Sistem Mesir
Ditulis oleh: Sang Mujahid Zaki Hamad
Mesir yang disebut Kinana dengan posisi strategisnya, cadangan sumber daya manusianya, dan sumber daya alamnya yang berlimpah, serta kedekatannya dengan tanah yang diberkahi, selalu menjadi incaran setiap penyerbu dan penjajah.
Karena itu ia menjadi tujuan kampanye Salib dan penjajahan asing sepanjang masa, untuk mendudukinya dan menyingkirkannya dari panggung Islam, serta mencegahnya menjalankan peran hakikinya dalam menolong Islam dan menegakkan negaranya. Penjajah asing berusaha mewujudkan itu dengan penjajahan langsung kadang, dan penjajahan melalui perantara berupa rezim-rezim represif kadang lain, disertai perubahan pada budaya masyarakat dan dibukanya pintu bagi berbagai bentuk penjajahan pemikiran.
Maka orang-orang Mesir diuji dengan rezim-rezim fajir yang berganti-ganti dan penguasa-penguasa zalim. Merekalah yang mengajarkan rezim-rezim lain di dunia Arab cara-cara zalim, penindasan, penyiksaan, dan penghilangan. Mereka memberikan loyalitas dan ketundukan kepada penjajah asing, mulai dari Muhammad Ali Pasha, lalu era monarki, kemudian Sadat, Abdul Nasser, Mubarak, sampai akhirnya zaman membawa kita pada Sisi — musuh Allah — dan era represifnya yang fajir, yang belum pernah disaksikan Mesir tandingannya dalam hal kezaliman, pembunuhan, penjara, kemiskinan, dan kehancuran.
Sungguh entitas Zionis yang tidak sah itu bersungguh-sungguh untuk membuat front Mesir tetap tertidur dan berada di luar konflik. Caranya adalah dengan memperbarui komitmen lisan saja pada perjanjian Camp David yang khianat itu, dan membelenggu Mesir dalam kebutuhan dasarnya akan energi dengan mengikatnya pada perjanjian gas. Gas yang dicuri oleh entitas itu lalu dijual kembali ke Mesir dengan harga yang jauh lebih mahal.
Yang lebih menyakitkan adalah adanya kesepakatan dengan sistem yang berkuasa saat ini untuk menutupi kekurangan di pasar Israel akibat perang, pemanggilan pasukan cadangan, terhentinya pabrik-pabrik mereka, dan terganggunya jalur transportasi laut.
Statistik resmi menunjukkan bahwa ekspor Mesir ke entitas perampas itu berupa semen, baja, dan bahan makanan meningkat lebih dari 3000% dibandingkan periode sebelum pertempuran Thufan Al-Aqsa.
Di saat yang sama, rakyat Mesir menderita kemiskinan yang parah, kenaikan harga yang tinggi, dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pokok hidup. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
Sesungguhnya sistem Mesir adalah mitra sejati, bahkan langsung, dalam mengepung penduduk Gaza dan membuat mereka kelaparan. Merekalah yang menutup satu-satunya penyeberangan darat untuk Jalur Gaza dari pihak mereka dan dengan kemauan mereka sendiri. Mereka mencegah masuknya truk-truk bantuan hingga menumpuk puluhan ribu seperti kota-kota truk, dan muatannya rusak setelah hampir dua tahun menunggu. Bantuan itu pun dirusak dan dibuang ke tempat sampah, padahal warga Gaza yang muslim saat itu sangat membutuhkan seteguk air dan sepotong roti.
Sesungguhnya sistem Mesir dan militer Mesir mampu melakukan upaya yang besar dan efektif dalam mengancam entitas Zionis dan membungkamnya jika mereka mau. Tetapi yang ada hanyalah ketundukan dan kehinaan. Semoga Allah merahmati laki-laki saleh itu ketika ia berkata: “Kami tidak akan membiarkan Gaza sendirian.” Saat itu ia mengambil beberapa langkah sederhana, dan Israel pun terpaksa menghentikan perang.
Andai seorang sejarawan Islam ditakdirkan untuk mencatat hari-hari yang kita jalani, niscaya ia akan menulis:
“Pada tahun 1446 Hijriyah, Mesir dan umat Arab serta Islam — yang saat itu jumlahnya banyak, memiliki harta, kedudukan, istana, pasukan, dan persenjataan — tidak mampu memasukkan roti bagi penduduk Gaza yang terkepung, kelaparan, dan kehausan dari perbatasan Rafah Mesir.
Pada tahun yang sama, banyak anak-anak Gaza meninggal karena kelaparan yang hebat. Harga satu karung tepung mencapai lima belas gram emas... padahal barangnya langka!!
Negara Mesir yang terjajah itu tidak mampu membuka penyeberangan kecuali dengan izin pihak Israel, karena Mesir bertindak mewakili Israel dalam mengelola penyeberangan sesuai dengan perjanjian penyeberangan...
Pada tahun yang sama, setelah Israel membunuh lebih dari lima puluh ribu penduduk Gaza, sebagian besar negara Arab dan Islam tetap mempertahankan perjanjian mereka dengan Yahudi.
Laa haula wa laa quwwata illa billah atas kehancuran dan pengkhianatan ini.”
