Hari raya dalam Islam memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar kegembiraan sesaat…
Ia selalu datang setelah musim perjuangan, kesungguhan, dan pendekatan diri kepada Allah.
Idul Fitri datang setelah Ramadan,
dan Idul Adha datang setelah hari-hari agung yang dipenuhi puasa, zikir, doa, dan ibadah haji.
Seakan-akan pesan yang terus berulang setiap tahun adalah:
bahwa hati setelah ketaatan menjadi lebih mampu merasakan kebahagiaan,
lebih tenang,
dan lebih peka terhadap nikmat-nikmat kecil dalam hidup yang sering kali dilewati manusia tanpa perhatian.
Karena itu,
hari raya bukan sekadar momen pakaian baru, jamuan makanan, atau kunjungan,
melainkan saat di mana ruh kembali mendapatkan sebagian ringan dan lapangnya setelah lelah yang panjang.
Dan di antara hal terindah dari hari raya…
ialah bahwa ia mengembalikan manusia kepada makna-makna sederhana yang menghadirkan kehangatan sejati dalam kehidupan.
Aroma kopi di rumah-rumah,
gema takbir,
keceriaan anak-anak,
berkumpulnya keluarga,
serta tawa yang kembali hadir setelah lama tersibukkan.
Kehidupan modern telah mengambil banyak hal dari manusia:
ketenangan,
kedekatan,
waktu,
dan kehangatan keluarga…
Lalu datanglah hari raya,
seakan mengingatkan semua orang bahwa hati masih mampu berbahagia,
dan rumah-rumah masih bisa dipenuhi kasih sayang kembali, betapa pun berat hari-hari yang telah dilalui.
Karena itu,
hari raya yang paling indah bukanlah yang membuat seseorang memiliki lebih banyak…
melainkan yang membuatnya merasakan kedekatan yang lebih besar:
dengan Allah,
dengan keluarganya,
dan dengan dirinya sendiri.
Sebagian orang mungkin akan lupa setelah bertahun-tahun:
apa hadiah yang mereka terima saat hari raya…
namun mereka tidak akan pernah lupa:
siapa yang membuat mereka merasa dicintai,
siapa yang mengunjungi mereka,
siapa yang berdamai dengan mereka,
dan siapa yang mengembalikan ketenangan ke dalam hati mereka melalui kata-kata yang tulus.
Hari raya bukanlah hari yang berlalu begitu saja…
melainkan pengingat lembut bahwa hidup — betapa pun berat hari-harinya — masih memiliki ruang untuk kebahagiaan, kasih sayang, dan awal-awal yang indah.
— Dr. Abdul Karim Bakkar