Banyak orang mengira bahwa rezeki hanyalah perkara hitungan dan angka, atau sekadar hasil keberuntungan dan naik-turunnya pasar. Padahal, mereka lalai dari hakikat yang lebih dalam:
Rezeki itu mengalir dalam kehidupan dengan hukum-hukum (sunnatullah), sebagaimana sungai mengalir di alurnya.
Siapa yang merenungi keadaan manusia—bukan hanya sehari atau setahun, tetapi selama bertahun-tahun—akan menyadari bahwa kelapangan dan keberkahan tidak datang secara kebetulan. Dan kesempitan tidak selalu berarti kekurangan harta, tetapi bisa berupa kekurangan ketenangan dan rasa ridha.
Yang pertama dari hukum-hukum itu: baiknya hubungan dengan Allah.
Yang dimaksud bukan sekadar banyak berbicara tentang takwa, tetapi makna praktisnya: seseorang hidup sambil terus mengoreksi dirinya, dan takut jika apa yang ada di tangannya justru menjadi sebab ia jauh, bukan dekat (kepada Allah).
Jika hati telah baik, maka pintu-pintu akan terbuka baginya dari arah yang tidak ia rencanakan.
Yang kedua: memperbaiki sisi dalam sebelum menuntut perubahan di luar.
Banyak orang meminta tambahan rezeki, padahal dalam hatinya ada kegelisahan, ketidakpuasan, dan perbandingan yang tiada henti.
Termasuk sunnatullah bahwa hati yang gelisah tidak mampu menerima nikmat dengan baik, walaupun nikmat itu banyak.
Yang ketiga: istighfar sebagai kesadaran, bukan sekadar kebiasaan.
Istighfar bukan hanya lafaz yang diulang-ulang, tetapi evaluasi jujur terhadap perjalanan hidup:
di mana kita salah, di mana kita lalai, dan di mana kita melampaui batas-batas Allah atau hak manusia.
Siapa yang terus melakukan muhasabah ini, bebannya akan ringan, wawasannya akan luas, dan urusannya akan dipermudah.
Yang keempat: tawakal yang tidak meniadakan usaha.
Langit tidak menurunkan emas, tetapi ia memberkahi langkah-langkah yang jujur.
Siapa yang menggabungkan husnuzhan kepada Allah dengan usaha yang maksimal, akan mendapati hasil datang kepadanya dengan lebih mudah dari yang ia kira.
Yang kelima: hubungan yang bisa memberkahi atau menghapus rezeki.
Silaturahim, pergaulan yang baik, dan infak pada tempatnya bukan sekadar etika sosial, tetapi hukum-hukum mendalam dalam mengalirnya nikmat.
Harta yang merusak pemiliknya, cepat atau lambat akan dirusakkan pula oleh Allah.
Yang keenam: meninggalkan dosa-dosa tersembunyi sebelum yang tampak.
Sebagian dosa tidak memiskinkan kantong, tetapi memiskinkan hati. Tidaklah tertutup satu pintu dari langit kecuali karena terbukanya pintu kelalaian di bumi.
Dan yang terakhir: syukur dan ridha.
Syukur menjaga apa yang ada, dan ridha memberikan kekayaan batin yang tidak dikenal oleh banyak orang kaya.
Siapa yang ridha dengan apa yang telah ditetapkan baginya, akan diberi ketenangan yang tidak mampu dibeli oleh harta.
Hakikat rezeki bukan hanya apa yang masuk ke dalam kantong, tetapi apa yang menetap di hati, yang diberkahi dalam waktu, dan yang digunakan dalam kebaikan.
Siapa yang memahami ini… akan berubah cara pandangnya terhadap seluruh kehidupan.
— Dr. Abdul Karim Bakkar