apa yang beliau sanggupi. Mereka meminta agar beliau memperbanyak nafkah untuk mereka.

Sedangkan beliau ingin agar keluarganya memiliki keyakinan kepada Allah dan semangat bersedekah di jalan-Nya sebagaimana yang beliau miliki. Inilah yang membuat beliau bersedih. Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, seluruh hidup beliau adalah untuk Allah.

#Pelajaran Kedua

Perselisihan rumah tangga terjadi di semua rumah. Kita adalah manusia: memiliki tabiat, keinginan, suasana hati, dan emosi.

Kehidupan, betapa pun bahagianya, tentu akan diselingi beberapa saat kesempitan dan kegelisahan. Kita tidak menyeru kepada rumah tangga yang tidak memiliki masalah. Kalau ada rumah yang bebas darinya, tentu rumah Nabi ﷺ dan para sahabatlah yang paling pantas, karena merekalah manusia yang paling tinggi iman dan akhlaknya.

Namun yang kita serukan adalah: hendaknya kita berselisih dengan cara yang mulia. Jangan melampaui batas, jangan berlaku kasar, jangan merendahkan martabat, dan tetap menjaga kehormatan satu sama lain.

#Pelajaran Ketiga

Kehidupan itu berat bagi semua orang, baik suami maupun istri. Yang bisa kita lakukan hanyalah saling meringankan perjalanan.

Sesekali aku memikul bebanmu, dan sesekali engkau memikul bebanku. Engkau memahami perjuanganku mencari nafkah, dan aku memahami perjuanganmu mengurus anak-anak serta tanggung jawab rumah.

Kehidupan ideal yang bebas dari lelah, kesedihan, dan kesulitan hanyalah di surga. Adapun dunia ini adalah tempat letih dan perjuangan.

Tidak ada pilihan bagi kita selain meringankannya dengan kasih sayang dan akhlak yang baik, atau justru menambah kerasnya dengan egoisme dan kerasnya hati.

#Pelajaran Keempat

Rumah tangga yang tenang, bahagia, dan stabil bukanlah rumah yang tidak pernah memiliki masalah. Tetapi rumah yang masalah-masalahnya hanya lewat sebentar.

Hari-hari panjang penuh cinta, kadang diselingi sedikit kejengkelan. Banyak saat penuh ketenangan, kadang diselingi sesaat kegelisahan. Umur yang penuh kemanjaan, kadang ternoda beberapa hari saling berpaling. Sejarah panjang penuh kelembutan, kadang terusik beberapa saat kekerasan.

Demikianlah rumah-rumah orang saleh. Dan pemimpin orang-orang saleh adalah Nabi kita ﷺ.

#Pelajaran Kelima

Wanita yang baik asal-usul dan akhlaknya akan bersabar bersama suaminya menghadapi kerasnya dunia. Sedangkan wanita yang buruk perangainya akan berpihak kepada dunia untuk melawan suaminya.

Hakikat manusia tidak tampak saat lapang dan rukun, karena di saat-saat seperti itu semua orang tampak mulia. Namun ketika dunia berpaling, manusia menjadi berbeda; tampak mana yang baik dan mana yang buruk.

Pada akhirnya, hidup ini adalah kumpulan sikap dan ujian.

#Pelajaran Keenam

Nabi ﷺ tidak mengizinkan orang-orang masuk menemui beliau karena keadaan hati beliau saat itu tidak memungkinkan untuk bertemu siapa pun.

Sudahkah kita memahami bahwa seseorang terkadang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, beristirahat dari beratnya kehidupan?

Namun beliau mengizinkan Abu Bakar dan Umar masuk karena masalah itu adalah masalah keluarga. Keduanya juga merupakan mertua beliau: Abu Bakar adalah ayah Aisyah dan Umar adalah ayah Hafshah.

Ini adalah pelajaran besar agar kita tidak menjadikan masalah rumah tangga sebagai konsumsi semua orang.

#Pelajaran Ketujuh

Umar bin Khaththab tidak tega melihat kesedihan di wajah Nabi ﷺ, maka ia ingin membuat beliau tertawa.

Ia menceritakan sebuah kisah lucu yang masih berkaitan dengan masalah yang sedang terjadi, yaitu permintaan nafkah dari istri-istri Nabi ﷺ sementara beliau tidak memiliki harta saat itu.

Termasuk bentuk memahami cara menghibur orang yang sedang punya masalah adalah dengan membuatnya merasa bahwa semua rumah tangga juga mengalami perselisihan.

#Pelajaran Kedelapan

Abu Bakar dan Umar tidak ridha putri-putri mereka meminta sesuatu yang tidak dimiliki Nabi ﷺ. Inilah kemuliaan para ayah.

Jika keluarga mengetahui keadaan suami yang sempit dan kekurangan harta, maka mereka seharusnya membantu menasihati putri mereka agar hidup sesuai dengan apa yang Allah berikan.

Karena banyaknya tuntutan kepada suami yang kesulitan harta akan memberatkan pundaknya, membuatnya merasa tidak mampu, menumbuhkan kejenuhan antara suami istri, bahkan bisa merusak rumah tangga.

Maka bersikaplah lembut dan penuh pengertian.

— Adham Syarqawi,