User Avatar
Kekasih Hati Kami, Wahai Tuan Kami Rasulullah ﷺ
Ditulis oleh Sang Mujahid Zaki Hamad
Kami tidak mengetahui ada kebaikan yang sampai kepada kami kecuali Nabi ﷺ menjadi sebab dan memiliki keutamaan di dalamnya. Tidak ada kebaikan yang kami alami, dan tidak ada pahala yang kami peroleh, kecuali semua itu dengan berkah Rasulullah ﷺ.
Allah berfirman: “Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus seorang rasul di tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Sungguh, sebelumnya mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” [Ali ‘Imran: 164]
Beliau adalah cahaya yang nyata, diutus oleh Tuhan semesta alam untuk mengeluarkan kita dari kegelapan kebodohan dan kesesatan menuju taman-taman kebenaran dan petunjuk. Beliau telah menyampaikan agama dengan penyampaian yang sempurna dari Tuhannya. Dengan beliau, Allah meluruskan agama yang bengkok, dan dengan dakwahnya Allah membuka mata yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang tertutup. Hingga agama ini sampai kepada kita, dan Allah memuliakan kita dengan kenikmatan ini.
Maka semoga Allah membalasmu dengan balasan terbaik untuk kami, wahai kekasihku, wahai Rasulullah.
Betapa besar kebutuhan kita untuk mengenal dan memperkenalkan manusia kepada Rasulullah ﷺ, serta mengikat alam semesta dengan manhaj dan sirah beliau. Dengan itu mereka akan mendapatkan berkah dengan mengikuti nabi yang mulia ini. Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” [Al-Anbiya’: 107]
Kami terbiasa di bulan Rabi’ul Awwal setiap tahun untuk mengadakan majelis-majelis kajian terhadap salah satu kitab yang membahas Nabi ﷺ, sirah beliau, dan kedudukan beliau yang mulia. Itu kami lakukan bersama sekelompok orang-orang terkasih dari kalangan penuntut ilmu.
Alangkah agung kedudukanmu, wahai kekasihku Rasulullah. Dan alangkah besar hakmu atas kami. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan-Nya, memuliakan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang.” [Al-Fath: 8-9]
Sungguh, tidak pernah hidup orang yang tidak hidup untuk risalahmu, wahai Tuan kami, wahai Rasulullah.
Alhamdulillah, selama lima tahun berturut-turut kami telah menyelesaikan lima persinggahan singkat dalam rangka mengenal Nabi ﷺ:
  1. Kami memulainya dengan syarah Al-Arjuzah Al-Mi’iyyah fi Dzikri Hal Asyrafil Bariyyah karya Ibnu Abi Al-‘Izz Al-Hanafi ﷺ.
  2. Di tahun kedua, kami lanjutkan dengan Mukhtasar Asy-Syifa’ bi Ta’rif Huquqil Mustafa karya Qadhi ‘Iyadh ﷺ.
  3. Pada tahun ketiga, Allah memuliakan kami dengan mengkaji kitab Asy-Syama’il Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi ﷺ.
  4. Pada tahun keempat, kami mengkaji kitab Ma La Na’rifuhu ‘an Rasulillah ﷺ karya Syaikh Hazim Shalih Abu Isma’il — semoga Allah memerdekakannya dengan kemuliaan.
Dan pada tahun terakhir, beberapa hari sebelum perang ini dimulai, kami mengkaji dengan linangan air mata kitab Wa Azhlamatil Madinah.. Wafatun Nabi ﷺ karya guru kami, Syaikh Asy-Syahid Nizar Rayyan ﷺ.
Meski dengan lima persinggahan ini, kami tetap merasa belum mengenalmu kecuali sedikit, wahai Tuan kami, wahai Rasulullah.
Allah memuliakanku dengan menunaikan ibadah umrah setahun sebelum pertempuran ini dimulai. Aku mengunjungi Tuan kami Rasulullah ﷺ, berdiri di depan makam beliau yang mulia, dan merasakan seakan aku berada dalam jamuan kemurahan beliau. Berbagai renungan melintas di benakku pada saat itu.
Ya Allah, betapa beratnya beban dakwahmu, wahai Tuan kami Rasulullah. Dan betapa besar kelalaian kami!
Ya Allah, betapa agungnya risalah Islam kita, dan betapa dakwah ini telah dizalimi hingga ia berubah menjadi sekadar pandangan-pandangan!
Alangkah agung hatimu, wahai Tuan kami Rasulullah. Alangkah agung syariatmu.
Aku merasakan sesuatu yang besar di hatiku, yang tidak kutahu apa namanya. Perasaan antara kemuliaan yang kami ambil dari Al-Qur’an dan syariat kami, dan antara kesedihan atas orang-orang yang tersesat dari jalanmu, serta atas para penguasa zalim yang jauh dari tujuan Rasulullah ﷺ.
Engkau tidak pernah lalai, wahai Tuan kami Rasulullah. Mustahil. Engkaulah kebanggaan kami di antara umat-umat.
Aku juga menyampaikan kepadanya bahwa aku telah menghafal Al-Qur’an dan memantapkannya di luar kepala. Maka air mataku pun mengalir. Aku kira beliau merasa senang dengan itu.
Aku memohon kepada Allah di Raudhah Asy-Syarifah yang diberkahi agar Dia memberiku taufik untuk mengamalkan apa yang telah kuhafal.
Aku sampaikan kepadanya semangat para mujahidin dan para syekh kami, dan kusampaikan salamku dan salam mereka. Alangkah besar cinta mereka kepadamu, wahai Rasulullah!!
Aku berdoa untuk orang-orang yang kami cintai, orang tua kami, para guru kami, dan siapa saja yang memiliki jasa atas kami.
Kami memperbarui baiat kami kepada Rasulullah ﷺ, dan hal-hal mulia lainnya.
Demi Allah, sungguh ziarah kepada Nabi ﷺ telah menghidupkanku kembali. Kedudukan beliau di hatiku sangat agung.
Maka bantulah aku, ya Rabb, untuk memikul beban syariat dan dakwah beliau. Kumpulkanlah aku dan orang-orang yang kucintai di bawah benderanya dan dalam golongannya.
Ini adalah perasaan-perasaan yang ingin kuungkapkan untuk menambah kerinduan para pecinta Rasulullah ﷺ, agar mereka mengenal beliau lebih dalam dan mengikuti jejak serta sunnah beliau.
Post Image