Dua kebiasaan, jika seseorang menjaganya setiap hari, akan memberikan pengaruh besar dalam hidupnya, bahkan bisa jadi mencukupinya dari banyak program diet.
Yang pertama, berhenti makan sebelum mencapai kenyang, tanpa harus mengharamkan dirinya dari jenis makanan apa pun.
Yang kedua, berjalan cepat setiap hari selama empat puluh lima menit. Waktunya bisa dipilih kapan saja—pagi, sore, atau sebelum salah satu waktu salat—hingga aktivitas ini menjadi kebiasaan yang tetap dalam kesehariannya.
Jika waktu berjalan itu disertai dengan dzikir kepada Allah, maka di dalamnya terdapat kebaikan dan keberkahan yang besar.
Kedua hal ini memiliki dampak mendalam, bukan hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kesehatan jiwa.
#Sesungguhnya menghentikan dorongan syahwat saat makan bukan sekadar perilaku sehat, tetapi merupakan "latihan akhlak" yang tinggi. Ketika seseorang berhenti makan sementara ia masih menginginkannya, ia sedang mengirim pesan yang jelas kepada dirinya bahwa “akal” adalah pemimpin, bukan “perut”. Disiplin diri seperti ini meluas pengaruhnya, memberi seseorang kekuatan dalam mengambil keputusan-keputusan besar; siapa yang mampu mengendalikan keinginannya di meja makan, akan lebih mampu mengendalikan dirinya dalam situasi marah dan berbagai godaan.
Berjalan cepat bukan sekadar menggerakkan otot, melainkan "pembersihan pikiran" dari hiruk-pikuk gangguan. Ketika waktu berjalan itu diisi dengan dzikir, maka olahraga berubah dari sekadar aktivitas fisik menjadi “ibadah yang bergerak”, yang menghubungkan bumi dengan langit. Empat puluh lima menit ini adalah “waktu rehat seorang pejuang”, di mana seseorang memulihkan keseimbangan jiwanya dan menata kembali pikirannya, jauh dari kebisingan layar dan kesibukan.
Dr. Abdul Karim Bakkar