Beginilah Para Salaf di Hari Arafah
➤ Mutharrif bin Abdullah pernah wuquf di Arafah bersama Bakr al-Muzani. Salah seorang dari keduanya berkata:
اللَّهُمَّ لَا تَرُدَّ أَهْلَ الْمَوْقِفِ مِنْ أَجْلِي
“Ya Allah, jangan Engkau tolak orang-orang yang hadir di tempat wuquf ini karena diriku.”
Yang lainnya berkata:
“Betapa mulianya tempat wuquf ini dan betapa besar harapan bagi orang-orangnya, seandainya aku tidak berada di dalamnya.”
➤ Al-Fudhail bin 'Iyadh berdiri di Arafah sementara manusia berdoa, sedangkan beliau menangis seperti tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya dan terbakar hatinya. Tangisan itu sampai menghalangi beliau dari berdoa. Ketika matahari hampir terbenam, beliau mengangkat kepalanya ke langit lalu berkata:
وَاسَوْأَتَاهُ مِنْكَ وَإِنْ عَفَوْتَ
“Betapa malunya aku di hadapan-Mu, meskipun Engkau memaafkan.”
Beliau juga berkata kepada Syu‘aib bin Ḥarb:
“Jika engkau mengira ada seseorang di tempat wuquf ini yang lebih buruk daripada aku dan dirimu, maka sungguh buruk prasangkamu.”
➤ Abu Ubaidah al-Khawwas sangat dikuasai rasa rindu dan kegelisahan, seraya berkata:
“Betapa rindunya aku kepada Dzat yang melihatku sementara aku tidak dapat melihat-Nya.”
Ketika beliau telah tua, beliau memegang janggutnya sambil berkata:
يَا رَبِّ قَدْ كَبُرْتُ فَأَعْتِقْنِي
“Wahai Rabbku, sungguh aku telah tua, maka bebaskanlah aku.”
➤ Ali bin Abi Thalib berkata:
“Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan hamba dari neraka daripada hari Arafah. Karena itu, perbanyaklah mengucapkan:
اللَّهُمَّ أَعْتِقْ رَقَبَتِي مِنَ النَّارِ، وَأَوْسِعْ لِي مِنَ الرِّزْقِ الْحَلَالِ، وَاصْرِفْ عَنِّي فَسَقَةَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ
‘Ya Allah, bebaskanlah diriku dari api neraka, luaskanlah untukku rezeki yang halal, dan jauhkanlah dariku gangguan orang-orang fasik dari kalangan jin dan manusia.’
Karena sesungguhnya itulah kebanyakan doaku pada hari ini.”
➤ Al-Awza'i berkata:
“Aku pernah menjumpai orang-orang yang menyimpan hajat-hajat mereka hingga hari Arafah untuk mereka panjatkan kepada Allah pada hari itu.”
➤ Al-Husain bin Ali pernah berkata kepada para jamaah haji:
“Kalian adalah tamu-tamu Allah. Jika kalian telah tiba di Makkah, maka kumpulkanlah seluruh kebutuhan dan permintaan kalian, lalu mintalah semuanya kepada Allah.”
➤ Abdullah bin al-Mubarak berkata:
“Aku mendatangi Sufyan al-Tsauri pada sore hari Arafah. Saat itu beliau berlutut, sedangkan kedua matanya berlinang air mata.”
Aku bertanya: “Siapakah orang yang paling buruk keadaannya di tempat ini?”
Beliau menjawab: “Orang yang mengira bahwa Allah tidak akan mengampuninya.”
➤ Hakim bin Hizam biasa wuquf di Arafah bersama seratus ekor unta yang telah diberi tanda kurban dan seratus budak. Lalu beliau memerdekakan budak-budaknya, sehingga orang-orang menangis dan berdoa:
“Wahai Rabb kami, hamba-Mu ini telah memerdekakan budak-budaknya, sedangkan kami adalah hamba-hamba-Mu, maka bebaskanlah kami dari neraka.”
➤ Sebagian salaf berdoa di Arafah:
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ لَمْ تَقْبَلْ حَجِّي وَتَعَبِي وَنَصَبِي فَلَا تَحْرِمْنِي أَجْرَ الْمُصِيبَةِ عَلَى تَرْكِكَ الْقَبُولَ مِنِّي
“Ya Allah, jika Engkau tidak menerima hajiku, kelelahan dan kepayahanku, maka janganlah Engkau menghalangiku dari pahala musibah karena tidak diterimanya amalku.”
➤ Salah seorang salaf berkata:
“Selama lima puluh tahun aku terus berdoa pada hari Arafah, dan belumlah berlalu satu tahun melainkan aku melihat doa-doa itu terkabul dengan jelas seperti terangnya fajar.”
#HariArafah