Imam Haram Makkah dan Madinah
Ditulis oleh : Sang Mujahid Zaki Hamad
Bukan perkara mudah menjadi imam di salah satu dari dua tanah haram yang mulia, Makkah dan Madinah Al-Munawwarah.
Itu adalah kedudukan yang agung dan amanah yang besar.
Aku selalu mengatakan: Kekuatan sosial yang diberikan Islam kepada ulama jauh melebihi kekuatan yang diberikan kepada penguasa.
Satu pawai saja jika keluar dari Masjidil Haram menuju institusi-institusi negara, niscaya cukup untuk mengubah keadaan negeri.
Alangkah ruginya seorang imam Haram jika ia mengira dirinya hanyalah seorang qari bersuara merdu yang menjalankan tugas shalat, lalu pulang ke rumahnya.
Aku tidak tahu bagaimana mereka tidak bangkit?!
Aku tidak tahu bagaimana mereka membaca di bulan Ramadhan:
"Hai orang yang berselimut, bangunlah, dan berilah peringatan!" [QS. Al-Muddatstsir: 1-2]
Sungguh aku tidak mengerti, bagaimana seorang imam Haram akan membaca di hadapan jamaah kaum Muslimin pada bulan Ramadhan Surat At-Taubah, Al-Anfal, Al-Ahzab, Muhammad, Ash-Shaff, dan Al-Adiyat.
Aku tidak tahu bagaimana ia akan membaca:
"Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan tanganmu..." [QS. At-Taubah: 14]
Atau apa yang akan ia jawab kepada Allah tentang firman-Nya:
"Mengapa tidak kamu perangi orang-orang yang merusak sumpah mereka?" [QS. At-Taubah: 13]
Atau bagaimana perasaannya ketika membaca:
"Apakah kamu menganggap memberi minum orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram sama dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah." [QS. At-Taubah: 19]
Atau apa yang akan ia lakukan di hadapan ancaman Allah bagi orang yang lebih mencintai perdagangan, harta, anak, dan istrinya daripada jihad:
"Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." [QS. At-Taubah: 24]
Atau bagaimana ia akan membaca:
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah." [QS. At-Taubah: 41]
Dan apa yang akan ia katakan kepada Tuhannya, yang telah menjelaskan kepadanya bahwa adanya orang-orang mustadh'afin dalam umat berarti wajibnya berperang di jalan Allah dan tidak boleh menunda-nundanya?
Akan berlalu atas mereka semua ayat-ayat yang tertulis dan diturunkan itu, dan semuanya akan menjadi saksi atas mereka, baik yang membaca maupun yang mendengar.
Ayat-ayat itu akan menegakkan hujjah atas mereka, dan tidak akan memberi ampun...
Kecuali jika mereka bertaubat, memperbaiki diri, berpegang teguh, dan mengikhlaskan agama mereka hanya untuk Allah.
Hanya untuk Allah, bukan untuk raja, bukan untuk jubah bersulam emas, bukan untuk mobil mewah, bukan untuk hotel berbintang, dan bukan untuk gaji yang besar.
