Aku masih ingat ketika aku mengendarai mobil bersama seorang saudara yang kucintai. Lalu kami berhenti di depan laut, dan dengan tergesa-gesa membuka YouTube agar tidak ketinggalan pidato langsungnya.
Saat kami melihatnya berkhutbah, dalam kesadaran kami ada bisikan tersembunyi yang berkata: pasti ia berada di tempat yang aman… pasti ada jarak antara dirinya dengan apa yang sedang terjadi. Kami membutuhkan keyakinan itu. Kami mengambil darinya sedikit keseimbangan jiwa, sebab berat bagi hati untuk bersandar kepada seseorang yang berada tepat di tengah badai… yang kematian bisa merenggutnya kapan saja. Itulah penenang yang membuat rasa sakit menjadi bisa dipahami dan ditanggung.
Rekaman terakhir dirinya bersama keluarganya yang mulia mengembalikan ingatan pada hari-hari itu, saat kami menimba kekuatan dari kedua matanya.
Seorang lelaki yang telah banyak kehilangan berat badannya, berjalan di tengah manusia bersama keluarganya, di jalan tanah, tanpa perlindungan mencolok, tanpa aura besar yang dahulu kami tenun untuknya. Tiba-tiba… ia bukan lagi “simbol yang jauh”, melainkan manusia seutuhnya di tengah penderitaan. Ia makan dari apa yang mereka makan, menderita seperti yang mereka derita, dan menjalani kerapuhan yang sama seperti keluarganya.
Di sinilah tepatnya… kita lebih dekat memahami makna kepahlawanan.
Kepahlawanan bukanlah berada di luar penderitaan, tetapi tetap teguh di dalamnya.
Apa yang kami lihat bukan sekadar kekuatan fisik, bukan pula keadaan luar biasa yang menjadikannya hidup dalam nurani umat. Tetapi sebuah tujuan luhur yang melampaui segalanya, yang menata ulang seluruh isi dirinya sebelum menata ulang jiwa kami. Seakan rasa sakit itu tidak hilang… namun posisinya berubah. Ia bukan lagi pusat segalanya.
Aku teringat sikap Bilal bin Rabah ketika beliau ditanya: “Bagaimana engkau sanggup menahan siksaan Quraisy?” Beliau menjawab: “Aku mencampur rasa sakit siksaan itu dengan manisnya iman, maka manisnya iman mengalahkan semuanya.”
Ini bukan sekadar kisah kepahlawanan masa lalu… tetapi penjelasan atas apa yang kita lihat hari ini.
Ada orang yang menjalani rasa sakit sebagaimana adanya, lalu rasa sakit itu mematahkannya.
Ada pula orang yang meletakkan makna di atas rasa sakit itu, maka seluruh bobot penderitaan pun berubah.
Abu Ibrahim (Abu Ubaidah), dalam adegan-adegan itu, bukan sedang memainkan peran pahlawan… tetapi sedang menjalankan kemanusiaannya dalam bentuk tertinggi. Seorang ayah bersama keluarganya, seorang lelaki yang berjalan di tengah manusia, dan tubuh yang telah dilemahkan oleh kepungan… namun di balik semua itu, ada tujuan besar yang membuat penderitaan ini bukan menghapusnya, melainkan membentuk ulang dirinya.
Mungkin inilah pelajaran terdalam:
Kita mencari pahlawan super untuk membenarkan kelemahan kita, padahal kenyataannya kepahlawanan bisa jadi ada pada seorang manusia yang sangat mirip dengan kita…
Namun ia memilih melihat apa yang tidak kita lihat, dan tetap teguh di tempat di mana kita mungkin akan runtuh.
Ya Allah, terimalah dia, keluarganya, dan saudara-saudaranya dengan sebaik-baik penerimaan sebagaimana Engkau menerima para shiddiqin, orang-orang saleh, dan para syuhada.
Segala puji bagi Allah yang telah memperlihatkan kepada kami wajah-wajah yang mulia itu… segala puji bagi Allah.
--- Faleh Flaihan
