User Avatar
Maman Solihin
29 Apr 2026 01.45.49 WIB ·Kategori: Tidak Ada Kategori

Usia yang Tepat untuk Menikah

Orang-orang sejak lama terbiasa mengaitkan pernikahan dengan usia tertentu, seolah ada “jam biologis” atau “jam sosial” yang ketika berdentang, seseorang wajib memasuki ikatan agung ini. Jika terlewat, dianggap kereta telah pergi. Padahal, kematangan sosial menuntut kita untuk meninjau ulang konsep ini: berpindah dari “usia tahun” menuju “usia kelayakan”.

Berikut peninjauan ulang dari sudut pandang kematangan keluarga:

1. Ilusi “angka ideal”

Tidak ada dalam syariat maupun akal sehat angka pasti yang bisa digeneralisasi sebagai usia “ideal” untuk menikah. Betapa banyak pemuda berusia dua puluhan yang memiliki kebijaksanaan, kemampuan mengendalikan emosi, dan kesiapan memikul tanggung jawab—yang bahkan tidak dimiliki oleh pria berusia tiga puluhan. Begitu pula ada gadis berusia dua puluh satu tahun yang memiliki kesadaran tentang “arsitektur keluarga” melebihi wanita di akhir usia dua puluhan. Maka, membatasi pernikahan pada kerangka waktu tertentu adalah bentuk ketidakadilan terhadap perbedaan kematangan dan kapasitas individu.

2. Kelayakan adalah tolok ukur yang sebenarnya

Perbaikan mendasar yang kita butuhkan adalah mengganti “usia kronologis” dengan usia psikologis dan intelektual. Usia yang tepat bagi laki-laki maupun perempuan adalah saat keduanya mencapai kemandirian emosional dan kematangan nilai. Pernikahan bukan sekadar ritual sosial, melainkan pengelolaan hubungan yang kompleks. Siapa yang belum belajar seni memaklumi, keterampilan berdialog, dan pemahaman tentang pengorbanan, maka ia sejatinya masih “belum matang”, meskipun telah berusia empat puluh tahun.

3. Bahaya “pernikahan biologis” yang terlalu dini dan “pernikahan material” yang terlalu ditunda

  • Bagi laki-laki: seringkali pernikahan dikaitkan semata dengan kemampuan finansial. Ini penyederhanaan yang keliru. Kemampuan finansial saja tidak menjadikan seseorang ayah yang berhasil atau suami yang menenteramkan. Usia yang tepat baginya adalah ketika ia memahami bahwa kepemimpinan dalam rumah tangga adalah bentuk pelayanan dan perlindungan, bukan kekuasaan dan gengsi.
  • Bagi perempuan: masyarakat sering menekan untuk menikah dini karena takut “kehilangan kesempatan”, yang bisa mendorong pada pilihan yang belum matang. Usia yang tepat baginya adalah ketika kepribadiannya telah utuh dan ia tahu apa yang diinginkan dari pasangan hidupnya—sehingga ia menikah karena keyakinan, bukan pelarian.

4. Menuju standar baru dalam pernikahan

Kematangan menuntut kita untuk mendorong para pemuda dan pemudi menikah ketika mereka merasa siap memikul tanggung jawab, dengan terpenuhinya batas minimal kecukupan materi dan kesadaran pendidikan. Tidak seharusnya pernikahan ditunda hingga seluruh kemewahan terpenuhi, dan tidak pula disegerakan sebelum akal benar-benar matang.

Kesimpulan:

Usia yang tepat untuk menikah adalah saat seseorang tidak lagi hanya menjadi pusat bagi dirinya sendiri, tetapi telah mampu menerima kehadiran “orang lain” dan berbagi dengannya mimpi serta beban hidup. Pernikahan adalah perjalanan membangun, dan setiap bangunan membutuhkan pemahaman tentang “arsitektur” sebelum tersedianya “bahan bangunan”. Maka, berhentilah bertanya kepada para pemuda: “Kapan kamu menikah?”, dan gantilah dengan pertanyaan: “Apakah kamu sudah mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan yang berhasil?”

— Dr. Abdul Karim Bakkar