*(Tulisan lama... namun maknanya selalu baru)
Aku dan istriku, dengan karunia Allah, menunaikan haji wajib pada tahun 2004. Kami sepakat untuk berpuasa beberapa hari di bulan Dzulhijjah sebagai persiapan jiwa dan hati menghadapi ibadah haji yang akan kami jalani.
Guru-guru kami mengajarkan bahwa apa yang dilakukan sebelum ibadah fardhu akan membantumu merasakan nikmatnya ibadah itu sendiri.
Kami pun sepakat untuk berbuka puasa dengan sesuatu yang ringan. Maka, kami membeli satu kotak keju dan empat potong roti yang diselipkan istriku ke dalam tasnya, lalu kami masuk ke Masjidil Haram sebelum Maghrib dengan niat untuk berbuka dan beri’tikaf.
Kami salat Maghrib, lalu mengeluarkan makanan buka puasa kami. Di sebelah kananku, aku melihat seorang pria tua asal Yaman, lalu aku memberinya sepotong roti dengan sedikit keju di atasnya. Ia menerimanya dengan syukur tanpa ragu. Kemudian aku melihat ke sebelah kiriku, dan ada seorang pria asal Aljazair, usianya sekitar lima puluhan. Aku memberinya sepotong roti juga seperti yang lainnya, dan ia pun menerimanya dengan penuh rasa syukur. Aku dan istriku memakan dua potong roti yang tersisa...
Betapa lezatnya roti itu... Makanan yang dimakan dengan penuh keridaan terasa lebih nikmat... dan dalam ketaatan terasa jauh lebih manis.
Saat kami makan, aku pun berkenalan dengan saudara dari Aljazair itu... Alangkah indahnya jika roti yang mengenyangkan bisa disertai dengan manisan perkenalan dan cinta karena Allah.
Jarak antara hati orang-orang beriman itu sangat dekat, bahkan seseorang bisa menempuhnya hanya dalam hitungan detik... Dan begitulah yang terjadi antara aku dan saudaraku dari Aljazair itu...
Kami mulai dengan sesuap makanan, dilanjut dengan senyuman... dan ditutup dengan kasih sayang dan keakraban.
Menjelang waktu shalat Isya, aku merasa butuh untuk memperbarui wudhuku... Dan kalian tentu tahu bagaimana sulitnya memperbarui wudhu di musim haji... Satu jam pun belum tentu cukup—itu pun kalau kau bisa keluar dari masjid.
Aku berkata kepada istriku: “Mungkin aku tak bisa kembali sampai setelah shalat Isya, setelah orang-orang keluar dan orang baru diizinkan masuk, dan ini mungkin butuh waktu dua atau tiga jam... Jadi, tetaplah di tempatmu setelah salat hingga aku kembali, meskipun aku terlambat.”
Dan memang... yang kutakutkan benar-benar terjadi. Aku baru kembali kepada istriku setelah orang-orang bubar dan tempat itu mulai lengang—hanya tersisa dia dan beberapa orang di sekitarnya.
Aku meminta maaf karena keterlambatanku, lalu bertanya: “Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
Dia menjawab: “Tidak ada, kecuali pria Aljazair itu, ketika melihatmu tak kunjung kembali, dia duduk sendirian agak jauh. Lalu saat keterlambatanmu makin lama, dia datang padaku dan menawarkan untuk mengantarkanku ke hotel, karena khawatir aku tersesat atau kehilanganmu. Aku berterima kasih kepadanya, lalu dia pergi tak jauh dari tempatku. Sekitar satu jam kemudian, dia kembali dan kembali menawarkan bantuannya. Katanya, ‘Aku tak akan pergi sampai suamimu kembali, atau kau menginap saja di masjid.’
Dia lalu duduk di belakang salah satu tiang masjid, hingga waktunya terasa sangat lama. Ketika dia mulai merasa sungkan karena kehadirannya, dan mungkin mengira aku merasa cemas terhadapnya, dia datang kepadaku dan berkata:
‘Wahai putriku, demi Allah, kalau bukan karena rasa maluku padamu, aku tidak akan pulang sebelum suamimu kembali... Tapi bagaimanapun, sampaikan salamku untuk suamimu, ucapkan terima kasih padanya karena telah memberiku makan, dan katakan padanya bahwa jika dunia tak mempertemukan kita lagi, semoga pertemuan kita terjadi di surga, insya Allah...’
Lalu ia pun pergi.”
Kata-kata istriku yang menceritakan ucapan pria Aljazair itu membuatku menangis...
Saat itu aku benar-benar merasakan... betapa lemahnya batas-batas dunia ini di hadapan ukhuwah keimanan!!
Dan betapa haji dapat melakukan sesuatu pada umat ini yang tak bisa dilakukan oleh ibadah lain...
Lalu aku tersentak... bahwa kedekatan antara kita sesungguhnya hanya butuh sepotong keju, sepatah kata manis, atau seulas senyuman tulus dari hati...
Kita ini umat yang sebenarnya saling dekat, tetapi para pengkhianat Arab dan para pendosa dari bangsa asing telah menjauhkan kita...
Ya Allah... hanya dengan duduk bersama selama satu jam, hanya dengan sepotong roti yang kami bagi, dan hanya dengan ibadah yang kami jalani bersama, pria itu merasa bahwa kehormatanku adalah kehormatannya, bahwa istriku adalah anak perempuannya, dan bahwa surga adalah tempat pertemuan kita jika dunia tak sempat mempertemukan...
Kita ini umat yang dipisahkan musuh-musuh dengan ribuan batas dan garis... Tapi agama, Al-Qur’an, dan hati-hati yang saling mencintai telah menghancurkan semua batas itu... Hingga tak ada pagar atau tembok yang bisa mencegahnya!
Itulah mengapa luka dan bahagia bisa menyatukan kita kembali... Dan sering kali, sepotong roti dan sedikit keju bisa menghidupkan kembali cinta dan kesatuan itu...
Suatu hari, Khilafah Rasyidah kita pasti akan kembali...
Karena umat Khilafah, meskipun telah melewati lebih dari empat belas abad setengah, tetap memiliki ikatan darah Islam, ukhuwah iman, dan persatuan dalam luka dan harapan...
Itulah mengapa kita semua menangisi al-Quds, mendoakan Gaza, dan turut bersuka cita atas kebahagiaan negeri Muslim mana pun...
Umat ini, demi Allah, masih hidup dan saling mencintai... Tapi ia hanya butuh sedikit usaha untuk menyingkirkan debu perpecahan yang ditinggalkan penjajahan di antara kita...
Dan sepotong roti serta sejumput keju adalah saksi atas semua itu.
Dr. Khalid Hamdi