Delegasi Perunding
Ditulis oleh : Sang Mujahid Zaki Hamad
\"Mengapa mereka meninggalkan Gaza dan bersenang-senang di hotel-hotel Turki dan Qatar?!\"
Ide ini telah memengaruhi banyak orang, dan setan telah menghiasinya untuk mereka.
Padahal sejenak saja merenung dengan jujur sudah cukup bagi orang berakal untuk mengetahui kebenarannya.
Bahaya mengintai mereka di mana pun mereka berada. Musuh bahkan telah membunuh sebagian dari mereka di luar Gaza, di antaranya pimpinan gerakan Abu al-‘Abd Haniyah dan wakilnya Syaikh Shalih al-‘Aruri .
Kami yakin, seandainya mereka berada di Gaza, niscaya mereka semua akan menjadi sasaran, pimpinan gerakan dan pucuk pimpinannya akan dibunuh.
Akibatnya kita tidak akan bisa berunding dengan musuh dan tidak bisa menyampaikan suara kepada dunia.
Setiap sistem yang berakal akan membuat dirinya memiliki \"tubuh lain\" dan cabang-cabang di beberapa tempat untuk menjaga kelangsungannya.
Sirah Nabawiyah telah menceritakan kepada kita bahwa Nabi ﷺ mengirim 100 sahabat untuk hijrah ke Habasyah, padahal saudara-saudara mereka di Mekkah sedang disiksa.
Itu dilakukan agar dakwah memiliki tubuh lain di tempat yang berbeda, sehingga sulit dicabut dan dimusnahkan.
Jika kita melihat perilaku musuh kita, sejumlah besar orang Yahudi Zionis tinggal di Amerika dan Eropa.
Mereka menggerakkan lobi Zionis, bertugas menghasut, menggalang massa, dan mengumpulkan dana untuk kepentingan bangsa Yahudi.
Banyak dari mereka adalah unsur terlatih yang beroperasi di luar perbatasan untuk melakukan pengejaran, pembunuhan, dan lainnya.
Hal ini mewajibkan kita sebagai umat yang tersebar di seluruh penjuru bumi untuk mendahului mereka dalam hal itu.
Kita harus memiliki pasukan pemukul di setiap tempat. Kita lebih berhak melakukan itu daripada mereka.
Tidak masuk akal jika Gaza tetap bertempur sendirian dengan darah dan dagingnya, sementara seluruh komponen umat hanya menonton dari jauh!!
Termasuk mengagungkan syariat adalah memuliakan ulama yang beramal dan mendahului dalam kebaikan, memuliakan para mujahid yang membela kehormatan syariat, orang-orang yang berbicara atas nama mereka, para perunding mereka, dan mendoakan mereka.
Orang yang paling butuh doa agar diberi taufik dan kebenaran adalah saudara-saudara kita para perunding.
Lebih dari satu ikhwan dari kalangan mujahid telah memberitahuku bahwa ia mengkhususkan delegasi perundingan.
Kami mendoakan delegasi perunding kami di hari-hari yang mulia dan pada waktu mustajab doa.
Ini adalah tanda kebaikan, kekompakan, dan saling menyayangi.
Aku wasiatkan kepada delegasi perunding kami agar selalu melakukan istikharah dalam setiap perkara penting, memperbanyak istighfar, dan memohon hidayah serta kebenaran.
Ya Allah, ilhamkanlah mereka petunjuk-Mu dan lindungilah mereka dari keburukan diri mereka sendiri.
Pada tahun 2014 M, Azzam al-Ahmad pernah berunding atas nama perlawanan, dan kita menuai malapetaka karena mereka yang memegang kendali perundingan.
Namun alhamdulillah, yang berunding atas nama kita hari ini adalah perlawanan yang amanah.
Ini adalah hak kita: memiliki pimpinan yang amanah, yang bisa kita percayakan pada diri kita dan urusan kita ketika mereka berdua saja di ruangan tertutup bersama rezim kekufuran dan kefasikan.
Kita bisa yakin dengan apa yang mereka rencanakan dan sepakati.
Bangunlah wahai pemuda umat!
Karena para penguasa kalian di ruangan tertutup itu meminta maaf atas masa lalu kalian, menjual masa kini kalian, dan melepaskan masa depan serta kesucian kalian.
Dan Allah akan meminta pertanggungjawaban kita atas itu.
Sesuatu mengingatkan pada sesuatu yang lain.
Telah disebarkan juga isu lain, yaitu bahwa pimpinan perlawanan aman di dalam terowongan sementara rakyat berada dalam kesengsaraan dan penyiksaan.
Aku telah mendengar sebagian syaikh suu’ dari luar Gaza mengulang-ulang hal ini.
Media Yahudi pun mendukung isu-isu ini melalui gambar karikatur, ejekan, dan berita bohong.
Sungguh aneh! Yahudi berkata kepada pimpinan perlawanan: “Keluarlah dari terowongan dan jangan bersembunyi di dalamnya, karena itu pengecut.”
Sementara kami berkata kepada mereka dengan logika yang sama: “Hancurkan tembok pemisah, hentikan sistem pengawasan, lalu hadapi kami berhadap-hadapan wahai para pengecut!!”
Parit-parit dan terowongan kami bukanlah pengecut, wahai para pengecut.
Medan pertempuran mengenal serangan kami.
Tank-tank berat kalian tahu betapa kecilnya mereka ketika mujahidin kami menaikinya.
Terowongan kami adalah taktik dan seni perang yang kami terpaksa gunakan karena sifat pertempuran dan karena kalian pengecut menghadapi pertempuran langsung.
Aku katakan ini agar tidak ada yang menertawakan kaum muslimin dan menggoyahkan kepercayaan diri mereka!
Penutup
Dan sebagai penutup, agar aku bersikap realistis: Percayalah, terowongan itu bukanlah hotel, dan tidak layak untuk kehidupan manusia.
Namun itu adalah harga dari kemuliaan dan jihad di jalan Allah, serta surga yang di hadapannya segala sesuatu menjadi ringan.