Adzan
Ditulis Oleh : Sang Mujahid Zaki Hamad
Maha Suci Allah yang mensyariatkannya sebagai ketenangan dan ketenteraman.
Kami tidak mendengar adzan dari masjid-masjid di dalam terowongan.
Maka aku sengaja mengumandangkan adzan ketika masuk waktu shalat.
Sungguh hati menjadi penuh dengan keimanan, dan setan pun lari pada saat adzan dikumandangkan.
Kami berada di salah satu pusat penampungan.
Lalu saudaraku Abu Al-Bara’ berdiri dan mengumandangkan adzan Subuh.
Sudah lama kami tidak mendengar adzan yang indah.
Ketika ia selesai adzan, orang-orang berteriak dari jendela kamar mereka:
"Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, semoga Allah membukakan untukmu."
Demi Allah, adzan itu adalah bekal iman yang agung.
"Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati."
Aku merasa bahwa benda-benda mati dan hewan-hewan pun merindukan adzan.
Itu karena seluruh masjid di Gaza telah hancur.
Suatu kali aku mengumandangkan adzan Subuh di salah satu pusat penampungan.
Lalu datang seorang laki-laki kepadaku dan berkata: "Engkau tadi yang adzan, aku dan istriku menangis!!"
Maha Suci Allah, Allah Maha Besar, tidak ada yang lebih besar dari-Nya.
Pada shalat Jumat pertama yang kami laksanakan setelah kembali ke rumah di Khan Yunis,
seorang laki-laki yang sudah lanjut usia mengumandangkan adzan.
Ia dikenal menjaga adzan selama empat puluh tahun,
namun terputus dari adzan karena pengungsian dari negerinya.
Hari itu ia mengumandangkan adzan untuk shalat Jumat.
Di akhir adzan ia mengucapkan: "Laa ilaaha illallah" sambil menangis tersedu-sedu.
Kemudian ia sujud syukur kepada Allah ﷻ karena Allah menakdirkan ia bisa adzan lagi di negerinya setelah diusir darinya.
Maka segala puji bagi Allah.
Aku sangat memperhatikan adzan dan mengagungkannya,
karena ia adalah bekal yang agung yang tidak boleh diremehkan.
