Kehancuran Peradaban Emas Muslim di Spanyol
Muslim tiba di Spanyol pada tahun 711 M. Banyak yang mengira akan terjadi pemaksaan untuk pindah agama dan penghancuran gereja, namun yang terjadi justru sebaliknya. Selama 800 tahun, Muslim Spanyol atau Al-Andalus menjadi peradaban paling maju di Eropa.
Kota Cordoba pada 929 M memiliki penerangan jalan, sistem air mengalir, 70 perpustakaan, dan 20 rumah sakit umum. Sementara Eropa masih menggunakan ember untuk air dan tak punya fasilitas serupa . Perpustakaan Cordoba saja menyimpan 400.000 buku, lebih banyak daripada seluruh koleksi buku di Eropa saat itu .
Ilmuwan Eropa harus belajar bahasa Arab di Spanyol untuk mengakses ilmu pengetahuan yang telah maju. Konvivencia menjadi ciri khas, di mana Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup bersama dalam satu peradaban yang harmonis. Keindahan Alhambra di Granada hingga kini menjadi bukti, dikunjungi 2,7 juta turis setiap tahun.
Pada tahun 1492, Granada jatuh. Ratu Isabella mengeluarkan dekrit: pindah agama ke Kristen atau tinggalkan negeri. Ratusan ribu Muslim diusir, dan pada 1609 pengusiran terakhir dilakukan. 300.000 Muslim tersisa pun diusir paksa, menghapus 800 tahun sejarah dalam satu generasi.
Setelah Muslim pergi, perpustakaan tutup, universitas menurun, sistem irigasi runtuh, dan rumah sakit ditutup. Spanyol kehilangan peradaban paling maju di Eropa. Kini Spanyol merayakan bangunan-bangunan megah seperti Alhambra, tapi sering menghapus peran pembangun Muslim-nya.
Sejarah 800 tahun ini jarang diajarkan secara lengkap. Padahal, masa keemasan Al-Andalus menunjukkan kontribusi besar Islam terhadap peradaban Eropa modern.
Sejarah ini pantas diketahui agar kita memahami akar kemajuan dan toleransi yang pernah ada di Benua Eropa.