User Avatar
Maman Solihin
18 Mei 2026 05.44.20 WIB ·Kategori: Tidak Ada Kategori

#SepuluhHariMenghidupkan_Hati

Di antara kelembutan Allah kepada kita adalah datangnya musim-musim ketaatan secara beruntun…

Belum sempat energi keimanan Ramadhan hampir habis, Allah dengan kasih-Nya kembali menghadirkan kepada kita sepuluh hari pertama Dzulhijjah…

Dan belum lama Dzulhijjah berlalu, datang pula Muharram dengan puasa Tasu’a dan Asyura-nya… sehingga hati kembali penuh sebelum benar-benar kosong, dan taman jiwa kembali berbunga setelah hampir layu…

Yang paling indah dari sepuluh hari Dzulhijjah adalah bahwa ia menjadi semacam “haji dengan hati” bagi orang yang terhalang pergi ke sana dengan jasadnya…

Puasa di hari-harinya menjadi pelepas dahaga bagi jiwa yang merindukan puasa setelah Ramadhan…

Qiyamullail di malam-malam panjangnya menyerupai keadaan orang-orang kusut dan berdebu di Padang Arafah…

Doa-doa para pecinta Allah saat berbuka di hari-hari itu mirip dengan kebahagiaan orang-orang yang menyembelih hewan hadyu, tersenyum bahagia karena musim ibadah hampir selesai di tenda-tenda Mina…

Adapun zikir di hari-hari itu, alangkah manisnya… seperti zikir orang yang tenggelam dalam ibadah haji hingga kedua matanya bercucuran air mata karena manisnya zikir itu, meskipun tenggorokannya kering karena banyaknya talbiyah saat ifadhah (bertolak dari Arafah menuju Muzdalifah)…

Adapun puasa Arafah, betapa manisnya… Allah menganjurkanmu untuk berpuasa pada hari itu, sementara Dia tidak menganjurkannya bagi jamaah haji… seakan-akan Allah berkata kepadamu:

“Jika orang-orang yang wukuf di Arafah menanti datangnya waktu maghrib untuk merasakan sejuknya penerimaan amal, maka engkau pun seperti mereka: menunggu tenggelamnya matahari pada hari Arafah dalam keadaan berpuasa, sambil merasakan penghapusan dosa setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang…”

Adapun kegembiraan hari raya, tanyakanlah kepada orang yang Allah beri taufik untuk berpuasa sembilan hari pertama, menghidupkan malam-malamnya, dan menikmati zikir di dalamnya… bagaimana mereka merasakan kebahagiaan Idul Adha?!

Agar kalian tahu bahwa hari raya yang sejati adalah bagi orang yang sebelumnya berada di Arafah di Makkah, dan juga bagi orang yang seperti mereka: istiqamah dalam ketaatan meskipun tidak berada di Makkah!!

Adapun selain mereka, hari rayanya memang indah dipandang, tetapi hambar rasanya…

Sepuluh hari pertama Dzulhijjah… jika engkau menikmati ibadah di dalamnya, engkau akan merasa seakan-akan baru saja menunaikan haji!!

— Dr. Khalid Hamdi