ZAMAN MESIN
Rumah-rumah kita hari ini—dengan para suami dan anak-anak di dalamnya—sebenarnya tidak buruk. Hanya saja, mereka hidup di zaman mesin.
Manusia adalah anak dari lingkungannya. Dahulu, bangsa Romawi kehilangan kehormatan diri karena terlalu lama memakan daging babi. Sementara orang-orang Badui dikenal setia dan penuh kerinduan seperti unta. Mereka juga menyimpan dendam dan tidak melupakan orang yang pernah menyakiti mereka—meskipun sudah lama berlalu. Ini karena mereka hidup dekat dengan unta dan meniru sifat-sifatnya.
Sekarang, kita hidup di zaman mesin. Kita pun mulai meniru sifat-sifat mesin—bekerja dengan sistem, tanpa emosi, tanpa perasaan, kecuali sebatas keperluan.
Kita menjadi seperti mesin bahkan dalam hubungan kita dengan pasangan dan anak-anak. Kita juga menjadi kaku dan tidak berjiwa dalam hubungan dengan saudara, teman, atau rekan kerja. Sifat-sifat manusia dalam diri kita memudar, digantikan oleh sifat-sifat mesin.
Hidup kita terasa membosankan dan berjalan dengan pola yang sama setiap hari. Ucapan-ucapan kita hambar dan berulang, jarang menyentuh perasaan—bahkan saat kita sedang dalam suasana paling lembut atau menyentuh sekalipun.
Peristiwa yang dulu bisa menggugah hati dan menyentuh emosi kini tidak lagi terasa. Semua telah dibekukan oleh rutinitas dan kekakuan zaman mesin.
Kita datang ke acara hanya untuk basa-basi, melontarkan kalimat yang sudah terlalu sering kita ucapkan. Kita memaksakan senyuman atau pura-pura senang.
Kita benar-benar telah menjadi mesin yang dibungkus kulit manusia: tubuh tanpa jiwa, tindakan tanpa rasa. Kecuali bagi mereka yang dirahmati Allah.
Solusinya? Kita harus segera kembali ke sisi kemanusiaan kita yang tersembunyi, dan menyelamatkan jiwa kita dari sifat mesin yang dingin dan membosankan.
Dalam diri kita ada tiupan ilahi yang memberi nilai pada unsur tanah kita. Saat kita meninggalkan tiupan ini dan hanya mengikuti unsur tanah saja, kita menjadi keras dan kaku. Padahal sebelumnya, kita bisa bersikap seperti malaikat.
Hidupkan kembali ruh di rumah kalian. Ucapkan kata-kata cinta yang keluar dari hati, bukan dari pesan yang disalin dari grup WhatsApp.
Bangkitkan kembali semangat keayahan dengan bercanda, bersikap kekanak-kanakan, melontarkan lelucon, membuat celetukan, dan berjalan-jalan bersama. Semua itu telah lama ditekan oleh dunia digital.
Saling mengunjungi karena rindu, bukan karena tuntutan sosial. Berbagi suka dan duka karena benar-benar peduli, bukan karena formalitas atau pura-pura.
Kembalikan sisi terbaik dari diri kalian:
ruh kalian… perasaan kalian… kelembutan kalian… kasih sayang dan kepedulian kalian terhadap sesama…
Dunia ini sudah terlalu kering karena dipenuhi tubuh-tubuh yang beku, padahal di dalamnya ada hati yang bisa membuat alam semesta bergetar dan bahagia.
Selamatkan sisi kemanusiaan kalian. Tanpa itu, tidak akan tersisa cinta ayah kepada anak, kasih antara suami dan istri, maupun rasa persaudaraan sejati.
Hati adalah hidupnya tubuh. Dan hati juga adalah hidupnya dunia. Hidup yang kaku seperti mesin adalah kematian, sedangkan hidup yang dipenuhi ruh adalah sumber kebahagiaan, kelapangan, dan kegembiraan.
Dan betapa besar perbedaan antara keduanya…
--- Dr. Khalid Hamdi