Dakwah adalah Modal Seorang Da’i
Ditulis oleh: Sang Mujahid Syaikh Zaki Hamad
Setiap kali aku lalai dalam mendakwahi manusia kepada Rabb semesta alam, aku teringat Nabi Yusuf dan betapa besar perhatiannya terhadap dakwah saat ia berada di kegelapan penjara.
Ia dipenjara karena tuduhan akhlak, padahal ia bersih dan seorang yang mulia. Sungguh berat baginya dituduh dalam kehormatannya.
Namun meski begitu, ia tetap berdakwah dengan penuh semangat. Ia berkata:
"Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?" [QS. Yusuf: 39]
Dalam perang ini aku bertemu dengan orang-orang yang suci hatinya dan mencintai Allah.
Aku pun mengajari sebagian dari mereka cara wudhu, dan Allah memberi kami taufik untuk menjelaskan hukum-hukum tayammum kepada mereka dan yang lainnya.
Sesungguhnya tugas seorang da’i tidak terikat pada waktu dan keadaan.
Manusia justru paling membutuhkan nasihat dan penjelasan ketika berada dalam musibah dan peperangan.
Aku melihat dalam perang ini betapa hausnya manusia terhadap segala yang menghubungkan mereka dengan Allah.
Berikut garis-garis besar yang baik bagi seorang da’i untuk dipegang dan disampaikan dalam perang dan krisis:
- Qada’ dan qadar: Menguatkan keimanan kepada keduanya, mengaitkan manusia dengan Allah, dan mengajarkan tawakal yang baik kepada-Nya.
- Hikmah di balik musibah: Menjelaskan bahwa Allah Maha Adil lagi Maha Bijaksana, dan bahwa pada setiap takdir ada banyak hikmah. Sebagian kita ketahui, dan sebagian lain tersembunyi dari kita.
- Hukum-hukum fikih yang mendesak: Seperti fikih thaharah, shalat, dan beberapa muamalah yang dibutuhkan.
- Taubat dan istighfar: Serta fikih kembali kepada Allah untuk menghilangkan kesusahan.
- Ukhuwah dan ikatan sosial: Saling menanggung, bekerja sama dalam kebaikan dan takwa.
- Kemunafikan dan bahayanya: Membongkar perilaku dan cara orang-orang munafik.
- Syahidah dan jihad: Hukumnya, keutamaannya, dan mengaitkan hati dengan negeri akhirat.
Wahai para da’i, alangkah besar dosa kalian jika kalian tertidur bersama orang-orang yang tertidur.
Jangan tinggalkan pos kalian.
Dan alangkah indahnya jika engkau mati syahid dalam keadaan berdiri di pos dakwah, meneguhkan manusia.
Maka engkau akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan mulia.
Sungguh, tujuh puluh sahabat Rasulullah ﷺ terbunuh di Bi’r Ma’unah saat mereka berada dalam tugas dakwah.
Alangkah mulianya akhir kehidupan itu.
Aku melihat dalam perang ini semangat tinggi dari para da’i yang menghidupkan halaqah-halaqah tahfizh, menegakkan shalat berjamaah dan shalat Jumat, memberi nasihat kepada manusia, serta menjelaskan hukum-hukum shalat dan puasa.
Aku juga melihat da’i-da’i yang melepaskan diri dari tugas mereka karena beratnya keadaan.
Semoga Allah meridhai orang-orang yang ikhlas, dan memberi hidayah kepada orang-orang yang lalai.
Pemberian dalam timbangan seorang da’i sama seperti penerimaan, bahkan kegembiraannya dalam memberi dan kebaikannya dalam memanfaatkannya lebih besar.