“Persiapan Terbaik untuk Akhirat”
Aku berpendapat bahwa manfaat menulis (mengarang) lebih besar daripada sekadar mengajar dengan lisan. Betapa banyak guru yang aku lihat sepanjang hidupku, namun tidak banyak orang yang tetap mengambil manfaat dari mereka setelah mereka wafat. Sebaliknya, aku melihat banyak karya tulis yang manfaatnya terus dirasakan oleh generasi setelahnya.
Hal ini menunjukkan bahwa manusia lebih banyak mendapatkan manfaat dari karya-karya para ulama terdahulu dibandingkan sekadar dari majelis mereka. Maka seorang alim hendaknya memperbanyak karya tulis, jika ia diberi kemampuan untuk itu, karena tidak setiap ilmu dapat disampaikan dalam satu majelis.
Bukanlah tujuan mengumpulkan segala sesuatu tanpa arah, tetapi yang dimaksud adalah menyingkap rahasia-rahasia ilmu, sebab itu termasuk karunia Allah ‘Azza wa Jalla yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki dari hamba-Nya. Dengan ilham-Nya, seorang penulis mampu menghimpun apa yang terpisah, menyusun apa yang berserakan, menjelaskan apa yang samar, dan menyempurnakan yang kurang. Inilah hakikat penulisan yang bermanfaat.
Seseorang hendaknya memanfaatkan masa pertengahan hidupnya untuk menulis, karena awal usia digunakan untuk menuntut ilmu, sedangkan akhirnya sering kali melemah karena faktor usia.
Sering kali akal dan pemahaman melemah seiring bertambahnya usia. Namun kebiasaan umumnya adalah seseorang menghabiskan masa belajar dan menghafal hingga usia empat puluh tahun, lalu setelah itu mulai menulis dan mengajar. Hal ini jika ia telah mencapai apa yang diinginkan dari pengumpulan ilmu dan hafalan, serta mampu memperoleh apa yang dituntut.
Adapun jika sarana yang dimilikinya dari buku-buku terbatas, atau ia lemah dalam masa awal menuntut ilmu, sehingga belum mendapatkan apa yang diinginkan pada waktu tersebut, maka ia dapat menunda penulisan hingga usia lima puluh tahun.
Kemudian setelah lima puluh tahun, ia mulai fokus pada penulisan dan pengajaran hingga sekitar usia enam puluh, lalu setelah itu lebih banyak mendengar (mengulang) hadis dan ilmu, serta mengurangi aktivitas menulis hingga usia tujuh puluh. Jika telah melewati usia tujuh puluh, maka yang dominan atas dirinya adalah mengingat akhirat dan bersiap untuk perjalanan (menuju kematian). Ia tidak lagi menyibukkan dirinya kecuali dengan mengajarkan ilmu yang ia miliki atau menulis sesuatu yang sangat dibutuhkan. Maka itulah bekal terbaik untuk akhirat.
Hendaklah seseorang memiliki perhatian besar untuk membersihkan jiwanya, memperbaiki kekurangannya, dan bersungguh-sungguh menutupi kesalahannya. Jika terdapat perbedaan dalam hal yang telah kami sebutkan tentang niat seorang mukmin, maka itu tergantung pada kadar amalnya.
Sesungguhnya setiap tingkatan memiliki keadaan yang sesuai dengannya. Barangsiapa telah sampai pada tingkatan-tingkatan ini, maka hendaknya ia mengambil bagian untuk dirinya.
Sufyan ats-Tsauri berkata: “Barangsiapa telah mencapai usia seperti usia Rasulullah ﷺ, maka hendaklah ia bersiap untuk dirinya.”
Dan sungguh telah mencapai usia tujuh puluh tahun sekelompok ulama, di antaranya Ahmad bin Hanbal. Jika seseorang telah sampai pada usia tersebut, maka hendaknya ia menyadari bahwa dirinya berada di tepi kubur, dan setiap hari yang datang setelahnya adalah tambahan (yang sangat terbatas).
Jika ia telah mencapai usia delapan puluh tahun, maka hendaknya seluruh perhatiannya diarahkan untuk membersihkan kesalahan-kesalahannya, memperbaiki kekurangan, dan mempersiapkan bekalnya. Hendaknya ia memperbanyak istighfar dan dzikir kepada Allah, serta memperdalam muhasabah (introspeksi diri).
Adapun dalam hal menyebarkan ilmu atau bergaul dengan manusia, maka jika waktu “pemeriksaan” (hisab) sudah dekat, seseorang harus lebih berhati-hati terhadap hal-hal yang dapat membahayakan dirinya.
Dan termasuk usaha terbaik dalam menjaga amal setelah kematiannya adalah dengan menyebarkan ilmunya, mewakafkan kitab-kitabnya, serta menyedekahkan sebagian hartanya.
Setelah itu, segala urusan diserahkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla; Dialah yang paling mengetahui tentang amal seseorang, dan Dia yang paling mengetahui niatnya.
Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar melimpahkan karunia-Nya kepada kita, menjadikan Dia sebagai pelindung kita, dan tidak menyerahkan kita kepada diri kita sendiri. Sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan.